
Sudah lebih dari satu jam, Meghan pergi dari ruangan Ernest, tetapi Jovi merasa Meghan masih ada disini. Pandangan mata yang kosong, mengajak Jovi meratapi semua yang sudah terjadi.
Sejak setelah itu, rasanya Jovi tidak punya lagi kekuatan menghadapi semuanya lebih lanjut. Wajah cantiknya, mediami Ernest, yang daritadi masih sibuk mengecek komputer.
Rasa lapar yang tadinya sedikit hinggap, tiba-tiba hilang pergi entah kemana. Jovi ingin segera pulang, setidaknya berpisah dari Ernest sebentar, menormalkan kembali fikirannya.
"Tenang Jovi.. tenang.. tinggal 3 hari lagi, terhitung setelah tanggal gajian, hidup ini akan kembali normal lagi," batinnya menghitungi kalender.
Semua berubah lagi, ketika perempuan cantik itu berfikir, sangat tidak mungkin Fictor mau terima begitu saja, kegagalan misinya.
Pasalnya, dalam satu bulan ini, Jovi gagal menjalankan semua yang diperintahkan Fictor. Apalagi ditambah dengan, kebohongan Jovi, yang sudah di ketahui atasannya itu.
Selain kondisi Ernest yang selalu membaik, Jovi juga tidak pernah membuat Ernest celaka sama sekali.
Arrghh.. Jovi semakin pening, ketika semua masalah dia, difikirkan hari ini. Rasanya Jovi ingin segera mati saja.
Misi yang tinggal beberapa hari lagi akan diakhiri, tak lantas membuat Jovi bahagia. Pasalnya Toni Wijaya, papa Ernest, belum memberi tahu, akan melanjutkan lagi, atau tidak, kontrak kerja untuk suster Jovi.
"Suster Jovi."
Ernest memandang Jovi masih diam.
"Suster, ayo kita ke lantai 6 sebentar."
Jovi mematung, pandangannya kosong.
"Suster Jovii....," panggil Ernest sedikit kencang.
Jovi benar-benar tidak menghiraukan.
"Suster Jovi...," Ernest menggoyang pundak susternya.
"Ahhh.. iya tuan ada apa?."
"Kamu daritadi nggak dengar saya panggil?."
"Maaf tuan, saya tidak dengar."
"Apa sih yang kamu fikirkan suster?."
"Tidak papa tuan," Jovi melihat Ernest.
"Tanyakan saja suster, nggak papa, barang kali ada yang suster fikirkan," Ernest mengemas file dan bolpoint yang tadinya berserakan.
"Maaf tuan, kalau boleh tau, kira-kira Tuan Toni memperpanjang kerja saya, atau tidak ya tuan?," Jovi memberanikan diri bertanya.
"Entahlah, saya juga kurang tau masalah itu, papa juga belum memberi konfirmasi suster, saya juga belum tau, papa kapan pulang?," Ernest memperhatikan Jovi sedang terlihat sedih.
"Begitu ya tuan." jawabnya pasrah.
"Memang ada apa suster? apa suster sudah tidak mau menjadi perawat saya lagi?," tanya Ernest penasaran.
"Bu-bukan tuan, bukan begitu, saya justru merasa senang, kerja menjadi perawat Tuan Ernest," Jovi tidak mau Ernest salah paham.
"Kenapa suster sudah bingung dengan kontrak kerja?."
"Bukan bingung tuan, saya hanya ingin memastikan, kalau memang saya masih dibutuhkan merawat tuan, saya juga akan senang sekali," tuturnya.
"Terimakasih suster, saya juga senang, selama ini suster Jovi sudah merawat saya, begitu baik dan tulus," senyum Ernest mengikuti.
"A-a-a iya tuan, itu juga sudah menjadi tugas saya sebagai perawat."
Ernest melihat daritadi susternya selalu gelisah dan linglung. Jovi sudah terdiam lagi, tanpa pertanyaan. Rasanya hari ini, suster cantik itu, sangat terlihat depresi karena masalah yang di hadapi.
Kondisi seperti sore ini, langsung dimanfaatkan oleh Ernest, segera menjebak, perempuan cantik didepannya. Ernest masih ingin tau, dari mana Jovi memiliki keahlian sehebat tadi.
Jam di ruangan juga masih menunjukkan pukul 14.30 siang, memiliki waktu yang cukup lumayan, untuk Ernest memancing, siapa sebenarnya Jovi.
Wajah cantik Jovi, setelah bertemu dengan Fictor di acara reuni, tampak membuat dirinya selalu gelisah akhir-akhir ini. Apalagi, sampai dengan sekarang, Jovi belum pernah bertemu Fictor lagi.
"Ngomong-ngomong, kalau seandainya suster Jovi tidak diperpanjang, suster mau kerja apa suster? kerja dimana?."
"Belum tau tuan, kemungkinan saya akan pulang dulu ke rumah."
"Masak sih?," Ernest tidak percaya.
"Iya tuan," jawab Jovi sama sekali tidak menaruh curiga.
"Disini posisi sekertaris sedang kosong, kalau suster mau, jadi sekertaris saya saja, bagaimana?," Ernest mulai menjalankan misi.
"Cari kerja sekarang itu susah lo suster," iming-imingnya.
Ernest mengamati, sepertinya Jovi mulai tertarik dengan tawarannya.
"Suster mau nggak?," liriknya.
"Cuma, saya sendiri harus tau kualitas kerja suster dulu? gimana?," pertanyaan Ernest mulai menjebak.
Jovi langsung menjawab, tanpa fikir panjang.
__ADS_1
"Memang bagaimana caranya tuan?."
"Tapi maaf tuan, bukannya yang bernama Devi itu, adalah sekertaris Tuan Ernest," tanya Jovi.
"Bukan kok, Devi itu staff seperti Sonia, sebetulnya sekertaris saya itu Meghan, berhubung saya dan Meghan ada konflik pribadi, jadi sementara ini saya suruh Devi dulu suster."
"Ouh begitu tuan."
"Terus bagaimana?"
"Saya mau tuan," Jovi langsung bersemangat menjawab tawaran Ernest.
Ernest mengangguk, matanya memberi isyarat, ada yang masih ditelusuri.
Saking bersemangatnya, Jovi menanyakan status ijazah dia, yang tidak sesuai dengan dunia perkantoran.
"Tuan, maaf, saya kan bukan S1 management, saya S1 keperawatan, memang boleh tuan? tapi saya punya pengalaman," tanya Jovi tidak menjelaskan banyak.
"Ya nggak papa, selagi suster bisa membantu saya seperti tadi, semua tidak masalah." Ernest memberi senyum agar semakin meyakinkan Jovi.
"Baik tuan," ucapnya tersenyum juga.
"Yang suster lakukan tadi sudah begitu hebat lo, apa suster tidak menyadari? kalau pelamar fresh graduate saja tidak akan bisa," Ernest memandang Jovi.
"Hmmm.. iya tuan."
Tawaran dari Ernest langsung di iya kan Jovi. Senyumnya mulai mengembang lagi. Yang ada dalam pikiran Jovi, dirinya akan segera bisa resign dari kantor Fictor.
Selanjutnya, Jovi bisa pindah bekerja di perusahaan wijaya group. Kebahagiaan itu di tambah lagi, gaji 2x lipat yang akan Jovi dapatkan minggu ini juga. Semua tak sabar ditunggu olehnya.
Perempuan cantik tersebut, betul-betul tidak menyadari, Ernest sedang menjebak Jovi. Sedikit tapi pasti, semua rencana dari Ernest, mulai ditembakkan ke arah dia, dengan tepat sasaran.
Jovi sepertinya lupa, bahwa dia sendiri adalah suruhan Fictor. semua tidak akan semudah bayangan Jovi. Bisa mengundurkan diri, langsung masuk menjadi staff wijaya grup.
********************
"Suster saya terimakasih banyak ya, kalau memang suster benar mau menjadi sekertaris saya?," Ernest tersenyum.
"Sama-sama tuan, saya juga senang."
Sore ini Jovi ingin berteriak bahagia, dia menganggap Ernest begitu bodoh, terlalu mudah mempercayai Jovi.
Sebentar lagi, misi kakak Aqila itu akan segera selesai. Jovi tidak sabar menunggu, agar bisa lepas dari cengkraman Fictor.
"Baiklah suster, kalau begitu tinggal menunggu keputusan papa dulu ya..!!," lanjut Ernest.
"Siap tuan," Jovi tersenyum ceria.
"Memangnya suster bisa membuat berita acara? suster bisa menulis memo untuk saya? sekertaris itu kerjanya banyak lo," pancing Ernest lagi dan lagi.
"Bisa tuan, kalau hanya itu."
"Saya dulu pernah mengikuti training kerja bagian sekertaris, tapi saya tidak lolos tuan," imbuh Jovi pandai membohongi.
"Ouh ya.. wah.. wah.. wah.. sabar ya suster, seandainya suster bisa di terima di sana, pasti kita tidak akan bertemu," Ernest menggodai.
"Hehehe tuan bisa saja," dia tersipu malu.
"Benarkan suster?? saya sendiri baru menyadari lo, kalau suster Jovi begitu multi talent, tidak pernah bekerja, hanya magang, tapi mengarsipkan datanya begitu bagus dan cepat, sudah hampir se handal Meghan," puji Ernest memiliki makna tersembunyi.
"Tidak tuan, Meghan lebih pandai, dan berkompeten, kalau saya hanya amatiran."
"Suster Jovi, selalu saja merendah," tambahnya dengan tersenyum.
Jovi benar-benar dibuat bodoh, pujian yang diberikan Ernest, memiliki makna sindirin kepada Jovi, masih tidak disadari olehnya.
Keinginan yang beberapa hari dibendung, segera ingin memberi tahu Ernest, bahwa Jovi adalah suruhan Fictor, semua justru akan di urungkan oleh Jovi.
Apalagi, Ernest terlihat mempercayai, dan tidak menaruh curiga sama sekali, oleh apa yang dikatakan Jovi. Semua sedikit membuat Jovi begitu besar kepala.
"Kalau begitu sebentar lagi, saya ajak suster Jovi ke meja sekertaris, tolong buatkan saya contoh berita acara, dan memo ya..?," pintanya.
"Baik tuan," Jovi menyanggupi.
"Suster apa masih ingat semua, tentang word, excel dan power point?."
"Saya masih ingat tuan Ernest, beberapa program dari ms. word dan rumus ms. excel saya masih ingat semua."
"Wahh.... hebat ya suster, meski sudah lama tidak bekerja, kuliah pun bagian perawat, tapi menguasai bidang perkantoran," puji Ernest kembali.
"Hehehe.. terimakasih tuan atas pujiannya," Jovi tersenyum sangat manis.
Ernest dibuat tidak habis fikir oleh Jovi, jika benar Jovi adalah mata-mata, dia tidak akan memberi ampun, atas apa yang sudah dilakukan oleh susternya itu.
Semua patut dicurigai Ernest. Di akhir masa kerja Jovi, satu, dua, kejadian, semakin meyakinkan Ernest. Bahwa suster Jovi bukan orang sembarangan, seperti yang diyakini Ernest dulu.
Berbeda dengan Ernest, Jovi sedang tersenyum bahagia, atas keberhasilannya. Dia menganggap sukses, bisa mengelabui Ernest.
Pernyataan dari Meghan, sempat mengatakan bahwa Jovi adalah suster gadungan, kelihatannya juga tidak mempengaruhi pemilik perusahaan wijaya grup.
__ADS_1
Jovi sudah membayangkan, rekeningnya akan selalu dimasuki pundi-pundi dari kantor Ernest. Belum bekerja saja, khayalan Jovi sudah mulai berlarian kemana-mana.
"Tuan Ernest, maafkan saya ya..!! selama ini saya sudah membohongi tuan Ernest, tapi saya berjanji, saya akan mendedikasikan diri saya, untuk Tuan Ernest, selama saya bisa," janji Jovi dalam hati.
Mata perempuan cantik itu, memandang Ernest tak tega. Pria setampan dan sebaik Ernest, sudah dibohonginya. Justru menawarkan pekerjaan secara cuma-cuma.
"Suatu saat nanti, saya pasti akan memberitahu Tuan Ernest, semua kebenaran, dan kebohongan yang sudah pernah saya lakukan pada Tuan," Jovi kembali melamun.
Tidak terasa, sudah terdengar suara Ernest mengajak Jovi keluar. Seusai Ernest menyelesaikan pekerjaannya.
Suapan makan siang dari Jovi, masih terasa mengenyangkan perut Ernest. Obat yang diminum Ernest, sebetulnya menyisakan rasa kantuk, pada kedua matanya sore ini.
"Suster Jovi, ayooo kita ke ruang Meghan," ajak Ernest.
"Maaf, maksudnya ayoo kita ke ruang sekertaris," ucapnya membenahi.
"Baik tuan," Jovi tersenyum mendengar Ernest menyebut mantan kekasihnya.
"Jangan ketawa," pinta Ernest serius.
"Iya tuan, baik, saya tidak tertawa."
"Ini karena Meghan tadi ke ruangan saya saja," Ernest jaga image.
Jovi mengangguk kepala.
********************
Ruang Staff Ernest.
Ernest dan Jovi masuk ke ruangan.
Dari ruangan itu, ada Sonia, Pinkan, dan satu staffnya bernama Nanta, nampak terkejut memandang atasannya beserta suster ke luar ruangan.
"Selamat sore Pak Ernest," Pinkan memberi hormat.
"Selamat sore juga pak," imbuh Sonia.
"Selamat sore pak," Nantan juga memberi salam.
"Iya, selamat sore," Ernest berjalan ke arah meja sekertaris.
"Ada yang bisa kami bantu pak?," Nanta bertanya di dekat meja.
"Tidak Nanta, saya hanya menyuruh suster Jovi, mencoba membuat berita acara saja," jawab Ernest.
"Kalau untuk berita acara, Pinkan bisa membuatkan untuk Pak Ernest, bapak tidak perlu repot meminta suster Jovi," Nanta merasa tidak enak.
"Iya Pak Ernest, meskipun Devi tidak masuk, kami masih bisa membuatkan berita acara untuk bapak," tambah Pinkan.
"Digunakan untuk tanggal berapa pak berita acaranya? butuh cepat ya pak?," tanya Nanta lagi.
"Tidak kok, saya hanya memberi test pada suster Jovi, kalau dia bisa, kemungkinan suster Jovi, akan menjadi sekertaris saya," beritahu Ernest membuat semua terkejut.
"Ouh begitu, baik pak." Nanta tidak berani menanyakan lebih jelas.
"Wahhh.. kita nambah staff baru berarti pak? selamat ya suster Jovi," Pinkan bahagia.
"Iya.. selamat ya suster Jovi," kata Sonia tidak ikhlas.
"Semoga berhasil untuk testnya ya suster," Nanta juga ikut memberikan senyum.
"Terimakasih Pak Nanta, terimakasih semuanya," Jovi tersenyum.
Staff laki-laki bernama Nanta, kembali duduk, pada meja kerja dia, yang tidak jauh dari meja sekertaris. Sedangkan, Sonia yang melihat semua, langsung merasa benci melihat Jovi disamping Ernest.
Meski Sonia, tidak berani menanyakan lebih lanjut, tentang keputusan Ernest. Rasanya Jovi ingin dicabik-cabik, dihilangkan dari kantor. Apalagi setelah Meghan dibentak Ernest, Sonia semakin benci dengan Jovi.
Sudah pukul 15.30 sore, Ernest menyuruh Jovi duduk di depan meja sekertaris, biasanya dulu tempat ini digunakan Meghan, mengerjakan semua kegiatan kantor.
Meja kerja terlihat rapi, tatanan pensil, bolpoint, ada pada rak kecil di samping komputer. Satu tumpuk berkas dipandang Jovi, diatas meja warn coklat lengkap set kursi kantor.
Ernest lupa belum mengambil berkas, tadi nama PT. Mahakam serta PT. Torifam, sudah diminta dari Sonia. Laki-laki tampan tersebut, melihat jam yang sudah berjalan ke arah pukul 16.00 sore.
"Suster Jovi, silahkan duduk sini," ajak Ernest.
"Baik tuan," Jovi duduk di kursi sekertaris.
"Suster, buatkan saya berita acara untuk PT ini..!!," Ernest mengambil asal satu berkas di meja.
"Ini ya tuan, format nya sama ya tuan, menggunakan font times new roman atau calibri saja tuan,"
"Gunakan times new roman saja, biar formal berita acaranya," tuturnya.
"Baik tuan."
Semua jari tangan perempuan cantik tersebut, bergerak cepat, mengetik sepuluh jari, seperti saat Jovi bekerja di kantor semesta group, milik Fictor.
Dari screen komputer, terlihat Jovi mulai membuka microsoft word pada komputer canggih milik kantor. Sembari menunggu loading komputer, pikiran Jovi kembali termenung.
__ADS_1
Akhir-akhir ini Jovi banyak pikiran, sering membuat dirinya pening. Semua itu, sering membuatnya bengong di kantor maupun di rumah Ernest.
Entah apa yang difikirkan oleh suster Jovi, tetapi yang jelas kepalanya seperti banyak pikiran, meskipun sebetulnya Jovi sedang tidak kenapa-napa.