
"Jovi nggak perlu di periksa, Jovi nggak mau."
Pintu belum di buka. Berulanh kali, Jovi berucap seperti itu. Padahal, biasanya ia selalu mendewakan Dokter Nalen.
"Kamu harus di periksa sayang, biar kita bisa segera pulang," rayu mama Jovi.
Ceklek
Terdengar pintu kamar rumah sakit sudah di buka. Mama Jovi menoleh terkejut. Sedang papa Jovi langsung tersenyum sumringah.
"Looo, Pak Odi," sambut papa Jovi.
"Pak Odi, silahkan masuk," mama Jovi berdiri.
"Iya baik, terima kasih..!! Jovi sudah siuman?," Pak Odi memberi parcel buah-buahan.
"Sudah Pak, tadi masih lemas..!! kok tau kalau Jovi sakit?," tanya mama Jovi.
"Itu mah, tadi papa nggak sengaja berpapasan sama Pak Odi waktu mau ke sini..!!."
"Ouh begitu," anggukan mama Jovi mengerti.
"Iya, tadi saya kok lihat Pak Yusuf masuk ke sini, alhamdulillah aja bener, malu saya kalau salah hehehe," tawa khass Pak Odi.
"Hahahaha," mama papa Jovi tertular ketawa Pak Odi tadi.
"Aduuh, maaf lo, kok saya malah bikin gaduh di sini, itu adiknya sedang tidur ternyata," Pak Odi menutup mulut.
Papa Jovi tertawa.
"Tidak papa Pak Odi, saya terima kasih, kok malah bikin Pak Odi repot-repot," mereka berdua duduk di sofa.
Jovi memalingkan tubuh melihat kedatangan Pak Odi. Karena mengetahui itu bukan Dokter Nalen, tubuh lemas perempuan cantik itu di geser menghadap Pak Odi.
Mama Jovi dengan tenang, tetap menyisir lembut, setiap bagian rambut putrinya. Jovi merasa lebih tenang.
"Pak Odi," panggil Jovi.
"Eh, Jovi..!! semoga cepat sembuh ya..!! maaf lo, saya ke sini nggak bawa hadiah mobil cuma bawa buah-buahan," Pak Odi bercanda.
"Hehehehe," Jovi senyum.
"Pintu kamar rumah sakitnya nanti yang nggak muat Pak, perlu jebol dan panggil pak tukang juga, kalau bawanya mobil," mama Jovi terkikik.
"Hahahaha, iya juga ya," mereka semua tertawa.
Setelah menanyakan kondisi, sampai dengan kronologi Jovi sampai masuk ke rumah sakit. Suasana di ruangan nampak penuh tawa oleh obrolan-obrolan ringan mereka.
Pemilik showroom Mandala itu sempat menyingung kabar pernikahan serta pertunangan Jovi yang sangat santer akhir-akhir ini. Hal itu tak luput menjadi pertanyaan Pak Odi.
"Saya sudah menduga, awal Jovi ke sana itu, saya rasa anak konglomerat itu sudah naksir berat dengan Jovi ini Pak Yusuf?," tutur Pak Odi membanggakan diri.
"Hahaha, masak sih pak? waahhh, habis ini paranormal bisa sepi ini pindah ke showroom Pak Odi semua," goda mama Jovi.
"Hahaha, takutnya saya justru menjiwai profesi baru saya nanti, bisa berabe dong hahaha," Pak Odi begitu humoris.
"Saya sampai terbawa perasaan waktu itu, kalau tidak salah sempat juga Ernest itu tidur di kursi tunggu showroom. Saya membatin, aduuuhh, orang kaya begitu kok ya mau tidur di situ," Pak Odi mengenang.
Jovi dan papanya sama-sama tersenyum.
"Itu karena memang waktu itu Tuan Ernest sedang sakit Pak Odi. Dia baru pulang dari Jakarta," Jovi memberitahu. p
Mama Jovi senyum-senyum sendiri juga. Keluarga mereka dengan seksama mendengarkan cerita seru versi Pak Odi ini.
"Benar ini, jadi sebelum berita Jovi ini ramai kepermukaan, Ernest sudah sangat terlihat mencintai Jovi. Mobil yang di jual Jovi itu, sebetulnya di pasaran hanya laku berapa sih Pak Yusuf? di tangan Ernest, langsung di naikkan tanpa harga nego lo."
"Maksudnya pak?," papa Jovi bingung.
"Maksudnya bagaimana Pak Odi?," mama Jovi juga bertanya.
Mendadak semua langsung terkejut akan ucapan Pak Odi. Di ranjang rumah sakit, bola mata Jovi membesar, ia terlihat ikut tidak paham.
"Ouh, ya, ya, ya. Maaf, maaf, saya lupa kalau kalian tidak tau. Jadi begini, waktu itu Jovi menjual mobil, nah sebenarnya mobil itu hanya laku dipasaran kisaran 230 juta sampai 235 juta. Kemudian Pak Ernest ini meminta saya dengan harga beli 270 juta."
"Tapi, bukannya dulu Pak Odi bilang, bahwa mobil saya pada saat itu sedang banyak-banyaknya di cari untuk event di Jakarta," bantah Jovi.
"Iya, di rumah Jovi juga bercerita seperti itu. Tapi memang awalnya saya juga kaget waktu harga jualnya terbeli harga segitu," papa Jovi mencermati.
"Hahahaha, salah, salah semua..!! rekayasa," Pak Odi tertawa tanpa dosa.
__ADS_1
Papa, mama, serta Jovi sendiri saling menatap satu sam lain, menangkap arti dari tawa Pak Odi.
"Pak, terus bagaimana? Pak Odi jadi rugi besar dong?," mama Jovi panik.
"Iya ini, Pak saya nggak enak sama bapak, kami memiliki hutang budi kepada Pak Odi," sambung papa Jovi.
Secara santai, boss showroom Mandala tersebut menggeleng kepala. Kepolosan keluarga Yusuf benar-benar tidak mengetahui apa-apa.
"Saya ceritakan ya, tapi jangan bilang dengan Pak Ernest, karena ini rahasia. Event itu sebenarnya tidak ada, itu hanya alibi saya. Jadi Pak Ernest meminta mobil Jovi saya beli dengan harga 270 juta, dan saya iya'kan keinginan Pak Ernest, lalu dengan kesepakatan dia membeli mobil Jovi dengan harga 350 juta dari saya. Saya berasa dapat durian runtuh waktu itu hahaha," terang Pak Odi.
"Namanya bisnis ya pak, saya terus terang langsung mengiyakan. Ya Jovi juga untung, saya malah dobel untung, karena waktu itu Jovi sempat berdebat tidak mau mobilnya dibeli Ernest."
Mendengar semua penjelasan. Mama Jovi begitu tersentuh akan kebaikan hati Ernest.
Jovi tidak bergeming setelah mendengar pernyataan Pak Odi.
Papa Jovi sedikit banyak mulai membuang fikiran buruk tentang Ernest dari kepala. Kebaikan memang tidak perlu di perlihatkan, karena langit tidak perlu menjelaskan bahwa dirinya tinggi.
"Kalau begitu saya permisi dulu Pak Yusuf, Jovi. Kok ternyata ini sudah hampir pukul delapan," Pak Odi beranjak.
"Ya, ya pak..!! terima kasih banyak Pak Odi atas kunjungannya. saya benar-benar tidak tau, kalau harga mobil itu ada andil Ernest di dalamnya."
"Tidak papa Pak Yusuf, memang menantu anda itu tidak diragukan lagi kebaikannya, apalagi kekayaannya."
"Hahahahaha," mereka berdua lantas tertawa.
Kemudian Pak Odi terlihat pamit. Tangan Jovi dan mamanya melambai mengantar keluar Pak Odi. Keluarga sedikit tertegun dengan berita baru itu.
Jovi langsung meminta menelpon Ernest.
Penyesal di hati sudah tidak bisa di ibaratkan ataupun diungkapkan. Semua terasa sakit di ulu hati, ternyata Ernest sangat peduli dengan Jovi, jauh sebelum rasa cintanya di balas.
*****************
RUMAH TONI WIJAYA.
Selesai pulang bersama Devi dari rumah sakit intan medika, Ernest melucuti semua pakaian atas, dengan semua busana terbuang di atas ranjang.
Dada bidang kekar itu, masih tersisa goresan sisa kecelakaan yang terjadi beberapa bulan lalu. Yang akhirnya, mengantarkan Jovi. menjadi suster di rumah megah Wijaya.
Ernest hilang tenaga. Jovi sangat mudah sekali di koyahkan, yang menjadi hubungan mereka sangat susah, suster cantiknya itu belum bisa mempercayai Ernest.
FLASHBACK ON
"Tega?," Jovi mengangkat tangan, menunjuk dada Ernest.
"Apa tuan tidak ingat, bagaimana dulu tuan merendahkan saya saat di Restoran Enmaru? yang mengatakan saya lebih rendah dari pada lalat? bagaimana tuan sama sekali tidak pernah menghargai niat baik saya. Sekarang tuan tau kan, bagaimana sakitnya saya dulu? Sangat sakit," bibir Jovi menurun menahan tangis.
"Jadi kamu dendam dengan saya?," air mata Ernest menetes.
"Bukan, saya bukan dendam, tapi rasanya sangat indah bisa mempermainkan perasaan hati seorang Tuan Ernest Wijaya."
FLASHBACK OFF.
Entahlah, dari semua ucapan Jovi. Hati Ernest sangat sakit mengulang ucapan yang di lontarkan Jovi sebelum masuk rumah sakit.
Air mata yang dijatuhkan Ernest seperti tidak ada harganya kala itu. Mata yang kosong, tubuh yang bersandar di tiang ranjang, tampak lelah dengan semua.
Ernest sangat berharap, sakit hati Jovi kala di Jakarta tempo lalu agar segera terbuang dari fikirannya.
"Suster Jovi, seandainya semua bisa diulang, seandainya sakit hati itu berawal dari Enmaru, saya tidak akan membawa kamu ke Jakarta. Apa karena itu, kamu tidak mau menikah dengan saya, lucu sekali," bicara Ernest dengan hatinya.
Kembali lagi, Ernest juga memiliki perasaan. Ia dulu marah karena Jovi membohonginya, Ernest juga kadang memiliki perasaan lelah, iya, dia sudah lelah mengalah.
Akan tetapi, lagi-lagi hati kecil Ernest ingin berjuang kembali. Ia sangat begitu mencintai Jovi, perempuan malang yang cantik, yang datang ke rumahnya waktu itu.
Tok.. Tok.. Tok..
Bik Yuni mengetuk pintu.
"Tuan Ernest, tuan dipanggil oleh Tuan besar."
Ernest tersadar.
"Iya bik, sebentar," Ernest membangunkan diri.
Tangan Ernest menyabet kaos hitam di almari. Pria berhidung mancung tersebut mengganti pakaian dan keluar kamar.
"Triingg.. ting.. ting..."
__ADS_1
"Triingg.. ting.. ting.."
JOVIđź’– MEMANGGIL..
Ernest keluar kamar menemui papanya.
Ponsel yang berada di samping lampu tidur tidak terangkat dan di ketahui Ernest.
Dari ruang tengah, Tuan Toni sudah memasang badan duduk santai menunggu putranya. Kaki Ernest kedua kali tertendang Dokter Nalen nampak membengkak, tapi tidak parah.
"Kaki kamu belum sembuh sembuh Nest?."
"Ernest kurang hati-hati dalam sepekan ini pa."
"Suster baru kamu, sudah datang besok. Jadi papa harap urusi luka kamu yang belum membaik itu."
Ernest mengangguk.
"Papa tau dari Devi, Jovi masuk rumah sakit. Kenapa kamu tidak menunggui dia? kok kamu justru pulang? apa salahnya kalau kamu juga melakukan perawatan di rumah sakit juga, biar kalian segera sembuh."
"Ernest bukan Dokter, di sana sudah ada Dokter yang lebih memiliki kemampuan dan lebih mengerti Jovi luar dalam," Ernest membuang sisa ingus di hidung.
"Siapa itu?."
"Ya ada."
Tuan Toni menebak siapa Dokter yang di maksud putranya tersebut. Selama ini, Tuan Toni selalu melihat Ernest bersikap ramah dengan seluruh dokter, membuat papanya bingung.
"Tadi siang Jovi meminta ke Ernest untuk membatalkan semua pertunangan maupun pernikahan. Jovi tidak memperbolehkan Ernest menunggu dia."
"Lagi???," tanya papa Ernest.
Anaknya tersebut mengangguk.
Tuan Toni ingat, putranya pernah sangat mencintai bebi teman kuliah Ernest, akan tetapi di akhir hubungan bebi mengatakan Ernest tidak boleh menunggu dia, lalu sekarang terulang lagi.
"Kenapa?," Tuan Toni sangat terpukul.
"Ernest tidak tau pa.. Jovi yang meminta itu, dia tidak mau menikah dengan Ernest. Dia sakit hati dengan kejadian di Jakarta waktu Ernest usir."
"Kenapa baru sekarang di permasalahkan?," Tuan Toni memijit kening, nafasnya memburu cepat.
"Selain itu, ada lagikah?."
"Sama pah, Jovi sangat susah percaya terhadap Ernest. Lalu kemudian rumah tangga seperti apa yang akan Ernest bangun nanti pah. Kalau, calon istri Ernest saja tidak percaya pada suaminya. Setiap dengar media berubah fikiran, ada hasutan lagi, berubah lagi. Ernest capek pah."
Ruangan keluarga yang besar itu tidak bersuara lagi.
"Yah, meskipun Ernest tau, Ernest juga tidak akan semudah itu membuang perasaan cinta ini. Tapi, apa yang bisa Ernest paksa lagi, dia yang membatalkan."
Ucapan Ernest sangat lirih. Wajahnya memang sangat menggambarkan bahwa ia sendiri sudah lelah. Meski mata memerah, kadang Ernest juga menghawatirkan Jovi.
"Kamu sudah tanyakan ke orang tuanya?."
Ernest menggeleng kepala.
"Kamu tanyakan dulu saja kepastiannya gimana? kalaupun memang hubungan kalian tidak bisa diperbaiki, berpisahlah secara baik-baik Nest," mata papa Jovi berkaca-kaca.
"Dalam waktu dekat ini Ernest akan ada meeting ke luar negeri. Kemungkinan setelah meeting bisa jadi Ernest tidak akan pulang."
"Berapa lama?," Tuan Toni sedih mengingat Jovi.
"Tidak ditentukan."
Tuan Toni tidak bertanya lagi.
Hatinya linglung tidak bisa kembali seperti semula. Sebuah rencana pesta, apa kini hanya tinggal cerita.
Kepala Ernest terangkat melihat wajah musam Tuan Toni. Kebahagiaan yang terlihat seperti di depan mata, masih berselimut kabut yang tebal. Jemari kusut Tuan Toni mengetuki kursi mencoba berdamai.
"Besok Ernest akan ke rumah sakit..!! Ernest tau papa sedih, Ernest juga sedih pa. Tapi papa sendiri yang bilang, hubungan itu tidak baik apabila di paksakan."
Tanpa di sadari ucapan Ernest membuat bibirnya menurun. Wajah Ernest menahan tangis, mata merah bertetes air itu lalu disapu cepat ke bawah pipi.
"Bertahanlah Nest, selagi kamu bisa. Suster Jovi adalah orang yang baik," Tuan Toni menepuk pundak Ernest.
Kedua tangan kanan kiri Tuan Toni mengarahkan tisu agar matanya kering.
Pria baru baya tersebut meninggalkan ruangan.
__ADS_1