Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
52. Pamit


__ADS_3

Seusai menenangkan Jovi dari mimpi buruk. Satu jam setelah itu, tubuh Ernest merasa tidak tenang. Belum ada sehari laki-laki tampan tersebut memberi misi kepada Ghazi, hati Ernest sudah harap-harap cemas tentang Jovi.


Terlihat Ernest mengangkat tubuh, setelah badan kekarnya memeluk hangat suster cantiknya itu. Kedua mata Jovi nampak memejam, nafasnya hangat menyentuh telinga kiri Ernest.


Poni rambut Jovi sendiri sudah menyila ke samping karena ulah tangan Ernest. Hidung mancung serta bibir mungil Jovi sangat terlihat cantik.


Malam ini Ernest terlihat mengusap jemari tangan Jovi, perempuan yang tega menyakiti hatinya tersebut, mencoba menghangatkan tubuh dari pelukan tubuh Ernest.


Tidak lama, tangan Ernest terlihat sudah mengusap wajah, naik ke atas kepala hingga meremas semua isi kepala dia termasuk rambut. Peningnya kepala Ernest memikirkan perkerjaan, jadi satu dengan masalah pengakuan Jovi.


Langit-langit kamar di pandang kosong mata Ernest, semua rasa pikirannya benar-benar hanya berisi Jovi, Jovi lagi. Hampir tidak ada space lain, untuk memikirkan pekerjaan. Di mana tander proyek besar di perebutkan PT'nya.


"Lama sekali Ghazi tidak memberi kabar? ," mata Ernest menoleh ke arah Jovi.


"Papa tidak boleh tau masalah ini, jalan pengadilan pasti akan langsung di ambil papa, tanpa memikirkan aman tidaknya posisi suster Jovi." Ernest membangunkan diri.


Lelap tidur suster cantiknya tersebut, di manfaatkan Ernest mencari di mana ponsel genggam milik Jovi. Di mana tadi malam, matanya masih sempat melihat tangan Jovi dengan lincah memainkan layar ponsel.


Ernest menemukan, Jovi menaruh ponselnya di samping tempat tidur. Nampaknya tidak bisa'nya Ernest menikmati tidur, benar-benar memberi peluang laki-laki tampan tersebut, mencari tau lebih banyak tentang Jovi.


"Klikkkk....," Ernest tidak sengaja memencet asal nomor sandi Jovi.


Beberapa kali, sandi yang di masukkan Ernest salah terus menerus, setelah dirinya berhasil mengambil handphone warna putih milik orang lain, di samping Ernest.


"Berapa sandi yang di gunakan suster Jovi?."


Ernest menekan asal lagi.


"Kenapa tidak bisa-bisa?." Ernest semakin kesal.


"Tiluttt...," sandi salah.


"Tiluuutt..," sandi salah.


Ernest baru sadar, ponsel milik Jovi ternyata bersidik jari, sehingga memudahkan Ernest tidak perlu mencari tahu sandi. Posisi tidur yang masih lelap, Jovi menaruh tangannya di samping tubuh, Ernest mengambil pelan satu jari telunjuk kanan Jovi.


Perlahan, setelah telunjuk tangan perempuan cantik tersebut di tempelkan, ponsel masih tidak bisa connect. Ernest mencoba ulang, barang kali Ernest lah yang salah, memposisikan tangan Jovi.


Setelah menempelkan ulang, ponsel langsung berhasil menyala. Wallpaper ponsel milik Jovi, terlihat menampakkan foto suster cantik Ernest itu, dengan anak kecil berambut pendek.


Senyum Jovi dengan anak kecil tersebut sama-sama mirip, rambut keduanya tampak lurus, hanya saja Jovi memiliki hidung yang lebih mancung, jika di bandingkan adiknya.


Ernest menoleh lagi ke arah Jovi, laki-laki tampan tersebut tampak menaruh iba, saat Jovi sedang merindukan adik kecilnya. Sekarang Ernest baru tau, bagaimana sosok adik kecil Jovi, dulu pernah di ceritakan oleh Jovi, kepadanya.


"Anak kecil ini bernama Aqila, wajah mereka sama-sama mirip, cantik sekali kamu suster," Ernest termenung.


Melihat foto Jovi tersenyum dengan Aqila. Mengajak keyakinan Ernest lebih berpihak terhadap Jovi yang baik hati. Dia tidak yakin, apabila perempuan yang merawatnya selama ini, berniat jahat lebih dalam.


Aplikasi whatsapp langsung menjadi sasaran utama tangan Ernest. Walaupun dengan kepala lebih sering melihat ke arah Jovi, Ernest berharap menemukan sesuatu yang bisa menghancurkan rasa dilema hatinya.


Jajaran chatt, mulai dari grup, pesan pribadi dari beberapa orang, dan grup alumnus Stikes Wijaya terjajar rapi. Semua memenuhi daftar chatt di ponsel perempuan cantik tersebut.


Dari posisi paling atas, Ernest membaca chatt tersebut dari papa Jovi. Pesan terakhir dari Jovi terlihat menuliskan "Jovi sayang sama papa" mungkin di ikuti kata-kata basi lainnya, sehingga membuat putra Tuan Toni itu, tidak tertarik membuka pesan dari papa Jovi.


Terlihat banyak grup di dalam ponsel Jovi, mulai dari grup Management Semesta Grup, All staff kompak lantai 4, PT. Semesta Grup Coprorate, dan banyak chatt grub lain, membuat Ernest susah menemukan chatt penting.


Jemari tangan laki-laki tampan tersebut tampak menemukan 1 grup whatsapp bertulis "Perencanaan Meeting Terbaru Proyek PT. Jyco" yang mana PT tersebut, besok akan melakukan meeting bersama kantor Ernest.


"Perencanaan meeting terbaru proyek PT. Jyco? suster Jovi masuk di grup ini? itu berarti jabatan suster Jovi di Semesta Grup, sudah terbilang penting," Ernest kembali sakit hati.


Ternyata klien yang di maksudkan Ernest dari luar negeri, juga masuk ke dalam jajaran perusahaan yang juga di perebutkan kerjasama'nya oleh Semesta Grup.


Petinggi PT. Jyco, Mr. Bram di ketahui Ernest memang sudah lama bekerja sama dengan Semesta Grup. Meski sudah berkali Wijaya Grup mencoba menaklukan kerjasama dengan PT. Jyco, semua upaya Ernest belum berhasil.


Chatting Grup "Perencanaan Meeting Terbaru Proyek PT. Jyco."


PAK ADRIAN


Jovi ke mana? kenapa tidak membalas?


PAK BAGAS


Kurang tau pak, masih sibuk mungkin, bagaimana ini? Mr. Bram tetap meminta publik speaking yang bagus, saat presentasi, usahakan cari yang lain, kalau Jovi tidak bisa.


0856-7653-0XXX


Proyek besar, jangan gagal, perusahaan di perkirakan rugi 45% apabila proyek ini gagal, ayoo gaes.. ini proyek tahunan kita. yang selalu kita menangkan, wake up..!!!


0878-4321-7XXX


Semesta Grup bisa.. perencanaan di bagian design sudah matang, contoh bahan dan proposal, sudah kita selesaikan, sekian laporan dari kami bagian design Pak Fictor.


PAK FICTOR


Bisa nggak sih, mulut kalian itu jangan berlebihan, masalah publik speaking dan presentasi, bakalan saya bereskan, jadi kalau bisa, mulut kalian jangan ngebacooottt mulu, kerja woyyy...


Balasan terakhir chatt dari Fictor, betul-betul membuat Ernest geleng kepala. Teman sekampusnya tersebut, masih saja sama seperti dulu tidak berubah, dan tetap keras kepala.


Tidak menyangka chatt tidak sengaja yang dibuka Ernest subuh ini. Mendapatkan kunci keberhasilan yang di pakai Semesta Grup, dalam memenangkan tander proyek PT. Jyco.


Nampaknya laki-laki tampan tersebut tidak mengetahui, Mr. Bram memilih Semesta Grup karena adanya Jovi Andrianita, sebagai pendukung publik speaking presentasi Fictor saat bernegosiasi.


"Kenapa mereka mencari Suster Jovi?."

__ADS_1


"PT. Jyco memiliki andil besar dalam kesuksesan Semesta Grup, jika perusahaan mampu mengambil satu tander proyek besar dari PT. Jyco, Semesta Grup akan mati perlahan," Ernest bergumam sendirian.


Belum keluarnya Jovi dari grup perusahaan Fictor, membuat angin segar untuk Ernest. Walaupun terkesan licik, Ernest tidak sengaja mengetahui itu semua.


Semua masih terasa fine dan tidak keterlaluan, karena Ernest tidak melakukan perusakan file perusahaan Fictor, maupun proposal Semesta Grup.


Tanggal resign yang baru berlaku besok, membuat Jovi belum di keluarkan dari grup. Bahkan, petinggi-petinggi di Semesta Grup, mungkin belum mengetahui pengunduran suster cantik tersebut.


Tangan Ernest kembali berjalan, mencari chatt yang sebetulnya menjadi incarannya dari tadi. Di mana chatting dari nomor Fictor, pasti akan menemukan banyak sekali jawaban pada kejanggalan hati Ernest.


Tidak susah, mantan kekasih Meghan itu, langsung menemukan profil teman kuliahnya di dalam ponsel Jovi. Namanya juga Pak Fictor, mengajak tangan Ernest membuka chatt yang belum sempat di arsipkan.


"Uhuukk.. uhukk...,"


Ernest terkejut, Jovi terlihat gelisah diri setelah batuk.


"Husstt......tidur ya..," tangan kanan Ernest membelai rambut Jovi.


Jovi nampak tertidur lagi.


Pada jam yang masih menunjukkan pukul 03.00 pagi. Ernest kembali fokus ke ponsel putih Jovi.


"Iiiiihhhh....,"


Ernest menoleh lagi, Jovi lebih sering tidak tenang.


"Husssstttt...," tangan Ernest mengusap lembut lengan Jovi berkali kali.


Suhu tubuh Jovi baru dirasakan oleh tangan Ernest. Nampaknya Jovi terlihat tidak enak badan. Tangan Ernest langsung berjalan mengecek kening Jovi, suster cantiknya yang sudah menemani Ernest malam ini.


Laki-laki tampan tersebut selalu berusaha menenangkan Jovi, agar tertidur nyenyak. Meskipun Ernest sendiri malam ini, tidak bisa tidur dengan tenang seperti biasanya.


"Tubuh suster Jovi sedikit demam," tangan Ernest lebih sering memegang dahi Jovi.


"Aaaaaaiihh....," Jovi kembali merintih.


"Huuussttt..., suster tenang ya.. tidur ya, hussst..," Ernest mengusap lagi kening dan rambut Jovi.


Gara-gara fokus Ernest terbagi, layar ponsel Jovi justru mengarah ke arah chatting sahabat suster cantik Ernest tersebut.


"Jovi, besok loe di suruh ke sini sama Pak Fictor, gaji loe nggak bakal di transfer ke rekening, kalo loe nggak ke sini," whatsapp Ola kembali di baca Ernest.


"Ya udah Ol, besok gue cari cara dulu, biar bisa keluar kantor," balasan Jovi juga di baca Ernest.


Semua pesan yang tidak di sengaja terbaca oleh mata Ernest. Semakin memantabkan keyakinannya, bahwa Jovi masih tergabung di dalam perusahaan Semesta Grup.


Setelah nama Jovi juga di sebut di dalam grub perencanaan meeting proyek PT Jyco, sakit hati Ernest kembali membabi buta. Pengakuan Jovi tadi malam, di yakini Ernest masih akan berkelanjutan, tidak berhenti sampai di sini.


Beruntung, Ernest merasa lega, saat Tuan Toni tidak memperpanjang masa kerja Jovi sebagai suster untuk tuan muda.


"Trittt.. triiitt.. triitt.." SMS masuk di nomor Jovi.


______________________________________


Bank BRI


Trx Rek. 672701-07800-XXX


AN : Anjan Fictor Perdana CN MASUK KE TABUNGAN sebesar Rp. 8.000.000 pada tanggal 30/05/2020


______________________________________


Tanpa membuka icon SMS, subuh ini SMS Banking dari ponsel milik kakak Aqila tersebut, mendapatkan transfer uang dari Fictor, mantan atasannya.


Kejadian benar-benar tepat, saat Ernest menggeser layar, tangannya berjalan ke bawah. Nama Anjan Fictor Perdana mengirim uang senilai 8.000.000 rupiah, lewat Bank BRI.


"Transferan uang? dari Fictor? 8.000.000, uang apa lagi itu? bukankah perusahaan sudah mengeluarkan gaji per tanggal 27, kenapa ada 8.000.000 lagi, di akhir tanggal ini? lembur? ah tidak mungkin." Ernest menduga uang apa itu.


Jovi malah sama sekali tidak tahu apa-apa perihal transferan uang. Dirinya masih tertidur lelap, mengistirahatkan diri dari kerasnya hidup. Jam yang sudah mulai menunjukkan subuh, belum terdengar masuk ke telinga Jovi.


Ernest semakin kesal, saat mengetahui, Fictor mentransfer uang lewat rekening BRI. Padahal beberapa hari lalu, Ernest dan Tuan Toni baru membayarkan gaji Jovi lewat rekening BCA.


Bukti lebih semakin menunjukkan, bahwa kakak Aqila tersebut, bukan perempuan baik-baik. Ernest yakin, pasti ada beberapa misi sudah bisa Jovi selesaikan, sehingga mendapat reward money dari Fictor sebanyak itu.


"Sungguh keterlaluan," gumam Ernest sudah tak kuat.


"Jovi.. Jovi.. nampaknya kamu benar-benar buka se lugu seperti yang saya bayangkan, kamu sudah terlalu banyak membuat saya kecewa," Ernest langsung membuang ponsel.


"Buuuggg... " ponsel langsung mengenai tubuh Jovi.


Pukul 04.30, mata indah Jovi tampak membangunkan diri. Kedua bola matanya mulai mengerjap, menyiapkan diri menyapa pagi di Jakarta.


Sisa lelah tubuh Jovi, perlahan sudah mulai hilang, meski mata perempuan cantik itu, nampak terasa mengganjal berat. Karena tangisnya tadi malam begitu sering.


Mata Jovi seperti di sengat tawon, perempuan cantik tersebut membuka mata, melihat Ernest sudah duduk di atas ranjang, membangunkan diri lebih dulu, daripada Jovi.


Jovi langsung tidak enak, setelah sadar, Ernest bisa lebih awal bangun dari pada dirinya. Mimpi Aqila tadi malam, juga masih menjadi beban fikiran Jovi, kakak Aqila tersebut ingin segera pulang.


"Tuan."


Tidak ada jawaban.


"Tuan sudah bangun? maaf tuan, saya kesiangan," Jovi melihat tubuh Ernest mematung.

__ADS_1


"Tuan, apa tuan masih marah dengan saya?." Jovi mencoba mengintip wajah Ernest.


Ernest tetap tak berucap apapun.


"Saya tidak papa, saya bersedia apabila tuan ingin memarahi saya, atau mungkin menjambak rambut saya, dan memukul saya, tidak papa tuan, asal itu bisa membuat tuan merasa puas..!!."


"Kamu kira saya seperti atasan kamu? kamu kira saya Fictor..?? Sayang aja, kamu perempuan." Ernest memakai sendal berjalan mengambil handuk.


"Saya minta maaf tuan, saya tau tuan kecewa dengan saya, tapi sungguh tuan selama saya jadi sekertaris, saya tidak pernah menjalankan apa yang Pak Fictor perintahkan tuan, saya berani sumpah."


"Buang sumpah-sumpah basi kamu itu, pulang sana..!! kantor mu sudah menunggu kamu," Ernest terlihat marah.


"Ke kantor? maaf tuan, tapi saya sudah tidak bekerja di sana, per tanggal besok saya sudah tidak lagi menjadi bagian mereka tuan."


"Kamu ya tetap mereka, kamu itu tetap bagian mereka, tetap suruhan Fictor. kamu fikir saya sudi mengajak kamu bergabung ke Wijaya Grup, JANGAN MIMPI...!!!," Ernest pergi.


Jovi yang baru bangun tidur, seperti di serang oleh mimpi buruk. Sikap Ernest berubah lagi, tidak sebaik saat menawarkan tempat tidur se malam. Meski terlihat dingin, namun tadi malam Ernest ada perhatiannya.


Jovi nampak sadar diri karena menumpang tidur. Tubuhnya di jalankan ikut beranjak pergi dari ranjang sembari membawa ponsel. Sikap diam yang di pilih Ernest, lebih membunuh Jovi secara perlahan, daripada saat menjawab.


"Tuan Ernest, apa kemarahan tadi malam, pengakuan tentang siapa saya, apakah tuan masih sangat kecewa dan belum bisa menerima semua itu?," Jovi berjalan.


Dia terlihat keluar kamar, hidup Jovi bagaikan seperti buah simalakama, terasa pahit. Perempuan cantik tersebut selalu menjadi sasaran Ernest saat beberapa bukti, di tafsirkan Ernest dengan berbeda.


Di pagi yang ternyata masih subuh, Jovi lantas mengambil duduk di sofa lagi, seperti tadi malam sebelum berpindah ke tangan Ernest. Apalagi kesalahan yang di miliki Jovi, sehingga merubah sikap Ernest lagi.


Jovi mengingat bagaimana mimpi buruk tentang Aqila se malam, semua nampak membuat keinginan Jovi kembali bulat pergi menuju Surabaya.


Inisiatif untuk mengambil jalur darat, di mantabkan oleh Jovi setelah melihat sikap Ernest yang tak kunjung berubah.


Ponsel putih milik Jovi, kembali di buka. Chatting grup tadi yang sempat dibuka Ernest, sudah ada percakapan baru lebih dari 200+ di HP Jovi. Mata Jovi melihat nomor Fictor mengirim pesan.


"Mah, Jovi udah pingin pulang," ucap lemas Jovi.


"Jovi.. makasih loe selama ini udah mau jadi sekertaris gue dengan legowo, gue ada uang sedikit buat loe, udah gue kirim ke rekening loe, semoga bisa bantu loe selama masih dalam masa proses pencarian kerja." whatsapp Fictor.


Jovi merasa speakless, atasan galaknya tersebut menuliskan kata terima kasih, walaupun tanpa mengetik kata maaf terlebih dulu. Padahal dosa Fictor terhadap Jovi benar-benar banyak.


Subuh ini, menjadi kebahagiaan tersendiri buat Jovi. Saat chatting Fictor, nampak terlihat meng ikhlaskan hatinya, ketika Jovi tidak lagi bekerja di Semesta Grup.


Jovi berharap, dirinya akan tetap bisa menjaga silaturahmi dengan baik bersama Fictor. Meski 3 tahun bekerja dengan laki-laki berjambang tersebut, penuh dengan penuyiksaan. Jovi merasa hutang budi pada Om Purwo masih mengikuti hatinya, sampai kapanpun.


Jemari tangan Jovi langsung mengecek M-Banking, uang 8.000.000 sudah di transfer dari no rekening bank Fictor. Ini seperti menjadi angin segar, perempuan cantik tersebut merasa langsung bersemangat kembali pulang ke Surabaya.


Selain di sini dirinya hanya menumpang, Jovi memang sudah lama tidak pantas di tempat ini. Apalagi mimpi buruk tentang Aqila, membuat kakak kandung Aqila itu, ingin mengetahui kondisi Aqila.


30 menit setelah Ernest menghabiskan diri di dalam kamar, langkah suara sepatu kerja Ernest sudah terdengar keluar. Dan benar, laki-laki tampan tersebut sudah bersiap diri menggunakan baju kerja.


Setelan jass hitam, dengan baju putih, dan dasi warna hitam pekat di pilih Ernest untuk menyempurnakan penampilannya. Aroma parfum nampak mengikuti tubuh, ke mana saja tuan muda itu berjalan.


Sisiran rambutnya terlihat rapi, meski dengan tidur yang kurang tadi malam, namun optimisme untuk merebut tander proyek PT. Jyco dari tangan Semesta Grup, sungguh menghinggapi hati.


"Tuan," Jovi memberanikan menyapa.


Ernest membiarkan.


"Tuan Ernest," Jovi mengikuti jalan Ernest.


"Tuan..."


Ernest berjalan ke arah mini bar kecil, mengambil segelas air minum untuk sarapan dan menelan obat rutinnya, yang masih harus di konsumsi Ernest untuk beberapa minggu ke depan.


Meski belum menunjukkan pukul 06.00 pagi, Ernest sudah membalut tubuhnya dengan seragam kerja dan seperti ingin bergegas pergi dari apartemen.


Berdiri nya Jovi di depan mini bar, tampak di acuhkan pewaris tunggal Wijaya Grup itu. Hati perempuan mana yang betah di diami seperti itu terus menerus, namun Jovi tetap terlihat sabar, menyikapi Ernest.


"Tuan..." Jovi memanggil lagi.


"Tuan Ernest."


Sapaan Jovi benar-benar di acuhkan, Ernest tetap tidak menganggap.


"Tuan Ernest."


Jovi mencoba menunggu Ernest. Meski Ernest sudah berjalan di depan suster Jovi, pandangan mata Ernest seolah tidak ada siapa-siapa di hadapannya.


"Tuan."


"Tuan Ernest, saya mau pamit balik ke Surabaya habis ini, mungkin nanti jam 7 saya akan pergi."


"Kriikk.. kriikkk...," tetap tidak ada jawaban.


"Tuan, Tuan Ernest tidak papa kalau tidak mau menjawab saya, yang terpenting saya sudah memberi tahu tuan pagi ini," Jovi meremas tangan takut.


"Kamu kira saya tidak tau, kalau kamu pulang karena sudah ditunggu oleh semua petinggi kantor kamu," Ernest membatin dalam hati.


"Kalau begitu, saya permisi tuan, terima kasih tuan sudah memberikan tumpangan tidur untuk malam ini," Jovi berjalan pergi.


"Bandara tutup, tidak ada penerbangan,"


"Hah?," Jovi menoleh.


"Aaa... saya tidak naik pesawat tuan, saya rencana naik bis, habis ini saya mau ke terminal."

__ADS_1


Ernest membiarkan ucapan Jovi berlalu begitu saja.


__ADS_2