
Didalam taksi, yang dikemudikan oleh sopir berusia tua tersebut. Deraian air mata menetes di pipi Jovi. Senja yang belum keluar, juga masih bermalas-malasan menampakkan diri.
Tangis adik Jovi, bernama Aqila, masih tergambar jelas dimata. Bahkan suara tangis gadis kecil tersebut, masih mengiang-ngiang ditelinga Jovi.
Mata Jovi terpenjam, didalam mobil taksi. Melaju kencang, menuju rumah tuan muda. Bukan sebab kantuk, hatinya masih tersayat meninggalkan keluarga tercinta. Bukan atas keinginan sendiri.
Baju kerja yang Jovi gunakan, lengkap bersama heels sepatu tinggi. Seolah menambah beban dosa, yang tertumpuk dihati. Karena membohongi kedua orang tuanya.
Setelah tersadar, jika Jovi masih mengenakan atribut sebagai sekertaris perusahaan. Tangannya bergegas, langsung melepas sepatu yang dikenakan.
Jovi membuka koper kecil, disamping duduk Jovi. Mencari sepatu flat, memang sudah dipersiapkan dia sendiri. Tidak sampai disitu, diraih juga olehnya jaket warna biru.
Jaket untuk menutup atasan seksi, digunakan Jovi pagi ini. Ia menarik resleting hingga dibawah dagu. Hanya sisa rok span warna hitam, yang tidak bisa digantinya. Dengan terpaksa masih tertempel dibadan Jovi.
Make up cantik, sebelumnya mengawali hiasan wajah. Perempuan lulusan Stikes Wijaya itu, kini sudah menyulap menjadi wajah natural seperti semula, seusai mandi.
Hanya, pensil alis sederhana digambar, dan pemerah bibir warna nute yang dipakai. Kemudian bedak padat kecil dari tas make up yang dipersiapkan oleh mama tercintanya.
Sedikit sapuan brush on, pada kedua pipi Jovi, sudah hilang diratakan oleh kapas toner. Maskara pada bulu mata, tidak lepas oleh gusuran tangan Jovi.
Sebelum akhirnya, Jovi sampai dirumah mewah milik Toni Wijaya kembali. Berhenti didepan salah satu rumah elite pada kawasana perumahan.
"Ini pak ongkosnya, terimakasih ya."
"Sama-sama neng, kembaliannya 50.000 ya," senyum sopir taksi.
"Sudah pak nggak usah, itu buat bapak saja," Jovi mendorong tangannya ke sopir taksi.
"Terimakasih ya neng.. semoga lancar kerjaannya," ucap sopir tua mendoakan.
"Iya pak.., terimakasih udah doa'in saya," Jovi tersenyum sopan.
Setelah kereta biru, yang biasa disebut taksi itu pergi, dari salah satu kompleks perumahan mewah di Surabaya. Sebetulnya Jovi sedikit malu, saar menunggunakan rok span hitam.
Ukuran rok selutut, identik dengan outfit yang dipakai Jovi setiap ke kantor. Seperti sekertaris-sekertaris lain, yang menggunakan semua atribut itu.
Pak satpam, membuka pintu pagar rumah. Melihat agak terkesima, mendapati penampilan perempuan dengan rok hitam diatas lutut itu.
Meski jaket sudah menutup tubuh, tapi body goals yang dimiliki Jovi, sangat indah buat dipandang. Kaki jenjangnya benar-benar terlihat terawat.
"Selamat pagi suster," sapa Pak Tono salah satu satpam.
"Pagi juga bapak," Jovi tersenyum kaku, mempercepat langkah kakinya.
Kaki Jovi berlari, membawa koper yang sudah dibawa kedua tangannya. Dari garasi, Pak Yoyok sudah terlihat berkemas.
"Eh suster Jovi.., pagi sekali datangnya.. baru pulang dari kampung ya sust?" tanya Pak Yoyok.
"Iya Pak Yoyok, ini sekarang baru balik," jawab Jovi tersenyum.
"Tuan muda belum bangun suster," Pak Yoyok tangannya mulai membersihkan mobil.
"Iya pak yoyok..," hati Jovi melega.
"Mari Pak Yoyok," dirinya berpamit masuk.
"Iya suster, silahkan," kata Pak Yoyok mendengarkan lagu dangdut.
Suster suruhan itu, melihat jam dinding bulat. Tergantung, di tembok garasi rumah. Memang baru menunjukkan pukul, 05.45 pagi. Jovi berhasil tidak datang terlambat.
Pak Yoyok saja, baru mulai mengelap mobil-mobil mahal di garasi rumah. Bibi-bibi juga baru terdengar, sahut menyahut membersihkan semua ruang.
Dirinya masuk ke dalam rumah, dimana sedikit aktivitas para bibi terdengar ditelinga. Lampu rumah, juga sudah dimatikan rata. Tidak ada Tuan Toni, yang Jovi amati di setiap ujung ruangan.
"Belum ada Tuan Toni, Tuan Ernest juga masih tidur.. Syukurlah.., aku masuk ke kamar dulu aja," gumam Jovi sendiri.
Ditariknya koper kecil, dalam genggaman tangannya. Menuju kamar disamping Ernest. Jovi berlari, bahkan dirinya tidak menyadari, kamar Ernest sudah setengah terbuka.
"Suster Jovi....,ke napa baru datang?" tanya Ernest mendapati Jovi lewat depan kamar.
"A-aa iya tuan, maaf tuan, tadi saya ditangisi adik saya tuan, jadi telat." jawab Jovi.
Jovi setengah mati terkejut, mendengar Ernest bertanya kepada dirinya. Padahal, baru saja Pak Yoyok didepan. Mengatakan jika Ernest masih tidur.
Sangat sial pagi ini, doa yang diberikan sopir taksi pagi itu. Benar-benar tidak terijabah. Tubuh tinggi Jovi, tadinya berjalan cepat menuju kamar. Terhenti tiba-tiba, langsung menghadap Ernest.
"Ouh.."
__ADS_1
"Kamu bisa bantu saya siap-siap, soalnya saya mau ke kantor hari ini," pinta Ernest pasti tidak bisa ditolak.
"Bi-bisa Tuan Ernest, saya masukkan koper ke kamar sebentar ya tuan," pamit Jovi.
Anggukan kepala Ernest, seperti pacuan gas mobil. Yang mana membuat, sekertaris cantik itu lari terbirit-birit. Menuju kamarnya sendiri.
Jovi tidak ada waktu mengganti rok, apalagi atasan seksi yang dikenakan. Roknya memiliki belahan, terbelah bagian belakang. Sangat menggoda.
"Tuan Ernest, ada yang bisa saya bantu?," tanya Jovi diantara nafas ngos-ngos'an.
"Kamu bisa ambilkan saya?? baju di lemari, serta jas sekalian," suruhnya.
"Baik Tuan Ernest," Jovi menurut seperti perintah.
"Kamu tidak tanya? tadi saya mandi sama siapa..?"
"A-a iya Tuan Ernest, maaf tuan, gara-gara saya tuan Ernest dimandikan Bik Yuni ya..?" ucapnya malah sok tau menebak.
"Saya mandi sendiri, pakai tangan kiri.. rasanya susah semua, besok-besok kamu jangan telat lagi, nyusahin saya aja," mata Ernest tak sudi memandang.
"Baik tuan, saya minta maaf tuan," ucapan Jovi terulang.
Ia lalu berjalan ke arah almari panjang, di sebelah utara ranjang kamar Ernest. pemilik kamar tersebut, sedang duduk diatas kursi roda. Sambil menikmati tayangan televisi, berita pagi.
Jovi tertarik, melihat kemeja warna putih sederhana. Diantara sekian baju, tergantung di almari. mata Jovi dibuat terbuai, oleh Outfit pewaris tunggal rumah itu, memang sangat banyak.
Hampir seluruh model jass, berbagai warna dimiliki Ernest. Kemudian, jass abu-abu diambil Jovi. Untuk melengkapi penampilan boss muda putra Tuan Toni.
Jovi berjalan menuju Ernest, pagi itu, menggunakan kaos putih tipis. Melihat Jovi seksi, menggunakan rok hitam belahan belakang. Tidak lepas, dari pandangan Ernest.
"Pakaian kamu sudah seperti sekertaris saja, apa kamu nggak punya baju lain?," lirik Ernest.
"Tadi celana saya kotor tuan, ketumpahan kopi, untuk mengejar waktu, saya langsung ambil bawahan tanpa mengecek lagi," jawab Jovi malu.
"Lain kali, gunakan pakaian yang sopan, itu tidak sesuai dengan profesi kamu," Ernest menasehati keras.
"Maaf Tuan Ernest, saya tidak bermaksud menggoda atau yang lain, sungguh tuan, saya tidak sengaja," tutur Jovi.
Tubuhnya menunduk, membawa pakaian di lengan tangan.
"Baiklah, alasan kamu saya terima," kata Ernest tenang.
"Tidak apa-apa tuan, saya tidak merasa keberatan."
Hari ini, jawaban Ernest. Semua mematahkan segala spekulasi, yang pernah Jovi dengar, tentang Ernest. Ternyata putra Tuan Toni tersebut, masih bisa menghargai.
Ribuan omongan dari orang-orang, jika Ernest memiliki sikap dingin. Beberapa pihak mengatakan jahat, dan keras kepala. Terlebur total oleh sikap Ernest, selalu ramah pada Jovi.
Kemudian, Jovi membuka kancing baju, untuk dipakaikan ke Ernest. Dirinya berdiri, didepan laki-laki. Berambut lurus, tapi acak-acakan, karena dari sisa tidur tadi malam.
Aroma wangi dari tubuh Jovi, tercium menusuk di hidung Ernest. Mengajak matanya, mengikuti arah Jovi berdiri.
"Suster"
"Iya tuan,"
"Nanti tolong, saya bawakan bekal saja ke kantor, saya tidak ada waktu untuk sarapan," Ernest menata duduknya.
"Baik tuan, habis ini saya akan kasih tau Bik Yuni, untuk mempersiapkan bekal," Jovi mempercepat tugas.
"Karena di kantor ada laporan penting, yang diminta klien saya, ayoo.. agak sedikit cepat suster," perintah Ernest masih belum puas.
"Ya Tuan Ernest, ini sudah cepat."
Jovi mengarahkan baju, sudah terbuka semua kancingnya. ke arah belakang tubuh Ernest, dengan kedua tangannya.
Tangan kiri Ernest, memasuki lancar lengan baju.
Sementara dilengan kanan, Jovi harus lebih dulu, mendudukan setengah badannya. Membuka gendongan, penyangga gips tangan yang dipakai Ernest.
Setelah, gendong penyangga dilepas Jovi. Perlahan ia memasukkan tangan Ernest, ke arah baju putih tadi. Lengan kemeja kiri kanan Ernest, satu persatu dikancing Jovi.
Sesudah itu, Jovi mengancingkan kemeja dari atas hingga bawah. Mata Ernest memandang, paha mulus yang terangkat dari rok hitam Jovi.
Suster yang baru beberapa hari kerja dirumahnya itu, fokus melakukan persiapan Ernest ke kantor. Kepala Jovi menunduk, mengancingkan kemeja.
Semua membuat Ernest, tidak bisa memandang Jovi. Hanya rambut rapi berjepit lidi, dipandang mata CEO tampan.
__ADS_1
"Suster, kamu lupa ambil dasi sama ikat pinggang saya."
"Ouh iya Tuan, baik saya ambilkan dulu," Jovi beranjak mengambil.
"Saya mau dasi warna hitam saja, dan jangan lupa jam tangan saya di laci ya suster," tutur Ernest.
"Baik tuan."
Jovi mengambil rentetan benda, sebab lupa dibawa. Mata indahnya, mendapati laci meja penuh jam tangan mahal. membuatnya sedikit tercengang.
Koleksi jam, dasi mahal, dan baju-bajunya. Menjawab semua kesuksesan Ernest Wijaya.
"Tuan, sudah," Jovi membawa semua.
"Permisi tuan," ucap Jovi sebelum mulai mengangkat kerah kemeja Ernest.
"Iya," Ernest bersiap mendongak'kan kepala.
Jovi kembali mendudukan diri, setengah badan seperti tadi, didepan tuan muda. Memasangkan dasi, pada bagian kerah leher. Tangannya mahir, memakaikan dasi hitam, pola demi pola.
Setelah pola pertama, lalu kedua, dan ketiga. Jovi mulai sedikit lupa, kemana pola selanjutnya, untuk menyimpulkan dasi. Beberapa kali dibolak-balik, tapi belum berhasil juga.
"Sudah atau belum suster?," tanya Ernest mulai lelah mendongak.
"Belum tuan.. sebentar tuan," kata Jovi semakin gugup.
3 menit kemudian.
"Sudah suster?," tanya Ernest mengulang.
"I-iya tuan, sebentar," ucap Jovi semakin gugup.
Ucapan Ernest, justru semakin membuatnya panik. Lama menunggu Jovi masih belum selesai, kepala Ernest sudah sangat lelah. Ernest lalu menurunkan kepala.
"Tuan..., mmmbbb...," ucapan Jovi tersumbat kecupan bibir Ernest.
Ketidak sengajaan Jovi, menengadah ke atas. Untuk memberi tahu ke Ernest, pada saat yang sama, Ernest menurunkan kepalanya. Sehingga ciuman di bibir Jovi, tidak bisa terelak'kan.
Kedua tangan Jovi mendadak kaku, di atas dasi hitam Ernest. Bibir lembut laki-laki, yang menempel hangat pada bibir Jovi. Terasa dingin, menjalar ke tubuh suster tersebut.
Jam dikamar, seakan tak bisa menjalankan jarumnnya. Merasakan lembut bibir Jovi, rasanya Ernest tidak betah ingin ********** saja.
Tanpa sengaja, kecupan di bagian bawah bibir Jovi, terasa dilakukan Ernest. Sebelum akhirnya, Ernest melepaskan ciuman tersebut.
15 detik ciuman, Jovi langsung mendorong jauh tubuhnya ke belakang. Mereka berdua lalu tersadar, menjauhkan diri masing-masing.
"Ma-maaf tuan.. sa-saya," Jovi tergagap.
"E-emb i-iya," jawab Ernest jaim menyembunyikan sikap salah tingkah.
"Saya tidak ber-ma-maksud," Jovi mau menjelaskan.
"Sudah selesai kan sust, sekarang bantu saya berdiri saja suster," pinta Ernest.
Ia sengaja tidak memperjelas kejadian tadi.
"Baik tuan.. hati-hati ya tuan," Jovi mulai memegangi tangan kiri Ernest, membantunya berdiri.
Jovi menyadari, berdiri dengan satu kaki normal, dibagian kiri. Membuat keseimbangan Ernest kadang goyah. Dia membantu, memasukkan kemeja putih ke dalam celana.
Ernest seolah tau, jika Jovi tidak bisa membantu, memasukkan kemeja pada bagian depan Ernest. Membuatnya memasukkan sebisa mungkin sendiri, lewat tangan kiri Ernest.
Tangan Jovi melingkar rapi, di pinggang membetulkan setelan jass. Kedekatan tubuh diantara keduanya, kembali tidak disadari. Saat Jovi mengambil ikat pinggang hitam, yang sudah dibawa. Di lingkarkan pada celana Ernest.
"Saya capek suster, haduuh," katanya menahan sakit.
"Baik, tuan duduk dulu saja," Jovi membantu duduk di atas kursi roda.
Setelah selesai semua, perempuan cantik berjaket biru tersebut. Mengambil jam tangan rolex hitam, dipasangkan pada tangan kiri Ernest.
Terlihat, jemari putih, tangan yang tergores luka-luka kecil, tapi sudah mengering di bagian tubuhnya.
"Saya sisir rambut tuan sebentar ya," izin Jovi.
"Hmmm..," angguknya.
Telatennya Jovi, mendandani Ernest. Saat ini belum memunculkan perasaan apa-apa. Semua masih mengalir begitu saja.
__ADS_1
Meski begitu, sisiran rambut yang dilakukan Jovi. Membuat Ernest, kembali mengingat almarhum mama'nya. Biasa melakukan hal tersebut, dengan kasih sayang tulus.