Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
23. Jovi Dan Ernest Janjian ?


__ADS_3

Hari ini Ernest terpaksa mengurungkan niatnya untuk mengajak Jovi, pergi ke taman yang tidak jauh dari rumah sakit. Setelah selesai melepaskan gips'nya.


Karena ajakan reuni yang mendadak dari Frans, akhirnya kesepakatan untuk kembali pulang, disetujui oleh Ernest dan juga Jovi. Mobil kembali dipacu melaju kencang, tidak jadi ke arah taman.


Terik matahari, yang terpantul dari kaca mobil bagian depan, menandakan bahwa hari sudah mulai siang. Kepulan asap karbon dioksida berasal dari kendaraan bermotor, menjadi pemandangan sehari-hari.


Saat Ernest dan Jovi akan kembali pulang, jalanan sedikit terlihat lenggang. Karena jam kerja kantor dan anak-anak belum pulang dari sekolah.


"Pak Rahmat, kita mampir ke minimarket biasanya ya..!!," Ernest memerintahkan Pak Rahmat.


"Baik tuan," anggukan kepala Pak Rahmat terlihat dari spion mobil.


"Suster Jovi, tolong nanti belikan saya susu steril satu, dan permen penyegar tenggorokan ya..!!," kali ini ucapan Ernest memerintahkan suster cantiknya.


"Baik tuan."


Tidak lama setelah mendengar perintah dari Ernest, pacuan mobil dari setir handal Pak Rahmat. Sudah sampai didepan minimarket, seperti yang Ernest minta.


Dari kaca pintu masuk minimarket, terlihat sepi para pengunjung. Hanya beberapa antrian orang di depan meja kasir, tidak begitu berjubal.


Jovi kemudian membuka pintu mobil, turun dan berjalan masuk ke dalam minimarket. Sepatu flatt putih yang digunakan, terpantul cahaya matahari.


Alunan musik barat ternyata yang menyambut kedua telinga Jovi. Hanya ada beberapa pembeli, mencari barang sesuai lorong kebutuhan mereka.


Dua pintu kulkas besar, banyak menyajikan berbagai varian minuman seperti coffee, susu, air mineral dan pudding terjajar rapi sesuai produk dan harga yang tertera.


Tangan Jovi mengambil 2 susu steril yang dimaksud Ernest bergambar naga.


"Mama aku mau ini ma.. aku mau ini ma," suara pengunjung salah satu minimarket.


"Jangan sayang.. kalau kebanyakan coklat, nanti giginya habis dimakan ulat," jawab ibu-ibu yang terdengar ditelinga Jovi.


"Tapi kata mama, kalau rajin gosok gigi.. ulatnya nggak berani.. adek kan sudah rajin gosok gigi mah," suara anak kecil itu membantah.


"Ya tapi kan, kalau nanti udah gosok gigi terus makan coklat.. giginya berlubang gimana hayooo..? nanti mama takut kalau adek ompong.. mama kan sayang adek," ucap mama anak perempuan tersebut.


Meski Jovi hanya mendengarkan percakapan anak kecil dan orang tuanya, yang berasal dari arah lorong snack. membuat Jovi tersenyum sendiri.


Pikirannya kembali mengingat Aqila adik tercinta Jovi. Sudah hampir 3 minggu ini, Jovi belum bisa bertemu Aqila. Biasanya, Aqila selalu meminta coklat kinder joy dan oreo coklat kesukaannya.


Sesudah mendapatkan dua susu steril digenggaman tangan kiri Jovi, dia berjalan sengaja menuju lorong snack, seperti yang diinginkan hati kecilnya.


Tak disangka perempuan mengenakan setelan kulot hitam dan atasan coklat, bersama dengan anak kecil, yang ternyata adalah Aqila. Tumben mama Jovi berada di sekitar kawasan kota satelit.


"Mamah...." Jovi membatin tertegun melihat mama dan Aqila


"Ini aja ya Aqila..!! kalau sudah, ayo kita ke kasir," mama Jovi memilihkan camilan buat Aqila.


"Nggak mau,itu aja mah..," rengek Aqila menunjuk ke arah Jovi berdiri.


"Yang mana, yang ini? satu aja ya..!! sudah," mama Jovi membalikkan tubuh yang tadi arahnya membelakangi Jovi.


"Heem.. aku mau.. beli 2 ya mah..!! buat Aqila sama kak Opi, " pinta Aqila terdengar kegirangan.


"Iya sayang.. tapi Kak Opi masih di Jakarta."


Beruntung, meski tubuh Jovi gemetar, tidak sengaja melihat Aqila dan mama Jovi. Perempuan cantik tersebut masih berhasil menarik kakinya, untuk bersembunyi dibalik lorong lain. Dekat bagian snack.


Rasa rindu bercampur takut, semua melebur jadi satu. Ingin menyapa tapi Jovi ingat oleh alasan yang dibuat. Dirinya juga takut, orangtua Jovi mengetahui kehadirannnya.


Mendengar Aqila yang menyebut nama Jovi, dibarengi permintaan polos Aqila, Rasanya naluri seorang kakak di dalam diri Jovi tak kuat terbendung.


Jovi merasa seperti ingin meronta keluar, dari penyamaran suster yang dijalankan. Lalu memeluk adik kecilnya Aqila, pulang kembali ke rumah bersama orang tuanya.


Kaki yang tadinya menopang kuat tubuh tinggi Jovi, sekarang terasa linu disetiap sendi. Suster cantik itu, membiarkan Aqila dan mamahnya lebih dulu pergi ke arah kasir.


Ditutupi oleh lorong perlengkapan rumah, mata Jovi terlihat berkaca-kaca. Memandang jelas, mama cantiknya membayar kebutuhan yang sudah dibeli.


"Mah.. maafin Jovi ya mah.. udah boongin mamah.. Jovi rindu sama mamah.. Jovi juga rindu sama kamu Aqila" gumam Jovi dengan batinnya sendiri.


"Kakak masih di Surabaya Aqila, kakak nggak kemana-mana. Bahkan kakak masih bisa ketemu kalian" kata Jovi seolah ingin menjawab semua pertanyaan Aqila


Kemudian tidak berselang lama, setelah Aqila dan mama Jovi menghilang dari pintu minimarket. Sekarang Jovi sudah berani jalan ke kasir, membayar barang yang sudah dinota ke dalam komputer.

__ADS_1


Selanjutnya, perempuan cantik tersebut, kembali ke mobil dan memberikan susu yang minta oleh Ernest. Pajero Sport milik Ernest tak lama kemudian, dilajukan kencang oleh Pak Rahmat agar segera sampai dirumah.


Setelah sampai ke rumah, seperti biasa, Pak Rahmat membantu Ernest keluar dari mobil. Kedua tangan Pak Rahmat membuka kembali kursi roda, yang tadinya terlipat di dalam bagasi mobil.


Sayang.. Ernest menolak menggunakan kursi roda itu lagi. Pria berhidung mancung tersebut, meminta Jovi untuk mengambilkan salah satu model sepatu milik Ernest.


Dia meminta model sepatu yang dibagian tumitnya terbuka, namun pada bagian depan seperti menggunakan sepatu. Jovi sudah terlihat berlari, mengambil sepatu.


"Ini tuan sepatunya," Jovi membawa sepatu yang dimaksud.


"Terimakasih Suster Jovi."


"Sama-sama tuan," jawab Jovi membantu Ernest mengenakan sepatu.


"Nanti sore saya ada acara reuni dengan teman-teman ya suster..!! saya nggak mau terlihat pincang atau seperti orang cacat, dengan menggunakan kursi roda," gerutu Ernest tidak seperti biasa.


"Baik tuan, kalau begitu Tuan Ernest bisa latihan jalan dulu..!! sebelum nanti sore berangkat."


"Luka di kaki saya tidak akan parah kan suster? saya mungkin hanya butuh waktu 2, 3 jam saja, untuk terlepas dari kursi roda sus," Ernest merasa bahwa luka di kaki Ernest tidak parah.


"Bisa tuan, tapi Tuan Ernest harus betul-betul hati-hati ya..!! apa nggak sebaiknya Tuan Ernest pakai kursi roda saja tuan? saya takut, nanti Tuan Toni akan marah sama saya lagi," Jovi ketakutan oleh ide Ernest.


"Nggak papa.. hari ini papa kebetulan nggak ada dirumah..?? Suster Jovi belum tau ya? papa 3 hari ini berangkat ke Semarang karena ada meeting," Ernest memberi tahu.


"Tapi kan tuan..?? Tuan Besar pasti akan tetap pulang tuan, tapi kalau tuan mau berangkat reuni."


"Ahhh... kamu kebanyakan tapi deh..!! sudahlah saya nggak mau, saya tetap mau berangkat ke reuni tidak pakai kursi roda," Ernest sangat bersikeras.


"Kalau tuan tidak mau kursi roda, tuan bisa pakai satu tongkat saja, atau kalau nggak gitu.. nanti saya ambilkan walker (alat bantu jalan) yang ada digudang" Jovi mencoba merayu.


"JOVI.. Kalau saya bilang nggak mau.. juga nggak mau," wajah Ernest merah membentak Jovi.


"Asal kamu berjanji nggak bilang ke papa, papa nggak bakalan tau kok," ucapnya sedikit mereda.


"Ba-baik tuan," Jovi terkejut karena baru pertama kali ini Ernest membentak dirinya.


"Janji ya kamu.. jangan bilang ke papa?," tunjuk Ernest memaksa.


Mulut Jovi berani tidak menjawab.


"Iyaa tuan," suaranya hampir tak terdengar.


Mendengar jawaban tak ikhlas Jovi, Ernest lalu masuk ke dalam rumah sendiri. Tangan kanan Ernest jual mahal, menolak uluran, bantuan tangan yang diberikan oleh suster cantiknya.


Tidak ada yang mengetahui apa alasan Ernest, untuk terlihat sempurna di depan para temannya. Padahal semua teman Ernest juga mengetahui, bahwa putra Tuan Toni tersebut, baru saja mengalami kecelakaan tunggal.


****************


Siang hari yang biasanya digunakan Ernest untuk beristirahat, ketika sedang libur tidak ke kantor. Sekarang tubuh tinggi Ernest ternyata sedang menyibukkan diri, belajar berjalan di ruang tengah.


Dimana panorama ruangan, langsung menghadap ke arah kolam renang sangat luas. Pintu kaca yang langsung memperlihatkan taman samping, tampak menawan.


Ernest menyadari, karena tidak ada Jovi yang membantunya belajar berjalan. Jadi tangan kiri maupun kanan Ernest, menjadi penyangga ketika laki-laki berhidung mancung tersebut, tidak bisa menjaga keseimbangan.


Rupanya Ernest mencoba belajar mandiri, karena nantinya Jovi tidak akan ikut pada pertemuan reuni.Tak sengaja, kedua bola mata Ernest menemukan Jovi, yang sedang bersembunyi dibelakang tirai.


Nampaknya kemarahan yang baru diluapkan Ernest, mungkin menjadi penyebab Jovi tidak berani menghampiri Ernest. Jovi sendiri sebenarnya masih khawatir oleh apa yang dilakukan Ernest.


Jemari tangan Jovi saling meremas, meski mulutnya tidak berani melarang Ernest. Tapi dirinya sangat terlihat khawatir.


"Suster Jovi....," suara Ernest seolah memanggil betulan.


"Ya tuan," sahut Jovi langsung memunculkan diri.


"Hmmm.. ambilkan saya minum donk suster," pinta Ernest sesuka hati.


Ernest tertawa melihat Jovi yang berlari menuju lemari es pintu dua.


"Ini tuan,"Jovi memberikan botol minum.


"Ouh terimakasih ya," jawab Ernest kembali memasang wajah serius.


"Iya tuan," Jovi mengangguk.

__ADS_1


"Suster..!!," Ernest memanggil lagi.


"Hmm.." Jovi melihat ke arahnya.


"Ambilkan saya roti dong," pinta Ernest 2x sudah menjahili susternya itu.


Tanpa Jawaban, Jovi jalan cepat mengambil roti di mini bar dapur


"Ini...," Jovi menyodorkan roti.


"Makasih," Ernest menaruh roti di kursi.


"Iya tuan," jawaban sama lagi yang di dapat Ernest.


"Suster Jovi...," Ernest memanggil lagi ke 3x.


Padahal jelas-jelas Jovi masih berada didepannya.


Jovi mengangkat kedua alis diwajah.. itu bentuk kode jika Jovi sudah merespon panggilan dari Ernest.


"Ambilkan saya susu donk," ucapnya memerintah lagi.


Jovi berlari mengambil susu


"Ini tuan," perempuan cantij itu menyerahkan sekotak susu.


"Thank you Jov," Ernest merubah ucapannya.


"Iya tuan," jawaban Jovi lagi-lagi tetap sama.


Sekarang, Ernest membiarkan Jovi tanpa perintah darinya. Dan benar seperti yang di fikirkan oleh tuan tampan tersebut. Jovi tetap mematung lagi, bak seperti robot yang menunggu perintah dari sang pemilik.


Wajah cantik Jovi, juga sama sekali tidak memunculkan rasa kesal, dan terlihat masih sangat sabar.


"Suster Jovi," entah sudah ke berapa kali Ernest memanggil.


"Ya tuan, ada apa?."


"Coba lihat saya."


Jovi mengangkat kepala memandang Ernest.


"Suster.. saya tau kamu bekerja, tapi kamu tidak lebih dari seperti seorang robot.. bahkan kamu tidak merasa kan bahwa saya lo, dari tadi sedang mengerjai kamu.."


"Hah..? mengerjai..??," raut wajah Jovi kaget.


"Iya.... kamu nggak sadar kan? apa selama ini kamu selalu di doktrin orang tua kamu .. hanya untuk seperti itu.. tidak kan??," tanya Ernest.


"Cobalah suster, untuk merubah kebiasaan kamu yang seperti itu, awalnya memang bagus.. tapi selanjutnya.. kamu tidak lebih sebagai mesin pemuas," tutur Ernest mencoba memberikan arahan.


Jovi hanya terdiam.


"Kamu umur berapa?."


"Saya tuan..?? saya umur 25 tuan."


"Nahh.. kan.. seharusnya kita bisa menjadi teman..!! kamu seperti orang yang terlalu banyak mendapat tekanan.. sehingga mencetak kamu menjadi pribadi yang seperti ini," Ernest menilai Jovi dari kaca mata dirinya.


"Jovi..," panggil Ernest bersuara lantang.


"Ya tuan," mata Jovi tidak bisa lepas memandang Ernest.


"Bahkan kamu tidak berani manggil saya hanya dengan sebutan Ernest kan..? padahal saya sudah sangat tidak sopan, memanggil kamu tanpa sebutan suster..," dia semakin menggeleng kepala.


"Suster Jovi.. coba dengar apa yang saya katakan.. kita boleh menghormati orang, kita boleh taat oleh aturan, kita boleh disiplin oleh apa yang kita rasa benar.. tapi satu..?? jangan sampai semua itu menjual jati diri kita.. tetaplah menjadi diri kamu sendiri, yang apa adanya," nasehat Ernest memasuki kedua telinga Jovi.


"Ibu Kartini saja sudah berjuang mensetarakan derajat laki-laki dan perempuan.. tapi kenapa kamu terlalu takut dengan saya..?? bagi saya suster.. saya akan lebih bahagia ketika masuk penjara, setelah mengeluarkan pendapat saya.. dari pada suara hati kita yang dipenjara, dan kita tidak bahagia" kata Ernest dengan sangat bijaksana.


Dengan kedua tangan Ernest yang memegang kedua pundak kanan kiri Jovi, sangat terlihat begitu simpati.


Telinga perempuan berkulit putih, yang mendengar semua nasehat dari Ernest, membuat kedua mata Jovi berbinar-binar.


Bibir indahnya seperti tak kuasa menahan tangis, oleh semua yang diucapkan Ernest.

__ADS_1


Meski Jovi tidak pernah membicarakan semua yang dia alami kepada tuan tampan dirumah itu. Rasanya semua yang diucapkan oleh Ernest, sama persis dengan apa yang Jovi alami.


Bahkan Jovi saja sudah lupa, sejak kapan terakhir dirinya berani mengeluarkan aspirasinya. Setelah akhirnya Fictor yang menjadikan Jovi menjadikan seperti hari ini.


__ADS_2