
Fictor salah tingkah.
"Ma, maaf Ola."
Ola mengangguk malu dan segera pergi.
Jebrakk.
Pintu ruangan di tutup Ola keluar.
Dalam kurun waktu dua tahun, baru kali pertama Fictor lengah, sampai mencium perempuan lain yang bukan Helen.
Sangat malu.
Fictor seperti kehilangan kendali. Depresi yang dialaminya akhir-akhir ini, membuat ia seakan linglung dan membutuhkan perempuan di sampingnya.
Jarum jam memutar terus.
"Tok tok tok." suara ketukan pintu lagi.
Takut apabila itu Ola, dagu putra bapak Purwo tersebut sudah naik tinggi ke atas.
"Ya masuk."
Ternyata memang Ola yang masuk.
"Ma, maaf pak, saya mau mengambil berkas yang sudah Pak Fictor tanda tangani."
Ucapan Ola sangat formal berbeda dengan sebelum ciuman tadi. Fictor merasa bangga, Ola ternyata lebih salah tingkah dulu. Membuat Fictor tidak susah-susah menutupi malu.
"Tumben manggil pake embel-embel Pak.."
Ola menyabet map sangat cepat. Buru-buru ia mengambil salinan berkas tanda tangan Fictor juga.
"Ngapain sih loe cepet-cepet? mau BAB?," tanya Fictor cengengesan.
"Tidak Pak."
"Eh, gue tau, loe pasti kan yang tadi ngegoda gue sampe akhirnya gue nggak bisa kontrol," tanyanya.
"Maaf pak, ada tamu papa Pak Fictor, permisi..!!," Ola menghilang dari pintu.
Wajah Fictor memucat.
"Papa, ada apa ke sini?."
"Kamu ya? kamu ini bisa nggak?? kamu berbicara yang lembut dengan karyawan kamu." alis papa Fictor menyatu sengit.
"Nggak, tadi Fictor hanya bercanda. Fictor biasa memanggil sekertaris Fictor dengan seperti itu."
Plaaakkkk.
Pipi Fictor di tampar.
Om Purwo menggampar pipi putranya tanpa ampun. Seolah sudah terbiasa, Fictor tidak terkejut ataupun membalas. Itu seakan menjadi makanan sehari-hari.
"Kalau kamu menghargai karyawan saja tidak bisa, bagaimana kamu akan membawa perusahaan ini maju? hah???."
Cuitan Om Purwo tepat dihadapan wajah Fictor. Kedua bola mata seperti nampak ingin keluar, papa Fictor sangat marah.
"Apa yang sudah kamu lakukan untuk perusahaan ini? apa? hah??," kerah baju Fictor di tarik ke depan semua oleh Om Purwo.
"Bisnis stag, hutang di mana-mana," cengkraman tangan di leher Fictor sangat keras.
"Papa," pekik Fictor.
Brakkkk...
Tubuh Fictor di dorong lalu tersungkur ke meja.
"Lihat apa yang kamu lakukan Fictor? anak perusahaan kita sudah di identifikasi kepolisian, berapa saham kita yang akhir-akhir ini kamu jual."
"Hoaaaaahhh," Pak Purwo berteriak.
"Jual diri kamu..!! jual..!! jual..!!! nggak berharga, juall..!!!"
Brukkkk..
Paha Fictor di tendang.
Plaaakk..
Tamparan di pipi kanan terasa panas.
Keadaan di ruang direktur berubah menjadi lapas. Sangat kejam papanya memperlakukan Fictor.
"Sampah, kamu itu nggak berguna..!! lihat adik kamu, di luar negeri tidak pernah merepotkan papa. Sedang kamu anak macam apa?? biadaabbb."
Semua yang terlontar sama sekali tidak di pangkas. Papa Fictor sangat tempramental.
"Hasil kuliah kamu? hasil seminar kamu di mana-mana apa hasilnya? malah semakin membawa hancur perusahaan. Papa sudah peringatkan kamu, bicara yang sopan, layani yang sopan, semua klient, semua pekerja."
__ADS_1
Pak Purwo benar-benar sangat marah.
Fictor terlihat berdiri lagi. Kaki kirinya sempat terseok tidak parah. Jass yang di kenakan Fictor, mengeluarkan amplop coklat surat "Kepolisian Repvblik Indonesia".
Surat itu di buang ke meja.
Fictor begitu sakit hati, wajahnya memerah sayu, tatapannya sudah bercampur air.
Papa Fictor sendiri, mengamati surat tersebut.
" Surat dari kepolisian?," gumam Pak Purwo di hati.
Sedikit termenung juga Pak Purwo melihat surat beramplop coklat tersebut.
Ternyata, surat tersebut berisi pemanggilan Fictor ke polisi dalam mempertanggung jawabkan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam mendirikan anak cabang perusahaan.
Mata Pak Purwo membaca dengan sangat seksama.
"Sekarang Fictor tau, kenapa Fictor yang papa jadikan sebagai CEO di sini? karena papa takut, papa takut dipenjara, papa yang tega membuat anaknya sebagai tumbal di kantor polisi."
Mata papa Fictor memerah. Tangannya mengepal. Seketika pukulan tangan langsung melayang.
Bug..
Dada Fictor terpukul tanpa ampun.
"Auuuhhh," Fictor kesakitan.
"Bisa-bisanya kamu berfikir seperti itu terhadap papa kamu sendiri. Durhaka kamu Fictor..!! Semua orang tua tentu ingin yang terbaik untuk anaknya. Kamu saja yang bodoh, tidak memiliki pencapaian, dunguu..!! ya kamu itu dunguu..!!"
"Seperti mama kamu," ucap Pak Purwo pelan.
"Ya, karena kalau mama masih hidup, papa nggak akan bisa nikah sama selingkuhan papa. Kalau perusahaan ini bangkrut, papa tidak akan bisa memfasilitasi anak kesayangan papa yang ada di luar negeri itu ber miliyaran setiap bulannya." mata Fictor sayu.
Sttttt....
Pandangan Pak Purwo sengit.
"Jaga ucapan kamu, jangan kamu bawa bawa adik kamu karena kegagalan kamu ini. Kamu yang harusnya intropeksi diri..!! kamu tidak punya teman, kamu tidak tanggung jawab, ya itu kamu.!!."
"Tapi Fictor bukan pengecut. Fictor akan penuhi panggilan kepolisian, sekalipun tanpa menyeret orang tua," suara Fictor terhenti di tenggorokan.
"Dan Fictor bukan benalu," teriaknya.
Suasana mendadak di sergap keheningan. Pak Purwo tertegun. Beberapa menit, papa Fictor membantah lagi.
"Kamu yang benalu, kamu yang memang sampah, adik kamu di luar negeri sana belajar, iya dia sedang belajar, belajar kok." Pak Purwo seolah menyakinkan diri.
"Fictor..!! hey.. Fictor," panggil papanya.
Laki-laki berjambang itu keluar ruangan. Sakit kaki yang tertendang terlihat di tahan. Ola melihat Fictor keluar ruangan.
Gema suara papa Fictor yang memanggil anaknya masih terdengar berulang-ulang tapi Fictor tetap pergi. Laki-laki angkuh itu, membuat Ola menjadi kepikiran.
********************
RUMAH SAKIT INTAN MEDIKA.
Papa Jovi sudah lega saat mengetahui kondisi Jovi. Putrinya sudah melewati kondisi masa kritis.
Mama Jovi ingin segera sekali memberi tahu suaminya, akan tetapi Dokter Nalen masih setia di ruangan. Papa Jovi juga selalu mengangguk percaya dengan semua yang dikatakan Dokter Nalen.
Mama Jovi sebenarnya tau, dalam setiap percakapan, selalu ada beberapa bagian yang dengan halus Dokter Nalen menjelekkan putra Toni Wijaya itu.
"Saya tidak tau harus berapa terima kasih yang saya ucap ke kamu Nak Nalen. Terima kasih sekali, kalau tidak ada kamu, mungkin Jovi akan mengalami hal yang lebih buruk lagi."
"Sama-sama Om, itu sudah tugas saya, dan sudah kehendak Tuhan juga saya yang dipilih menemani Jovi. Ya walaupun kita tau, di situ juga ada tunangannya, tapi mungkin Pak Ernest sibuk." Dokter Nalen senyum.
"Ya barang kali memang ini yang terbaik. Kelihatannya memang mereka tidak perlu lagi melanjutkan,"
"Aaa... papa..!! papah, Aqila pup pah, papa anter ke kamar mandi, cepet pah," mama Jovi mengalihkan.
"Ouh iya mah," papa Jovi beranjak.
"Maksudnya om?," Dokter Nalen bingung, ia semakin menduga hubungan Jovi dan Ernest tidak baik-baik.
"Tan, tadi maksudnya om apa ya? aaa.. Om, apa yang terbaik? memang sedang kenapa?," Dokter Nalen mengikuti papa Jovi.
"Hehehe, tidak apa-apa Dokter Nalen. Itu lo, maksudnya tidak perlu melanjutkan kerja di kantor Ernest, karena kan memang sebentar lagi menikah," mama Jovi senyum.
"Ouh begitu," Dokter Nalen kecewa.
Beruntung, lalu kemudian Dokter Nalen di panggil oleh perawat karena harus melakukan praktek. Mama Jovi bernafas lega.
Setelah itu, suami dan Aqila keluar dari kamar mandi. Sembari merapikan pakaian Aqila, nafas besar di keluarkan oleh papa Jovi.
"Ada baiknya mah, kalau memang pernikahan ini tidak jadi."
"Maksud papa apa? nggak, ini nggak baik." tutur mama Jovi.
"Mama denger sendiri kan, bagaimana Ernest memperlakukan Jovi? apa karena kesalahan Jovi di masa lalu yang masih belum bisa di terima oleh Tuan Ernest ya?."
__ADS_1
"Papah.. jangan menduga yang tidak-tidak. Kita hanya baru dengar sepihak saja. Kita saja belum bertemu dengan Ernest, Jovi pun juga masih belum bisa di tanyai apa-apa? jangan mudah percaya."
Lalu papa Jovi terdiam, ia lalu mengangguk.
"Pah, memang papa percaya kalau Ernest tidak benar-benar peduli dengan Jovi? ingat lo pah, pasti ada apa-apa sebelum Jovi cidera?."
"Ya sudah, kita tunggu Jovi sadar saja." papa Jovi menyerah menduga-duga.
"Itu lebih baik," mama Jovi mengangguk.
Saat itu, sampai dengan menjelang malam Jovi belum juga tersadar. Adzan maghrib berkumandang, mama dan papa Jovi juga turut bergantian melakukan sholat.
Aqila dengan dot susu yang menghampar di sofa, sedang menonton televisi. Papa Jovi membaca berita di ponsel, sembari menanyakan apakah Jovi sudah sadar?.
Beberapa menit kemudian, saat papa Jovi dan Aqila mengistirahatkan diri di sofa. Mama Jovi mengupas buah-buahan, suara Jovi merintih mulai terdengar.
Ruangan biru-biru, selang infus, mulai di lihat Jovi.
Perlahan ia mulai membuka mata.
Keningnya mengernyit, mata indah Jovi mengerjap beberapa kali. Jovi membuka mulut, memanggil mamah.
"Mama.."
"Jovi," mama senyum sambil menoleh.
"Kamu sudah sadar sayang?."
Bibir pucat Jovi tersenyum.
"Mama sendiri? papa sama Aqila kemana?."
"Itu papa di sofa. Aqila ketiduran mungkin, itu," mama Jovi menunjuk botol dot Aqila sudah tidak bergerak lagi.
Tau Jovi sudah sadar. Papa Jovi ikut menghampiri.
"Kamu sudah sadar nak? apanya yang sakit?."
"Kepala Jovi masih pusing pa."
"Papa panggilkan Dokter Nalen lagi ya?."
"Ng-nggak, gak usah." Jovi malas.
"Ya udah, kamu jangan banyak gerak dulu kalau gitu." ucap papanya mewanti.
Orang tua Jovi tersebut masih mengerubung putrinya. Mama Jovi sangat senang, Jovi sudah baikan. Ia ingin segera menanyakan apa yang terjadi.
"Tuan Ernest nggak ke sini mah? pah?," Jovi melihat mata mama papanya.
Papa Jovi menggeleng.
"Iya ke sini tadi," mama Jovi membohongi. Papa Jovi sedikit memicingkan mata. Dibiarkan oleh mama Jovi.
"Jovi mau ikut pulang, tapi Tuan Ernest tidak mau," ucap Jovi mengenang.
Tiba-tiba Jovi sedih, mengingat bagaimana Dokter Nalen mengambil tangan dan tubuh Jovi dari pangkuan Ernest.
Jovi memalingkan tubuh dari papa dan mamanya. Mata itu memerah, ingin bertemu Ernest, ingin meminta maaf. Ingin menebus semua dosa-dosa Jovi.
"Pulang ke mana? kamu kan masih sakit sayang, masak iya, kamu mau pulang ke rumah Ernest? menikah dulu, kalau mau ikut ke sana," mama Jovi menjulurkan lidah ke papa Jovi.
"Jovi ingin bertemu Tuan Ernest mah," pintanya.
"Urusi saja kesehatan kamu dulu Jov, jangan pikirin yang lain dulu," papa Jovi masih termakan omongan Dokter Nalen.
"Jadi kamu tadi ketemu Tuan Ernest? Tuan Ernest benar-benar ke sini? kamu ketemu di mana?," tanya mama Jovi.
"Tuan Ernest jalan di lorong rumah sakit. Jovi kasihan mah, kakinya yang sakit itu di tendang sama Dokter Nalen, tapi Tuan Ernest nggak pernah bilang sama Jovi," air matanya mengalir.
"Cup, cup, tenang..!! kapan ditendangnya? waktu tadi pas kamu pingsan jadi mereka berantem gitu?," mama Jovi mengusap pundak Jovi.
"Bukan," Jovi menggeleng.
Suara menangis Jovi mulai tidak beraturan.
"Biarin mah, biarin dulu," papa Jovi terlihat kasihan.
Usapan lembut tangan mama Jovi ke arah kepala kakak Aqila tersebut kembali menenangkan suasana. Jovi dihantui, ucapan mulut ia yang tentu menyakiti Ernest.
"Benar kan apa kata mama..!! pasti ada sesuatu di antara mereka." bisiknya.
"Ya kalau gitu, nanti papa akan ke rumah Tuan Toni saja untuk menemui Tuan Ernest."
Mama Jovi mengangguk sumringah.
Sedikit demi sedikit permasalahan ini mulai menemui titik terang. Meski Jovi belum bisa menjelaskan semua, akan tetapi kabar baik masih bisa di tunggu.
Tok.. Tokk.. Took..
Pintu di ketuk.
__ADS_1
Mama Jovi melihat ke arah pintu. Siapa yang datang selepas pukul 19.00 malam. Jovi juga mendengar ketukan pintu dari luar.