
Jovi pergi ke kamar mandi.
Suasana gedung yang semakin ramai, dengan pesta piring dan sendok yang kompak membuat suara, di iringi lagu medley dan penghibur acara, semakin menambah ramai.
Ernest menolak ajakan semua teman-temannya pergi clubbing. Tidak sengaja, ia melihat Meghan tidak jauh dari Ernest berdiri.
Tanpa fikir panjang langkah kaki Ernest menghampiri Meghan. Mantan kekasih CEO Wijaya Grup tersebut sepertinya tahu, bahwa kali ini Meghan akan mendapatkan amukan hebat.
Berbusana tak kalah cantik dari Jovi, mata Meghan menantang balik Ernest, menunggu Ernest menghampiri lebih cepat. Hati sudah dibuat dongkol, karena sikap Meghan.
"Meghan."
"Ernest, ada apa?," senyum Meghan garing.
"Gue peringatin sama loe, jangan loe berani sama Jovi waktu nggak ada gue. Kalau sampai terjadi apa-apa sama Jovi, jangan harap gue bisa baik sama loe lagi."
Meghan tercengang.
"Semakin loe berani sama Jovi, semakin sedikit harapan loe buat berkarir di Wijaya Grup," ancam Ernest.
"Aaaa.. tap-tapi,"
"Sekali lagi, jangan pernah loe berani berani sama Jovi, paham..!!," muka Ernest sangat marah.
Marcel, Gerald, Kiano, Frans saling lirik. Semua diam, setelah mendengar suara Ernest memaki mantan kekasihnya tersebut.
Meghan ingin sekali menangis, mendapat perlakuan seperti itu dari Ernest. Hati selembut sutra Ernest berubah menjadi ledakan amarah.
Sangat jarang sekali Ernest menggunakan kekuasaan, untuk mengintimidasi seseorang. Rasa kesal, kadang tidak terbendung lagi pada Meghan, hanya saja Ernest kadang masih merasa kasihan.
"Sabar brow, tenang dulu tenang..!! kalian sama-sama lagi emosi," Kiano menengahi.
"Dia yang selalu saja ngebuat Jovi susah, padahal Jovi sama sekali nggak pernah ngebuat hidupnya susah. Gue pun juga udah nggak pernah mengusik kehidupan dia lagi, tapi dia yang selalu seperti itu."
"Tenang men, udah-udah, begini-begini Meghan dulu juga adalah masa lalu loe, dia juga mungkin butuh waktu buat lihat loe sama yang lain," Frans ikut melerai.
"Gue nggak pernah benci sama loe Ernest, gue cuma pengen aja, gue pengen ada kesempatan lagi buat gue, hiks.. hiks.. Gue capek sama diri gue sendiri," Meghan justru menangis di tengah pesta.
"Maafin gue Ernest,"
"Bruukk..," Meghan memeluk Ernest.
"Eh, lepasin gue.".
" Nest, Nest, biarin Meghan pinjam pundak loe sebentar, sekali ini aja brow, kasihan dia," Frans tidak memperbolehkan Ernest melepas tangan.
Ernest tidak mau, dia tetap menjauh.
"Frans, bilangin sama sepupu loe, jangan kekanak-kanakan seperti ini, ini acara pesta pernikahan. Lepasin Megh," Ernest menyingkirkan tangan Meghan.
"Ernest, kenapa loe udah mau nikah sama Jovi? gue sayang banget sama loe Nest, gue pengen punya kesempatan sekali lagi, untuk. menebus dosa-dosa gue, gue sayang sama loe." Meghan menangis.
"Nest, biarkan dia tenang dulu, dia bakal semakin nangis dan bikin malu, kalau loe nggak ngertiin dia," Frans menaruh iba.
Ernest tidak ingin membuat kegaduhan.
Semua anak ikut mengerumuni. Mereka seolah tidak menganggap kehadiran Jovi, sehebat itu kehadiran Meghan di antara teman-teman Ernest.
Jovi menangis.
Ia semakin tidak mau mendekat.
Melihat Ernest bersama Meghan, meski sudah tanpa pelukan. Hanya suara derai air mata Meghan ditengah sayup-sayup musik pernikahan, Jovi merasa sakit hati.
"Gue sayang banget sama loe Ernest."
Kata-kata itu berkali-kali di ucapkan Meghan.
Marcel mengajak Kiano segera pergi dari kerumunan. Salah satu sahabat Ernest tersebut merasa, bahwa itu hanya drama yang di buat oleh Meghan.
"Pergi, pergi yuk.!!," Marcel menghilang, dia memicing kan mata ke Frans.
"Malu, maluin," Kiano juga kesal.
Sisa Gerald dan Frans yang masih mencoba melerai mereka. Marcel melihat Jovi tak berdaya menunggu Ernest. Wajahnya sangat sendu, tidak secantik saat datang ke pesta pernikahan.
Marcel kembali menghampiri Ernest.
"Nest, ditunggu Jovi."
"Ouh iya," Ernest di sergap sadar.
Ernest berlari menyeret kaki. Benar, Jovi terlihat diam sambil memandangi ke arah kerumunan tempat di mana Meghan, Frans dan Gerald berkumpul.
Meghan menepuk telapak tangan Frans, senyumnya terbersit. Sisa tangis masih ada di penghujung mata, tetapi bibir Meghan berhasil mengutara senyum.
"Sudah selesai dari toiletnya?."
"Sudah," Jovi langsung berbalik.
Ernest bingung memberi ekspresi. Sikap Ernest sangat kaku, ia semakin merasa bersalah.
Tanpa berucap, perempuan cantik tersebut menuju pintu keluar secara cepat. Tidak memperdulikan kaki Ernest yang masih sakit, Jovi tetap jalan keluar.
"Jovi, tunggu," pinta Ernest.
Perempuan cantik tersebut tetap tidak memperdulikan.
"Jovi," Ernest memanggil lagi.
__ADS_1
Jovi menoleh. Rupanya Ernest sedang bersalaman dengan tamu, yang kemungkinan juga rekan kerja Ernest.
Kakak Aqila tersebut sudah malas dengan semua.
"Bruuukkkkk.."
Jalan kaki Jovi menabrak Fictor.
Raut wajah yang sudah berusaha di tegarkan, semakin ingin meraung-raung.
Tubuh Jovi panas dingin, setelah sekian lama, sejak mengundurkan diri sebagai sekretaris, dirinya hampir tidak pernah bertemu lagi dengan Fictor.
Yang membuat Jovi semakin tertegun, Ola ada di samping Fictor dengan pakaian kerja. Semua semakin membuat Jovi terasa sendiri, tidak mempunyai teman kepercayaan lagi.
"Olaaa..."
"Jov...., " Ola kaget.
"Mppp- Pak Fictor," Jovi membungkukkan setengah badannya.
"Ouh Jovi..!! sudah enak bisa sukses jadi penjilat? Nyonya mudanya Ernest Wijaya hahaha.." kata Fictor.
Mata Ola melotot, tetapi Fictor tidak peduli. Ola merasa bersalah, ia seperti berada di kubu Fictor, semua menjadi salah paham besar.
"Saya permisi dulu, Ola gue pamit pulang dulu."
"Loh Jov,"
Jovi pergi.
"Ya Tuhan, Jovi tungguin gue," Ola mengejar Jovi.
Tangan Fictor menghentikan, Ola ingin marah tapi mereka sedang ada di pesta pernikahan. Mau tidak mau, Ola melihati Jovi yang pergi ke luar gedung.
"Ya Tuhan Jov, pasti loe udah bakalan berburuk sangka sama gue," Ola menelpon Jovi.
"Tut.. tutttt.. tuuuttt..."
JOVI BERDERING...
Karena banyak relasi Ernest yang hadir dalam pernikahan Sandi, mau tidak mau Ernest tetap menebar salam dan senyum kepada semua para tamu yang ia kenal.
Fictor mencium bau-bau pertengkaran Jovi dan Ernest. Setelah Jovi pergi, putra tunggal Tuan Toni baru terlihat menyusul pergi.
"Dari dulu, cidera mulu, kenapa loe nggak sekalian mati aja, susah banget bikin loe mati," ucap Fictor melihat Ernest pergi dengan tongkatnya.
Ola tidak memperdulikan Fictor, ia sibuk dengan ponselnya.
"Ola, loe tau cara ngebuat orang cepat mati?."
"Nggak tau Fictor, tapi kalau kebanyakan marah-marah kayak loe, ati-ati matinya cepet."
"Googling aja, pasti ucapan gue bener, gini-gini gue dulu kan sekolah perawat, wleeekkkk."
Fictor diam. Kelihatannya ia sedikit takut dengan mati. Sakit hati melihat Ernest belum bisa terlupakan sampai sekarang, apalagi saat melihat Jovi.
Fictor kemudian berjalan menuju pelaminan memberi selamat pada Sandi dan istri. Ola sendiri menemani Fictor, sembari tetap kepikiran Jovi.
TEMPAT PARKIR GEDUNG PERNIKAHAN.
Ernest mencari Pak Rahmat dan mobilnya.
Setelah mengetahui tuannya sudah keluar dari pesta, Pak Rahmat menghampiri Ernest. Jovi tidak ada di dalam mobil, halaman utama gedung pernikahan juga tidak menemukan Jovi.
"Tuan Ernest, Suster Jovi ke mana?,"
"Tidak tau Pak Rahmat, tadi dia keluar lebih dulu.. tapi kenapa perginya secepat ini. Pak tolong ya.. bapak juga pergi cari Jovi pasti dia belum jauh dari sini, saya juga akan cari."
"Baik tuan kalau begitu, ya ampun ke mana suster Jovi? saya permisi tuan," Pak Rahmat langsung lari.
Ernest mengambil ponsel. Ia menelpon Jovi terlebih dahulu. Ke mana perginya Jovi di malam yang sudah mulai larut ini.
Suasana acara pernikahan nampak mulai surut dengan hadirnya para tamu. Ernest menyusuri semua halaman dan tempat parkir gedung yang terbilang cukup luas tersebut.
Air mata, campur dengan khawatir, gugup, dibarengi rasa takut, semua di rasakan oleh Ernest. Dari tadi ponsel Ernest berdering tapi tidak di angkat juga.
Jovi ternyata sudah keluar gedung.
Perempuan cantik tersebut menapaki selangkah demi selangkah aspal jalanan untuk kembali pulang.
Sadar, di jalan tersebut tidak ada taksi, Jovi berjalan menuju perempatan, di mana biasanya taksi dan bis kota masih lewat sana.
Air matanya sudah menyatu, menghapus semua make up cantik hasil karya sist Eleaa. Heels tinggi yang bersemayam di kaki, semakin di ajak jalan jauh dari gedung.
Hati Jovi sedang kalut, semua ucapan Dokter Nalen, kehadiran Ola bersama Fictor, melengkapi semua sakit hati Jovi malam ini.
"Kenapa tuan?? kenapa kalau memang anda belum bisa lepas dari masa lalu, tuan tiba-tiba memilih saya? ya kan Jov, bener kan Jov, sudahlah Jov, jangan pacaran dulu, apalagi menikah, apalagi menggantungkan hidup kamu pada orang lain."
Jovi menangis sejadi-jadinya.
"Kamu bodoh Jovi, kamu gila, kamu terlalu bodoh. Tidak ada yang menyanyangi kamu, kamu hanya sebagai pelarian, tidak ada Jov, cinta setulus di negeri dongeng."
"Kamu tidak dianggap Jov, tidak di anggap dengan Tuan Ernest hikss.. hikss," tangis Jovi semakin meraung.
"Tiin.. tinn.. tinn.."
Bunyi klakson dari lalu lalang mobil di jalan menghantam telinga Jovi satu persatu. Jalan Jovi yang terkesan asal, kadang hampir berada memotong jalan, di marahi oleh para pengemudi.
Jovi menyandarkan tubuh di depan ruko kosong.
__ADS_1
Tubuh tingginya jatuh terduduk, tangannya menutup semua wajah, suara isak tangis Jovi yang tersisa sedikit-sedikit.
Laki-laki yang baru selesai keluar dari tempat tongkrongan. Sedang berjas hitam, sepatu warna hitam, dengan pita di bagian leher, mengamati Jovi di seberang jalan.
Sepupu laki-laki Sandi tersebut menghampiri Jovi. Baju yang dikenakan Jovi, terlihat sebagai salah satu tamu undangan, membuat sepupu Sandi penasaran.
Laki-laki itu menyebrang jalan.
Jovi terlihat diam, wajahnya ditutup, namun pundaknya masih naik turun mengatur sisa nafas.
"Mbak," panggil laki-laki itu.
Jovi terkejut. Batinnya takut, apabila itu orang mabuk.
"Mbak, nggak papa?," laki-laki itu memberanikan diri memegang pundak Jovi.
Jovi menggeleng kepala, meski kepalanya masih menunduk.
"Kenapa mbak menangis? mbak dengan siapa ke sini? acara pernikahan bung Sandi belum selesai," dengar lembut suara laki-laki tersebut.
Jovi memberanikan diri mengangkat kepala.
Terlihat laki-laki berkulit putih, hidung mancung, serta tahi lalat kecil di bagian kiri pipi laki-laki tersebut.
"Hilmi...!!,"
"Jov.., Jovi."
"Kamu benar Jovi?," ulang laki-laki itu.
Jovi mengangguk.
"Ya Tuhan, Jovi kamu kenapa?," Hilmi turut menjongkok'kan tubuh.
"Bagaimana bisa sampai ada di sini?," tanya Hilmi meski sebenarnya agak canggung.
Hilmi ternyata adalah mantan kekasih Jovi saat melakukan praktek kerja lapangan di rumah sakit Wijaya semasa kuliah dulu.
Hilmi berbeda kampus dengan Jovi, yang bukan merupakan alumni stikes Wijaya. Jovi pernah memimpikan Hilmi, namun sangat lama, mereka berdua sudah tidak pernah kontak lagi.
(baca episode 4, Hilmi pernah hadir di mimpi Jovi)
"Nggak papa," Jovi langsung cepat-cepat menghapus air mata.
"Kenapa menangis?," suara Hilmi masih lembut, masih sama seperti dulu.
"Tadi hanya kelilipan," Jovi menahan sekuat tenaga tangisnya.
"Bohong..!! Jovi, kamu juga teman dari bung Sandi, aku sepupu bung Sandi, gue antar pulang ya..!!"
"Ng-nggak, nggak usah." Jovi beranjak berdiri.
Setelah mencari Jovi tidak membuahkan hasil. Ernest dan Pak Rahmat memutuskan pulang dan melapor polisi.
Di jalan Pak Rahmat dan Ernest sama-sama mengamati semua sisi jalanan. Air mata Ernest hampir tidak terbendung, laki-laki yang sejatinya jarang menangis tersebut, merasa bersalah dan khawatir.
"Pak, Pak Rahmat lihat yang bagian kanan jalan ya..!! saya yang bagian kiri pak," intonasi Ernest tidak jelas.
"Baik tuan," Pak Rahmat melihat tuan mudanya sedang sedih sekali.
"Jovi, kemana kamu?," Ernest membolak balik ponsel.
Jalanan di sekitar gedung sudah mulai gelap. Ruko-ruko banyak yang tutup. Di lain tempat, Hilmi menawarkan lagi tumpangan, cuma Jovi tetap menolak.
Lampu penerang jalan, menyoroti dua insan di depan ruko, bersama dengan angin malam.
"Bagaimana kabar kamu? la-lama kita tidak bertemu?," tanya Hilmi.
"Aaaa.. ba-baik," Jovi menginstall aplikasi grab.
"Aaa.. begitu ya., aaa.. aku pergi dulu," kata Hilmi.
Hilmi bingung, malam ini bukan waktu yang tepat menanyakan kabar Jovi. Laki-laki tampan dambaan hati Jovi itu, berlari kembali masuk ke halaman parkir gedung untuk mengambil mobil.
Hilmi berencana untuk mengantar Jovi pulang.
Di dalam jendela kaca mobil, Pak Rahmat berteriak.
"Tuan, itu suster Jovi."
Ernest menoleh ke sisi kanan Pak Rahmat menunjuk.
"Iya pak, turun pak, turun." Ernest membuka pintu mobil.
Rasa sakit di kakinya sudah tidak dihiraukan lagi. Ia seolah sehat tidak membawa tongkat, air mata itu mengucur, melihat Jovi yang sudah tidak secantik berangkat ke pesta.
Make up'nya rusak karena air mata. Lengan tangannya kecoklat-coklatan karena menghapus sisa tangis. Jovi mengecek grab berhasil di install.
"Bugg.., "
Ernest memeluk Jovi.
Mantan sekertaris tersebut kaget, tiba-tiba Ernest sudah mengalungkan lengannya ke leher Jovi. Tubuh tegap dan kekar putra Tuan Toni mendekap erat tidak mau kehilangan.
"Maafkan saya suster."
Ernest mencium pundak Jovi. Lengan Ernest benar-benar tidak memberi ruang Jovi untuk bergerak. Jovi tidak bisa lepas dari pelukan.
"Maafkan saya, kamu boleh memarahi saya sesuka kamu, kamu boleh menampar saya, kamu boleh memaki-maki saya sesuka kamu, tapi tolong jangan seperti ini lagi."
__ADS_1
Suara Ernest sangat lirih, air mata menetes. Kepala CEO muda tersebut tak berdaya di atas pundak Jovi. Jovi tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya ikut menangis.