
Jovi terlihat santai, saat Ernest mengajak dirinya untuk memasuki kawasan The Plaza, Jakarta Pusat. Tempat perbelanjaan yang ramai oleh lalu lalang para pengunjung.
Dinner dadakan malam itu, Ernest terlihat tampan dengan kemeja hitam, serta bawahan celana warna abu-abu. Kacamata hitam di saku Ernest, juga turut menyempurnakan penampilannya.
Setelah kemeja panjang, yang dengan sengaja, di gulung bagian lengannya oleh Ernest. Semakin membuat manly, gaya busana CEO muda perusahaan Wijaya Grup tersebut.
Lingkar jam tangan rolex warna abu-abu, turut mengikuti penampilan Ernest malam ini. Meski hanya dengan sepatu sendal santai warna hitam, melapisi kaki, namun tidak mengurangi kharisma Ernest, menunjukkan kesan mewah.
"Kita jadi ke mana tuan?."
"Ke Enmaru suster, suster sudah tau?."
"Belum tuan hehe."
"Nanti juga tau, restoran Enmaru dulu tempat favorit saya dengan teman-teman, saat saya masih kuliah suster."
"Ouh," Jovi mengangguk paham.
Lantai 46 di pilih Ernest, saat mereka berdua masuk lift, tentunya dengan beberapa pengunjung yang memiliki tujuan berbeda.
Nampaknya, salah satu restoran mewah bernuansa Jepang tersebut, sudah menjadi pilihan bulat Ernest. Selain tempat yang romantis, Ernest juga sudah menaruh rindu, lama tidak mengunjungi restoran.
Restoran Enmaru sendiri, adalah restoran yang lokasinya sama dengan salah satu restoran romantis, Salt Girll-Altitude, dengan nama yang juga tak kalah populer.
RESTORAN ENMARU LANTAI 46.
Dari pandangan mata Jovi, restoran yang di perkirakan Ernest untuk mengajaknya makan malam. Ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi suster cantik tersebut.
"Wahhh... restoran ini mewah sekali, kaca-kaca itu, bisa melihat indahnya Jakarta dari atas, itu.. monas," Jovi membatin dalam hati.
Tak disangka, Ernest memilih restoran jepang cukup mewah, dengan beberapa menu andalan, di mana satu menu tersebut, bisa menghabiskan uang sebesar 600.000 hingga 1.000.000 rupiah.
"Suster Jovi, sebentar ya? saya mau reservasi tempat dulu, suster di sini sebentar ya..?."
"Iya tuan, saya tunggu di sini."
"Jangan ke mana-mana, saya cuma sebentar," Ernest benar-benar mewanti.
"Iya tuan, saya tidak akan ke mana-mana." Jovi asyik memandangi pengunjung.
Hampir semua pengunjung yang datang, tidak ada yang berpakaian seperti Jovi. Kebanyakan pengunjung menggunakan gaun, lengkap di ikuti oleh pasangan laki-laki, menggunakan setelan jass hitam.
Pandangan mata Jovi, tidak luput melihat ke arah kaki mereka. Semua pengunjung rata-rata menggunakan heels tinggi, lengkap dengan barang mewah yang mereka miliki.
Jovi juga bisa melihat, setiap sudut restoran, tampak terlihat mewah dengan ornamen kayu klasik. Di mana warna-warna kayu gelap, warna-warna tanah, mendominasi setiap bagian restoran.
"Gila... cuma kamu aja Jov, yang pakai celana jeans sama sepatu flat, pengunjung restoran ini, benar-benar hanya orang berduit, Ya ampun, Tuan Ernest ngapain kita ke sini," Jovi merasa tidak sederajat.
Jovi mulai merasa tidak percaya diri, dengan penampilan Jovi, yang terkesan ala kadarnya. Perempuan cantik tersebut, membandingkan penampilannya dengan Ernest.
Di mana Ernest sendiri masih terlihat tampan, walaupun hanya dengan menggunakan kemeja polos serta jam tangan abu-abu miliknya. Tidak lama setelah itu, Ernest terlihat sudah berjalan lagi ke arah Jovi.
Nampaknya Ernest tidak berani lama-lama meninggalkan Jovi sendiri, apalagi di tempat yang baru, seperti Jakarta.
"Suster Jovi."
Perempuan tersebut menoleh.
"Aaa.. ya tuan, bagaimana mejanya? apa masih ada tempat kosong tuan."
"Masih suster, tapi tunggu sebentar, reservasi saya baru di persiapkan oleh pihak restoran."
"Oooo.. begitu, baik tuan." kepalanya mengangguk.
"Apa suster mau pesan minum dulu, saya pesankan ya..?."
"Tidak tuan, nanti saja sekalian makan malam."
"Ya sudah, oke."
__ADS_1
Sembari menunggu reservasi selesai, nampaknya Jovi langsung jatuh cinta dengan restoran Enmaru. Di mana tempat tersebut, memiliki konsep interior izakaya style, tetapi dengan design yang lebih mewah dan elegan.
Restoran yang di dominasi dengan warna-warna tanah, warna artistik coklat tua, terlihat elegan. Orname restoran yang gelap, namun tetap tidak menghilangkan unsur modern dan otentik juga semakin membuat restoran Enmaru lebih terlihat klasik.
Rasanya sudah lama, Jovi tidak pernah melakukan makan malam di luar. Apa lagi sampai bermimpi makan malam di restoran seperti Enmaru.
Kesibukannya menjadi sekertaris, telah menjajah hidup Jovi menjadi kuno. Setiap hari yang Jovi tau, hanya bekerja, bekerja bekerja. Sesekali melakukan meeting di luar itupun juga membahas pekerjaan.
Bahkan alumni Stikes Wijaya tersebut, sudah lupa kapan terakhir kali, Jovi makan di luar. Seumur hidupnya, Jovi hanya makan malam dengan para klient, membawa tugas lembur, setiap hari.
Datangnya Jovi ke Jakarta rasanya seperti mimpi. Jovi tidak pernah membayangkan, Tuhan memberikan angin surga, lewat tangan-tangan baik hamba-Nya seperti Ernest. Membuat Jovi harus kembali bersyukur.
"Tuan.. waktu malam di restoran ini, memiliki view yang sangat bagus."
"Apa suster suka dengan tempat ini?."
"Ya... suka." senyuman itu mengembang.
"Kenapa suka?."
"Lewat kaca besar itu, saya bisa melihat jelas bagaimana indahnya Jakarta saat malam tuan, lampu-lampu itu, pekatnya malam, benar-benar adalah sebuah keindahan..!!."
"Mmmb.. jadi? suster senang ?."
"Sangat senang, saya tidak pernah menyangka tuan, apalagi bermimpi bisa ke Jakarta, hanya untuk makan malam ke restoran, bahkan saya sendiri saja sudah lupa, kapan terakhir kali saya keluar malam."
"Sungguh...??."
Jovi mengangguk.
"Terima kasih banyak tuan Ernest, andai masih ada kesempatan, mungkin saya akan lebih bahagia, jika bisa menggantikan posisi mereka yang duduk di sebelah kaca itu, makan malam, menikmati suasana malam kota Jakarta, melihat monas, Ya Tuhan.. pasti akan sangat menyenangkan. Sayang, malam ini restoran sudah penuh," mata Jovi masih tidak bosan mengamati.
"Kalau hanya untuk ke Enmaru, besok sore saya ajak suster balik ke sini, biar suster juga bisa melihat indahnya senja di sore hari."
"Sungguh tuan? saya mau tuan." Jovi terlihat sangat senang.
"Iya, setelah saya pulang meeting tapi ya..?."
"Baik tuan."
Dengan kedua matanya, Ernest bisa melihat, kesedihan yang tersirat pada kedua mata Jovi. Meski Jovi tidak menjelaskan, nampaknya restoran Enmaru, sedikit menjadi penawar kesedihannya selama ini.
" Selama ini saya tidak pernah menemukan wanita seperti kamu suster, kamu berbeda, kamu perempuan yang sabar, pendiam, kamu penuh rahasia." Ernest menatap mata itu.
"Jika Tuhan mengizinkan, saya ingin kamu yang menjadi ibu dari anak-anak saya suster Jovi, kesabaran kamu, kebaikan kamu, membuat hati ini menulis namamu, sebagai orang yang saya pilih, ya.. Jovi Andrianita."
Dada Ernest terasa ikut sesak, suster cantiknya tersebut tidak memiliki keberanian bermimpi, hanya untuk keinginan sederhana, menikmati makan malam tepat berada pas di sebelah kaca.
Ernest semakin di buat terhipnotis, Jovi tidak seperti kebanyakan wanita di luar sana. Jovi berbeda, meski dia tau, Ernest mencintainya, namun perempuan cantik tersebut, tidak pernah besar kepala, Jovi tetap menempatkan posisinya, bahwa dia adalah orang biasa.
Tidak lama setelah itu, salah satu pelayan menggunakan seragam Enmaru berjalan menghampiri Ernest dan Jovi. Setelah reservasi tempat sengaja di rubah Ernest, untuk mewujudkan keinginan sederhana suster Jovi.
Beberapa menu makanan Jepang, seperti salmon teriyaki, foie grass steak dan yaki onigiri di pesan oleh Ernest untuk makan malam. Serta beberapa hidangan klasik tradisional Jepang.
"Selamat malam tuan, mohon maaf karena sudah menunggu lama, meja reservasi dan hidangan anda sudah kami siapkan," kata pelayan.
"Terima kasih banyak mbak."
"Untuk tempatnya sudah kami ubah sesuai permintaan, di meja nomor 13, berada di sebelah kaca, semoga anda menikmati hidangan kami, silahkan."
"Baik, terima kasih." Ernest membetulkan posisi berdirinya.
"Jika ada yang ditanyakan, tuan bisa menghubungi kami, terima kasih banyak sudah mempercayakan reservasi di restoran kami." tutur ramah pelayan.
"Iya.."
"Suster, ayoo kita ke sana..!!"
"Baik tuan." Jovi mengikuti Ernest.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan ke arah meja reservasi yang sudah di sebutkan oleh pelayan. Hidangan makan malam, lengkap dengan tempat duduk di samping kaca besar restoran.
Jovi benar-benar tidak percaya, Tuhan mendengar doa'nya barusan. Senyumnya langsung terlihat sumringah, meski Jovi sedikit tidak percaya, bahwa malam ini dia bisa makan di Restoran Enmaru, seperti keinginannya.
Restoran Enmaru sendiri adalah restoran yang berhasil menyandang gelar sebagai restoran Izakaya terbaik di Jepang. Di Tokyo, restoran Enmaru sendiri adalah restoran yang menyajikan hidangan klasik tradisional asli dari Jepang.
Mereka berdua terlihat duduk, pada set meja yang hanya bisa di isi oleh dua orang saja.
"Tuan saya betul-betul tidak menyangka, malam ini kita mendapatkan tempat makan seperti yang saya inginkan, wah.. ini seperti mimpi."
"Hehe... Tuhan maha baik hati pada suster, berterima kasihlah." Ernest tersenyum.
"Benar tuan, nikmat mana lagi yang saya dustakan, mendapatkan semua kebahagiaan malam ini, walaupun kadang saya merasa Tuhan tidak adil, tapi mungkin syukur saya saja yang masih sangat kurang."
"Jangan merasa Tuhan tidak adil dengan kita suster, semua kehidupan tidak ada yang sepenuhnya bahagia, bahkan apa yang kadang kita lihat bahagia, belum tentu mereka bahagia seperti yang kita fikirkan."
"Benar memang tuan, saya selalu menyakinkan hati saya, bahwa saya mampu melewati semua cobaan yang sudah di tetapkan untuk saya."
"Untuk saya juga." imbuh Ernest.
"Seandainya kita diberi untuk mengulang lagi waktu, apa yang mau suster lakukan?."
"Saya ingin kembali di masa kuliah, saya tidak mau berada di masa ini, masa-masa yang menurut saya terlalu berat, masa pendewasaan yang begitu melelahkan."
"Hahaha.. beratnya pasti karena akan melepas kepergian saya kan?," canda Ernest.
"Hehehe tuan bisa saja."
Mereka berdua tampak menikmati hidangan makan malam. Jovi hanya mencicip sedikit menu makanan yang di pesan oleh Ernest. Tampaknya, dara kelahiran Surabaya tersebut, kurang menyukai masakan-masakan Jepang.
Setelah menyelesaikan santapan salmon teriyaki, Jovi lebih memilih menghabiskan waktu, menoleh ke samping, di mana Jovi bisa melihat monas dan pulau seribu dari atas secara langsung.
Hamparan laut lepas, tingginya monas, benar-benar menjadi pemandangan indah malam ini. Gemerlap lampu jalanan, neon neon kecil rumah, seperti di sulap menjadi kunang-kunang, terlihat bagus menghiasi panorama Jakarta.
Jovi merasa, malam ini adalah waktu yang tepat, untuk memberi tahu Ernest tentang siapa dirinya. Antisipasi sudah dipersiapkan Jovi, jika nantinya kemungkinan terburuk akan di lakukan oleh Ernest padanya.
Setidaknya uang 500.000 yang Jovi miliki, masih bisa mengembalikan dirinya ke Surabaya. Kolong jembatan juga menjadi incaran Jovi, saat Ernest tidak akan memanusiakan dirinya lagi seperti manusia.
Di sisa waktunya bersama Ernest, kadang Jovi ingin sekali memberi tahu laki-laki tampan tersebut, bahwa sebetulnya Jovi juga memiliki rasa yang sama. Namun kenyataannya, semua perasaan Jovi sudah di kubur.
"Tuan Ernest.. mungkin ini adalah malam terakhir di mana saya bisa bertatap muka melihat Tuan Ernest, Tuan, apakah tuan masih sudi melihat saya, saat tuan tau, bahwa saya adalah orang yang di kirim Fictor untuk mencelakai Tuan Ernest, Terima kasih Tuan Ernest, anda sudah memperlakuan saya, lebih dari baik, saya akan selalu berdoa untuk Tuan Ernest, semoga tuan, selalu baik-baik saja." air mata itu menetes.
"Untuk cinta, saya tau, tidak semua cinta berakhir memiliki, berakhir bersama, mungkin nama-nama kita, adalah nama yang di gariskan untuk tidak berakhir bersama, cinta tidak harus memiliki."
Ernest baru saja terlihat, menyelesaikan makan malam, garpu dan sendok terlihat di tumpuk pada bagian atas piring. Setelah Ernest menyapu bibirnya dengan tisu, Jovi memberanikan diri untuk melihat wajah Ernest.
Satu bulan ini, banyak kejadian yang sudah dilewati mereka berdua. Tangan yang semula masih menggunakan gips, sekarang dengan mandiri bisa menyelesaikan makan sendiri. Jovi seperti di buat tidak rela dengan perpisahan yang hanya sebentar lagi.
"Suster.."
"Ya.." Jovi menyembunyikan tangisnya.
"Kenapa suster dari tadi melihat ke arah luar terus, suster sama sekali tidak melihat ke arah saya, apa pemandang di luar sana lebih menarik perhatian suster, ketimbang bersama saya." Ernest memandang Jovi.
"Maaf tuan, saya tidak bermaksud seperti itu, saya hanya merasa tenang, saat saya melihat semua keindahan alam malam ini. saya sangat senang, tanpa tuan mungkin saya tidak akan bisa ke sini."
"Lain kali, saya akan ajak suster ke restoran yang lain, tapi saya tidak janji ya suster..?? karena meeting saya sudah di mulai besok, aa.. mungkin hari rabu saya ada waktu kosong, kita jalan-jalan ke Jakarta selatan ya, di sana ada restoran yang recommended,"
"Tidak perlu tuan, saya mau'nya besok saya langsung pulang saja tuan."
"Kenapa begitu?." Ernest terlihat kecewa.
"Besok masa kerja saya sebagai suster untuk tuan sudah habis, saya sudah sampai di Jakarta, mengantar berkas tuan yang tertinggal, jadi sudah waktunya saya kembali menjalani kehidupan saya tuan."
"Suster, kenapa suster buru-buru sekali, istirahatlah di Jakarta sebentar,"
"Tidak tuan, terima kasih, saya juga ingin melanjutkan penjelasan saya, yang sempat belum Tuan Ernest dengar semua, saya hanya bisa berharap tuan, tidak membenci saya," air mata Jovi menetes.
Jovi terlihat lebih banyak menunduk, saat menjawab pertanyaan Ernest. Tatap mata Ernest semakin melemahkan kekuatan hati, yang dibangun Jovi selama ini.
__ADS_1
Ernest sendiri nampak terlihat bingung, dengan apa yang di lakukan Jovi malam ini. Tawaran lamaran dari putra tampan Tuan Toni tersebut, sama sekali belum terdengar di bahas Jovi dan Ernest.
Lewat pukul 20.00 malam, mereka masih berada di dalam restoran. Semua mengajak Ernest semakin bertanya, apa yang akan di bicarakan Jovi kepadanya. Kenapa ada tangis yang mengurai di mata Jovi, sebenarnya ada apa dengan Jovi.