Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
53. Janji Jovi


__ADS_3

Lirikan mata Jovi mengikuti arah ke mana putra tampan Tuan Toni tersebut pergi. Tempat sofa kecil lengkap dengan meja bulat tidak seberapa lebar, di pilih Ernest untuk menikmati suasana pagi kota Jakarta.


Jovi sendiri lama-lama merasa seperti orang gila, Ernest sangat berbeda dengan Fictor. Jika biasanya alumni Stikes Wijaya itu mampu menelan semua ucapan keji dari Fictor, Ernest justru mendiami Jovi semau dia sendiri.


Nampaknya mendapat omelan lebih bisa menegarkan hati Jovi, dari pada harus di diami yang tidak akan tau, diam itu sampai kapan. Rasa menyerah, rasa ingin bebas, sudah mengakar di hati Jovi.


Perempuan cantik itu sudah merasa di titik paling lelah, apapun tentang pengakuannya tidak di dengar, apa yang Jovi ucapkan, di biarkan tanpa tanggapan. Ernest tetap menilai Jovi dengan parameter pikiran nya sendiri.


Jarum jam baru menunjukkan pukul 06.35, tetapi Ernest sudah bersiap akan pergi. Kaki Jovi mengajak langkahnya berjalan ke arah Ernest, salah satu usaha Jovi lagi, untuk meyakinkan Ernest bahwa dirinya bukan lah orang keji.


"Tuan."


Ernest tidak menjawab.


"Tuan, sebelum saya benar-benar kembali ke Surabaya, mungkin hari ini akan menjadi pertemuan terakhir saya dengan Tuan Ernest, saya mungkin tidak akan bisa lagi bertemu tuan, selama saya datang menjadi suster untuk tuan, maaf apabila saya banyak memberi masalah dalam kehidupan tuan, saya selalu akan berusaha memperbaiki hidup saya berkaca dari nasihat nasihat Tuan Ernest."


Ruangan terdengar hening, satu bersin, atau batuk dari mulut Ernest sama sekali tidak terdengar.


"Tuan."


Jovi merasa sedih.


"Tuan Ernest, saya sungguh berbicara apa adanya, saya tau saya salah, mungkin seperti kata Tuan Ernest, saya juga seharusnya tidak datang ke dalam hidup Tuan Ernest. Saya tidak punya pilihan lain tuan, saat itu saya merasa hutang papa saya juga beban saya, jika saya bisa meminta, saya juga tidak mau tuan ada di dalam posisi seperti ini. Saya sudah banyak berdosa untuk semua orang, saya sudah berusaha meminta maaf sebisa saya, menjelaskan sejujurnya, mengembalikan hidup saya juga ke posisi semula, tapi saya tidak punya hak untuk meminta tuan tidak membenci saya, terima kasih tuan, 1 bulan melewati semua, melihat kondisi kesehatan tuan Ernest, sekarang sudah sembuh saya sudah sangat bahagia."


Sepi.


Ernest tidak berbicara.


Masih sepi.


Sepi.


Dan Jovi menyerah.


Akhirnya Jovi melangkahkan kaki pergi ke kamar mandi, sesak dada'nya selalu di rasakan Jovi saat berbicara dengan Ernest masalah perpisahan. Pasti tidaknya perpisahan sudah di depan mata sekarang.


Jarum jam di rungan menunjukkan pukul 07.00, Jovi nampak sudah keluar kamar mandi, sembari memboyong koper kecil miliknya.


Rasa lelah, meriang sebenarnya di rasakan oleh tubuh perempuan cantik tersebut, namun rumah lebih menjadi peristirahatan terindah daripada apartemen Ernest, menurut Jovi.


Suhu hangat tubuh Jovi tak di hiraukan, meski kadang rasa ingin mual dan kepala pening menyergap tidak tau permisi. Stress dan telat makan juga menjadi penyebab Jovi merasa kelelahan.


Tubuh Jovi nampak sudah mengenakan celana putih, atasan warna biru muda, serta balutan jaket abu-abu sudah menghangatkan tubuh.


Perempuan cantik tersebut, rambutnya nampak di kuncir kuda, bis malam Jakarta Surabaya sudah dibayangkan Jovi akan berdesak desakan. Apalagi Jovi juga tidak melakukan pemesanan tiket bis terlebih dulu.


Ernest sendiri telinganya tidak bisa mengelak, suara resleting koper, dengan tumpukan baju berkumpul jadi satu membentuk nada. Lirikan mata Ernest tak tega melihat Jovi mengemas semua barangnya.


Hidup tidak ada yang tau, satu bulan yang lalu Jovi datang seperti menjadi perempuan pilihan Tuhan untuk Ernest. Namun tadi malam, kehadiran perempuan cantik tersebut benar-benar sudah tak di inginkan lagi.


Jovi tiba-tiba menangis.


"Sudah waktunya kamu pulang Jov..!! sudah waktunya kamu kembali menjadi asing, di sini bukan tempat kamu, apa yang kamu tangisi?," Jovi membanting tangannya di atas koper.


"Tuan Ernest? apa yang membuat kamu berat hati, lihat sikapnya, dia sudah tidak memperdulikan kamu Jov, apa sih yang kamu mau Jovi? uang sudah ada, tinggal ke terminal kan." perasaan Jovi terlihat sangat kalut.


Lama-lama hati dan fikiran Jovi semakin tidak bisa se jalan. Perempuan cantik tersebut seperti ingin tetap di sini, tetapi apa yang masih Jovi harapkan, sikap Ernest benar-benar sudah tidak bisa berubah.


Semprotan pagi tadi, amarah Ernest saat di restoran, menjadi penyemangat Jovi kembali untuk pulang. Negosiasi hati sekertaris cantik itu, berlangsung alot, walaupun kaki akhirnya juga berjalan keluar.


Koper di bawa pergi keluar kamar, aroma wangi dari tubuh tinggi Jovi sesekali tercium indra penciuman Ernest. Laki-laki tampan tersebut merasa kehilangan orang yang sedang di cintainya.


Matahari terbit menjadi pengantar kepergian kaki Jovi melangkah keluar. Bisingnya kota Jakarta akan langsung sangat terasa, ketika Jovi sudah sampai di depan halte menunggu taksi terlebih dulu.


"Tuan Ernest, saya pamit."

__ADS_1


Tak di sangka Ernest beranjak dari kursi.


"Jangan berangkat ke terminal sendiri, saya sudah menyuruh sopir untuk menjemput kamu."


"Sopir? tidak tuan, tidak usah, saya masih punya cukup uang." Jovi melihati Ernest tanpa sungkan.


"Saya mau tanya sama kamu, apa sebetulnya yang Fictor rencanakan saat mengirim kamu ke rumah saya?."


Jovi nampak tercengang, mulutnya hanya bisa menga-nga tak percaya, pertanyaan se sulit itu di lontarkan Ernest saat Jovi akan pergi.


"Sa-saya, sa-ya," Jovi gelagapan.


Setelah Fictor mentransfer uang, dilema kegundahan hati Jovi tersirati lagi. Mengaku atau tetap melindung Fictor, Jovi sangat bingung.


Bahasa "aku" "kamu" yang di gunakan Ernest terasa membuat jarak antar dirinya dengan suster Jovi.


"Tuan Ernest hanya akan jadi masa lalu Jov, tapi Pak Fictor, dia membantu kamu, uang suka rela'nya juga bisa mengantarkan kamu pulang ke Surabaya." Jovi berfikir.


"Tidak, tidak, Jovi Jovi kamu harus ingat, kebenaran perlu di tegakkan, kamu tetap mendustai tuan Ernest, kamu tetap pembohong, Ya Tuhan, tolong hamba-Mu."


"Tinggal lima menit lagi sopir sudah ke sini.. ayoo jawab..!! kamu di minta Fictor untuk apa?."


"Aaaa.."


"Aaa.. apa?."


"Me-me-membunuh." Jovi menutup mata takut.


"Ti-tidak, me-me-menyamar maksudnya." imbuhnya.


"Menyamar apa? menyamar sebagai pembunuh maksud kamu?."


"Bu-bukan tuan, pokoknya Pak Fictor tidak salah, saya yang salah, su-sudah be-begitu saja tuan."


"Kamu bilang kamu sudah tidak bekerja di kantor itu? kenapa kamu se takut ini? kamu membela boss kamu lo, jangan bilang kalau kamu masih punya rencana lain untuk saya." Ernest menuduh.


"Tu-tuan, saya ti-tidak pernah merencanakan apapun, ke-kenapa tuan se tega itu menuduh saya." air mata itu berkumpul di pojok mata.


"Karena kamu berasal dari Semesta Grup, biasanya sifat bawahan itu tidak jauh beda dengan atasan, alias MENURUN..!!!," tunjuk tangan Ernest meremehkan.


"BEDA KELASS..!!" penekanan dari Ernest.


"Apalagi setelah 8.000.000 masuk cuma-cuma..!! ciihhh.. saya tidak bisa percaya, kacung yang terlalu setia," mata Ernest tampak tak suka.


Amarah Jovi terlihat tidak bisa lagi membendung. Air matanya di ajak berlari lagi ke pipi, mulut Ernest tak ubah berubah seperti Fictor pagi ini.


Tuduhan dan sindiran pedas dari mulut Ernest benar-benar menyakiti perasaannya. Selama ini, Jovi melakukan yang terbaik untuk Ernest, namun kebaikannya di salah artikan oleh putra tampan Tuan Toni tersebut.


"Kalau saya sudah berniat membunuh anda, saya sudah bunuh anda lama setelah saya berhasil menjadi suster. Iya saya tau, saya dari Semesta, tapi sikap sifat tidak bisa anda sama ratakan, saya tau anda berpendidikan, anda orang kaya, anda terhormat, tapi kehormatan orang kecil seperti kami, lebih mulia dari pada anda." Jovi berlinang air mata.


"Kapan saya pernah menjahati anda tuan, saya berusaha menghormati dan menghargai anda selama ini, apa mata anda sudah buta, selama ini saya selalu melakukan yang terbaik untuk anda, anda tidak tau kan, berapa kesedihan yang saya tumpuk lama untuk menjadi suster, apa anda tau, tekanan apa saja yang saya dapatkan? tau kah anda?," Jovi tak sungkan lagi menunjuk balik Ernest.


Ernest hanya mampu terpengarah, perpisahan justru menjadi tangis kepahitan. Mulut Jovi tidak sudi lagi memanggil Ernest dengan sebutan tuan. Laki-laki yang di cintainya itu, mendadak seperti rival abadi di hidup Jovi.


"Satu bulan penuh saya tidak pernah bertemu keluarga saya, begadang juga saya lakukan, berapa kali tidur anda tidak tenang, tak terhitung, saya juga mencoba menenangkan, tapi kalau itu masih membuat anda menuduh saya pembunuh, saya tidak menyangka, orang yang mampu memberi nasihat untuk saya, tidak mampu menasehati diri nya sendiri." Jovi berurai air mata.


"Jangan berlebihan, keluarga saya juga memberikan imbalan yang besar, untuk profesi kedua kamu itu."


Jawaban Ernest kali ini, semakin mengangkat luka di hati Jovi. Tidak biasanya, Jovi sakit hati dengan perkataan orang, namun ucapan Ernest sungguh menusuk hatinya.


Meski perdebatan ada di antara keduanya, Ernest bisa dengan jelas melihat tangis Jovi sedang deras menuruni pipi. Mimik wajahnya menurun, tanda di mana suster cantik tersebut memang sedang sedih.


"Semua yang saya ucapkan salah, pengakuan saya, permintaan maaf saya, benar-benar tidak pernah anda terima," Jovi menangisi nasibnya.


"Baik, kalau uang menjadi parameter anda untuk menghargai seseorang, saya BERJANJI... selama saya masih hidup, saya tidak akan kembali dalam hidup anda," Jovi meremes tangan.

__ADS_1


Matanya begitu berderai tangis, sakit hati Jovi sudah tidak malu, merendahkan Ernest dengan sangat rendah.


Jantung Ernest langsung berdebar, saat ucapan terakhir Jovi mampu menggetarkan hatinya. Ernest tidak tau kenapa, janji Jovi membuat Ernest nampak takut, dirinya tidak akan bisa bertemu Jovi lagi.


Rasa cinta itu, rindu yang pernah bersemayam di hati keduanya, sudah berhamburan pergi meninggalkan. Tinggal hati nan gersang dalam peraduan hidup rahasia di masa depan.


"Toook.. toook.. tokk..." suara sopir mengetuk pintu.


Tubuh Ernest masih merasa di buat tercengang, dua kakinya terasa kaku. hatinya melemas. Apa sesakit itu hati Jovi dengan apa yang di katakan Ernest.


Jovi menarik koper keluar.


Sopir sudah menunggu pas di depan pintu.


"Selamat pagi nona, saya di minta tuan Ernest untuk mengantarkan nona ke terminal pagi ini." ucap sopir sembari membungkuk kan diri.


"Iya pak, saya sudah siap." Jovi menghapus kasar air matanya.


"Mari pak." kakinya melangkah keluar.


"Embb.. maaf nona, apa tidak sebaiknya nona berpamitan dulu dengan Tuan Ernest." sopir melihat ke arah Ernest.


"Sudah."


Jovi lalu keluar, perginya pagi ini, pertemuan terakhir dengan pewaris tunggal Wijaya Grup itu, benar-benar hanya menyisakan luka, tak di harapkan Jovi menjadi kenangan indah.


Ernest hanya mampu tertegun, dirinya ingin mengembalikan waktu beberapa menit tadi yang sudah berhasil menyakiti hati Jovi. Kepergian Jovi, sudah tidak membuat Jovi menoleh, kaki Jovi sudah berjalan keluar apartemen.


Terakhir Ernest masih melihat, mata merah itu, sakit hatinya sangat terlihat. Kepala putra tampan Tuan Toni itu di buat pening sebelum berangkat ke kantor, pagi itu, gempa kecil di hati Ernest nampak meruntuhkan setiap puing-puing cintanya untuk Jovi.


**********************


PERJALANAN KE TERMINAL.


Sopir melihat dari kaca spion kecil di dalam mobil, mata Jovi masih deras mengeluarkan air mata. Entah apa yang menjadi permasalahannya, sopir setengah abad itu, hanya mampu berdiam tanpa ucap kata.


"Tililit.. tililit.. tililit..." ponsel sopir travel berbunyi.


TUAN ERNEST MEMANGGIL....


"Hallo tuan, ada apa?."


"Husttt.. jangan panggil saya tuan pak, anggap saja saya teman travel bapak, samarkan nama saya, Dono atau siapa? ya ? ya?." Ernest sangat dilema.


"Baik, ehhh.. Dono, tak kira tuan, soalnya aku habis jemput pelanggan, gimana gimana Don kabarnya?." sopir juga ikut bersandiwara.


"Haduuh pak, nggak perlu tanya kabar, saya ingin tau kondisi Suster Jovi, bagaimana dia pak? baik baik saja?."


"Masih nangis, eh maksudnya istriku itu suka nangis kalau habis gituan, iya gitu," sopir takut Jovi curiga.


Jovi sendiri, sudah berkali-kali melirik ke arah sopir travel kepercayaan keluarga Ernest tersebut. Nampaknya Ernest sudah memahami kode dari pak sopir, yang secara tidak langsung Jovi masih sedih.


"Pak, maaf kalau boleh tau, nangisnya suster Jovi tinggal sedikit, maksudnya tinggal sisa sisa tangis ya..?."


"Ouh.. tidak, deras itu, kalau keluar deras, banyak airnya, aku sampai kasihan sama istriku." sopir nampak gugup.


"Suster Jovi, masih menangis terus berarti, ya Tuhan.. Ernest," kepala Ernest di apartemen langsung pusing.


"Baik pak, terima kasih atas infonya ya..? maaf merepotkan." Ernest mengakhiri telepon.


"Ouh siap, sama-sama tu-an, eh tu-tumpak'ane (eh naikannya) iya istriku naikannya wenakkk yahuuud...,"


Jovi merasa geli dengan apa yang di dengar dari percakapan jorok sopir dengan teman pak sopir di dalam telpon. Padahal di telepon tersebut, ada Ernest yang sedang khawatir.


Pagi itu, pukul 10.00 pagi Jovi sudah ada di terminal dengan selamat. Meski kedua amarah mereka saling masih tampak tidak mau kalah, kehidupan tidak akan tau bagaimana ke depannya.

__ADS_1


Janji Jovi sudah mengakar dalam hati, nama Ernest sudah mulai ditinggalkan, Jakarta dan kenangan, perumahan Griya Indah rumah Tuan Toni Wijaya, tidak akan pernah sudi lagi di pijaki oleh Jovi.


__ADS_2