
Jovi serta Ernest memasuki mobil. Lambaian tangan Aqila semangat melambai ke kanan kiri. Akhirnya mobil keluar dari pintu gerbang perumahan Archadya.
Ernest memberi tahu, agar mobil menuju ke RS Intan Medika. Meski tidak sama-sama berujar. Ernest sudah paham. Jovi memilih berpisah dari pekerjaan, menyelamatkan keluarga Wijaya.
Sepanjang perjalanan, Ernest tidak lelah terus menerus menggoda. Tawa Jovi hingga kadang berubah bernada jengkel. Dari tadi Jovi berharap, sebelum ke Sidoarjo ia bisa menemui Tuan Toni.
Jalanan kota Surabaya lambat laun sudah merayap. Agenda berangkat pagi di gagalkan Ernest. Lamaran laki-laki tampan tersebut menjeda waktu Jovi ke RS.
Jovi memandang ke arah Ernest. Tenang wajah di rambati senyum, wajah Ernest terlihat tampan.
"Tuan Ernest,"
Ernest menoleh. Ia menutup mulut Jovi.
"Jangan panggil tuan, mulailah dari sekarang, saya ingin kamu belajar memanggil saya dengan sebutan sayang."
"Aaaa... tapi itu susah, i-itu butuh waktu tuan," Jovi menggeleng kepala tidak yakin.
"Apanya yang butuh waktu? tinggal panggil sayang aja kan..!! sayang, sayang, sayang, begitu."
"I-iiya, tapi susah. Tuan, lidah saya rasanya kaku, seperti berbelok belok tidak menuruti,"
"Coba dulu, ayoo, di coba dulu..!! Saa-yang, begitu, atau kalau nggak gitu yaaank,"
Jovi membuka bibir menyuarakan. Tidak berhasil, kepala Jovi menggeleng lebih sering. Ernest menuntun pelan, berusaha tetap membantu Jovi agar bisa romantis.
"Saaa-yang, yank, saaa-yang," Ernest gemas.
"Saaa- ayang."
"Suster Jovi, saa-yang, bukan saa-ayang."
"Iyank."
"Hadewwh, kenapa ada iyang? Iyang apa lagi? Iyang subur?," Ernest menggerutu kesal.
"Itu eyang subur tuan," Pak Rahmat tertawa.
"Suster Jovi, nggak usah sungkan kalau ada saya, santai saja.. lha wong saya juga pernah muda," imbuh pak Rahmat.
Jovi buru-buru berusaha lagi. Melihat Pak Rahmat di depan menyetir, semakin membuyarkan konsentrasi. Lidah Jovi sangat susah di gerakkan. Meski Pak Rahmat tampak santai.
Lidah terasa kelu. Selain dulu Ernest adalah atasan, Jovi tidak terbiasa dengan panggilan seperti itu. Terlewati dari kesal, Ernest meminta lagi ke Jovi.
"Ayooo.. di coba lagi..!! sayang, aku sayang Ernest."
"Saa-yang." Jovi berhasil.
"Nahh begitu..!! coba sekarang bilang, Yank, Ernest sayang. Pelan saja, 1, 2, 3,"
"Iyang, Ernest ayan."
"Haduuh..., " Ernest menghela nafas. Ia membuangnya pelan.
"Kenapa malah ada ayan segala? Suster Jovi, tau kok suster kalau saya ini sakit, tapi saya nggak pernah sakit ayan, itu kenapa ada ayan."
"Susah tuan," Jovi menyerah.
"Coba.. sekali lagi saja.. rilex ya..!! anggap kita cuma berdua, yang lain ngontrak, yang lain cuma numpang.. dan bilang Ernest sayang. sudah..!!"
"Ernest sayang, Ernest ayan, Ernest ayan, Ernest sayang."
"Hahahahha.."
Pak Rahmat dan Ernest lantas tertawa bersama. Jovi tidak membuka mata, ucapannya salah, benar, benar, salah, di ucap Jovi sesuka hati.
"Astagfirullah Suster Jovi, nyuruh kamu bilang sayang itu lebih gampang nuntun orang sepuh buat baca syahadat."
Jovi malu. Sudah lama, bibir perempuan cantik tersebut tidak di gunakan bermesraan.
"Susah tuan."
"Apa susahnya Suster Jovi? tinggal bilang Ernest sayang, seperti aku bilang Jovi sayang,"
"Biarkanlah Tuan Ernest, kasihan Suster Jovi kalau terlalu di paksa, nanti juga bakal bisa sendiri," lerai Pak Rahmat.
"Hiiiihhh, gemas saya pak," Ernest tersenyum. Ia mencekik tubuh Jovi lengkap dengan pelukan.
Jovi tertawa. Ia lantas menarik hidung mancung putra tampan Tuan Toni tersebut. Saat Ernest kedapatan ingin mencium ke arah bibir Jovi.
Ernest lantas tertawa, Jovi pintar mengetahui maksudnya. Pak Rahmat ikut terbawa perasaan, polah tingkah Ernest membuat Jovi berteriak manja, minta di lepaskan.
"Hayooo.. bilang nggak bisa lagi," Ernest mencengkram pundak Jovi.
__ADS_1
"Tuan, lepaskan..!! lidah saya susah di kendalikan, waktu mau bilang sayang rasanya di ajak ke kanan, lidahnya sein ke kiri."
"Hahaha..," Ernest tertawa. Ia berbisik ke arah Jovi.
"Kalau lidahnya susah di kendalikan. Sini..!! aku bimbing biar bisa ngomong yang bener, cobaa.. ayoo di buka mulutnya,"
Seketika itu, Jovi langsung merapatkan bibirnya. Ia takut mendapat serangan fajar dari Ernest. Jovi mengunci bibirnya.
"Nggak, nggak mau."
"Harus mau, kalau nggak? nggak jadi di sayang sama Tuan Ernest, di sayang sama Tuan Toni aja lo."
"Hahaha..," Jovi tertawa. Ernest gila. Perdebatan mereka berdua selalu berakhir lucu, berbeda seperti pasangan lain.
Tidak berselang lama, Pak Rahmat membelokkan mobil ke gedung besar bertulis RS. INTAN MEDIKA. Halaman tempat parkir tampak asri, meski tidak seluas tempat parkir di RS. Wijaya.
Ernest baru pertama kali bertandang ke RS tempat Dokter Nalen praktik. Selama ini, Ernest lebih mencintai dunia bisnis developer. Ernest jarang berkecimpung di rumah sakit.
Satu persatu tempat benar-benar di amati. Ernest tampak sedikit takjub, rumah sakit Nalen berhasil menyabet penghargaan dari yang biasa hingga tergengsi. Ernest turut ikut turun.
Awalnya Jovi tidak membolehkan. Ernest memaksa. Mereka masuk ke pintu utama rumah sakit. Dokter Nalen menggunakan jas putih. Stetoskop putih di saku jass yang di kenakan.
Jovi menghampiri. Dokter Nalen memegang ponsel. Panggilan masuk dari ponsel Jovi ternyata dari Dokter Nalen. Laki-laki yang mencintai Jovi sejak kuliah tersebut tetap terlihat mencintai.
Jovi berdiri di depan Nalen. Ernest melihatnya dari jauh, tidak ikut menghampiri.
"Dokter Nalen, maaf sudah membuat menunggu lama, saya datang kesiangan."
"Jovi, kamu baru datang? kenapa baru datang?,"
"Maaf Dokter, saya kesiangan."
"Jalanan sedang macet? tapi kamu kesiangan bukan karena hal serius kan? kamu tidak kenapa napa kan?."
Seperti biasa, Dokter Nalen membantu membenahi rambut Jovi. Pandangan mata Jovi gugup, ia mencari ke mana Ernest berdiri tadi.
"Tidak Dokter, hanya tadi pagi ada Tuan Ernest bertamu ke rumah dan saya tidak sempat mengabari Dokter."
"Ernest? memangnya ada apa?," tanya Dokter Nalen memperlakukan romantis. Kepala Jovi di belai halus.
"Ini surat lamaran saya Dokter Nalen," Jovi memberikan amplop lamaran kerja.
"Ouh iya nanti saya berikan ke pihak HRD, untuk test dan informasi lain nanti saya kasih tau lagi ya..!!. Tapi ngapain Ernest ke rumah kamu pagi-pagi Jov?."
"Jovi, tunggu."
Dokter Nalen beranjak dari kursi. Ia menggeleng kepala. Ingin menghentikan Jovi. Langkah kaki perempuan cantik tersebut sangat gesit perginya.
"Jovi.., aku janji bakalan membuat kamu tidak harus lari lari'an hanya untuk bekerja di rumah Ernest. Bekerja di rumah sakit ini akan lebih baik untuk kamu Jov. Sudah saatnya kamu harus lepas dari Ernest." janji Dokter Nalen dalam hati.
Kesal melihat sikap Nalen terhadap Jovi. Cemburu memanas hati, Ernest memilih pergi.
Tidak di sengaja, ia bertemu Robby. Rekan petinggi RS Intan Medika bagian farmasi. Robby terlihat sudah menyapa lebih dulu saat Ernest melambai.
"Pak Ernest, wah.. ada angin apa bapak berkunjung ke sini?," Robby menjabat tangan.
"Bagaimana kabarnya Pak Robby? saya sedang mengantar suster saya ke sini menemui temannya." Ernest memberi senyum.
"Baik Pak Ernest. Ouh, suster yang merawat anda dalam masa pemulihan itu masih bekerja di rumah anda ya pak? saya lihat di banyak time line pemberitaan, papa anda sudah mencari suster pengganti?,"
"Iya, Suster Jovi memang akhir kontraknya sudah habis. Dan karena memang dari pihak perawat saya sendiri yang tidak mau memperpanjang masa kerja, sehingga di lakukan perekrutan suster baru Pak Robby, memangnya kenapa ya?."
"Maaf ini Pak Ernest, saya dengar pemberitaan di media,"
"Hah? media?," Ernest tidak percaya.
"Iya pak, media. Apa Pak Ernest benar-benar tidak tau, berita akhir-akhir ini katanya Pak Toni Wijaya melakukan rekrutmen ulang, dengan alasan sebetulnya tidak puas atas kinerja suster anda yang sekarang ya?."
"Tidak, itu tidak benar Pak Robby.. berita itu tidak benar dan tidak akurat, selama ini hubungan keluarga saya dan suster Jovi baik-baik saja."
Ernest syock. Wajahnya tetap terlihat tenang. Berita hoax apalagi ini. Dari siapa? dan untuk apa tujuannya.
"Maaf ya pak sekali lagi, apa bapak tidak tau, media juga sedang mengkaitkan kinerja Suster Pak Ernest dengan masalah perekrutan tempo lalu di RS Wijaya. Katanya Jovi itu adalah salah satu pelamar yang ikut mengundurkan diri dari RS Wijaya secara bersamaan setelah lolos ya pak?."
Ernest enggan menjawab.
"Apa berita itu sudah lama? kalau boleh tau, sejak kapan berita itu keluar ya Pak Robby?,"
"Baru 2 atau 3 hari ini Pak Ernest. Ya apapun itu masalahnya, saya mendoakan untuk Pak Ernest dan keluarga tidak salah pilih Suster untuk kedua kalinya."
"Iya Pak Robby, terima kasih banyak." jawab Ernest berpura-pura.
"Sama-sama Pak Ernest, jujur saya juga ikut merasa sedih. Keluarga anda memang keluarga baik." pesan Pak Robby.
__ADS_1
Ernest benar-benar kalah selangkah. Laki-laki tampan tersebut merasa ada yang tidak beres.
"Bagaimana bisa, sesuatu yang harusnya jadi rahasia sekarang keluar menjadi bahan konsumsi publik. Dari mana mereka tau, Jovi alumni Stikes Wijaya yang mengundurkan diri. Papa tidak mungkin melakukan, tentu ada orang lain yang ingin menjatuhkan Jovi." Ernest tidak mau hal ini diketahui Jovi.
Beberapa saat kemudian,
Kibasan rambut Jovi tertampar angin. Ia menoleh ke lorong rumah sakit tidak ada tanda-tanda Ernest. Tidak ada Ernest hanya perawat seragam putih terlihat lalu lalang.
Jovi sudah ingin melepas derai air mata, ketakutan Ernest menyangka tidak-tidak, membumbui hati. Ternyata, Ernest baru menemui seorang rekan di rumah sakit.
Jovi tidak tau siapa. Senyum Ernest melambai pada salah satu laki-laki. Laki-laki itu meninggalkan pergi. Ernest lantas menghampiri Jovi kembali.
Kedatangan Ernest seperti menarik perhatian orang-orang di RS Intan Medika. Tanpa di sadari, hampir semua mata memandang ke arah Jovi.
Nama Ernest sudah tidak asing bagi kalangan petinggi RS Se Jawa Timur. Entah tau, pandangan itu untuk Ernest dan Jovi.
"Tuan Ernest," panggil Jovi.
"Sudah selesai suster?."
"Sudah Tuan..!! Tuan habis dari mana? apa Tuan marah dengan saya?."
"Tidak suster, marah kenapa? tadi saya tidak sengaja ketemu dengan pegawai di sini, teman meeting dulu,"
"Ouh begitu," Jovi lega.
"Ya sudah, ayoo kita pergi. Sudah siang biar kita tidak kesiangan."
Ernest mengajak. Jovi menggangguk.
Pukul 08.00 Ernest dan Jovi menuju keluar ruangan. Entah hanya firasat, atau memang iya, dari tadi Jovi merasa banyak orang, melihat ke arah perempuan cantik tersebut.
Pak Rahmat langsung masuk ke mobil. Ernest datang memerintahkan pergi ke luar rumah sakit. Kursi jok belakang tidak menciptakan tawa se girang tadi. Ernest memerintahkan Ghazi lagi.
Udara serta angin sepoi-sepoi membelah bagian rambut Jovi. Perempuan cantik tersebut terlihat sangat cantik.
Informasi Pak Robby tadi, memadamkan cemburu panas atas sikap Dokter Nalen.
Untuk menyelamatkan Jovi dari issue tidak sedap, Ernest berencana akan segera menggelar acara pertunangan. Sebab hanya hal itu yang mampu menyelamatkan harga diri Jovi dari media.
Ernest berfokus mengirimkan pesan pada Ghazi. Laki-laki tampan tersebut ingin mencari tahu, situs mana saja pembuat berita hoax tentang Jovi dan keluarga Wijaya.
"Awasss.. saja kamu Fictor, kalau sampai ini terjadi bahwa kamu dalangnya. Gue nggak akan segera bawa masalah ini ke jalur hukum. Gue tidak terima, orang yang gue cintai loe siksa seperti ini." janji Ernest.
"Tuan.." panggil Jovi.
"Ya Suster Jovi, kenapa?."
"Tuan setelah keluar dari rumah sakit, kenapa banyak diam? tadi saya lihat Tuan Ernest melihat saya di itu sama Dokter Nalen, Tuan marah dengan saya?."
"Marah? tidak lah, ngapain?."
Ernest memilih melanjutkan mengetik di ponsel.
Jovi terdengar kecewa mendengar jawaban Ernest.
"Tuan, tidak marah tuan?,"
Ernest menggeleng kepala.
"Berarti tuan tidak cemburu. Biasanya cemburu itu kan tanda cinta, kalau tidak cemburu itu berarti tuan tidak mencintai saya..!! Tuan Ernest,"
Jovi menggoyang lengan Ernest. Tatapannya sayu. Ingin menangis tapi tidak ada yang di tangisi. Sikap Jovi terlihat manja, menggoyang lengan kiri Ernest.
Lama seperti itu, Ernest tidak tega. Ia mengembalikan ponsel ke saku. Ternyata sejak dari tadi Jovi berharap tatapan mata itu di balas.
Tangan kanan Ernest mengusap lembut pipi perempuan cantik tersebut.
"Jovi Andrianita, perempuan terhebat, perempuan terkuat, perempuan paling tangguh dalam melewati hal-hal besar. Apa perlu setiap hari saya harus memperlihatkan rasa cemburu saya. Saya mencintai kamu Jovi, bahkan kalau bisa, hari ini pun saya ingin langsung menikah dengan kamu. Suster Jovi, saat ini saya sudah milik kamu, dan kamu sudah milikku."
Ernest mencium kening perempuan di sampingnya. Jovi melanjutkan.
"Kenapa Tuan Ernest tidak marah, saya melamar kerja di Rumah sakit tempat Dokter Nalen praktik? Apabila saya lolos, saya akan satu tempat kerja dengan beliau."
"Kenapa suster menanyakan sesuatu hal yang harusnya tidak perlu mendapatkan jawaban. Suster Jovi melakukan itu kan karena memang saat ini suster ingin menghindari keluarga saya. Suster tidak mau Fictor berulah lebih kejam lagi. Kita sama-sama bertanggung jawab saling menjaga nama baik keluarga kita masing-masing. Jalan satu-satunya masalah saat ini, memang kita harus seperti ini. Berpisah dalam masalah pekerjaan tapi tidak dengan hati."
Jovi mengerti. Ernest sudah memahaminya.
"Seandainya, saya menawari suster bekerja di RS Wijaya, di Wijaya Grup, mau?? bisa bayangkan, bagaimana media akan memberitakan tentang kita terus menerus, saat ini bisa di bilang kita berusaha backstreet dari media. Masalah ini akan hilang sambil berjalannya waktu."
Dua sejoli putra dan putri tersebut sama-sama pandai mengambil keputusan. Saling tenang, tidak menyudutkan satu sama lain.
Mobil melaju langsung ke Sidoarjo. Dimana Ernest juga akan merampungkan proyek kerjasama. Serta membeli cincin tunangan untuk Jovi sepulang dari meeting.
__ADS_1