
Jovi duduk di sebelah mamanya dan Aqila. Nampan teh ia bawa tadi, di biarkan saja di meja. Kepulan asap dari teh hangat, terlihat kasat mata.
Ernest memperhatikan papa Jovi. Terlihat berfikir dan sedikit lama terdiam. Mama Jovi tak kalah dilema, calon menantunya dari kalangan sangat berada.
Jovi berdoa dan berharap, mama serta papa Jovi merestui hubungan antara suster majikan tersebut. Papa Jovi menghela nafas.
"Begini Ernest, jujur saya sebagai orang tua Jovi sangat senang sekali atas niat baik kamu meminta Jovi kepada saya dan mamanya. Tapi apakah papa dan keluarga besar kamu menerima kondisi kami?."
"Ernest, Jovi bukanlah dari kalangan orang berada. Seperti inilah kondisi kami, ia terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja. Bahkan beberapa tahun terakhir, Jovi harus bekerja keras bersama dengan saya agar bisa melunasi hutang. Tentunya itu sangat berbanding terbalik dengan kondisi finansial orang tua kamu."
Papa Jovi membuka kacamata. Keluarga Jovi tidak mengetahui, Ernest lebih tau semua kondisi keluarga mereka.
"Selain itu, Jovi bukanlah perempuan seperti kebanyakan teman perempuan kamu. Hidup kita mungkin lebih sederhana jika dibanding dengan teman-teman perempuan kamu sebelumnya. Saya tau bagaimana kehidupan pengusaha-pengusaha besar seperti keluarga kamu. Media pasti juga akan menyorot bagaimana silsilah keluarga kami, dan memang beginilah kondisi keluarga Jovi, apa kamu siap menerimanya?," tanya papa Jovi.
"Om, saya mencintai Suster Jovi bukan atas dasar karena harta. Saya mencintai kepribadiannya, saya mencintai Suster Jovi dari sikapnya, bukan dari mana Suster Jovi. Sebetulnya, status kaya dan miskin itu manusia yang membuat, tapi di mata Tuhan derajat kita tetaplah sama. Saya siap menerima Suster Jovi baik sekarang maupun nanti. Baik dalam suka maupun duka."
Mama Jovi terharu. Sebaik itu putra Tuan Toni mencintai putrinya. Mata Jovi tidak mampu lepas, menatap terus ke Ernest. Papa Jovi tersenyum bahagia.
"Alangkah lebih baiknya apabila saya bisa segera bertemu papa kamu. Sebab Ernest, saya mengatakan demikian, agar nantinya tidak ada pihak yang merasa di bohongi, serta masalah di kemudian hari. Sehingga keluarga kami dan keluarga kamu bisa sama-sama legowo dalam membimbing putra putrinya yang akan berumah tangga." papa Jovi menatap Ernest.
"Baik om, secepatnya saya akan ajak papa untuk ke sini. Sebelum saya ke sini, papa juga sudah tahu niat saya. Bahkan papa juga yang menyuruh saya cepat-cepat ke sini, karena sudah tidak sabar ingin menggendong cucu katanya," jawab Ernest polos.
"Hahahahaha.."
Sontak, ucapan Ernest langsung membuat semua orang tertawa. Jovi tampak malu, belum apa-apa harapan pertama adalah menimang cucu.
"Ya karena mungkin saya anak tunggal ya om, jadi rumah memang sepi sekali. Apalagi setelah mama meninggal beberapa tahun, rasanya sangat sepi. Sehingga tinggal saya dan papa di rumah, itupun kalau kami sudah sama-sama meeting, rumah juga kosong tinggal bibi-bibi dan pak sopir."
"Ouh seperti itu, maaf ya Ernest, turut berduka cita. Saya tidak tahu kalau mama kamu sudah meninggal dunia." ucap papa Jovi.
"Ya Om, tidak apa-apa hehe," Ernest tersenyum.
"Silahkan.. di minum tehnya, nanti keburu dingin," ajak mama Jovi.
"Baik tante," Ernest meneguk teh hangat.
Pagi ini, papa Jovi seperti tidak percaya. Putri sulung, anak cantik pekerja keras yang di cintainya itu. Akan di persunting oleh tuan muda kaya raya.
Puas berbicara dengan papa Jovi. Ernest lalu memandang ke arah Jovi. Keduanya bertatapan mata. Mama Jovi tersenyum melihat mereka saling pandang.
"Jovi.. dari tadi diam aja pah," mama Jovi melirik suami.
"Iya, ya mah..!! Jovi.. kenapa diam aja?," papa Jovi ikut menimpali.
"Aaaaa.. enggak kok..!! i-ini tadi Jovi fokus dengerin papa dan Tuan Ernest," Jovi memalingkan wajah.
"Masaaak sih?," goda Ernest.
"Iyaaa..," Jovi grogi.
Kedua orang tua Jovi sama-sama tersenyum kecil. Ernest pun begitu. Kemeja pendek warna hitam, tatanan rambut tetap tampak rapi, memandang Jovi.
Seandainya tidak ada kedua orang tua Jovi, Ernest sudah ingin memeluk gemas Jovi. Wajah lucu, tidak neko-neko, paras cantik Jovi terlihat natural.
Ernest beranjak dari sofa. Ia berjalan ke arah Jovi. Mama Jovi ikut beranjak pergi ke arah suaminya. Aqila sudah hilang bermain keluar bersama tetangga.
Ernest duduk di samping Jovi. Ia mendekat, Jovi semakin takut. Nantinya laki-laki tampan tersebut menggoda lagi secara terus menerus.
"Suster Jovi..!!"
"Iya tuan," Jovi melihatnya.
"Di depan mama dan papa Suster Jovi, Apakah Suster bersedia menerima lamaran dari saya ? Dari tadi saya belum mendengar dari mulut Suster sendiri, apa suster bersedia menerima lamaran saya?,"
Jovi memandang. Ia mengangguk.
"Mau ya?," Ernest memastikan.
"Huumb.."
Ernest memeluk kepala Jovi. Dunia hanya seperti milik mereka. Mama dan papa Jovi bernostalgia sendiri. Dulu papa Jovi melamar di depan teras rumah.
Di luar perumahan, suara kendaraan para tetangga satu persatu terdengar. Anak kecil dan para tetangga jalan-jalan. Di depan kompleks sudah ramai.
Buru-buru, Jovi segera melepas tangan Ernest. Ia malu, sikap Ernest di lihat mama serta papanya. Ernest meminta maaf pada Om Yusuf serta tante Rita.
"Maaf Om dan tante, jadi kelepasan hehe," Ernest menggaruk kepala.
__ADS_1
"Tidak papa, kami juga dulu pernah muda kok, ya mah ya?," papa Jovi tersenyum.
"Iya..!!" mama Jovi mencubit kecil tangan papa Jovi.
"Jovi, ajak Tuan Ernest sarapan sana..!! Ernest, kamu belum makan kan? ayooo sarapan dulu."
Mama Jovi mempersilahkan. Papa Jovi memahami kode dari istrinya. Segera beranjak pergi meninggalkan Ernest dan putrinya.
Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 07.00. Jovi lantas bergegas mempersiapkan sarapan pagi. Papa dan mama Jovi terlihat makan di ruang makan.
Ernest mengecek ponsel. Hari ini, ia sudah memiliki janji dengan Pak Lesmana, pimpinan anak perusahaan di Sidoarjo.
"Tuan Ernest, tuan mau makan dengan sayur asem? atau kalau tidak, ayoo kita kembali ke rumah saja tuan, lagian Tuan juga harus minum obat."
"Di sini saja, nggak papa kok makan pakai sayur asem. Obat ada di mobil, tadi sengaja bawa karena habis ini langsung ke Sidoarjo."
"Ya sudah, kalau begitu saya ambilkan dulu sarapan. Tapi saya sebetulnya ingin bertemu dengan Tuan Toni, sudah lama saya belum bertemu beliau."
"Papah? ya gampang lah, nanti video call.. mau nggak, aku video call'in papa? tumben juga Suster pengen ketemu papa, mau pendekatan sama calon mertua ya?? ngaku?,"
"Aaa... en-enggak kok, cuma ada sesuatu yang mau di jelasin aja." Jovi membuang tangan Ernest.
"Papa itu sudah tau, jadi nggak perlu di jelasin lagi anak cantik," Ernest mendekatkan hidung ke arah hidung Jovi. Sikapnya semakin romantis.
Tidak lama, Jovi beranjak mengambil sarapan ke dapur. Ernest melihat Aqila bermain di luar dengan teman seusianya.
Senyum Ernest terlihat, Aqila jahil menggoda anak tetangga. Tidak berselang lama, mama Jovi ke ruang tamu menyampaikan sesuatu.
"Jov, Dokter Nalen telepon..!! ini sudah 5x panggilan."
Ernest bingung. Mama Jovi menyodorkan ponsel.
"Itu tante, Jovi ke belakang." Ernest menunjuk dapur.
"Ouh maaf ya Ernest, tante kira Jovi masih di sini sama kamu."
Mama Jovi lalu menyusul ikut ke dapur.
"Nalen lagi, Nalen lagi.. sebetulnya ada urusan apa sih sampai pagi-pagi begini sudah telepon.. Arrggggh.. bussing," Ernest kesal.
Mood Ernest mendadak berubah. Laki-laki tampan itu langsung bad mood, nama Nalen sepertinya sudah familiar di keluarga Jovi.
"Tuan, ini makan dulu. Saya suapin ya? biasanya Tuan tidak mau makan sendiri."
"Tidak usah, saya tidak lapar."
Jovi meletakkan sendok kembali. Ernest di lihat, wajahnya kusut. Putra tampan tersebut menduakan Jovi dengan ponsel miliknya.
"Tuan., tadi katanya mau makan, sekarang tidak lapar, cepet banget berubahnya.. kenapa sih?."
Jovi tetap menyendokkan makanan. Di paksa-paksa Ernest tetap tidak mau. Kuah sayur sampai tumpah di lengan Ernest.
"Tuan, tuan kenapa?," bisik Jovi pelan.
Jovi di belakangi oleh Ernest. Pundaknnya menutup mulut rapat-rapat. Jovi tidak menyerah, ia berusaha membuka mulut Ernest, memencet pipi Ernest bersama'an.
"Suster..!! nggak lucu." Ernest marah.
Jovi memaksa terus. Jurus ini sering di berikan pada Aqila saat rewel makan. Ia mengangkat dagu Ernest, menekan kedua pipi Ernest bersamaa'an.
Ernest geleng-geleng tidak mau. Kepalanya mendongak ke atas. Kalah dengan Jovi, kaki Jovi menjepit paha Ernest, lalu nasi mendarat ke dalam mulut.
"Ngalahin Aqila ternyata," gerutu Jovi.
"Sudah, sudah, saya nggak mau.!!"
"Nggak mau kenapa? Tuan kenapa sih? lagi PMS ? dapet?? kok uring uringan."
"Idihhh.. PMS..?? Kamu kira saya nggak laki-laki tulen apa? Nalen terus, Nalen terus."
"Hah? Nalen? kapan saya bilang Nalen?," Jovi sudah mulai takut.
"Tadi? mama kamu bilang Nalen telepon kan? kamu itu sebetulnya ada urusan apa sih dengan dokter itu, pacar? kalau pacar bilang aja."
Ernest marah. Jovi baru sadar, telepon dari Dokter Nalen dibicarakan mama Jovi penyebab laki-laki tampan tersebut uring-uringan.
"Bukan tuan. Jadi sebelum Tuan Ernest ke sini, tadi malam saya sempat membuat janji dengan Dokter Nalen untuk mengirim surat lamaran pagi ini ke RS."
__ADS_1
"Terus ngapain telpon? Sebenarnya lebih penting mana sih, saya atau Dokter Nalen?," Ernest benar-benar marah.
"Tuan, Dokter Nalen tadi menelpon hanya karena saya belum datang-datang ke rumah sakit itu saja. Tidak ada hubungannya dengan penting mana, Tuan dan Dokter Nalen."
"Dokter Nalen, Dokter Nalen, Dokter Nalen..!! giliran ngebuat janji dengan Dokter Nalen aja bisa, tapi mama nya sendiri tanya tentang siapa Ernest nggak di kasih tau."
Ernest malah membahas semakin melebar. Jovi gemetaran takut. Sikap posesif laki-laki tampan tersebut sudah mulai terlihat.
"Tuan, bukan seperti itu. Sungguh tuan, saya tidak pernah mempunyai niatan seperti itu. Itu cuma sebatas janjian biasa, tidak lebih."
"Males, males, males.. jangan panggil-panggil saya lagi, tuan, tuan, tuan Ernest, tuan Ernest yeahh," bibir Ernest mempraktekkan jijik.
Muka Jovi sudah musam bercampur sedih. Hubungan keduanya belum ada satu jam sudah di liputi masalah. Belum lagi, jika satu bulan.
"Tuan, tuan ini kan sudah dewasa, sekarang kenapa nggak bisa dewasa?. Kita masih dalam hitungan jam aja sudah seperti ini, gimana kalau hitungan bulan, tahun, abad." Jovi ikut memarahi.
"Abad ? nggak mungkin lah, manusia hidup di dunia ini aja, rata-rata umurnya 80 tahun. sok tau,"
"Kok malah gitu sih? ya sudah terserah..!! terus mau gimana?,"
"Ya nggak gimana mana?." Ernest menyepelekan.
"Tuh kan, pasti seperti itu. Bikin males tau, minta apa sih sebetulnya? di panggil apa ? Ernest? begitu? iya?," Jovi kesal.
Ernest melirik. Ia sedikit memicingkan mata. Tapi, tapi, tapi masih sakit hati.
"Panggil sayangg dong." seketika itu berubahlah wajah Ernest penuh tawa. Jovi baru sadar, ia di kerjai oleh Ernest.
"Hahahaha.., marah ya..?? minta apa sih sebetulnya? di panggil apa? Ernest ? begitu? iya?," gaya Jovi ditirukan persis oleh Ernest.
"Tuan...!! nggak lucu, iihhh.. nyebelin." Jovi menampar bohong pipi Ernest.
Nampaknya kejadian pagi ini, sukses membuat Ernest bahagia. Tak henti-henti tertawa dari tadi.
"Terusin lagi dong? tuan, tuan ini kan sudah dewasa, sekarang kenapa nggak bisa dewasa? hahahaha,"
Ernest masih membully. Jovi mencubit hidung Ernest. Tak terima, Ia menggelitik perut Ernest. Perbuatan Jovi membuat Ernest seperti cacing kepanasan.
Baju rapi yang di kenakan Ernest, langsung kusut, di tindih tubuh tunangannya. Tidak memberi ampun, tangan Jovi menggelitik dua sisi perut sekaligus.
Jovi tau, Ernest tidak tahan dengan rasa geli. Kaki Ernest di angkat tidak sopan, tubuhnya menggulung persis seperti hewan kaki seribu.
"Kikikikikikik.. Suster, suster, sudah suster."
Jovi bangga bisa membalas dendam ke Ernest. Tubuh Ernest ingin beranjak, namun ia tidak di berikan ampun se gampang itu oleh Jovi.
"Suster, suster, sudah suster..!! ampun suster saya tidak kuat."
Wajah Ernest sangat merah tidak kuat menahan serangan. Jovi menghentikan ulahnya. Ikut tertawa kasihan.
"Gimana? rasanya? puas? jahil ya ternyata dikau," ucap Jovi menyeka keringat Ernest tidak tega.
"Haduuh, maaf, maaf, sudah Suster. huuhhh, Ya Tuhan, tega ya emang kamu Suster Jovi," Ernest membuang nafas.
"Sayaaangg.. bukan Suster..!!," Jovi berteriak di telinga Ernest.
"Hahahaha.. iya, iya, maaf..!!"
Jovi lalu beranjak pergi mengambil tas dan amplop lamaran kerja. Lelah tertawa, Ernest meminum teh hangat di atas meja. Mama Jovi mengingatkan hari sudah siang.
Pukul 07.00 lepas 15 menit, Jovi dan Ernest beranjak pergi ke rumah sakit. Sebelum mereka pergi, keduanya berpamit. Mama dan papa Jovi mengantarkan Ernest keluar.
Aqila terlihat masih riang bersama teman kecilnya se kompleks. Mobil honda jazz putih tidak di perbolehkan Ernest untuk di bawa. Jovi masuk ke mobil yang di kendarai Pak Rahmat.
"Om, tante, saya permisi dulu. terima kasih atas jamuannya.. saya malah tidak enak, ke sini dengan tangan kosong, pulangnya perut nggak kosong." canda Ernest.
"Hehehe.. bisa saja kamu ini, sama-sama Ernest, lain kali kalau mau mampir silahkan. hati-hati ya Jov, di jaga Tuan Ernest nya," pesan mama Jovi.
"Kebalik tante, saya yang harusnya menjaga Suster Jovi.." tangan Ernest menepuk lengan Jovi.
"Ya mah. Jovi berangkat dulu dengan Tuan Ernest dulu mah, nanti sore Jovi pulang."
"Hati-hati ya..!!," papa Jovi memesan.
"Baik om, saya dan dik Jovi pergi dulu, permisi om," Ernest menjabat tangan mama papa Jovi.
"Tuan, kuno banget, manggilnya Dik," Jovi memprotes.
__ADS_1
"Sengaja aja," Ernest tertawa.
Mereka lalu pergi naik mobil. Ulah Jovi dan Ernest ternyata konyol. Papa Jovi dan mamanya tidak habis fikir. Putra tampan Tuan Toni itu selain kharismatik juga humoris.