
Fictor tidak habis pikir, semua rencana sedemikian rupa gagal. Kepala mendadak pusing, perut ingin mual, matanya sedikit berair tapi tidak sampai terjatuh.
"Anjingggg....."
Braakk...
Brakkk...
Braakkk...
Entah sudah ke berapa kali kursi duduk kebanggaan CEO Semesta Grup di tendang kasar. Kaki Fictor seperti tidak mempunyai rasa sakit, ia tetap melakukan terus dan terus.
Ola di luar menajamkan mata ke ruangan Fictor.
"Fictor kenapa? apa aja itu yang di banting-banting sama si Fictor."
Mata Ola menatap cemas. Ia tidak berani masuk ke ruangan Fictor, bisa-bisa dia akan di lahap habis-habisan.
Ola semakin tidak tahan dengan suara benda berjatuhan. Tangan kanan dan kiri silih berganti menutup telinga, akhirnya Ola beranjak ke ruangan.
"Toook.. tok.. tok.."
"Fictor?"
Ola memanggil dari luar.
"Fictor, Fictor loe nggak papa kan?,"
"Fic, jawab gue," Ola ketakutan, panggilan itu semakin pelan.
"Cekleekk," Ola membuka pintu.
Semua sudah porak poranda di atas lantai. Kursi kerja Fictor tetap di banting ke tembok terus menerus. Wajah Fictor memerah, akan tetapi kali ini matanya berair deras.
Fictor ternyata bisa memiliki ketakutan kuat. Laki-laki berumur kepala dua tersebut tidak menyadari, Ola sudah masuk ruangan.
"Kenapa Fic, loe bodoh sekali.. brakkkk, braaakk,"
Ola tidak tega, tangan Fictor memuluk tembok gedung. Ingin melerai tapi siapa Ola? Ola mengurungkan lagi niatnya.
Tidak lama, Fictor memalingkan wajah. Sorot mata terkejut dan semakin marah. Hanya tatapan dua mata, Ola sudah tidak bisa berkutik. Kaki terasa gemetar, ingin pergi tapi sudah telat.
"Ngapain loe ke sini? tangan loe buntungg ya? sampai loe nggak bisa ketuk pintu."
Fictor buru-buru menghapus air mata.
"Aaaa.. bukan gitu Fic, gu-gue tadi cuma mau ambil berkas."
"Berkas?? berkas apa'an? nggak ada berkas di sini, bassiiii... pergi nggak loe, sana...!!!" bentak Fictor.
Ola tercengang.
"Ada apa ini?," laki-laki paruh baya tersebut masuk ke ruangan.
Mata Ola mengikuti, siapa laki-laki tersebut. Langkah kaki sangat cepat menghampiri Fictor, sama-sama berjambang.
"Berkali-kali sudah papa bilang kan, jangan kamu pakai emosi, kendalikan emosi kamu."
Fictor terperangah kaget.
Fictor sama sekali tidak berucap apa-apa. Ola sebagai penonton merasa lemas kaki dan tangan.
"Fictor, kenapa kamu nggak jawab telepon papa?."
"Lihat, apa yang papa bilang..?? kamu itu benar-benar tidak becuss memimpin perusahaan ini, papa hanya minta kamu mengawasi perusahaan Yusuf saja tidak bisa, otak dengkul kamu."
Fictor diam saja.
"Lihat di luar sana..!! mata kamu buta? apa kamu tidak bisa lihat? di saat semua teman-teman papa bangga kepada anak-anaknya, mereka bisa memajukan bisnis orang tua'nya, tapi kamu apa?? otak bobroook."
Purwo papa Fictor menggeleng kepala. Kursi, meja, beberapa berkas, vas dan laptop jatuh di lantai. Gagang telepon menjuntai ke bawah tidak teratur.
"Ya seperti ini, emosi, emosi, dan emosi..!! kamu tidak ada apa-apanya dengan Dimas. Lihat Dimas adik kamu itu, di luar negeri dia tidak pernah merepotkan papa. Tapi kamu? kamu apa? dasar cungok."
Pak Purwo menunjuk kepala Fictor, telunjuk mendorong cepat ke belakang.
Fictor menjelma seperti remahan kertas yang terendam air, alias tak berdaya.
"Kamu tau, seorang Toni Wijaya? dia bisa besar dan lebih besar karena Ernest pintar, dia jenius, gebrakannya di dunia bisnis sangat di akui. Kamu? kamu itu apa? hah?," bentak Pak Purwo.
Ola tidak tega melihatnya.
Papa Fictor semakin mendekati putranya.
"Plaaakkkk..," pipi Fictor di tampar kasar.
Ola nyeri hati melihat semua pemandangan di depan mata.
"Kalau saja Dimas mau pulang ke Indonesia, papa tidak sudi kamu berasa di sini. Pulang..!! pulang..!! mungut sampah aja lah. bobrok nggak bisa di andelin."
Fictor sama sekali tidak membalas. Apapun yang di lontarkan papanya di telan. Wajahnya berbeda dengan biasa, terlihat menurut.
Air mata Ola tidak sengaja menetes, ia tidak tega.
"Mbak.. tolong itu di bereskan ya..?? jangan cuma diam saja." suruh Pak Purwo.
Ola diam.
"Mbak, bisa dengar saya? mbak, mbak yang di depan pintu? hey.. tolong di bereskan ya..!!."
"Aaa.. ouh.. iya pak, baik-baik pak. Mohon maaf pak, tadi saya tidak dengar."
Gemetar Ola, ia langsung buru-buru beres-beres. Semua di kembalikan ke tempat semula. Ola tidak berani menatap mata papa Fictor, tetapi Ola mencuri pandang ke atasannya.
Fictor menangis. Air matanya tertahan, akan tetapi tidak bisa di bohongi, buliran itu jatuh ke pipi.
__ADS_1
"Kalau gitu, saya permisi dulu bapak dan Pak Fictor."
"Baik, terima kasih ya..!!," Pak Purwo tersenyum.
Ola pergi ke luar.
Hatinya bernafas lega.
"Ya Tuhan.., itu yang namanya Om Purwo. Fictor kenapa loe nyedihin banget gitu sih? gue jadi nggak tega Tuhan sama dia. Fic, Fic,"
Ola masih menengok ke belakang, karena kadang ada suara benda jatuh lagi dari ruangan Fictor.
"Ya Tuhan, Fictor." suara itu selalu keluar dari mulut.
Ola mencari tempat duduknya lagi. Vega dan Elmara baru datang bersama dari istirahat. Ola berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Eh.. ada siapa Ol di dalam ruangan Pak Fictor?," tanya Elmara.
"Nggak tau, tamunya Pak Fictor," jawabnya garuk-garuk kepala.
"Kok, kayak lagi berantem ya.. ada bentak-bentakannya, ya nggak sih?," Vega menimpali.
"Mmbbb.. nggak tau juga sih, kan gue juga baru dateng sama loe Veg. gimana sih?," mereka saling bertanya.
"Udah, mending fokus kerja lagi aja, nanti malah loe bakal mati berdiri kalau Pak Fictor tiba-tiba keluar ruangan."
Ola memperingati.
Vega dan Elmara kembali ke meja.
Ucapan Ola benar adanya. Fictor membuka pintu ruangan. Mata nampak masih merah, hanya pandangan mata laki-laki berjambang tersebut tidak seperti biasa.
Ola langsung mengerjakan komputer. Ia pura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. Tatapan mata Fictor memang langsung lari ke arah Ola cepat.
"Ola, ikut gue..!!."
"Ha..?? kemana?," jawab Ola.
"Papa kamu suu-dah pul.." Ola melirik ruang direktur.
"Aayoooo..!!!," Fictor membentak.
"Mmb.. ba-baik."
Ola membereskan lembar kertas-kertas.
"Loe ini bisa di bilangin nggak sih? sekolah loe nggak lulus apa? nggak bisa bedain apa loe, kata kerja sama kata perintah," Fictor tak tahan.
Ola kembali salah, kertas itu di biarkan. Tiba-tiba tangannya di tarik Fictor, genggaman itu terasa hangat.
Ola tidak percaya, pasalnya baru kali ini ia di gandeng tangan gagah CEO muda tersebut.
******************
Selesai melaksanakan fitting baju pengantin, lengkap dengan make up penuh di wajah, Jovi nampak terlihat sangat cantik.
Tuan Toni berkali memuji kecantikan calon menantu satu-satunya keluarga Wijaya itu. Sist Elea mengeluarkan skill hebat tangan MUA handal dia.
"Oke, baik. Jadi gaun yang di pilih adalah bentuk Ball Gown ya tuan. Make up kita pake flawless saja, karena pengantin sudah cantik, jadi kita tidak perlu menambahkan make up berlebih."
"Ya, seperti ini saja, saya suka." Tuan Toni mengangguk.
"Bagaimana Tuan Ernest apa ada tambahan?," Sist Elea melirik calon pengantin laki-laki.
"Ada, ada. Tambahkan ini? mmb.. apa ya?," Ernest mengernyitkan dahi.
Sist Eleaa agak panik. Klient kali ini seperti kurang puas. Jovi sendiri menoleh mendengar kata-kata Ernest.
"Itu sudah baik Ernest, kurang apalagi?," sahut Tuan Toni.
"I-iyaaa," imbuh Jovi.
"Nggak pa, ini harus ada tambahannya lagi, masih ada yang kurang?."
"Ya apanya yang kurang? biar Sist Elea segera bisa memperbaiki."
"Ini pa? kurang, kurang?? dan kelihatannya harus di tambahkan lagi agar match." Ernest semakin tidak jelas.
"Apa sih? kurang, apanya? gaunnya? atau make up'nya? match yang gimana? ganti gaun? kamu mau minta tambah gimana bilang aja? bikin emosi lama-lama," Tuan Toni kesal sendiri.
"Iya tuan, silahkan..!!!," sist Eleaa membenahi bulu mata Jovi.
"Cuma ini aja sih, perlu tambahan cinta di setiap gaun yang di kenakan calon istri saya agar selalu ingat saya gitu sist, bisa nggak? hahaha,"
"Ooouuuwwwww...," semua pegawai bersorak.
"Dasar bocah gemblung," Tuan Toni mendorong pundak Ernest.
Ernest tertawa.
"Ya biarin Sist Eleaa, kalau Ernest mau, biar dia print copy semua gaun Jovi tempelin pake foto Ernest sendiri."
Sist Eleaa tersenyum mendengar Tuan Toni ngedumel seperti perempuan.
"Tuan Ernest sedang bucin tuan hehe."
"Nah.. saya kira ya seperti itu. Saya kuatir aja, nanti kalau selesai resepsi, Jovi ini nggak boleh keluar apapun alasan, udah itu aja." Tuan Toni menunjuk Ernest.
"Jelasss dong. SAH kok di larang..!!"
"Kan, kan, wes.. angel, angel (kan, kan, sudah, susah, susah)," akhirnya Tuan Toni tepuk jidat.
"Hahahaha..," semua para pegawai tertawa.
Ernest dan Jovi saling berpandangan, tetapi Jovi malu. Perempuan cantik tersebut membuang muka ke arah jendela di depan ring light.
__ADS_1
"Ciiieeeeee...." sist Eleaa menyoraki.
Semua benar-benar berbeda dengan pemberitaan di luar. Suasana hangat keluarga Wijaya membuang fikiran Sist Eleaa dan para pegawai boutique.
Tadinya Jovi di kira adalah perempuan jahat seperti di luaran sana. Rasa malas Sist Eleaa sempat hinggap saat dapat indent dari Tuan Toni.
Sekarang mereka pulang dengan job besar dan bahagia.
Semua kejadian di ruangan sore itu ternyata tidak sengaja di siarkan live lewat akun Instagram boutique sist Elea.
Tuan Toni kemudian pamit keluar. Sedang Ernest masih menunggui Jovi. Anak buah mengemas semua gaun, berlalu lalang naik turun tangga pergi ke mobil.
Ernest mendekati Jovi, mengambil duduk sebelah Jovi.
"Sist, make up'nya jangan di hapus. Tolong, gantikan baju calon istri saya dengan satu baju pesta warna putih..!!."
"Baik tuan, kita ada satu dress cantik sesuai dengan Suster Jovi."
Sist Eleaa memanggil anak buahnya.
"Kita mau ke mana?," Jovi tanya pelan.
"Lupa ya..?? ke pernikahan Sandi dong sayang. Yang kita bertemu di Malang waktu itu."
"Ouh itu. Iya, iya, tapi aku whatsapp mamah dulu, takutnya nanti mama nyariin karena belum pulang-pulang tuan."
"Hehehhe.. iya," Ernest tersenyum.
"Kenapa tersenyum? tanya Jovi sembari mengecek ponsel.
" Ya kamu, sampai sekarang masih Tuan terus panggilnya. Ayoo dong sayang, panggil sayang gitu." Ernest merangkul manja ke pundak Jovi.
"Aaaa.. nggak mau, masih susah tuan. nggak bisa," Jovi tersenyum.
"Bisa, ayooo dong..!! sayang, kita udah mau nikah lo, kamu cuma hitungan jari aja manggil sayangnya yank," rengek manja Ernest berpindah tangannya melingkar ke pinggang.
"Qila, kak Opi jahat Qila."
Ernest menidurkan kepala ke pundak Jovi. Kadang bibirnya tidak sengaja mencium tengkuk kekasihnya tersebut.
"Tuan, jangan seperti itu, malu di lihat orang-orang." Jovi berbisik.
"Kenapa malu? sebentar lagi kita kan akan menikah, terus punya anak, terus punya cucu sayang. Eh cucu, anaknya dulu aja berapa?."
"Emmuuach...," Ernest menyucup dahi Jovi kencang.
Jovi sangat malu. Bola mata perempuan cantik itu lari-lari melihat para pegawai.
Sedangkan Sist Eleaa menyuruh pegawai perempuan buotique yang lain ikut melihat pemandangan itu.
"Sist, pulang yuk...!!! klient klient yang seperti ini, bikin gue semakin meratapi nasib kalau jomblo," Sheza memprotes.
"Ehh.. jangan buru-buru."
"Eeeittsss.. tips'nya banyak di sini," imbuh pegawai lain.
Sist Eleaa tertawa.
15 menit kemudian.
Tidak lama, Jovi di minta berganti baju oleh Ernest. Nanti malam pesta pernikahan Sandi, sudah menanti mereka, termasuk semua teman kuliah Ernest.
Apabila melihat kondisi kaki Ernest, rasanya ia enggan berangkat. Namun, janji tetaplah janji. Sandi sudah memberitahu jauh-jauh hari.
Beruntung, tongkat walker milik Ernest sudah di modif keren berwarna hitam, berukuran se pinggang. Ernest mengganti pakaian, di satu ruangan.
Setelah menunggu, Sist Eleaa membawa Jovi keluar dari ruang ganti.
Tatanan rambutnya seperti tokoh Elsa di film Disney Frozen, dress warna putih, sepatu heels warna senada, sangat terlihat cantik.
"Tuan Ernest, Nona Jovi sudah selesai. Selamat berkencan untuk hari ini." Sist Eleaa tidak sabar menunggu Ernest.
"Mmbb.. ya, ya, sebentar ya.!!"
Ernest merapikan kemeja.
"Nona Jovi, kenapa sangat cantik sekali? wah.. ini seperti putri di negeri dongeng."
"Ini berkat Sist Eleaa kok, terima kasih banyak Sist."
"Sama-sama calon menantu Tuan Toni Wijaya."
Ernest semakin penasaran.
Berulang kali Sist Eleaa menyanjung secara berlebihan. Lalu kemudian, Ernest membalikkan badan.
Ternyata, yang dibicarakan Sist Eleaa sungguh benar tidak berlebihan. Jovi terlihat sangat cantik sekali, jika biasanya rambut lurus miliknya di biarkan saja tergerai, kali ini sangat anggun.
"Woow... ini siapa? salah deh, ini bukan Jovi Andrianita."
"Tapi??," Jovi tahu Ernest menggoda.
"Tapi, Jovi Wijaya. Eh.. Jovi Wijaya? kenapa justru nama kamu cowok banget sayang hahaha."
"Hmmm..." wajah manja Jovi memanjangkan bibir. ke dua bola mata memutar ke atas seolah jengkel.
Ernest senyum. Langkahnya pelan meraih pinggang Jovi. Tatapan mata tajam Ernest membuat meleleh.
"Kamu cantik sekali hari ini, terima kasih ya..!! saya tidak akan pernah menyesal memilih kamu sebagai wanita terakhir di hidup saya Suster Jovi."
Jovi tertegun tidak bisa menggerakan mata. Apalagi, dada bidang Ernest menghimpit tubuh ramping kakak Aqila tersebut, terasa hangat, menenangkan.
"Saya juga tidak menyangka, Tuhan begitu baik, mengirim saya bertemu dengan anda tuan."
Tak terasa, tangan mereka saling memeluk bahagia.
__ADS_1