
Seusai Jovi menerima Ola dan Dokter Nalen sebagai tamu. Ia menyalakan lampu tengah, Jovi membongkar semua berkas lamanya.
Mama Jovi ikut keluar belum tidur. Jam dinding menunjukkan pukul 22.00 malam. Aqila tidur, papa Jovi sudah mengistirahatkan diri.
Beberapa lampu ruangan sudah mati. Sisa Jovi berada di ruang tengah. Mata terasa perih menahan kantuk, Jovi tetap lanjut menulis surat lamaran kerja.
"Kreeeekk.." pintu kamar di tutup.
Jovi menoleh. Mama Jovi jalan ke arahnya.
Perempuan paruh baya tersebut selalu menunggu putrinya tidur dulu, sebelum kaki mama Jovi benar-benar mengistirahatkan diri.
"Jovi.. kamu belum tidur?."
"Belum mah."
"Sedang apa? buat surat lamaran? masih inget cara nulisnya?," mama Jovi melihat tumpukan dokumen penting.
"Ya inget lah mah, kan ada google..!! semoga saja Jovi bisa dapat panggilan interview dari rumah sakit tempat Dokter Nalen kerja."
"Iya Jov, kamu usaha dulu saja nanti sisa hasilnya kita serahkan sama Tuhan."
Mama Jovi menemani duduk di sofa. Arsip ijazah, sertifikat magang, juga beberapa dokumen lain, di pilah Jovi. Sisa pas foto ukuran 4x6 belum Jovi miliki.
Suasana ruangan terlihat damai. Dengkuran nafas papa Jovi tidur kadang terdengar keluar. Mama Jovi bangga melihat kegigihan putrinya.
Perempuan cantik tersebut selalu tegar menghadapi masalah. Kadang tanpa cerita ke orang tua, semua sudah selesai sendiri. Jovi memang berbeda.
"Jov."
"Ya mah."
"Kamu kan sudah lama kenal dengan Dokter Nalen. Kalian sudah pisah lama dan sekarang di pertemukan lagi. Dan Dokter Nalen mama lihat orangnya juga baik Jov.. Perempuan se usia kamu sudah waktunya memikirkan kebahagiaan Jov, contohnya menikah."
"Tapi Jovi nggak cinta mah sama Dokter Nalen."
"Kenapa?."
"Karena Jovi suka dengan orang lain," mama Jovi melihat putrinya berhenti menulis.
"Siapa? memang kamu punya pacar? sejak kapan? mama bahkan sama sekali nggak pernah lihat kamu jalan sama laki-laki."
"Mmmbb... Jovi yang memang sengaja nggak mau pacaran, nanti juga mama tau."
"Siapa sih Jov? mama jadi penasaran."
"Siapa ya?," senyum Jovi terlihat menggodai.
"Joviiii... dosa lo nak, kamu godain orang tua. Siapa? Tuan itu ya Tuan Ernest ya?."
Jovi mengangkat pundak. Ia menaikkan bola mata. Sehingga ada senyum tersembunyi, dan mama Jovi gemas melihat sikap putrinya tersebut.
"Awaasss aja ya..!! nanti kalau mama tau siapa calonnya? bakalan,"
"Mah.. bakalan apa mah? mah, jangan gitu dong."
"Bakalan mama langsung restui."
"Ahhh.. mama." Jovi memeluk. Mama Jovi tersenyum.
Sungguh, orang tua perempuan paling bisa mengerti hatinya.
Meski kondisi ekonomi sulit, satu titik kebahagiaan ada dalam diri Jovi. Masalah hati, tentang Ernest dan cintanya.
********************
RUMAH TONI WIJAYA.
"Tiin.. tiin.. tinnn..," klakson mobil alphard putih di depan pagar.
Pak Tono langsung bangun. Kursi kecil tadi terasa seperti hotel langsung di tinggal pergi. Semalam ini, ada mobil Tuan Toni datang. Pak Tono membukakan pintu pagar.
"Kreeeekkkk...," pagar di buka se ukuran mobil.
"Tidur aja, kerja Ton," sorak Pak Rahmat cengengesan.
__ADS_1
"Hussttt...," suara Pak Tono.
Pukul 23.30, Tuan Toni baru datang dari luar kota. Setelah sekian lama meninggalkan rumah, suasana megah kerajaan Wijaya bisa di hirup kembali.
Rasa kantuk menggelayut di mata, Tuan Toni menunggu mobil masuk ke garasi. Di depan teras rumah suasana sangat sepi. Kadang desis serangga saja yang terdengar.
Pak Rahmat memarkir mobil. Ia lalu turun membuka pintu untuk sang majikan. Tuan Toni terlihat kelelahan, kacamatanya terlihat mengembun.
Jalan santainya masuk ke ruang tamu. Seperti biasa, Tuan Toni masuk ke kamar Ernest. Tidak bersua sangat lama, memupuk kerinduan hebat di hati laki-laki tua itu.
Tuan Toni membuka pintu.
Ernest menoleh. Tidak percaya, papa tercinta kesayangan Ernest datang. Senyum Tuan Toni turut menyambut. Mereka melepas rindu dengan pelukan hangat.
"Papa baru pulang, malam sekali?, Ernest baru ngecek HP ini pa."
"Iya, tadi ada sedikit macet di daerah Lamongan sampai Gresik jadi papa dan Pak Rahmat harus menunggu."
"Kamu tumben belum tidur?," Tuan Toni melepaskan jass serta merenggangkan dasi.
"Belum, ada tugas kantor belum sempat Ernest kerjakan tadi. Sekarang Ernest mulai fokus dengan project baru yang Ernest akan lakukan pa."
"Project apa? di grup whatsapp tidak ada pemberitahuan apapun?."
Tuan Toni duduk di depan Ernest.
"Bukan di mulai dari Wijaya Grup, tapi dari anak perusahaan kita dulu pa.. di Sidoarjo dengan PT. W-Jaya. Bagi para klient yang akan bekerjasama dengan kita, mulai besok Ernest akan meminta semua pegawainya menggunakan seragam dengan standart K3."
"Terus? apa kamu sudah mempunyai pandangan dengan siapa kita akan bekerja sama ?? memesan seragam tentu bukan keahlian dari perusahaan kita kan? sudah kamu perkirakan matang-matang prosentase reaksi klient kita?."
"Sudah, sudah. Sudah semua pa. kita akan bekerja dengan PT. Persada Jaya, tidak terlalu besar PT'nya tetapi PT ini dulu memiliki kualitas kepuasan 100% atas pemesanan barang pa. Ernest belum bisa memastikan presentase'nya pa.. anggap saja 50 banding 50."
"Bagus menurut papa juga begitu. Karena ini adalah percobaan proyek baru dan kita sendiri belum pernah melakukan, memang alangkah baiknya kita uji coba dari perusahaan anak cabang dulu saja. Jadi seandainya proyek ini gagal, kita tidak rugi dan mungkin presentase kerugiannya akan kecil sekitar 2%. tidak berpengaruh dengan saham Wijaya Grup."
"Betul pa." Ernest mengangguk.
Otak bisnis bapak dan anak petinggi Wijaya Grup di nilai sama-sama brilliant. Tidak heran, apabila Wijaya Grup mampu menjadi perusahaan berskala besar, sukses dalam bidangnya.
Sambil menyelam minum air. Peribahasa itu cocok untuk Ernest.
Di umur kepala 5, Papa Ernest masih terlihat tampan. Meski mulai ada kerutan wajah, imbang atas umur sudah di pijakki Tuan Toni.
"Tadi Suster Jovi sudah ke sini?."
"Suster? iya, tadi sudah ke sini." lirik Ernest.
"Papa kenapa tidak bilang Ernest, Suster Jovi balik ke sini? hampir tadi Suster Jovi datang langsung Ernest marahin, karena Ernest kira dia Meghan."
"Hahaha.. biar sedikit kejutan saja untuk kamu. Papa lihat kamu paling galau waktu ditinggal Suster Jovi? waktu di apartemen kamu nangis kan? ngaku kamu?."
"Papa kayak anak muda aja, datang-datang langsung sok tau," Ernest malu menutup muka.
"Halahh.. tua-tua begini kan papa ini pernah muda Ernest. Makanya papa bisa bilang begini karena papa pernah seperti kamu."
Ernest tertawa.
"Ernest."
"Hmm.. apa pah?."
"Kamu tau nggak? waktu papa meminta Suster Jovi kembali menjadi suster, dia seperti berada dalam pilihan yang berat. Waktu itu Suster Jovi banyak diam. Dia juga sempat memanggil papa dengan sebutan Tuan Ernest, dia merindukan kamu? tapi seperti di tepis sendiri."
"Ernest tidak tahu pa, mungkin pada saat itu sikap yang Ernest ambil kurang bijak. Waktu itu banyak ucapan Ernest yang menyakiti hati Suster Jovi juga."
"Suster Jovi adalah perempuan baik, dia cantik, dia pintar, apa yang sampai membuat kamu marah dengan dia? papa sudah duga, pasti kamu melakukan sesuatu pada Suster Jovi? but everything gonna be ok "
Tuan Toni diam sebentar.
"Sebetulnya apa yang terjadi antara kamu dan Suster Jovi saat di Jakarta? Ernest, papa tau, sebetulnya kamu mencintai Suster Jovi, cerita saja."
Selama ini Ernest di besarkan dengan kasih sayang serta didikan baik. Meski kadang, Quality time keluarga di rasa kurang, kedekatan papa dan anak tersebut sangat terasa.
Ernest tidak menunda memberi tahu.
Sudah waktunya Tuan Toni mengetahui semua. Tentang cinta, tentang siapa Jovi, tentang siapa perempuan sedang di cintai Ernest.
__ADS_1
Pukul 00.30 seperti tidak menjadi masalah bagi keduanya. Ernest dan Tuan Toni larut dalam perbincangan. Lelah di pundak Papa Ernest hilang, berganti cerita hangat dari Ernest.
"Malam itu saat di Jakarta, sebetulnya Ernest ingin melamar Suster Jovi. Kami berdua makan malam, tapi pada saat itu Suster Jovi melakukan pengakuan tentang siapa dirinya."
"Siapa dirinya? maksudnya? Suster Jovi sudah memiliki pacar, terus kamu patah hati dan sampai akhirnya kepala kamu pening, lalu kamu meminta pulang ke Surabaya?."
Tebak Tuan Toni. Ernest tersenyum lucu. Kepalanya menggeleng. Bukan seperti itu ceritanya. Tuan Toni nampak serius mendengarkan, apa yang sebenarnya terjadi.
"Bukan pah. Tapi Suster Jovi membuat pengakuan bahwa dia adalah mata-mata. Suster Jovi datang kemari kare,"
"Mata-mata Ernest? dari siapa? dia siapa? kenapa kamu tidak memberitahu papa? ini adalah jawaban dari misi yang selama ini kita cari kan Ernest? tidak mungkin, Suster Jovi terlihat sangat tenang selama ini."
"Pah, papa dengarkan Ernest dulu, papa yang tenang. Suster Jovi memang benar suruhan seseorang, tapi dia tidak melakukan semua yang di perintahkan oleh atasannya. Dia membuat pengakuan itu atas dasar dari hatinya, bukan karena strategi dan paksaan."
Tuan Toni sangat syock. Matanya berurai air. Antara tidak percaya, sedih, senang berbaur jadi satu.
Ernest harus melakukan pemilihan kata yang tepat. Sehingga salah paham, kekhawatiran Tuan Toni tidak berlanjut lebih menggila lagi.
Selama ini, Papa Ernest selalu mengkhawatirkan kondisi kesehatan Ernest. Keselamatan Ernest harus di amankan dari siapapun yang akan mencelakainya.
"Jadi benarkan apa selama ini firasat yang kamu miliki? Suster Jovi ke sini memang di kirim orang lain? dia adalah alumni Stikes Wijaya yang terlibat dalam pengunduran diri serta masuk ke dalam perusahaan tempo lalu?."
Emosi Tuan Toni langsung tidak terkontrol. Tuan Toni berusaha meredam hatinya. Wajah tenang papa Ernest berubah merah padam tak karuan.
Bola matanya sangat tidak tenang, memasang pergi ke kanan ke kiri. Tuan Toni membuang nafas, mengatur ritme pernafasan, sehingga bisa tenang.
"Iya memang seperti itu kenyataannya. Meski Ernest sudah mencintai Jovi, masa lalu Jovi datang ke rumah ini memang begitulah adanya, skenario Tuhan seperti itu, kita tidak bisa menolak."
"Papa jadi ragu," ucap Tuan Toni lirih.
Ernest melihat kecemasan dari wajah papanya. Ernest paham, sebab dia pernah berada di posisi tersebut.
"Pah.. Yang belum papa tau dari Suster Jovi, beberapa pengorbanan Suster Jovi untuk keluarga kita memang tidak terlihat, tapi asal papa tau, di sini dia juga korban pa. Suster Jovi korban dari atasannya."
Tuan Toni berfikir seksama. Tidak gegabah seperti biasa, ucapan putranya di telaah satu persatu.
"Papah, seandainya Suster Jovi adalah orang yang jahat tidak mungkin dia melakukan pengakuan. Dia bahkan rela membahayakan dirinya sendiri atas keputusannya itu pah. Selain pada saat itu juga Ernest tidak mempercayai apa yang di katakan oleh Jovi, dia juga kehilangan pekerjaannya pah, dan tentu itu rasanya sakit sekali."
Ernest tidak tahan menceritakan semua. Tidak terasa, kekejaman Ernest beberapa waktu lalu membuat genangan di mata.
"Bayangkan..!! yang dia bela tidak memihak pada dia, tapi Suster Jovi? dia tetap baik pada kita. Dengan ucapan sakit hati yang Ernest lakukan ke Jovi, mengatai tanpa rasa kasihan, tapi Suster Jovi ? dia tetap mau di mintai tolong oleh papa kan? Suster Jovi baik, tetap tidak meminta imbalan apapun. Papah, Seandainya itu orang lain, jangan mengharap seperti itu."
"Bukan karena dia orang baik, Dia di mintai tolong dan tetap mau itu bukan karena apa-apa, tapi karena dia,"
"Papah.. tolong pah, sekali ini saja Ernest minta papa jangan berburuk sangka."
"Benar yang papa katakan."
"Papah," muka Ernest memelas. Tuan Toni memandang balik, tidak takut. Tuan Toni tetap melanjutkan ucapannya.
"Dia, Suster Jovi..!! mau di mintai tolong, bukan karena apa-apa, tapi karena dia juga mencintai kamu. itu..!!"
Ruangan sepi. Ernest melihat papanya.
"Karena sehebat apapun sakit hati dalam diri seseorang, sekecil apapun cinta itu Ernest, sesungguhnya cinta lah yang tetap mengantarkan Suster Jovi kembali ke kamu. Sebaik apapun Suster Jovi pada kamu, apabila dia tidak mencintai kamu, dia tidak akan sudi kembali lagi ke rumah ini untuk ke dua kalinya."
Tuan Toni langsung menepuk pundak Ernest. Pelukan hangat mereka di umbar. Tuan Toni melepas tangan Ernest. Putranya tertegun tidak berkata apa-apa.
Malam ini, sepertinya Tuan Toni bisa memahami keadaan. Sehingga tanpa mengakibatkan salah paham, Ernest dan papanya berdiskusi dari hati ke hati.
"Ernest... seperti apa yang tadi kamu katakan, kedatangan Suster Jovi ke sini memang skenario'nya di buat Tuhan seperti itu. biarlah.. kita tidak bisa merubah masa lalu."
"Papa hanya ini mengatakan, sekarang kamu sudah dewasa, kamu sudah mempunyai karir dan laki-laki se usia kamu juga sudah seharusnya menikah, apa kamu tidak berencana melamar lagi seseorang yang kamu cintai. Kamu dan Suster Jovi sudah saling mengenal, rumah ini sudah seharusnya ada tangisan bayi setiap paginya, dan papa menunggu itu."
"Papah, tidak mempermasalahkan status keluarga Suster Jovi? Suster Jovi bukan dari anak CEO perusahaan elite seperti teman-teman papa."
"Apapun pilihan anak papa, papa akan selalu mendukungnya, kamu harus bertanggung jawab dengan pilihan kamu. Ernest, menikah itu tidak mencari dari keluarga kaya raya, tidak mencari dari kedudukan. Tetapi menikah itu, janji di antara kedua bagaimana tidak meninggalkan dalam suka maupun duka."
Tuan Toni mengenang kisah cinta dirinya dengan mendiang mama Ernest.
"Banyak orang di luar sana, tidak kurang materi satu apapun, tapi ada perselingkuhan, tetapi ada kekerasan dalam rumah tangga, itu sudah bisa disimpulkan bahwa harta tidak menjamin kebahagiaan. Memang semua memang butuh uang, tapi kebahagiaan tidak bisa di beli dengan uang."
"Terima kasih pa, Papa selalu memberi nasihat-nasihat baik pada Ernest. Besok Ernest akan berkunjung ke rumah Suster Jovi."
"Nahhh.. begitu..!! itu baru anak papa." Tuan Toni tersenyum.
__ADS_1
Laki-laki tampan paruh baya tersebut kemudian pergi. 02.00 dini hari perbincangan mereka baru selesai.