
Kantor WIJAYA Group.
Mobil yang dikendarai Pak Rahmat sudah terparkir didepan lobi perusahaan. Mengajak Jovi harus memberikan, telapak tangannya pada Ernest, membantu untuk keluar mobil.
Dari dalam kantor, banyak para staff khususnya perempuan, memandang Ernest tanpa kedipan mata. Pasalnya, sudah lama, para pegawai tidak melihat Ernest berjalan kaki sendiri, tanpa bantuan kursi roda.
Penampilannya kembali keren, tubuh tinggi, dan putih kulitnya, kembali dipandang jelas oleh para pegawai di kantor. Jovi yang membersamai Ernest, seolah menyulap suster cantiknya tersebut, seperti sekertaris.
Pukul 07.55 semua para karyawan, sudah menduduki posisi meja kerja mereka masing-masing. Terakhir ada beberapa anak, baru saja melakukan check lock, ditengah waktu yang sudah begitu mepet.
Setelan jass putih yang dikenakan Ernest, semakin membuatnya terlihat tampan. Sepatu kerja hitam, jam tangan, juga sisiran rapi rambut Ernest, semakin diperhatikan, oleh seluruh para karyawan.
"Selamat pagi Bapak Ernest."
"Selamat pagi, pak."
"Pak Ernest selamat pagi."
Meski semua karyawan tau, sapaan tersebut selalu akan di abaikan oleh direktur di kantornya. Tetapi semua masih dilakukakan seperti biasa, wajahnya saling tulus memberi senyum, seolah tanpa ada paksaan.
Tetapi, semua berbeda dengan hari ini. Sapaan dari para pegawai, dijawab Ernest dengan anggukan kepala serta senyum ramah. Perlakuan dari direktur utama Wijaya Grup itu, tidak seperti biasa.
"Senang melihat bapak sudah sehat pak, " sapa anak staff.
"Terimakasih Yola," sebutnya ke arah salah satu pegawai.
"Pak Ernest, alhamdulilah sudah sehat kembali, senang melihat kondisi bapak membaik," ujar OB di kantornya.
"Iya, terimakasih ya."
"Pak Ernest, sudah sembuh ya?," tanya pegawai lain lagi.
"Sudah..," Ernest tersenyum.
Mendengar itu semua, Jovi memandang Ernest seperti tak percaya. Apa yang terjadi hari ini, sehingga bisa menyulap Ernest bersikap ramah, kepada semua karyawan.
Bola mata Jovi berlari ke atas, memandang geli, melihat perubahan sikap Ernest. Rasanya lucu saja, dengan senyum ramah yang diberikan oleh putra semata wayang Tuan Toni.
Meski begitu, Jovi menyembunyikan senyum kecilnya, terkesima dengan sikap laki-laki yang mencumbunya tadi malam. Ernest semakin tampan, lewat senyum manis yang tergambar diwajah.
Bukan hanya Jovi saja yang terkejut, ternyata semua karyawan di kantor, tak kalah ikut tercengang. Jovi melihat, dua karyawan saling bermain mata, pundaknya saling senggol, mendapat balasan sapaan dari Ernest.
"Selamat pagi Pak Ernest."
"Pagi juga," senyumnya mengikuti.
"Pak Ernest, senang melihat kondisi bapak semakin membaik."
"Terimakasih," jawabnya mulai lelah.
"Pak Ernest."
"Pak Ernest."
dan "Pak Ernest."
Ternyata semua itu, membuat pertahanan Ernest runtuh, dia sangat jengkel. Daritadi, semakin Ernest memberi senyum dan bersikap ramah, sapaan itu justru semakin banyak dari para pegawainya.
Rasa hati menyesal bersikap ramah, apalagi ditambah dengan Jovi yang tidak bereaksi apapun. Ernest malah merasa ingin membentak satu persatu pegawai yang menyapa.
Mukanya sudah ditekuk, tidak seramah seperti beberapa menit yang lalu. Ernest mulai mempercepat langkah kakinya, untuk naik lift, agar segera sampai ke ruangan.
Ernest dan Jovi masuk ke dalam lift.
"Ayooo suster, cepat."
"Baik tuan."
"Males saya, jawab mereka satu satu," wajah Ernest kesal didalam lift.
"hehehehe," Jovi tertawa kecil sudah tidak kuat menahan tawa.
"Dikasih senyum, dijawab satu-satu, malah terus terusan kalau tanya," gerutunya lagi.
"Sabar tuan, itu tandanya mereka senang melihat perubahan sikap dari Tuan Ernest," Jovi tersenyum menasehati.
"Ouh ya...? terus kalau kamu, senang apa tidak?," Ernest menatap Jovi.
"Saya?." tunjuk Jovi ke arah dirinya sendiri.
Jovi tersenyum.
"Iya tuan, saya juga senang," jawabnya ramah.
Ernest mengangguk jaim (jaga image).
__ADS_1
"Oke oke.., rasanya itu tidak sulit, hanya senyum dan menyapa, ya kan?," ucapnya sendiri dengan labil.
"Iya tuan."
"Semakin membuat saya kharismatik kan suster? ya nggak?," tanya Ernest semakin tidak jelas.
"Iya tuan."
Ernest tersenyum bahagia.
"Memang laki-laki itu harus seperti ini suster, harus beriwibawa, sedikit senyum, dan jangan terpaksa."
Jovi membiarkan saja sesuka hati Ernest.
Sikap Ernest semakin mulai terasa aneh, hanya ucapan sederhana dari Jovi, yang mengatakan bahwa Jovi juga senang atas perubahan sikapnya, sudah membuat Ernest sangat bahagia.
Rasa hati Ernest, bangga mendapay perhatian Jovi. Dirinya semakin dibuat lelah oleh pikirannya sendiri, yang meminta Ernest agar selalu mendapatkan perhatian dari Jovi.
"Baru seperti itu saja, kamu sudah terkesima kan suster? kita lihat, kamu akan mulai jatuh cinta denganku."
Sesudah itu mereka berdua sampai di lantai 5, Jovi dan Ernest masuk ke dalam ruang direktur utama. Mengajaknya kembali bergelut dengan berkas-berkas di kantor.
Laki-laki yang mulai tidak sadar, jika dirinya sedang jatuh cinta tersebut, duduk diatas kursi. Ernest langsung mengambil telepon kantor, mengecek berkas di map warna merah.
"Hallo Devi, segera bawakan saya berkas design dari PT. Antariksa, ke ruangan saya ya..!!," perintah Ernest.
"Maaf Pak Ernest, hari ini Devi izin tidak masuk kantor, karena sakit," jawab perempuan di dalam telepon.
"Sakit..?? ini siapa? sonia?"
"Iya pak saya Sonia."
"Ya sudah kalau begitu, kamu ke ruangan saya sebentar ya..!!"
"Baik Pak Ernest, saya ke ruangan setelah ini."
Ernest menutup telepon.
Ernest memangku wajah dengan kedua tangannya. Menunggu salah satu pegawai, dengan fikiran yang kembali dibuat bingung.
Belum ada dua bulan, posisi sekertaris yang digantikan oleh Devi. Hari ini, pengganti Meghan itu, sudah izin tidak masuk kerja. Ditambah pula, kemarin Ernest juga izin tidak masuk kerja.
Diakui atau tidak, berpindahnya posisi Meghan, sudah tidak menjadi sekertaris Ernest lagi, sedikit membuat kalang kabut pekerjaan. pada perusahaan Wijaya Grup di pusat kota Surabaya.
Pegawai perempuan, rambutnya bergelombang memakai kacamata, masuk ke ruangan. Membawa setumpuk map merah, yang dibopong kedua tangan keberatan.
Kakinya berlari segera mendekat ke arah meja. Menaruh semua tumpukan berkas ber map merah, dengan total lebih dari 85 lebih berkas kolega-kolega bisnis milik wijaya grup.
Ernest juga terlihat kaget, dengan semua tumpukan yang dibawa oleh pegawainya. Wajahnya terlihat pasrah, seperti sudah mengetahui apa yang akan terjadi.
"Selamat pagi Pak Ernest," kata pegawai berdiri didepan meja kerja.
"Selamat pagi."
"Maaf Pak Ernest, hari ini saya membawa semua map yang ada di rak."
"Ya ya tidak papa Sonia, nanti saya cari sendiri."
"Tadi saya sudah cek, beberapa nama PT yang file'nya sudah dibedakan oleh Devi beberapa waktu lalu, ini saya bawa yang dari PT Antariksa pak Ernest."
"Jadi semuanya ini, berkas design PT. Antariksa juga campur jadi satu disini dengan berkas lain dari PT Antariksa?."
"Iya pak maaf, saya sendiri juga sedang melengkapi berkas-berkas dari PT lain, yang mengajukan kerjasama ke wijaya grup, sebelum nantinya saya serahkan ke Pak Ernest."
"Kenapa bisa sampai sebanyak ini Sonia?? file-file yang lain apa juga campur aduk seperti ini??," tanya Ernest kebingungan melihat tumpukan file di meja.
"Sebetulnya, awal mulanya karena setelah beberapa hari Pak Ernest mengalami kecelakaan, bapak langsung memindahkan Meghan ke bagian staff lain, dan posisi sekertaris kosong kurang lebih 2 minggu pak," Sonia menjelaskan sangat hati-hati.
"Sebelum akhirnya bapak menyuruh Devi menggantikan sebagai sekertaris baru, kemudian ditambah lagi Devi tidak begitu paham dengan tugas sekertaris, yang harus membuat berita acara, pengetikan surat, dan memorandum Pak Ernest," ucapnya lebih jelas.
"Maaf pak, berkas yang lainnya juga tidak jauh seperti itu."
"Ya sudahlah tidak papa," wajah Ernest terlihat sangat pasrah.
Pewaris tunggal seluruh kekayaan Toni Wijaya itu, merasa menyesali keputusan gegabah yang sudah diambil olehnya, karena sakit hati dengan Meghan. Itulah alasannya, Ernest tidak mau terjerat cinta lokasi dengan pegawainya sendiri.
Rasa lapar yang tadi begitu mendera perut dan suara cacing pitanya bernyanyi, sudah tak dihiraukan Ernest. Kepalanya mulai pening, dengan berkas-berkas yang tidak beraturan sama sekali.
Semua berbeda ketika Meghan menjadi sekertaris laki-laki tampan tersebut. Semua berkas tertata rapi, sesuai nomor dan warna map.
Namun dipindahkannya Meghan ke bagian yang lain, membuatnya tidak bisa lagi bertanggung jawab atas semuanya. Meghan dipindahkan ke lantai tiga, yang semula satu lantai dengan Ernest.
"Sonia, bagaimana dengan kondisi staff yang lain? tidak keteteran kan?," ucapnya mencemasi.
"Tidak Pak Ernest, pekerjaan di staff lainnya sudah selesai sebelum deadline, hanya saja sempat 2 proyek belum kita beri tanggapan, untuk penyewaan alat berat dari perusahaan kita."
__ADS_1
"Kenapa seperti itu? kenapa kamu tidak kirim persetujuan ke PT yang mengajukan Son? alat berat kita terhitung cukup jika untuk pembangunan perumahan Ningrat resort saja."
"Iya pak, tapi ini berkasnya masih menyelinap dengan berkas berkas lain, kemungkinan pada saat mengajukan, berkasnya ditumpuk anak-anak di meja sekertaris pak." Sonia gemetaran mengatakan semuanya.
"Jadi lalu tertimbun dengan berkas yang lainnya begitu?," tebak Ernest.
Sonia menganggukkan kepala.
Ernest manaruh dua tangannya diatas kepala. Berpindahnya Meghan yang tadi dianggap sepele, sekarang menumpuk menjadi masalah yang sedikit serius.
Sedangkan Jovi yang tidak tau apa-apa, suster cantik CEO muda itu, mengeluarkan tatanan box sarapan, yang sudah dibawa Jovi seperti biasanya.
Jam di ruangan sudah menunjukkan pukul 09.15 tapi belum ada sama sekali pekerjaan yang ditangani Ernest. Jovi seperti biasa, hanya menjadi seorang pengamat oleh obrolan dua pegawai wijaya grup itu.
"Haduuuh kenapa bisa sampai seperti ini??," tidak ada lagi yang dikatakan Ernest selain itu.
Sonia juga hanya menunduk, menunggu instruksi.
"Kalau begitu, begini saja Son, kamu catat dua nama PT yang berkasnya hilang tadi, nanti coba saya cari sendiri," pinta Ernest segera bergerak cepat.
"Maaf pak, apa sebelumnya itu tidak terlalu memberatkan bapak? Pak Ernest baru sembuh, saya takut bapak kenapa-napa."
Ernest hanya terdiam, mendengarkan kata Sonia staff diruangannya.
"Maaf Pak Ernest, apa tidak sebaiknya bapak menarik Meghan, menjadi sekertaris lagi?," bujuk Sonia kebetulan teman dekat Meghan.
"Maaf pak, saya hanya memberi usul, ini tidak ada sangkut pautnya, dengan saya adalah teman dekat Meghan pak, karena kondisinya sudah sangat mendesak, ditambah keadaan Pak Ernest baru saja membaik," Sonia mencoba berdiskusi.
"Iya sudah.., saya pikirkan nanti dulu," kata Ernest.
"Pokoknya saya minta cepat, nama PT yang tadi berkasnya terselip itu saja, biar segera beres," Ernest menghela nafas panjang.
"Baik kalau begitu pak, setelah ini, saya langsung cek dikomputer nama PT yang melakukan pengajuan kerjasama kemarin," ucap Sonia begitu berbahagia.
"Ya sudah kalau begitu, kamu bisa keluar."
"Baik Pak Ernest, saya permisi dulu," Sonia meninggalkan ruangan.
Sonia keluar dari ruangan, wajahnya sumringah, tawanya mengembang, tidak sabar menunggu jam istirahat. Untuk memberi tahu Meghan, tentang kemungkinan dia akan dikembalikan pada posisi sekertaris lagi.
Sementara itu, di dalam ruangan Ernest menyandarkan punggung di kursi. Kedua tangannya terlilit diatas kepala, sedang pusing, memulai dari mana dulu pekerjaan yang akan dirampungkan.
Jovi membawa box nasi, mendekat ke arah Ernest, menarik satu kursi disamping tuan muda seperti biasa. Melihat jam yang sudah pukul 09.30 semakin mengajak Jovi, harus menyelesaikan sarapan Ernest.
"Tuan, tuan waktunya sarapan dulu, ini sudah menjelang siang tuan."
"Tidak suster, hari ini saya tidak sarapan, makan saja sarapannya, kamu punya maag kan?," Ernest menutup kedua mata.
"Saya sudah sarapan tadi tuan, tuan kenapa tidak mau makan? sariawan?," tanya dia polos.
"Tidaaaakkk Jovi, pening, banyak kerjaan yang terkendala," jawabnya kesal.
"Kalau begitu, tuan sarapan dulu ya..!! biar kerjanya tambah semangat, jaga mood, dan bisa konsentrasi," rayu Jovi.
"Nggak, nggak mau, emangnya saya anak kecil kayak adik kamu, yang kamu rayu-rayu seperti itu," Ernest mulai membuka tumpukan map merah plastik didepan nya.
"Tapi tuan," tangan Jovi tetap memegang nasi box.
"Saya takut tuan kelaparan, tuan juga belum minum obat," imbuhnya.
"Sudahlah suster nggak papa, kamu diam saja, nanti saya cium kamu seperti tadi malam, kalau nggak diam," Ernest menggertak lucu.
"Ng-nggak mau tuan, jangan," jawab Jovi menutup kembali kotak makan.
"Makanya diem, atau kamu tak pulangkan saja ke rumah, biar dimarahin papa, nangis lagi nanti kamu," Ernest semakin mengerjai Jovi.
"Jangan tuan, saya disini saja dengan Tuan Ernest, saya bisa kok bantu Tuan Ernest memilah berkas, mengelompokkan sesuai tander proyek," Jovi menawari.
"Dari mana kamu tau semua? memang suster paham, kalau tander proyek di kelompokkan masing-masing? kamu bukan mata-mata kan?," tanya Ernest langsung mendekatkan wajah ke arah Jovi.
"A-a-a....," Jovi tergagap kebingungan.
"Aaaa... iya, kamu pinter ya..!! tadi menguping pembicaraan saya dengan Sonia hahaha," Ernest tertawa.
"Baiklah, setelah ini, saya ajari kamu ya? suster mau kan? semoga kamu segera bisa ya suster, setidaknya kamu sedikit membantu untuk saya," Ernest melihati Jovi.
"Baik tuan, saya akan bekerja semaksimal mungkin, meskipun itu bukan bidang saya," Jovi menundukkan wajah.
"Oke.., biarkan saya mengecek satu file penting saya dulu," pinta Ernest.
Jovi mengangguk.
Jovi masih tercengang oleh sikap Ernest yang mengatakan, dirinya adalah mata-mata meskipun itu hanya bercanda. Pikirannya dibuat teringat oleh Fictor lagi, yang ditemui'nya tadi malam.
Fictor tidak akan membiarkan Ernest bahagia, Fictor selalu akan mencari cara, atas tidak keberhasilan Ernest, dalam bidang apapun. Dendamnya masih membara, oleh kesalahpahaman di masa lampau.
__ADS_1