
Pak Tono, salah satu satpam di rumah Ernest, membuka pintu pagar untuk Jovi. Sikap sopan Jovi, memberi ucapan terimakasih, dengan sebagian tubuh membungkuk langsung terlihat siang itu.
Luasnya halaman di kerajaan wijaya tersebut, di lihat Jovi, satu persatu saat masuk. Dengan senyum, Jovi membayangkan, bulan depan, mungkin dia akan rindu saat-saat bekerja di sini.
Mulai dari Ernest, Pak Rahmat, Pak Yoyok, Bik Lusi, Bik Yuni, dan para pegawai lainnya, pasti akan sangat di rindukan Jovi. Rutinitas pagi membangunkan Ernest, menyiapkan bekal, semuanya pasti tidak akan bisa terulang.
Bahkan galaknya Tuan Toni, yang saat bekerja, sering membuat jantung Jovi gemetar. Pasti juga akan jadi kenangan lucu, di hati sekertaris cantik Fictor itu.
Jovi tidak sabar, ingin segera bertemu Ernest, menjelaskan semua yang terjadi, tentang siapa dirinya. Meski Jovi menebak dalam hati, bagaimana sikap Ernest, tetapi hari ini keputusannya sudah tidak bisa di ganggu gugat lagi.
Kira-kira, apakah Ernest mau memahami posisi Jovi? atau justru tambah benci dengan susternya itu, dimana selama ini, Jovi sudah merawat sabar Ernest, hingga sembuh.
"Tuan Ernest, apakah mau begitu saja memaafkan? bagaimana nanti kalau Tuan Ernest berubah jadi benci? Ya Tuhan, tolonglah hambamu ini."
"Ayoooo.. Jovi.. kalau tidak, kamu akan di hantui rasa bersalah seumur hidup kamu, ingat kata Ola Jov, jangan menunda, ayoo Jov, buktikan, kamu bukan penghianat Ernest, seperti yang di katakan Fictor," Jovi membatin dalam hati.
Laki-laki tampan, putra Tuan Toni itu, sudah berhasil mengusik semua ketenangan di hati Jovi. Apapun reaksi Ernest, yang terpenting Jovi sudah memberi tahu, semua keputusan yang sudah bulat di hatinya.
Langkah kaki Jovi nampak gugup, Jovi jalan cepat masuk ke dalam rumah. Jovi yakin, Ernest pasti sudah bangun tidur dan mencari dirinya, karena sampai se siang ini, Jovi belum datang.
Salah satu mobil mewah milik Ernest, tidak biasanya, terlihat memarkir tepat di depan pintu utama. Mobil akan tetap ada di garasi, ketika Ernest ataupun Tuan Toni tidak menggunakan.
Ada Pak Rahmat nampak memboyong koper-koper besar. Bik Yuni juga ikut ada disitu membantu Pak Rahmat. Suasana siang di rumah Tuan Toni, seperti akan menyiapkan kepergian seseorang.
Pak Yoyok juga tak kalah sibuk, beliau membersihkan kaca mobil, lanjut mengecek satu persatu, kondisi ke empat roda mobil alphard berwarna hitam, milik Ernest.
"Ada apa ini? kenapa mobil Tuan Ernest ada di depan pintu, apa jangan-jangan Tuan Ernest kenapa-napa?." Jantung Jovi seperti di boom meriam.
"Apa malah jangan-jangan Tuan Toni sudah datang, ya Tuhan gimana ini? bagaimana kalau Bik Yuni di tanya kemana suster Jovi, aduuuhh..,"
Tulang kaki Jovi mendadak kaku, dua kakinya sangat susah digerakkan. perempuan cantik tersebut trauma, takut kejadian buruk menimpa Ernest.
"Trriinggg.. tiingg... ttiiingg.."
tertulis TUAN ERNEST MEMANGGIL....
Jantung hati Jovi berpelesir hebat. Tubuh gemetar, jemarinya juga, Jovi takut, ada sesuatu yang buruk, menimpa terhadap Ernest.
"Halloo.."
"Ya ha-hallo Tuan Ernest."
"Suster, kenapa baru angkat telepon saya? saya telepon daritadi nggak di angkat, suster dari mana aja? suster cepetan pulang..!!."
"Ma-maaf tuan, tadi saya di jalan, ini saya sudah pulang tuan, saya baru sampai di halaman rumah, Tuan Ernest."
"Kalau begitu, Suster Jovi cepetan masuk, saya tunggu, jangan lama-lama ya..!! buruan.. lari.."
"Baik tuan."
Jovi menutup telepon, tubuhnya berlari masuk ke dalam rumah. Pak Rahmat dan Bik Yuni tetap terlihat sibuk, mengemas beberapa kresek dan tas kerja Ernest.
Meski tidak bertanya, mata Jovi mengecek satu persatu pekerjaan asisten rumah tangga Toni Wijaya itu. Selain tas, ada juga ada beberapa sepatu kerja, dimasukkan Bik Yuni ke dalam bagasi mobil.
Semua semakin membuat pening kepala Jovi. Baru 4 jam Jovi tidak di tempat, barang-barang Ernest sudah di kemas rapi. semua seperti sudah di jadwalkan sebelumnya.
Jika di dengar dari telepon Ernest barusan, suara Ernest juga terdengar stabil, tidak sedang sakit, ataupun dalam kondisi panik. Lalu jika agenda terencana, pasti Tuan Toni sudah menghubungi Jovi lebih dulu.
Jovi melihat Bik Yuni, keluar masuk rumah dengan buru-buru. satu persatu paket di kursi, di tata rapi semuanya. mengajak Jovi bertanya, sebetulnya ada apa dengan hari ini.
"Bik Yuni, itu barang-barang siapa? milik Tuan besar ya? Tuan Toni, sudah datang bik?," tanya Jovi takut.
"Eh Suster Jovi, kenapa baru datang? suster di cari tuan muda dari tadi, tuan udah nunggu lama lo sust, kan sudah saya bilang, suster jangan lama-lama tadi," wajah Bik Yuni panik.
"Iya Bik Yuni maaf, saya kesiangan baliknya, maaf ya bik, saya harusnya balik lebih pagi,"
"Iya suster nggak papa, ini bukan barang tuan besar suster, barang ini semua milik Tuan Ernest, kalau tuan besar masih di luar kota."
"Loh memangnya Tuan Ernest mau ke mana bik? kenapa bawa barang sebanyak itu?," Jovi belum puas dengan jawaban Bik Yuni.
"Tuan Ernest mau ke Jakarta Suster Jovi, katanya klient tuan yang dari luar negeri sudah datang, jadi tadi kami langsung di minta mempersiapkan semua ini suster."
"Terus berapa hari Bik, tuan di sana? Tuan Ernest ngapain Bik di Jakarta? berangkatnya langsung hari ini? atau kapan bik, besok?."
"Kalau berapa harinya saya tidak tau suster, katanya tadi, tuan bilang mau meeting, terus,"
Belum selesai pertanyaan Jovi di jawab. ponsel putihnya sudah kembali berdering. Jovi melihat, Ernest telpon lagi ke nomernya.
Nampaknya, Ernest memang sudah menunggu lama kedatangan Jovi. Layar ponsel itu, langsung mengajak Jovi berlari ke dalam kamar Ernest.
__ADS_1
Sampai di depan kamar pun, ponsel Jovi tak henti, tetap terus berbunyi. Di dalam kamar, Jovi melihat, Ernest sedang mempersiapkan diri, seperti akan pergi, tetapi dandanannya santai.
Tangan Ernest mengobrak abrik berkas, raut wajahnya tidak santai. Baru beberapa menit Jovi berdiri, Ernest sudah hampir 5x melihat jam tangannya.
Sedikit takut, karena lama meninggalkan rumah, Jovi mencoba mengetuk pintu terlebih dulu.
"Toook... toook.. toook..," Ernest melihat Jovi mengetuk pintu.
"Tuan Ernest,"
"Suster, suster darimana? dari tadi saya telepon berkali-kali, nomor Suster Jovi ada dipanggilan lain terus..!! suster kenapa nggak pamit saya?," wajah Ernest terlihat kecut.
"Maaf Tuan Ernest, tadi saya tidak pamit Tuan Ernest, karena tuan masih tidur, maaf tuan, tadi papa saya telpon, jadi saya tidak tahu, saya tidak akan mengulangi lagi,"
"Lain kali kalau Suster Jovi mau kemana-mana, suster bilang saya dulu, minimal tunggu saya bangun, biar saya nggak bingung, lihat itu berapa kali saya telepon kamu?," Jovi dimarahi.
Ponsel putih, di tangan Jovi, langsung jadi sasaran. Cek panggilan masuk dari Ernest, ternyata hampir lebih dari 30x, baik dari via whatsapp maupun telepon.
"Saya paling nggak suka, kalau ada orang yang menyepelekan izin dari saya, kapan sih, saya tidak meng'iya'kan kalau suster punya kepentingan ?? pasti saya setujui kan, selama Suster Jovi izin,"
"Maaf tuan, saya mengaku salah."
"Pergi dari jam 7 sampai jam 11, berapa jam itu? apa perlu saya kasih lembaran, biar suster bisa membedakan, mana jam kerja? mana jam istirahat?."
Jovi menunduk tak berkutik.
"Obat tidak disiapkan, sarapan dibiarkan, kerja apa itu?," gerutu Ernest menahan marah.
"Sa-saya minta maaf tuan, saya berjanji tidak akan mengulangi lagi," Jovi meremas tangan.
Amarah Ernest hari ini, sama persis ketika sedang marah pada pelamar di aula rumah sakit tempo lalu. Secara tidak langsung, Jovi memang terlihat menyepelekan izin dari Ernest, sehingga membuat Ernest marah.
Semua karena Fictor, iming-iming bayangan menjemput 2x gaji secara bersama, ternyata hanya isapan jempol belaka. ATM Jovi tetap kosong tak berisi.
Akhirnya suasana hening, tidak bisa di hindari. Jovi tetap mematung tak berdosa di depan pintu kamar, Sedangkan Ernest sendiri, ribet dengan laptop dan berkas map hitam.
"Saya mau ke Jakarta, hari ini saya akan berangkat jam 1 siang, tolong suster siapkan obat-obat yang masih perlu saya konsumsi, laporan check up dari rumah sakit juga tolong bawa." pinta Ernest.
"Baik tuan, kalau begitu saya akan segera menyiapkan obat Tuan Ernest,"
"Cepaattt..!! sudah tinggal satu jam lagi, makanya jangan keluyuran saja, lihat sekarang suster yang keteteran sendiri."
"Iya tuan, baik,"
Kapsul, pil, semua jenis P3K ditambahkan Jovi, pada kotak obat yang biasa ada di kamar Ernest. Terlihat tangan Jovi membubuhkan tanda aturan minum, pada setiap kemasan kapsul.
Gerak tangan Jovi sangat lihai, racikan obat bubuk di lipat satu persatu pada kertas medis. Jovi berfikir, jika Ernest pergi ke Jakarta, itu berarti penjelasan Jovi, masih harus menunggu beberapa hari lagi.
Sementara Jovi sendiri sudah ingin menjelaskan semuanya sekarang. Ucapan Fictor, mengatakan Jovi penghianat, selalu saja masih terngiang.
Jovi ingin segera mengaku pada Ernest, menurutnya lebih cepat, lebih baik. Namun nampaknya, kondisi siang di kamar, sangat tidak mendukung, niat baik Jovi.
Ernest sendiri terlihat sangat sibuk. berulang kali, Ernest memastikan, apakah barang yang Ernest bawa, sudah sesuai dengan yang di butuhkan atau tidak.
Mata Jovi mencuri pandang ke arah Ernest, laki-laki yang menciumnya tadi malam, tidak lepas pandangan dari laptop. Persiapan pergi meeting ke Jakarta, menyita perhatian Ernest ke Jovi.
"Tuan...."
"Hemm... ada apa?,"
"Saya mau bicara dengan Tuan Ernest, bisa?."
"Bicara saja, ada apa?" Ernest memasukkan berkas ke tas.
"Ini terkait saya tuan, saya mau menjelaskan sesuatu pada tuan, tapi kelihatannya, saya harus minta waktu Tuan Ernest, agak banyak," jawab Jovi samar.
"Ada 15 menit, suster mau bicara apa? Silahkan..!! saya dengarkan," Ernest mulai melirik Jovi serius.
"Aaa... begini tuan, ini tentang saya, saya mau bilang, sebetulnya dulu saya adalah alumni Stikes Wijaya, saya juga yang ikut perekrutan sebagai perawat di rumah sakit Wijaya tuan Ernest, tapi saya mengundurkan diri,"
"Tapi waktu itu, saya punya alasan sendiri tuan, kenapa saya mengundurkan diri dari perekrutan perawat,"
"Ya saya sudah tahu."
"Hah..?? sudah tau?," Jovi setengah mati terkejut.
"Pelamar yang mengundurkan diri saat itu kan buka cuma kamu saja suster, selain mengundurkan karena keinginan sendiri, mungkin pelamar juga terpengaruh oleh berita buruk manajemen rumah sakit yang ada di TV pada waktu itu,"
"Saya tau, ada juga yang mengundurkan diri karena di rekrut salah satu perusahaan, cuma memang saya belum menelusuri banyak," Ernest diingatkan kembali oleh Jovi.
__ADS_1
Putra tampan Toni Wijaya tersebut, nampaknya masih menaruh dendam, akibat kejadian beberapa tahun silam, semua tetap di dalangi oleh Anjan Fictor Perdana.
Meskipun RS. Wijaya saat ini sudah menduduki sebagai RS swasta terbaik di kota Surabaya, semua itu tetap tidak membuat Ernest melupakan, rusaknya perekrutan perawat 3 tahun silam.
"Dulu pemberitaan media, terlalu membesar besarkan, kemungkinan ada yang membayar orang dibelakang TV tersebut, saya tetap masih ingat kok, 4 stasiun televisi itu, terus memblok up berita pengunduran diri calon perawat rumah sakit," terang Ernest.
"Saya tidak menuduh siapa orangnya? tapi yang jelas, kantor tersebut, sudah merekrut beberapa calon perawat dari rumah sakit, sampai legalitas S1 mereka tidak ada yang dipermasalahkan, busuk memang..!! tapi suster Jovi tidak perlu mengetahui nama kantor itu?," tangan Ernest meremas mengingat semua kejadian yang memilukan bisnisnya.
"Biadab semua yang melakukan itu, tapi kembali lagi, semua orang memiliki hak untuk memilih, begitupun juga suster Jovi."
Tubuh Jovi panas dingin mendengar penjelasan Ernest. Nampaknya Ernest belum menyadari, jika Jovi adalah perawat yang tergabung dalam perekrutan di kantor Fictor.
Ernest melihat Jovi tercengang. Hari ini suster kesayangannya itu, sudah sukses mengulik luka lama di hati Ernest. Tentang rusaknya perekrutan perawat di RS Wijaya tempo dulu.
"Sudah suster Jovi? itu saja?,"
"Suster..,"
"Hey.. Suster Jovi," Ernest teriak.
"Aaaaa... iya tuan," Jovi tersadar.
"Sudah itu saja? kalau masih ada, besok-besok saja ya, saya masih mau mengecek barang-barang," Ernest beranjak dari kursi.
"Tapiii tuan...? masih ada yang harus saya jelaskan lagi tuan,"
"Sudah nggak papa, saya tau suster pasti merasa tidak enak dengan saya, lupakan saja..!! yang terpenting, sekarang Suster Jovi sudah melakukan kerja suster dengan baik,"
"Tuan, saya merasa tidak enak, tu-tuan Ernest dengarkan saya dulu, saya masih punya penjelasan lain lagi Tuan Ernest," Jovi gagap.
"Mungkin, secara tidak langsung sekarang suster sudah menyesali kan? Suster Jovi pernah bilang ke saya, jika selama ini, suster kan menganggur, coba seandainya suster tidak terpengaruh dengan pemberitaan tempo dulu, pasti suster sudah jadi perawat," Ernest mengangkat kedua alis.
"Besok-besok saja..!! suster Jovi, saya mau berkemas dulu."
Pengakuan Jovi ternyata ditanggapi Ernest dengan sangat santai. Sayang, kesibukan Ernest siang ini, memotong semua penjelasan, yang akan Jovi beritahu. Kali ini PR besar masih berada di tangan perempuan cantik tersebut.
Ernest mengangkat diri pergi.
"Suster Jovi, saya tunggu di luar ya..? jangan lama-lama ya..!! kita mengejar waktu soalnya, malam ini saya harus sampai ke Jakarta,"
"Baik tuan, nanti saya menyusul."
"Oke.." anggukan Ernest menyertai.
Ernest pergi, laptop apple sudah di masukkan ke dalam tas, dibawa tangan Ernest pergi. Di luar, Pak Rahmat menyambut Ernest, menjelaskan tentang travel.
Jika biasanya, CEO muda pujaan wanita itu, bawa mobil sendiri, menuju Jakarta. Keberangkatan Ernest siang ini, di antar Pak Rahmat menuju bandara naik pesawat.
Karena Ernest masih dalam pemulihan, kondisi patah tulang, serta bagian luka di tubuh. Dia belum di perbolehkan mengendarai mobil sendiri. Selain Ernest baru lepas gips, kekuatan tangannya belum bisa penuh seperti semula.
Di Jakarta, papa Ernest, Tuan Toni, sudah mempersiapkan mobil + sopir pribadi, yang di pesan dari travel kepercayaan papa Ernest.
Kedatangan lebih awal, klient Ernest dari swiss, yang di perkirakan masih datang tanggal 10. Ternyata, mengajukan keberangkatan ke Jakarta lebih awal, tanggal 27 bulan ini.
Semua memaksa Ernest, harus juga pergi ke Jakarta. Jovi sudah selesai menyiapkan obat, kakinya berlari menemui Ernest, sedang terdengar mengobrol bersama Pak Rahmat.
"Tuan ini obatnya," Jovi menghampiri Ernest.
"Terimakasih suster,"
"Sudah lengkap ya?," Ernest memastikan.
"Semua sudah lengkap tuan, resep obat sudah saya bawakan, saya juga membawakan obat P3K, semisal nanti Tuan Ernest merasakan nyeri, di kotak itu sudah ada juga amoxilin dan apioid,"
"Amoxilin, apioid buat apa itu?," Ernest tidak tau.
"Sebagai pereda nyeri tuan, di situ juga ada paracetamol tuan, itu juga bisa kegunaannya sama, untuk meredakan nyeri juga, ada juga salep yang buat mengolesi luka-luka Tuan Ernest, itu juga sudah saya bawakan, yang warna hijau ya tuan?," Jovi juga memastikan semua.
"Suster.....????," Ernest melihat Jovi.
"Ya tuan, kenapa?"
"Kenapa suster menjelaskan ke saya? suster tidak salah?,"
"Tidak tuan, itu semua sudah betul, petunjuk kegunaan obat, semua sudah saya jelaskan di setiap kemasan tuan, jadi nanti tuan tidak usah khawatir lagi,"
"Tuan Ernest hati-hati ya berangkat ke Jakartanya, saya selalu akan menunggu kedatangan tuan kembali ke Surabaya," lanjut Jovi melepas kepergian Ernest.
Pak Rahmat tersenyum mendengar ucapan Jovi, begitupun juga dengan Bik Yuni dan Pak Yoyok yang masih ada di tempat sama, depan pelataran rumah.
__ADS_1
Sedangkan Ernest, laki-laki tampan kaya raya tersebut, bingung berbuat sikap. Yang jelas, Jovi seperti tidak rela, jika harus dipisahkan lama dengan Ernest.
Jovi berharap, Ernest akan kembali ke Surabaya, di akhir masa kerja Jovi, tinggal 3 hari lagi. Sehingga perempuan cantik tersebut, tidak menanggung beban hutang penjelasan pada Ernest juga.