
"Kakak Opi, Om Ernest kenapa? Om sakit? kalau sakit di suapin, di suruh minum obat, kakak Opi lupa ya, kata mama kalau sakit kan harus banyak makan dan minum obat."
"Iya, iya, kakak inget kok. kamu kan yang paling susah makan kalau lagi sakit." Jovi sewot.
"Bukan cuma adiknya, kamu kan juga susah kalau di suruh makan Suster Jovi." Ernest senyum mengusap kepala Jovi.
Jovi malu. Aqila melihat Ernest. Teh hangat sedikit meringankan rasa pening di kepala.
"Om Ernest kenapa cuma minum? om harus makan, kakak Opi suapin kak."
"Makan sendiri, udah besar, udah TK, katanya kalau di sekolah sudah makan sendiri, kakak Opi nggak mau nyuapin."
Kadang Aqila bisa membuat Jovi sangat jengkel.
"Kakakkkkk..........."
"Aqila husst.. jangan teriak-teriak, di lihatin banyak orang."
"Bukan Qila yang di suapin, itu si Om kak, suapin kakak Opi biar mau makan, kan yang sakit Om Ernest."
"Nggak, Om sudah besar sudah bisa makan sendiri kok, nanti itu nasi juga habis sama piring-piringnya."
"Aaaa... iya Aqila..!! udah Aqila aja yang makan sambil ditungguin om sama kakak Opi, udah makan aja." Ernest menatakan minum Aqila lebih dekat.
"Kakakkkkkkkkkkk..... suapin om'nya."
Teriakan Aqila, langsung menarik perhatian seluruh pengunjung cafe. Kata-kata "om" seperti memperlihatkan Jovi sedang berkencan dengan pria hidung belang.
"Kakak Opi, om sakit.. suaaaapiiin kak."
"Aqila... kecilin suara kamu, eh lihat, kamu di lihatin banyak orang nggak malu apa? jangan lagi di panggil om kalau gitu, panggil Kak Ernest aja"
"Kak Ernest?? nggak mau, kakak Aqila cuma kak Opi."
"Kalau gitu kamu jangan teriak-teriak, nanti kakak tinggal kamu sama Om Ernest, ayooo om, pergi." Jovi menggadeng tangan Ernest.
Jovi tega memicingkan mata. Raut wajah seketika langsung berubah tanpa senyum. Aqila justru tak kalah ikut menantang.
Ernest menepuk jidat. Dua saudara kandung tersebut ternyata lebih dari perkiraan Ernest. Ternyata Jovi sering bertengkar dengan Aqila gara-gara masalah sepele.
"Nggak mauuu....!! pokoknya suapiiiiinnnnnn ommmmmmm."
Ucapan Aqila diimbuhi rengek manja. Sikap kekanak kanak'an adik Jovi menjadi senjata paling tidak bisa Jovi tolak. Jovi mendudukkan diri lagi.
"Hiiih.. Aqila ih.., ya sudah, Om di suapin tapi kamu jangan teriak-teriak, kayak orang kampung tau nggak."
Ernest tertawa. Menutupi mulut dengan tangannya. Ernest tak sungkan lagi menggeleng kepala. Aqila sudah kembali bersikap tenang, Jovi merasa ia benar-benar hanya di kerjai.
Mengalah demi Aqila, Jovi mengambil sendok makan dan piring yang ada di depan Ernest ke arahnya. Suara rengekan Aqila benar-benar hilang dari peradaban, Jovi tidak terima semua itu.
"Awaaassss.. kamu, ditinggal kakak pergi ke Jakarta lagi." ancamnya.
"Nggak mau, jangan kak."
"Diboongin sama kakak Opi, jangan percaya." Ernest tersenyum.
"Bener ya Om, kakak Opi cuman boong kan. Kakak Opi dosa loh..!!! nanti Aqila bilangin ke mamah kalau suka boong."
"Ya tinggal kamu percaya kakak atau Om Ernest." Jovi menjulurkan lidah.
"Hahahaha.." Ernest tertawa. Aqila sekarang kebingungan.
Belum ada sehari kumpul bersama dengan dua kakak beradik tersebut. Ernest sempat tidak habis fikir, Jovi benar-benar menjadi dirinya sendiri saat bersama Aqila.
Ernest dapat melihat, semangat hidup saat Aqila sedang dengan Jovi. Sikap suster cantiknya tersebut sangat berbeda ketika sedang benar-benar menghadapi masalah rumit dengan Fictor.
"Suster.. ngomong-ngomong kenapa tadi Aqila tau kalau suster dari Jakarta, apa suster memang sengaja cerita ke Aqila? berarti dia tau saya?."
"Tidak."
"Ouh ya, ya, maaf.. maaf."
Jovi sangat berat hati. Menjawab pertanyaan seputar Jakarta. Ernest tidak jadi menanyakan lanjut.
Jovi mengambil nasi seukuran sendok, ayam fillet teriyaki di tambahkan. Sembari mengangkat sendok, tangan kiri Jovi di tadahkan agar tidak mengotori baju Ernest.
Sejak jerit suara Aqila memprotes, sekarang banyak mata para pengunjung memandang ke arah mereka bertiga. Para perempuan tidak sengaja baru menemukan wajah Ernest, berdecak kagum. Ia sangat tampan.
Wajah Jovi dan Ernest menjadi sorotan. Saat Jovi melihat, pengunjung cafe melihat ke arahnya, pandangan ia berlari. Ernest lebih sering menunduk karena pening.
"Tuan Ernest, maaf saya suapi tuan, tuan makan dulu ya..!! saya bawa obat, tuan minum juga habis ini."
Ernest membuka mulut, menerima suapan. Aqila memandu sorak sorai agar Ernest menghabiskan nasinya.
"Jangan banyak-banyak suster, lidah saya rasanya hambar."
__ADS_1
"Itu berarti tandanya memang Tuan Ernest sedang kurang enak badan, tuan kenapa tidak langsung pulang saja, Pak Yoyok sudah tuan hubungi?."
"Setelah ini saja. Suster tadi malam sampai dari Surabaya jam berapa?."
"Malam."
"Terus pulangnya dari Sidoarjo ke Surabaya naik apa? taksi? berani suster malam-malam naik taksi."
"Di antar teman."
"Siapa?." Ernest seperti tidak terima jawaban singkat dari Jovi.
Ernest lalu menghadap ke arah Jovi. Ia baru sadar, melihat nasi yang di pesan kakak Aqila tersebut belum terjamah sama sekali. Permintaan Aqila sungguh membuat susah bin rempong Jovi.
"Suster, itu kenapa tidak di makan?." Ernest menunjuk nasi.
"Nanti saja tuan, setelah tuan selesai makan saja.. hakkk...,"
"Nggak, nggak, jangan pakai sausnya."
Sendok yang di daratkan Jovi di turunkan ulang. Jovi seperti sedang mengasuh dua anak kecil siang ini. Ia lupa, Ernest selalu rewel soal makan.
"Nasinya kurangi dikit ya suster, maaf mulut saya rasanya pahit suster." Ernest terpaksa menelan nasi.
"Iya Tuan Ernest."
Jovi mengambil tisu, membersihkan baju Ernest terkena noda saus.
"Tuan maaf, ada nasi." Jovi mengambil nasi di pintu bibir Ernest.
"Mmmbb..," Ernest mengunci bibir.
Tangan Jovi menyapu lembut bibir Ernest. Sebelum selesai, Ia mengambil bungkusan obat dari dalam tas.
"Haii Jovi.. kamu di sini?." suara laki-laki berdiri di samping Jovi.
Ernest dan Aqila kompak menoleh. Jovi memutar kepala melihat laki-laki yang berdiri di sampingnya. Tangan yang masih menggelayut di baju Ernest belum sempat di lepaskan Jovi.
Perempuan cantik tersebut melihat sosok laki-laki yang sangat tidak asing baginya. Karena malam hari baru saja di temui. Ernest melihat atas bawah, laki-laki itu tersenyum ke arah Jovi.
Suara teriakan Aqila mengajak langkah kaki pria berkemeja warna biru itu berjalan ke arah meja Jovi. Dua kali mantan sekertaris Fictor tersebut di kagetkan dengan hal serupa.
"Dokter Nalen." Jovi melepaskan tangan dari baju Ernest.
"Kamu makan siang di sini? kenapa nggak bilang, saya dari tadi makan siang dengan teman-teman di sana." Dokter Nalen mengusap lembut kepala Jovi.
Ernest membuang muka. Ia tidak suka dengan kedatangan laki-laki yang di panggil Jovi dokter. Tangan Jovi langsung membuang pelan tangan Dokter Nalen. Jovi gelagapan.
Dokter Nalen nampak menggunakan jass putih serta name tag bertulis "Dr. Nalendra Irsyadil A. Sp. B.". Dari situ Ernest membaca bahwa Nalen adalah seorang Dokter spesialis bedah.
Tidak lama, Dokter Nalen mengarahkan pandangan langsung ke Ernest. Untuk Aqila, Dokter Nalen pernah berjumpa, tapi Ernest baru pertama kali menjumpai.
Jovi melihatnya, mata kedua Ernest maupun Dokter Nalen saling memandang. Mereka tidak ada yang mau memulai bertegur sapa.
"Dokter, kenalkan ini Tuan Ernest..!! putranya Tuan Toni yang sempat saya ceritakan ke Dokter waktu itu."
"Ouuhh... pantas saya merasa tidak asing, ternyata ini Tuan Ernest, kenalkan saya Nalen."
"Saya Ernest Wijaya, panggil Ernest saja."
Dokter Nalen dan Ernest saling menjabat tangan.
"Boleh kan saya duduk." tidak ada yang mempersilahkan Dokter Nalen duduk disamping Aqila.
Jovi dan Ernest mengangguk kompak.
Sebetulnya ada sakit hati di antara hati Dokter Nalen, begitupun juga Ernest. Sempat melontarkan ajakan menikah, siang ini Nalen melihat sendiri Ernest selesai di suapi oleh Jovi.
Ernest mengira selama ini Jovi tidak memilik kekasih, nyatanya ada laki-laki lain yang pernah menjadi tempat curhat Jovi sehingga tau siapa Ernest.
Karena suasana meja hening, Jovi bingung mencari tema, sedang Ernest juga terlihat malas menyikapi, sontak hanya tangan kecil Aqila dan piring yang membuat suara.
"Jovi, tadi malam kamu tidur jam berapa? sudah enakan badannya? kamu masih harus banyak istirahat ya."
Nalen berseru di samping Jovi.
"Rambut kamu berantakan sekali, kenapa tidak di kuncit saja?." Nalen mengarahkan rambut yang sengaja menurun ke wajah.
"Tidak Dok, ini cuma berantakan biasa."
Ernest merasa mual. Bola matanya kompak berlari ke atas semua. Mendengar dan melihat Dokter Nalen begitu perhatian.
Padahal saat itu rambut Jovi tidak berantakan sama sekali.
"Basiii... kampungan cara lu Dok." mata Ernest lebih suka memandang Aqila.
__ADS_1
"Memang suster sakit?." Ernest melihat Jovi.
"Iya, tadi malam se pulang dari Jakarta badannya panas, bibirnya pucat, untung saja masih ada obat di tas saya, jadi sebelum saya antar pulang Jovi ke rumah, dia sudah minum obat dulu."
"Anjayyy.. gue tanya ke Jovi, bukan ke elo..," pandangan mata Ernest nampak sinis.
"Oo.. jadi begitu, untung saja ada anda Dokter Nalen, kalau tidak ada anda mungkin saya akan merasa lebih berdosa lima kali lipat dengan Suster Jovi karena membiarkan pulang sendiri ke Surabaya."
"Hehehe.. bisa saja anda Ernest, panggil saya Nalen saja, biar kita sama-sama enak." Dokter Nalen menganggap semua itu hanya bercanda.
Rasanya Jovi ingin segera pulang. Kehadiran Dokter Nalen semakin membuat ia tidak enak pada Ernest. Jovi enggan, Ernest mengetahui masa lalunya.
Rasa sakit tadinya menjalar pada tubuh Ernest seperti hilang berhamburan. Hati laki-laki tampan tersebut lebih terbakar cemburu atas kehadiran Nalen.
"Ngomong-ngomong saya dulu pernah berpapasan dengan anda Ernest saat ada acara di rumah sakit milik anda, tapi saat itu saya hanya berpapasan, kita tidak sampai kenalan."
"Di acara apa? saya jarang mendatangi acara rumah sakit kalau memang tidak benar-benar perlu, karena biasanya saya lebih sering ada di kantor."
"Kalau tidak salah saat acara Seminar sekaligus acara promosi kesehatan."
"Ouh itu, iya saya datang saat itu dengan papa. saya bingung di acara itu Dokternya banyak dan memakai jass warna putih semua, andai merah, kuning, hijau pasti saya bisa tau anda."
"Hahahaha...," Jovi tertawa.
"Nggak, nggak, maaf ya Dokter Nalen saya hanya bercanda, jangan laporkan saya karena pencatutan nama baik profesi hehe, anda dinas di mana Dokter Nalen?."
"Tidak lah, saya tidak berani menuntut anda, kebetulan saya Dinas di Rumah Sakit Intan Medika, dulu pernah menjadi Dosen tamu kampus Stikes Wijaya, itu dulu awal saya bertemu dengan Jovi hehe."
"Ouh begitu toh..." Ernest mencacah makanan.
"Saya dulu sampai sekarang suka sekali dengan berprofesi Dokter, sampai akhirnya saya punya cita-cita sebagai perawat di RS Wijaya karena biar bisa deket terus sama Pak Dokter hehe." mimpi Jovi di ceritakan.
"Jadiii selamaa ini, itu ya alasan kamu Jov, hahaha lucu-lucu, tapi kenapa RS Wijaya? kenapa bukan RS Intan Medika?." goda Dokter Nalen.
"Ya suka-suka suster Jovi lah, orang dia punya hak, negara ini kan adalah negara hukum yang memiliki keadilan dan HAM, lagian profesi pengusaha juga nggak kalah keren kok, jassnya juga ganti-ganti, nggak putih mulu." gerutu Ernest semakin lama, semakin tidak bisa di dengar.
"Apa tuan? Tuan Ernest bicara apa?." Jovi tidak dengar secara jelas.
"Nggak, nggak papa."
"Bercanda kok, tentu pamor kualitas RS Intan Medika masih kalah kalau di bandingkan dengan RS. Wijaya, rumah sakit swasta yang paling bagus hehe, wajar jika Jovi memilih jadi perawat di RS Wijaya" Dokter Nalen berniat menyanjung.
"Tidak Dok, semua rumah sakit pasti memiliki visi misi yang sama yaitu meningkatkan kualitas dalam pelayanan dan penyembuhan para pasien, untuk masalah rate tergantung kepada para pengunjung dan pasien." Ernest menambah senyum di akhir ucapan.
"Hehehe... iya."
Dokter Nalen terlihat kurang nyaman. Dua laki-laki tampan tersebut sebetulnya sama-sama menipu diri agar tetap terlihat baik di depan Jovi. Meski Ernest tampak lebih emosi dari Dokter Nalen.
Niat bercanda, di antara mereka justru saling adu sakit hati. Jovi tidak merasa aneh, sebab obrolan terakhir Ernest pelafalannya tidak jelas.
Suasana cafe nampak ramai lagi. Hari mulai menunjukkan pukul 13.00. Dimana Jovi harus segera pulang mengantar Aqila istirahat. Gelisah kepala juga mulai di lihat Ernest dan Nalen.
Tidak sengaja, Dokter Nalen menemukan bungkusan obat yang sama di atas meja. Obat sama persis dengan yang di berikan Dokter Nalen tadi malam.
"Ini obat tadi malam kan? kamu masih minum ini Jov? kalau masih kenapa harus jalan-jalan jam segini? panas-panas di rumah aja harusnya."
"Itu untuk Tuan Ernest Dok, Tuan Ernest sedang sakit. saya kasih itu karena memang masih ada di tas, saya sudah baikan Dokter."
"Kamu jangan kecapek'an ya.. lulus kuliah udah lama kok masih kayak dulu aja sih Jov, ya Qila ya?." kata Nalen.
"Aqila nggak tau Om."
"Sukuuuurrin.. di cuekin lu sama Aqila," batinnya.
"Jovi ini selalu teledor masalah makan, dari dulu pasti sering mengabaikan kesehatan, kondisi tubuh, dan pelupa, ya kan Jov?."
"Nggak, nggak..!! nggak begitu, begitu juga amat." Jovi tertawa.
Pandangan Ernest merujuk ke arah Nalen. Setiap apa yang di ucapkan oleh Dokter tersebut, sakit hati Ernest meletup letup. Jovi tidak menyadari, dua laki-laki di depannya saling tidak santai.
Aqila menjauhkan diri saat Dokter Nalen mencoba menggodai adik Jovi. Tangan Nalen sering usil mengambil bandana biru di kepala. Bibir kecil anak tersebut berlari ke kanan kiri menolak tidak suka.
"Aqilaaa.. guuummuuussshh." Dokter Nalen menarik pipi kanan kiri Aqila.
"Om Nalen, jangan gitu." tangan Aqila menepis.
"Lucu tauk." kata Nalen.
"Kakak Opi, om'nya nakal."
"Iya nggak papa, Om Nalen cuma bercanda kok."
"Huuuuhhhhh... " Aqila membersihkan pipi dari tangan Dokter tampan tersebut.
Ernest tertawa dalam hati. Sikap Aqila tidak seramah saat dengan Ernest. Ia sangat senang, Ernest merasa selangkah lebih maju. Dari situ rasa ingin pulang Ernest terjeda.
__ADS_1
"Tuan setelah ini saya mau pulang, Tuan Ernest minum obatnya dulu ya? saya dan Aqila mau pulang."
"Pulang naik apa?." tanya Ernest dan Dokter Nalen kompak. Jovi bengong, sebab tawaran di perebutkan mereka berdua.