Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
22. Dipaksa Fictor Lembur Ke Kantor


__ADS_3

Lambaian tangan Dokter Edo, dari arah daun pintu, sudah terlihat lama menghilang. Setelah Jovi membelokkan kursi roda Ernest, menuju tempat menebus obat.


Nampak terlihat suasana di rumah sakit pagi ini, sudah lebih ramai. Jika dibandingkan dengan, saat Jovi dan Ernest baru datang pagi tadi ke rumah sakit.


Suara isak tangis bayi, menggelepar saat Jovi melewati ruang Mawar, dimana memang ruang tersebut dikhususkan bagi para balita.


Selain itu, beberapa pengunjung sudah mulai berdatangan, berganti shift dengan keluarga mereka masing-masing. Menunggu keluarga tercinta, yang masih terbaring di rumah sakit.


Tak ketinggalan, jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 08.30 wib, menjadi pemandu pergantian shift para tenaga medis di rumah sakit wijaya.


Dipagi yang baru saja, menghadang sinar mataharinya ke bumi. Jovi sudah tersentak melihat antrean panjang, yang terjadi pada tempat penebusan obat.


Jovi khawatir, Ernest tidak akan mau jika di ajak menunggu lama antrian. Ditambah lagi, pagi ini dirinya juga belum memberikan sarapan pada Ernest, yang baru saja selesai check up.


"Tuan, antrean hari ini sangat panjang, bagaimana kalau saya antar Tuan Ernest ke mobil dulu..? biar saya disini mengantrikan obat," kata Jovi menawari.


"Nggak.. nggak mau..," Ernest menggelengkan kepala.


"Saya takut, Tuan Ernest jenuh saat mengantri lama," tutur Jovi sambil berjalan menghadap Ernest.


"Serahkan saja resep obatnya, setelah itu nanti kita kembali lagi.. mereka akan tau sendiri kok, ketika sudah membaca nama saya..!!," jawab Ernest memandang balik Jovi.


"Baik tuan kalau begitu," kata Jovi menyetujui.


"Sedikit cepat ya..!! setelah itu, ayoo kita sarapan ditaman dekat rumah sakit saja," ajakan Ernest terdengar.


"Iya tuan, saya permisi dulu," jawab Jovi lalu berjalan meninggalkan Ernest.


"Hmmm....," gumam Ernest dibuat kesal.


Jovi mungkin lupa menyadari, bila Ernest adalah anak dari pemilik RS Wijaya, dan bukanlah orang sembarangan di rumah sakit. Jadi tidak mungkin, bila perempuan cantik itu dan Ernest akan mendapatkan perlakuan yang sama.


Apalagi hanya untuk mendapatkan obat sesuai dengan resep dokter. Semua tidak akan mengajak Ernest dan suster cantiknya tersebut. Untuk berlama-lama di rumah sakit.


Tidak lama langkah jalan kaki Jovi, sampai di depan kaca pembatas, tempat penebusan resep obat. Ernest yang berada dibelakang Jovi, melihat ke arah suster yang sangat memperhatikan kesehatannya tersebut.


Dirinya baru menyadari, ternyata Jovi memang betul-betul cantik seperti yang dikatakan oleh Dokter Edo. Hidungnya mancung, senyumnya manis, ditambah bulu mata yang lentik, sangat membuat Jovi terlihat anggun.


Semua lebih mudah dari yang dibayangkan Jovi, Sembari menunggu sedikit antrean untuk menumpuk resep. Dia merasakan ponsel didalam saku celana Jovi, bergetar sangat sering.


Perempuan berkulit putih itu, menduga dengan kesal, jika pesan whatsapp dan memo'lah yang menjadi penyebab utama, ponsel Jovi berdering terus-menerus.


"Jovi... loe disuruh Boss Fictor, lembur ke kantor sore ini.. karena Alice nggak masuk, dan gue nggak seberapa paham sama draft dan dokumen-dokumen yang diminta Fictor.. plisss Jov datang ya.." (isi pesan whatsapp dari Ola)


Ternyata hal yang paling dikhawatirkan Jovi selama ini, sekarang benar-benar terjadi. Pikiran Jovi kembali dibuat resah, oleh pesan whatsapp yang sudah dikirim Ola.


Harus dengan cara apa lagi, Jovi membuat alasan, agar bisa keluar dari rumah Tuan Toni. Untuk membantu Ola lembur di kantor, dan menuruti perintah Fictor.


"Gue harus pakai cara apa Ol, sumpah.. gue beneran bingung Ola" (jawab Jovi dipesan whatsapp)


"Bilang aja, adik loe sakit, apa bokap loe sakit.. dan loe harus pulang sebentar. tau ah.. gue udah bingung mikir kerjaan di kantor Jov" (balas Ola yang sedang online)


Jawaban Ola semakin tidak membuahkan hasil bagus, sedangkan Jovi juga kurang menyetujui alasan yang disarankan Ola, jika harus menyangkut pautkan kondisi orang tuanya. Untuk membuat izin pada Ernest maupun Tuan Toni nantinya.


Jemari tangan Jovi, lalu menaruh resep obat diatas tumpukan resep obat pasien lain. Tubuhnya kembali berjalan ke Ernest dengan pikiran linglung.


"Tuan, saya sudah selesai menumpuk resep obat," Jovi melapor pada Ernest.


"Oke baiklah, ayo sekarang kita pergi dulu," jawab Ernest.


"Iya tuan," ia menganggukan kepala.


"Saya jenuh.. melihat suasana rumah sakit suster..," gerutu Ernest, tak mendapatkan jawaban dari Jovi.

__ADS_1


"Triiitt.. Tiitt.. Tittt.." (Bunyi pesan wa dari ponsel Jovi)


Lagi dan lagi, ponsel didalam saku celan Jovi berbunyi lagi, padahal Jovi belum sempat lagi membuka aplikasi whatsapp untuk membalas pesan Ola.


Dengan mendorong kursi roda Ernest keluar ruangan, ibu jari tangan Jovi menekan tombol read. Membaca chatting whatsapp dari Fictor, yang kembali meracuni ponsel putih tersebut.


"Jovi.. loe nanti sore harus lembur ke kantor. gara-gara loe.. kantor jadi kalang kabut.. Alice nggak masuk, Si Ola sarap itu juga nggak tau dokumen yang gue minta" (chatting dari Fictor)


"Jam 4 loe sudah harus kesini.. bantuin nge-handle kerjaan.. dasar sekertaris pe'ak... makan gaji buta loe.. dapat gaji tapi nggak ngurusin kantor sama sekali" (imbuhan chatting Fictor)


Membaca chatting yang dikirim Fictor, yang sesuka hati mengatai Jovi. perempuan cantik itu hanya menghela nafas panjang sembari mendorong kursi roda Ernest.


Rasanya semua yang dilakukan Jovi dihadapan Fictor, selalu saja salah dan tidak bermanfaat. Bertahun-tahun ikut menorehkan penghargaan di kantor Fictor, pencapaian suster cantik Ernest, selalu tidak dianggap.


Sesampainya keluar dari gedung besar rumah sakit, Jovi dan Ernest melihat Pak Rahmat, yang sudah keluar mobil dengan tubuh berdiri. Saat kursi roda Ernest berjalan ke arah mobil Pajero Sport miliknya.


Jovi begitu senang hati menerima bantuan Pak Rahmat, yang memasukkan kursi roda serta bekal ke bagasi mobil. Mengajak pergi sesuai perintah dari tuan'nya.


"Kalau loe nggak datang, hutang papa loe bakalan gue naikin bunganya jadi 7%.. biar loe tau rasa dan ngerti balas budi" (chatt baru Fictor disela Jovi masuk mobil)


"Saya usahakan ya Pak Fictor" (ketik Jovi secara cepat)


Ernest terlihat sudah lebih bersemangat dan bahagia. Berkali-kali pandangan Jovi melihat laki-laki berhidung mancung itu, membolak-balikkan lengan kanannya seperti tak percaya. Bila hari ini Ernest sudah tidak menggunakan gips lagi.


(Pak Rahmat, Ernest dan Jovi masuk kedalam mobil)


"Wah.. selamat ya tuan, hari ini tangan Tuan Ernest sudah sehat lagi," ucap Pak Rahmat berbahagia.


"Iya Pak Rahmat, terimakasih ya," Ernest tersenyum ramah.


"Pasti Tuan Toni akan sangat senang.. melihat perkembangan baik tuan," kata Pak Rahmat disela-sela konsentrasinya melajukan mobil.


"Iya kelihatannya pak," setuju Ernest mengikuti.


Meski beberapa alasan sudah melintas dipikiran, tapi Jovi merasa alasan itu belum tepat. Dia kembali lagi, mencari alasan yang cocok.


Pacuan gas yang dibawa Pak Rahmat, didalam salah satu mobil mewah Ernest. Kereta beroda empat itulah, yang mengantar Ernest dan Jovi ke taman.


Didalam mobil, kepala Jovi tengak-tengok lebih sering ke arah pria disebelahnya. Seperti ingin menanyakan sesuatu, tapi tidak jadi. Hal itu langsung memancing perhatian Ernest, karena sikap Jovi tidak seperti biasa.


Ternyata perempuan cantik tersebut, berencana akan lebih memilih meminta izin ke Ernest saja. Ketimbang pada Tuan Toni, papa Ernest. Jovi merasa, Ernest lebih toleran pada dirinya, yang sering melakukan kesalahan.


"Ada apa suster?," tanya Ernest membuat Jovi sedikit terkejut.


"A-a enggak tuan, nggak papa," kata Jovi yang dari tadi, sikapnya diperhatikan Ernest.


"Kalau suster butuh sesuatu, atau butuh bantuan bilang saja Suster Jovi," Ernest menawari ramah.


"I-itu tuan, saya mau minta ijin kalau nanti sore mau keluar sebentar," Jovi memberanikan diri izin.


"Hmmm... memang mau keluar kemana?," tanyanya sambil mengernyitkan dahi.


"Itu tuan, saya mau mengambil barang olshop pesanan diteman saya..!! kasihan tuan, teman saya tidak ada kendaraan untuk mengantar," bibir Jovi beralasan.


"Ouh.. yang kapan hari telepon kamu?? yang kamu bilang tanya alamat olshop itu ya..? malah kamu sungkan angkat telepon dia, karena ada saya kan?."


"I-iyaa tuan betul," Jovi menganggukan kepala dan pura-pura memasang wajah malu.


"Baiklah, oke nggak papa.. silahkan saja," Ernest sudah mengizinkan.


"Wahh.. betulkah tuan?? terimakasih tuan," Jovi tersenyum lepas.


Jovi tidak menyangka, semudah itu Ernest memberikan izin pada dirinya. Jovi juga tidak mengira, Ernest masih mengingat kejadian saat rebutan ponsel, dengan wanita cantik tersebut di dalam mobil.

__ADS_1


Dimana waktu itu, Jovi yang menyamar sebagai suster, membuat alasan. Jika yang menelfon adalah, teman Jovi sedang menanyakan alamat olshop. Padahal yang menelpon dirinya adalah Fictor.


Ernest yang tidak sengaja mengaitkan telpon teman Jovi, dengan izin Jovi nanti sore. Semakin membuat alasan suster cantiknya itu, begitu masuk akal.


Sehingga tidak menyebabkan kecurigaan sama sekali pada diri Ernest. Tau begitu, Jovi akan lebih sering ijin pada Ernest daripada Tuan Toni. Pasti akan sangat sulit, meminta izin pada orang tua Ernest.


Didalam mobil yang sudah 10 menit lebih mengantar Jovi dan Ernest, menikmati panorama suasana pagi kota Surabaya yang begitu terasa.


Dari jalan terlihat para pekerja kantor, yang mengkomando roda dua maupun roda empat mereka, mencari jalan saling berlomba memenuhi jalan utama di kota Surabaya pagi ini.


"Trringgg.. Trriing.. Tingg.. Tingg.." (suara ponsel Ernest)


Tangan kanan Ernest yang baru lepas gips, sudah terlihat sigap mengambil ponsel di saku kemejanya. Bola mata CEO tampan itu, melihat Frans teman lama kuliah Ernest melakukan panggilan.


"Frans memanggil" (Tulis pada layar ponsel)


"Hallo.. selamat siang."


"Hallo siang, bapak bintang kampus yang sekarang jadi CEO muda haha," ucap laki-laki didalam telepon tersebut.


Ernest tersipu malu dan tertawa


"Ada-ada aja loe, ada apa Frans?," tanya Ernest yang terdengar ditelinga Jovi.


Mata indah Jovi yang melihat Ernest sibuk mengobrol, dengan temannya diponsel. Membuat hati kakak Aqila itu, tergerak untuk membuka ponselnya dan melihat chatt yang belum sempat dibaca dari Fictor atasan Jovi.


"Usahakan loe bilang..?? pokok gue nggak mau tau, loe harus datang.. gue atasan loe.. dan loe cuma buruh gue.." (chatt Fictor yang belum sempat terbaca)


"Baik Pak Fictor.. nanti saya ke kantor jam 4 setelah membereskan tugas saya" (balas chatting Jovi)


Lalu kemudian, Jovi kembali lagi memasukkan ponselnya. Indra pendengaran Jovi, sudah tak mendengar lagi alunan musik yang tadinya diputar oleh Pak Rahmat.


Kelihatannya Pak Rahmat sengaja mematikan musik, karena ada Ernest yang sedang menjawab telepon. Sehingga sedikit membuat tidak sopan, jika ada alunan musik di mobil.


Tubuh Jovi yang bersandar diatas kursi mobil. Terpaksa mengajak telinga Jovi mendengarkan samar, tentang apa yang sudah dibicarakan Ernest bersama dengan Frans teman kuliahnya dulu.


"Eh Nest, gue sekarang di Surabaya nih.. nganter klien gue survey produk yang mau kita eksport ke Belanda," kata Frans dari ponsel.


"Wahhh.. keren dong.. gimana gimana ?? bisnis loe makin pesat nih kelihatannya," Ernest tersenyum.


"Hahaha masih belum ada apanya nest, sama perusahaan loe yang ada di Surabaya.. anjirrr.. ilmu marketing perusahaan loe menguasai banget brow," suara laki-laki yang memuji Ernest lewat ponsel.


"Hahaha.....," tawa Ernest terdengar.


"Ernest ayooo dong kita reuni.. lama nih gue nggak ketemu loe, sama anak-anak kampus.. mumpung gue ada waktu dan pas lagi di Surabaya."


"Men ini mendadak banget lo.. Emang loe udah ngehubungi anak-anak?," Ernest berbalik tanya.


"Ya udah lah men.. kebetulan jadwal anak-anak pas lagi kosong semua.. gimana loe hari ini kosong nggak?."


"Iya.. kebetulan gue juga kosong.. ini gue baru pulang kontrol dari rumah sakit."


"Kereeenn.. oke gass kan ya nanti brow.. loe dateng ke Platinum Spanish jam 4 atau 5 terserah loe deh," persetujuan Frans laki-laki bernada slengek'an.


"Oke oke.. siap.. tunggu gue sama anak-anak ya brow."


"Yoi.." jawaban terakhir yang didengar Jovi dari teman lama Ernest.


Tidak lama setelah telepon dari Frans berakhir. Ernest mengembalikan ponsel apple miliknya kedalam saku. Jovi hanya memandang lurus keluar jendela.


Sedangkan Ernest tak menyangka, hari ini dirinya mendapatkan telepon dari Frans. Untuk melakukan pertemuan dengan teman-teman kampusnya dulu.


Jovi yang mendengar percakapan CEO muda itu tidak bergumam apapun. Dengan mata yang berjalan menatap keluar kearah jendela mobil. Ernest dan Jovi sama-sama tidak sabar dengan jadwal mereka punya masing-masing.

__ADS_1


Keduanya tersenyum dengan bahagia mereka sendiri-sendiri. Sangat bersumringah untuk Jovi bertemu Ola, dan Ernest bertemu teman-temannya


__ADS_2