Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
104. Sarapan Pagi


__ADS_3

RUMAH SAKIT INTAN MEDIKA.


Tidur Jovi tadi malam sungguh tidak menemui kata nyenyak. Pukul 05.00 pagi, Jovi baru bisa mulai memejamkan mata. Hatinya linglung, pikiran sedang bingung.


Mama Jovi serta suami berganti saling menjaga Aqila. Papa Jovi lalu keluar membeli sarapan. Udara sepagi itu sangat menusuk tulang. Keadaan langit belum sepenuhnya berteman fajar.


"Pah, nanti mama titip belikan susu juga buat Aqila ya..?? susunya habis."


"Iya mah, jadi sarapan tiga, susu, tisu dan minyak telon ya."


Mama Jovi mengangguk.


"Jangan lama-lama pa."


"Iya mama, memang papa ini mau ke mana sih?."


Di luar masih begitu sangat pagi.


Papa Jovi terlihat sudah jalan menuju lorong utama rumah sakit.


Lalu lalang para pengunjung pasien juga nampak sepi. Hanya beberapa yang keluar, itupun menjemur handuk ataupun hanya sekedar mencari angin segar.


Para perawat sama sekali tidak terlihat. Mungkin, masih ada diruangan masing-masing.


Pergantian angin dari tadi menyabeti tubuh papa Jovi yang tidak menggunakan jaket, suhu diluar hampir sama dingin dengan di dalam ruangan.


"Om," sapa seseorang.


Papa Jovi menoleh.


"Dokter Nalen, pagi sekali..!! sedang ada praktik ya?," duga papa Jovi.


"Hehehe nggak om, masuk saya masih nanti..!! Om mau ke mana pagi-pagi begini."


"Ini, om mau membeli sarapan," kata papa Jovi jalan balik arah.


"Beli sarapan? eh, Om nggak perlu repot-repot, saya sudah bawakan untuk Om dan tante sama Aqila juga."


"Dokter Nalen, tidak perlu repot-repot. wah, om jadi nggak enak malah selalu merepotkan," papa Jovi melihat tentengan di tangan Dokter Nalen.


Dokter RS Intan Medika itu tersenyum. Jass putih yang di kenakan tidak ada di tubuh laki-laki berkacamata itu.


"Tidak Om, ini tadi kebetulan waktu saya perjalanan ke rumah sakit, kok saya lewat orang jual sarapan, ya saya langsung beli."


"Pasti ini memang Dokter Nalen sengaja memesan ya..?? terima kasih banyak ya Dokter Nalen."


Wajah Dokter Nalen seolah tersipu malu.


"Kan saya juga sudah setiap hari bekerjanya di rumah sakit, jadi sudah hafal kalau para penunggu pasien setiap pagi akan berbondong-bondong membeli sarapan. Saya nggak mau aja, om dan tante repot."


Nalen sangat pandai mendapatkan hati papa Jovi. Orang tua laki-laki tersebut berkali menepuk pundak Dokter Nalen bahagia.


"Terima kasih ya."


"Om, om ini sudah terlalu banyak makasih, hehehe.. Sama sama Om. "


"Dok, menu sarapannya ini apa ya? karena biasanya Aqila suka nasi pecel tapi yang tanpa pecel? jadi om nanti keluar belikan buat Aqila aja," papa Jovi menerima tas kresek tersebut.


"Aaaa.., menunya? ini om? menunya tadi, aa.. itu nasi, ya nasi itu om, nasi pecel paling."


"Loh kok paling?," papa Jovi tertawa.


"Hehehe.. iya maksudnya nasi pecel itu tadi hehe, dan sudah saya bedakan kok Om untuk Aqila yang tidak pedas. Ada tulisannya, iya, itu di dalam Om."


Papa Jovi mengamati, memang iya ada tulisan pedas dan tidak pedas.


"Perhatian sekali, sampai ingat kalau Aqila ndak suka pedas."


"Hehehe i-iya om, sudah biasa namanya anak kecil. Kalau gitu, mari kita kembali ke kamar Jovi Om, sini saya bawakan tas kreseknya, nggak enak kalau om kecapek'an," Dokter Nalen mengambil bungkusannya lagi.


Papa Jovi tersenyum.


Dua laki-laki itu kembali ke kamar. Jovi nampak masih beristirahat, sedangkan mama dan Aqila berpindah di luar ruangan menemani Aqila lari-larian.


"Papa," Aqila berlari mencium.


"Sayang, sudah bangun ternyata, emuuah," ciumnya.


"Iya tadi Aqila nyari papa, kita masih lama ya pak di sini? Kak Opi kenapa tidurnya lama terus pa?."


"Ya nanti kalau Kak Opi sudah sehat pasti kalian bisa pulang kok Aqila, atau biar om dokter aja yang jaga Kak Opi," sahut Dokter Nalen.


"Nggak boleh, om kan bukan pacar Kak Opi? pacar kan Opi, mama bilangnya Om Ernest."


"Hahahhaa," papa Jovi tertawa.


"Hustt.. kamu masih kecil kok tau pacar-pacaran, mama ini..!!." tawa papa Jovi memecah.


"Tapi di rumah sakit itu butuhnya Dokter, bukan pacar Qila. Dokter itu yang memberi obat, yang memeriksa, jadi Kak Opi bisa sehat lagi," alibi Nalen menjawab.


Dikira menanggapi, Aqila justru bermanja di atas pangkuan papa Jovi. Ucapan sederhana Aqila bikin Nalen malu. Cuma Nalen pura-pura biasa.


Kemudian mama dan papa Jovi menikmati sarapan pagi di luar. Mama Jovi juga mengucapkan terima kasih. Ibu dari Aqila itu membuka semua bungkusan.


Dokter Nalen memepet Aqila, dan terus menggodai. Sembari menunggu orang tua Jovi mempersiapkan makan.

__ADS_1


"Om, Tante, Jovi belum bangun?," tanya Nalen.


"Belum Nalen, tadi malam nggak bisa tidur. bangun terus, baru tadi jam 5 dia bisa tidur," jelas mamanya.


"Masuk aja Dokter Nalen, sekalian barang kali dokter bisa memeriksa keadaan Jovi," perintah papa Jovi.


"Ouh begitu, baik Om saya masuk dulu."


Mama Jovi seperti mengangguk tidak ikhlas. Dokter Nalen kemudian membuka pintu masuk ke ruangan.


Paviliun yang kebetulan menghadap taman rumah sakit, membuat mama, papa, begitu betah di depan.


"Papa itu, jangan sedikit-sedikit Dokter Nalen. Jovi kan juga tentu sudah mempunyai Dokter sendiri di sini," mama Jovi menggerutu.


"Ya kan dari pada nunggu Dokter ngecek, masih lama juga. Kan apa salahnya sih mah?."


"Ya meskipun begitu pa. Mentang-mentang tempat kerja Dokter Nalen juga di sini terus apa-apa dia, rumah sakit kan juga punya prosedur pa."


"Nggak sok pahlawan," imbuh mama Jovi tidak begitu keras.


"Iya ya mah," suaminya itu lebih memilih mengalah.


"Dibawakan sarapan apa sama Dokter Nalen?," tanya mama Jovi membenahi rambut Aqila.


"Ya itu, dilihat sendiri kan bisa. Ada nasi pecel, yang punya Aqila tidak pedas mungkin di sendirikan bumbunya."


"Ouuuhhh..., begitu." jawab mama Jovi melirik suaminya.


Papa Jovi nampak terlihat kesal karena omelan dari mama Jovi. Orang tua laki-laki Jovi tersebut merasa istrinya tidak menyukai Dokter Nalen, padahal Dokter Nalen begitu baik.


Kreeeekk.


Mama Jovi membuka bungkusan.


"Nasi pecel gimana pa? ini kan nasi ayam bakar," mama Jovi memberi tahu.


"Gimana sih mah? mama jangan bikin papa emosi terus dong mah. Tadi jelas-jelas Dokter Nalen itu bilang nasi pecel mah."


"Papa lihat sendiri nih..!! mama juga bisa bedain kali mana nasi ayam bakar sama nasi pecel," mereka berdua sama-sama tersulut emosi.


Papa Jovi memandang balik istrinya. Tanpa senyum, tanpa jawaban lagi.


Papa Jovi mengecek. Ternyata benar, itu adalah nasi ayam bakar.


"Loh," papa Jovi terkejut.


"Anehkan? lha ini, Dokter Nalen beli atau gimana sih? di kasih orang? apa gimana?,"


"Mamah, kok bisa berfikiran di kasih orang segala," papa Jovi membela.


Papa Jovi bingung. Dia tidak mungkin salah dengan ucapan. Sekarang mama Jovi tidak memperdulikan suaminya.


Asyik menikmati hidangan yang diberikan Dokter Nalen. Mama Jovi mengisi perut dengan lahap. Sedangkan Dokter Nalen duduk di samping Jovi.


Hanya mereka berdua di dalam ruangan kamar rumah sakit.


HALAMAN PARKIR RS INTAN MEDIKA.


Pukul 07.00, Ernest datang di antar Pak Rahmat. Tanpa dampingan suster maupun Devi lagi, Ernest pergi masuk menuju ruang kamar Jovi.


Laki-laki tampan tersebut tampak santai tanpa pakaian dinas menuju kantor Wijaya. Baju putih casul dengan celana coklat bata, dan sendal hitam.


Panggilan tak terjawab, semakin menguatkan Ernest bahwa ia tetap akan memiliki akhir yang indah bersama Jovi.


Kulit putihnya di sergap cahaya matahari dari atas, semakin membuat tampak bening. Ernest jadi bernostalgia kembali ketika Jovi menemaninya control di RS Wijaya.


Tidak sulit, ia menemukan mama, papa Jovi dan Aqila berada di luar ruangan. Posisi papa Jovi membelakangi Ernest dari arah ia berjalan.


"Selamat pagi, om tante, selamat pagi Aqila," sapanya sangat ramah.


Aqila yang berada di pangkuan mamanya langsung beranjak turun.


"Om Ernest," Aqila girang.


Mama Jovi tersenyum, papa Jovi juga melakukan hal sama. Kedua pasangan suami istri itu menyudahi sarapan yang belum habis.


"Ernest, kamu nggak kerja?," mama Jovi menelan sisa sarapan.


"Ernest nggak ke kantor hari ini tante.. Om sama tante lanjut saja sarapannya, nggak papa."


"Hehehe nggak papa, nanti saja. Lagian Om tadi juga habis ngeteh," papa Jovi beralasan.


"Bagaimana ayam bakarnya? itu langganan saya dan papa setiap pulang dari kantor,"


"Aaaaa, kurang tau ya, karena om dapat ini dikasih Dokter Nalen kok," jawab papa Jovi.


"Iya kah? oooo, maaf, maaf, om dan tante, saya kira? ya nggak papa, langganan kami berarti sama," Ernest kalah cepat dengan Dokter Nalen.


Sempat terlihat wajah kecewa Ernest. Lagi-lagi kenapa harus Dokter Nalen yang mendahului. Mama Jovi melihati Ernest secara seksama. Akhirnya, Aqila yang memecahkan suasana.


"Om Ernest, kenapa Om Ernest baru ke sini? tadi malam Kak Opi nggak bisa tidur, soalnya?"


"Kenapa?," Ernest berjongkok mengusap poni.


"Soalnya? apa ya? nggak tau, Aqila kan masih kecil," jawab lucunya.

__ADS_1


"Hahahaha, kecil yang mana?? sudah tinggi gini? sudah bisa jalan sendiri juga kan?," Ernest tertawa.


Mama Jovi saling lirik bersama papa Jovi. Mereka tau, Ernest akan salah paham lagi apabila mengetahui ada Dokter Nalen di dalam.


"Om, tante, maaf tadi malam Ernest tidak bisa ke sini, karena Ernest sendiri kemarin kurang enak badan. Jadi Ernest baru bisa ke sini sekarang."


"Aaa, iya, nggak papa Ernest," mama Jovi gelagapan.


"Jovi sedang istirahat, dia masih tidur. Kamu masuk saja.!! di dalam juga ada Dokter Nalen," papa Jovi mempersilahkan.


"Dokter Nalen?," Ernest memandangi daun pintu sebelum masuk.


Di dalam ruangan kamar rawat Jovi. Secara sayu, Dokter Nalen seperti mendengar suara Ernest.


Ceklek


Pintu terbuka.


Ernest melihat, tubuh Jovi tertutup selimut. Pemandangan di sebelahnya membuat Ernest bernafas besar.


Dokter Nalen nampak kelelahan menjaga Jovi. Semua terbukti dengan kepalanya yang ikut berbaring di sebagian kasur rumah sakit.


Ernest membuang pandangan, tapi kakinya juga berjalan ke arah Jovi. Perempuan cantik itu terlihat pucat, bersama selang infus di tangan.


Ernest mendekati Jovi. Baginya, ia masih memiliki hak atas Jovi. Karena Jovi adalah calon tunangannya.


Ingin tidak melihat Nalen, tetapi tangan Dokter Nalen yang jelas-jelas menggenggam jemari Jovi sempat membuat Ernest naik darah tidak terima.


Ernest mengarahkan tangan ke wajah Jovi. Sudah lama, wajah putih Jovi tidak di sentuh. Usapan lembut tangan Ernest, mengenai pipi dan dagu Jovi.


"Cepat sembuh sayang," gumam lirihnya.


Krusukk..


Krusuuk..


Jovi terlihat gelisah.


Bayangkan, di pagi hari ada dua laki-laki yang sama-sama tidak mau kehilangan Jovi. Genggaman tangan Dokter Nalen menjadi bukti, sedang usapan lembut tangan Ernest juga adalah tanda.


Jovi tersenyum.


Lamunan Ernest melayang entah ke mana.


"Tuaan Ernest," spontan Jovi memeluk tangan yang ada di pipi, ia tidak mau kehilangan lagi.


Heg


Ernest kaget.


"Sus, suster sadar? kebetulan, ini Dokter Nalen ? kita cek kondisi kamu?," Ernest membangunkan.


"Dok, dokter Nalen."


Jovi menolak.


Tangan Ernest di jauhkan dari pundak Dokter Nalen. Bibir pucat pasinya bisa mengembang senyum sangat jelas.


Ernest menekan bel untuk memanggil dokter jaga, akan tetapi Jovi juga menolak lagi. Genggaman tangan Dokter Nalen perlahan di tepis Jovi. Ernest bahagia melihat Jovi sadar.


Tubuh perempuan cantik itu di bantu Ernest duduk diatas ranjang. Di samping kiri ranjang, Ernest mendudukan diri.


"Mana yang masih sakit?," dengan tatapan dalam.


"Tidak ada," Jovi menggeleng.


"Pucat sekali bibir kamu suster, minum ya?," Ernest mengambil air putih.


Jovi enggan dan mengambil tangan Ernest pada genggaman dia.


"Saya tidak perlu dokter, karena obat dari segala obat di penyakit saya sudah pergi tuan," Jovi memeluk Ernest, pelukannya sangat erat.


Jovi seperti kembali sangat sayang terhadap Ernest. Bahkan ia lupa akan masalah yang terjadi di antara mereka.


Ernest melepaskan perlahan pelukan Jovi. Mata indah merekansaling menatap, baik bola mata Ernest dan Jovi memandangi tanpa sepatah kata.


Akhirnya Jovi paling tidak tahan, perlahan bola mata Jovi mulai memerah. Apa yang diucapkan Jovi tanpa rasa kasihan, saling berngiang mengingatkan di kepala.


Satu bulir air mata jatuh, bersusulan lagi air mata. Ernest langsung mengusapnya.


"Apa lagi yang kamu sedihkan suster? jangan berfikir macam-macam dulu."


"Saya tidak mau dipanggil suster, saya mau dipanggil sayang lagi oleh tuan. Saya sedih, saya takut, Tuan tidak mau menemui saya lagi," kata Jovi di iringi air mata.


"Hussttt.. jangan seperti ini..!! malu nanti didengar Aqila," dengan sabar Ernest mengusap lagi air mata.


"Tuan marah dengan saya? tuan pasti sekarang benci sama saya kan? tuan jangan ke mana-mana, tuan saya tidak mau ini menjadi pertemuan kita yang terakhir. tuan saya sangat menyesal hiks hiks," Jovi sesenggukan.


"Sayang," Ernest menarik tubuh Jovi ke dalam pelukan.


Air mata Jovi seperti sudah tertahan lama, ketika ada Ernest semua bulir air mata tersebut keluar dari bendungan.


Pelukan Ernest membuahkan hasil. Tangisan Jovi berangsur mereda. Hangat tubuh Jovi karena sakit terasa menyengat di badan Ernest.


"Siapa yang bilang pertemuan ini terakhir? tidak ada. Tenanglah."

__ADS_1


__ADS_2