
KANTOR WIJAYA GRUP.
Dalam sela waktu meeting kerja, Ernest ikut memainkan ponsel seperti para klient yang sudah hadir di meja rapat.
Ternyata panggilan tak terjawab dari Tuan Toni sangat banyak. Lebih dari 10 panggilan tetapi Ernest tidak memahami hal tersebut.
Ernest menelpon balik.
Telepon sudah tersambung, beberapa detik kemudian.
"Hallo pa."
"Egh.. Ernest."
"Papa ada apa telpon Ernest?."
"Nggak, nggak papa. Kamu selesaikan dulu meeting kamu."
"Oke pa, baik," Ernest mengangguk.
Tangan Ernest menutup telepon.
"Nest, Nest, apa Suster Jovi tidak berbicara sesuatu ke kamu?," tanya Tuan Toni tiba-tiba.
"Nggak kok, malahan tadi barusan teleponan sama Ernest. Ya udah ya pa, Ernest lanjut meeting sebentar."
"Aaaaa.. oke, oke, eh kamu nanti seumpama Suster Jovi bicara sesuatu, kamu jangan ikutan,"
Tut.. tut.. tut..
Ernest mengakhiri telepon.
Tuan Toni yang berada di rumah bingung, ucapannya belum semua di dengar Ernest. Papa tercinta Ernest tersebut mengirimkan pesan.
Di dalam ruangan, Ernest melanjutkan meeting yang sudah berjalan satu jam tersebut.
******************
JALAN RAYA
Klakson mobil saling berjajar ingin saling adu cepat. Penglihatan Jovi menjadi sedikit kabur, rasa demam di tubuh mulai tidak bisa ia kontrol sesuka nya.
Mobil yang di pinjamkan Ernest pada Jovi tampak berputar arah menuju ke arah kantor Wijaya Grup. Rupanya Jovi mengurungkan niatnya pergi ke kantor pos lebih dulu.
Mendapati tubuh yang terasa kurang fit, ketika Jovi mengirimkan lamaran dulu, itu semakin akan membuat mobil berada lebih lama lagi di tangan Jovi.
Tin
Tin
Tin..
Mobil Jovi hampir menyerepet mobil lain.
"Woyyy.. mata loe ke mana?," teriak laki-laki tersebut.
"Mbak, kalau masih ngantuk di rumah aja, asal ngerem ndadak aja," omel pengemudi lain.
"Maaf ibu, maaf sudah membuat perjalanan ibu terganggu," kata Jovi membuka kaca pintu mobil.
Seketika Jovi tersadar, memfokuskan lagi pandangan mata. Kekaburan indra penglihatannya kembali fokus.
"Lain kali hati-hati," balas ibu-ibu tersebut dengan ketus.
"Baik bu," Jovi mengangguk ramah dan terlihat malu.
Dari kejauhan, selang dengan dua mobil pengemudi. Dokter Nalen sedang menggunakan mobil hitam CIVIC miliknya. Sedikit di amati, insiden kecil mobil putih ternyata adalah Jovi.
"Itu kan Jovi? dia mau ke mana?,"
Dokter Nalen menyalip mobil di depannya. Lampu rambu-rambu lalu lintas semakin mengajak Dokter Nalen mengikuti mobil gadis yang ia cintai selama ini.
"Kira-kira sekarang hubungan Jovi dengan Ernest gimana ya? hah... hancur..!!," Dokter Nalen menyungging senyum sengit.
Mobil Jovi terus melaju. Sempat dua kali, mobil berhenti sendiri di tengah jalan, lalu kemudian melanjutkan perjalanan lagi.
Brakkk..
Dokter Nalen memukul setir mobil.
Kekecewaan Dokter Nalen terlihat, saat Jovi belok memasuki gerbang PT. Wijaya Corporation.
"Hancur, hancur.. ayoo hancur," Dokter Nalen sangat tidak terima.
Jovi telah sampai di kantor.
Perempuan cantik tersebut tampak keluar dari mobil. Beberapa map sempat kuwalahan dibawa Jovi pada tangannya. Jovi tidak akan pulang menggunakan mobil itu lagi.
Memasuki lobby, sorot mata para pegawai melihat Jovi dengan senyuman manis. Mereka tampak langsung memberi tawaran bantuan apa yang akan di minta Jovi.
Meski belum resmi menjadi menantu Toni Wijaya. Rupanya, kabar santer pernikahan yang akan di lakukan Jovi dan Ernest sudah merubah sedikit sikap para pegawai.
"Selamat pagi Suster Jovi, ada yang bisa kami bantu?," tanya resepsionis.
"Selamat pagi juga, maaf apa Tuan Ernest masih melakukan rapat?."
"Iya, Pak Ernest masih melakukan rapat di lantai empat. Pak Ernest berpesan, anda disuruh menunggu di ruang tunggu lantai empat Suster."
"Pukul berapa ya selesai rapatnya? tolong bilang Pak Ernest, saya tunggu di lantai satu saja mbak, terima kasih."
__ADS_1
"Kira-kira 15 menit lagi rapat sudah selesai. Baik, akan segera saya sampai kan ke ruangan Pak Ernest," kata resepsionis meng'iya'kan keinginan Jovi.
Jovi berjalan menuju kursi tunggu. Tempat tersebut tidak jauh dari meja resepsionis. Ponsel Jovi berdering terus, namun panggilan Ernest di reject Jovi.
Para tamu dan para klient nampak keluar dari pintu lift yang menghadap ke arah Jovi. Semua tampak saling senyum, berjabat tangan, lalu masing-masing pergi.
Tiit..
Pintu lift terbuka.
Ernest datang.
Jas abu-abu dengan celana putih membuat Ernest selalu terlihat tampan. Senyumnya sangat tulus dan bahagia. Dengan kaki sedikit pincang, Ernest berjalan ke arah Jovi.
Tatanan rambut dengan pomade sangat membuat Ernest mempesona. Aroma harum khas CEO muda tersebut juga langsung menusuk hidung Jovi. Sudah tampan saja, meski masih pagi.
"Sayang, cupp." Ernest merangkul pundak Jovi, ciumnya mendarat di samping kepala.
Jovi berdiri. Ia menjauhkan tubuh Ernest.
"Kenapa kamu tidak menunggu di ruang atas saja. Ayooo kita ke atas dulu..!! kamu pasti belum makan kan? ayo kita makan.!!."
"Nggak usah, saya buru-buru."
Seketika itu, Ernest menyadari ada yang tidak beres dengan Jovi. Mata Ernest mulai naik turun memandang perempuan di depannya.
Ernest memegang pundak Jovi kiri dan kanan.
"Buru-buru untuk apa? kamu mau ke mana?," tanya Ernest.
"Jangan seperti ini," Jovi menjauhkan tubuh Ernest yang di rasa terlalu dekat.
Mengerti jika Jovi keberatan, Ernest menaruh tangan di samping tubuh. Kemudian Ernest melihat, sekumpulan tumpukan map coklat do kursi tunggu.
"Apa itu?," tanya Ernest sambil mendekati map.
"Tidak, tidak apa-apa," Jovi mendorong Ernest agak kuat.
Sekuat apapun tubuh Jovi, kondisinya yang tidak fit, tetap membuat Ernest dengan mudah meraih map tersebut.
Jovi sedikit jinjit mengambil map yang di naikkan ke atas oleh tangan Ernest, ia tetap tidak berhasil. Sambil berwajah marah, sama sekali Jovi tidak mau memandang Ernest.
"Mana..!!! itu bukan milik tuan."
Sreet..
Ernest mengangkat map lebih tinggi.
"Mana..!!," Jovi meraih jemari Ernest.
Sreeett...
Ernest menyembunyikan dibelakang tubuhnya.
Tubuh Jovi tersungkur memeluk Ernest. Jovi balik berdiri lagi dan berusaha mengambilnya.
"Tuan," Jovi marah.
Ernest tidak peduli, ia membaca tulisan di depan map. Map tersebut adalah bentuk lamaran kerja, salah satu PT telah di tujukan dan di tulis Jovi.
"Apa ini? kenapa ada CV seperti ini?," Ernest membuka isi map. Matanya berlari ke arah map coklat di kursi juga.
"Kenapa ada map sebanyak ini? apa yang mau kamu lakukan? maksud kamu apa?." Ernest bingung.
"Melamar kerja."
Ernest tampak memicingkan mata.
"Kerja apa lagi?."
Jovi terduduk, sebab kepalanya kali ini sangat pening.
Ernest mengobrak-abrik nama-nama perusahaan yang dilamar Jovi semua beralamatkan di Jakarta.
"Kenapa di sini semuanya Jakarta, Jakarta, mau apa sih?."
"Bukan urusan Tuan," Jovi santai.
"Maksud kamu ?? kamu masih marah dengan karena masalah tadi malam ?"
"Tidak lah ngapain."
"Lalu kenapa tidak pernah bilang ke saya sama sekali masalah ini, tiba-tiba mencari kerja, kamu mau mencari pekerjaan seperti apa lagi?." Ernest tampak kaget.
Tubuh laki-laki tampan tersebut berjongkok pas di depan kursi Jovi. Berkali Ernest berusaha menggenggam tangan Jovi, tetapi selalu di singkirkan dengan pelan.
Ernest memandangi Jovi.
"Kamu marah dengan saya?."
Jovi menggeleng kepala.
"Tidak mungkin. Ini pasti karena acara pesta tadi malam kan? ini pasti karena masalah Meghan kan? atau mungkin ini karena ada orang lain yang memprovokasi kamu?."
"Tidak."
"Siapa yang berhasil mempengaruhi kamu? pasti dia." Ernest meremas tangan.
"Tidak, tidak ada sangkut pautnya dengan siapapun. Ini bukan karena Meghan atau siapapun. Semua murni keinginan saya, paham tuan," bentak Jovi kasar.
__ADS_1
"Nggak mungkin," Ernest membuang muka.
Suasana hening.
Ernest memandang ke arah Jovi lagi. Saat ini Jovi memang benar-benar tidak terlihat sedih.
"Lalu bagaimana dengan pernikahan kita?," tanya Ernest lirih.
"Saya mau pulang, ini kunci mobil yang Tuan Ernest pinjamkan ke saya," jawab Jovi.
"Bagaimana dengan pernikahan kita?," ulang Ernest.
"Saya mau pulang, mama sudah menunggu." Jovi pura-pura membenahi rambut.
"Bagaimana dengan pernikahan kita?," ucap Ernest dengan lirih.
Ernest mengejar ke arah mana mata Jovi berlari. Tubuh perempuan cantik tersebut di halangi tidak bisa beranjak.
Duduk jongkok Ernest tepat di depan kursi Jovi, membuat Jovi harus bersabar dulu.
Ruang tunggu terlihat sepi.
Ernest menunduk tidak tau harus berbuat apa. Dari tadi Jovi ingin beranjak sembari berusaha menyingkirkan tubuh Ernest.
"Bagaimana dengan pernikahan kita?," suara keras Ernest.
"Kenapa kamu tidak bisa menjawab pertanyaan segampang itu, ayoo jawab..!!"
"Tidak usah menikah," Jovi berkata pelan.
Meski kata-kata itu tidak bisa di dengar, namun cukup bisa di dengar samar telinga Ernest. Binar mata tidak bisa membohongi kekecewaan yang ada di hati, Ernest merasakan sesak di ulu hati.
Ernest masih tidak percaya.
Ernest meraih wajah Jovi. Kedua bola matanya menatap Jovi sangat tajam, Ernest sudah sangat susah mengontrol emosi.
"Ulangi sekali lagi..!! ba-bagaimana de-dengan per-per-nikah,"
Hua..
Hiks..
Hiks..
Tangis Ernest memuncak, tangan Ernest terlepas.
Ia tidak kuat menahan tangisnya. Untuk apa mengulang sementara suara Jovi sudah terdengar jelas jika tidak menginginkan pernikahan.
Ernest tidak sudi melihat wajah Jovi. Tubuhnya bersandar lemas di bawah kursi yang di duduki Jovi.
Sungguh, Jovi sangat terlihat tega. Air matanya sama sekali tidak sudi menetes ke arah pipi. Jovi justru mengambil ponsel untuk memesan taksi.
Setelah tau, bahwa Jovi sama sekali tidak menangis, Ernest menyeka air mata. Jovi berdiri, Ernest juga langsung ikut berdiri.
"Kenapa? coba kamu jelaskan..!! agar saya bisa membenahi kesalahan saya, agar kita bisa menyusun rencana pernikahan kita. Saya berjanji akan membahagiakan kamu Jovi, saya janji."
Ernest tidak kuat. Ia memeluk Jovi dengan sangat erat.
"Saya sangat mencintai kamu Suster Jovi, tolonglah di sini bersama dengan saya, seperti janji yang pernah kita buat dulu," ucapnya menangis.
Jovi melepas paksa tangan Ernest. Dorongan tangan Jovi hampir membuat Ernest tersungkur ke belakang.
"Aaaa..," Jovi ingin menolong, Ernest sudah bangun sendiri.
"Pokoknya saya masih tidak percaya," kata Ernest keukuh.
"Itu urusan tuan, yang penting saya tidak menginginkan pernikahan ini, sudah titik."
Raut muka Ernest benar-benar tidak bisa lagi di lihat, sangat nampak muram, acak adul, wajahnya berair semua.
Jovi menambahkan sesuatu.
"Dan jangan pernah tuan menunggu saya, karena saya tidak akan memberi batasan kapan saya akan menikah."
Ucapan Jovi sangat merendahkan Ernest. Baru kali ini, ada perempuan yang sangat pedas berucap seperti itu padanya. Ernest semakin hilang tangis.
"Kamu....!!!!!," marah Ernest sudah di ubun-ubun.
"Kenapa kamu sangat tega..!! Selama ini saya sudah sangat mencintai kamu, saya rela apapun keadaannya yang terpenting dengan kamu, tapi kamu balas seperti ini.. tega kamu Suster Jovi."
"Tega?," Jovi mengangkat tangan, menunjuk dada Ernest.
"Apa tuan tidak ingat, bagaimana dulu tuan merendahkan saya saat di Restoran Enmaru? yang mengatakan saya lebih rendah dari pada lalat? bagaimana tuan sama sekali tidak pernah menghargai niat baik saya. Sekarang tuan tau kan, bagaimana sakitnya saya dulu? Sangat sakit," bibir Jovi menurun menahan tangis.
"Jadi kamu dendam dengan saya?," air mata Ernest menetes.
"Bukan, saya bukan dendam, tapi rasanya sangat indah bisa mempermainkan perasaan hati seorang Tuan Ernest Wijaya."
Berkali-kali bola mata Ernest terasa seperti ingin keluar. Tangannya mengepal, kadang ia ingin menampar seseorang. Hatinya sangat sakit.
"Dalam bisnis Tuan memang jaya, tapi saya rasa tuan harus banyak belajar lagi karena anda terlalu bodoh untuk urusan cinta. Jangan pernah menunggu saya, sampai kapanpun saya tidak akan datang."
Ernest memelototkan mata. Hatinya sekali lagi, bagai dicabik binatang buas, perasaannya terasa di sayat puluhan pisau secara massa. Ini sangat sakit.
"Cukup...!!," teriak Ernest.
"Saya tidak akan mengemis cinta kepada kamu. Jangan harap kamu bisa melihat saya lagi meskipun hanya dalam mimpi. Saya menyesal seumur hidup pernah mencintai kamu."
Ernest berjalan meninggalkan ruang tunggu.
__ADS_1
Bruuukk..
"Tuan," panggil Jovi terakhir kalinya.