Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
36. Bermalam Di Kantor


__ADS_3

Lampu mati yang tidak sengaja terjadi di kantor, membuat Ernest mengetahui, bahwa suster Jovi memiliki phobia kegelapan, atas kejadian di masa lalu.


Rambut panjang Jovi, berkali-kali di belai oleh tangan putih Ernest. Aroma wangi dari tubuh Jovi, kadang ikut menusuk masuk, ke arah hidung mancung Ernest.


Hari sudah berganti malam, semua semakin jelas, ketika suara adzan Maghrib dari luar kantor terdengar jelas masuk ke dalam. Ernest terlihat lelah, menyadarkan tubuh, di rak besar belakang tubuhnya.


Ruang berkas masih tetap gelap gulita, tanpa pencahayaan sama sekali. Lampu emergency juga terlihat ikut tidak menyala, padahal di ruang tersebut, ada 4 lampu emergency di pasang pihak kantor.


Tangan putih Jovi, masih melingkar pada tubuh Ernest. Laki-laki tampan itu, menggenggam erat tangan Jovi, bulu-bulu halus dari tangan susternya, terasa di pegang jemari tangan putih Ernest.


"Tuan, apa ini masih lama, mata saya lelah tuan?," kepala Jovi bersandar di dada Ernest.


"Sebentar ya suster, saya sendiri belum tau, pemadaman sampai pukul berapa?."


"Hiks.. hiks.. ayoo pulang saja tuan, jangan disini, pulang ke rumah tuan."


"Sudah maghrib tuan, tuan belum makan malam, belum minum obat juga, tuan belum mandi."


"Mau mandi gimana? kita saja terjebak disini, suster jangan mencemaskan saya, saya sendiri kasihan, kalau mengajak suster lama lama disini."


Ernest dan Jovi terlihat sama-sama ingin segera pulang. Ponsel yang dibawa oleh Jovi, sengaja tidak dikeluarkan, takut Ernest meminjam dan mengecek semua percakapan Jovi dengan Fictor.


Kejadian tidak sengaja malam ini, belum sempat mengajak tangan Jovi membersihkan serta mengarsipkan semua pesan whatsapp atasan semesta grup tersebut.


Ernest mengecek ponsel, gambar baterainya sudah menunjukkan angka 5%. Setidaknya cahaya dari ponsel Ernest, bisa meringankan phobia suster Jovi. Tetapi sayang, beterai tidak mendukung niat baik Ernest.


"Baterai saya tinggal 5% suster, suster Jovi bawa HP?"


"A-a-a bawa tuan, tetapi ponsel sa-saya sudah mati du-duluan tuan," jawab Jovi tergagap.


"Haduuuh sama saja kalau begitu, fikir saya, kalau ada cahaya kan, bisa meringankan ketakutan suster," Ernest kembali kesal.


"Nggak papa tuan, semoga sebentar lagi kita pulang."


"Iya suster, mudah-mudahan."


Selang lima menit dari percakapan keduanya, Jovi sudah mulai panik, dan kebingungan. Membuat Ernest, harus kembali sabar.


"Kapan kita pulang tuan? jangan di sini, ayo ke tempat yang banyak lampunya saja tuan," tangan Jovi berkeringat dingin.


"Iya sabar ya suster," dekap Ernest merasakan tangan dingin Jovi.


"Jovi mau pulang, nggak mau disini." tangan Jovi dipukuli ke arah Ernest.


"Disini gelap tuan, ayo tuan, pulang tuan, Jovi nggak mau disini."


"Sebentar ya suster, semoga nanti jam 7 malam kita sudah keluar, biasanya pemadaman dilakukan kurang lebih 2 jam," Ernest dengan sabar memberitahu.


"Nggak mau tuan, kita sudah lama disini, ayo tuan pulang, bik yuni pasti nyari kita tuan."


"Iya suster sebentar, jangan panik, suster yang tenang ya..!!"


"Jovi mau pulang tuan," tangis jovi memecah lagi.


"Suster suster.. mulai lagi kan.. ?? hustt.. sudah, jangan nangis lagi," Ernest mengusap air mata Jovi.


"Hiks hiks.. mau pulang, ayo tuan pulang, aku nggak mau disini," kaki kanan Jovi ditendangi dengan kaki kirinya sendiri.


"Suster, suster, sudah suster, jangan di pukuli sendiri tubuh kamu, saya sendiri kalau tangan saya kuat, sudah saya dobrak pintu itu," Ernest ikutan marah.


"Huaaa... hiks.. hiks..," Jovi kesal melepaskan pelukan Ernest.


Terlihat Jovi mengacak rambut panjangnya sendiri, menendangi kaki Jovi sendiri secara bergantian, dua tangannya dipukul ke arah kepala, dan paha putihnya.


Ernest sendiri tidak bisa berbuat banyak, tangan kanannya, baru saja selesai lepas gips beberapa waktu lalu, membuat Ernest harus menahan semuanya.


Kedua mata Jovi, daritadi menutup, tidak di buka sama sekali. Perempuan cantik, yang sudah mencoba membuka mata, justru semakin histeris. Dimana setiap benda yang ada di sekitar Jovi, mengingatkan lagi akan kematian Ela.

__ADS_1


Ernest semakin dibuat tidak tega, daritadi bayangan Jovi memukuli tubuhnya sendiri, dipandang jelas Ernest. Tampaknya kekesalan Jovi, pada mati lampu, di lampiaskan pada tubuh perempuan itu sendiri.


"Hiks.. hiks.. pulang," suara Jovi di sela tangis kerasnya.


"Pulang, pulang, pulang," Jovi menendang lagi kaki kanan dengan kaki kirinya.


Ernest langsung meraih tubuh Jovi, kepala suster cantik tersebut, di arahkan menghadap pada wajahnya. Dua tangan Ernest mengunci tubuh Jovi, sehingga tidak bisa menyakiti lagi tubuhnya.


Tidak fikir panjang, bibir Ernest langsung menyucup bibir mungil, sekertaris Fictor tersebut. Isak tangis itu, langsung terdengar hilang, dari ruang berkas tempat Jovi dan Ernest terjebak.


"Cuuppp," Ernest mencium bibir Jovi.


"Glekkk," savilar Jovi di telan sendiri.


Sama sekali tidak ada perlawanan dari suster cantiknya itu. Jovi sudah kehabisan banyak tenaga, ketika menyakiti tubuh, dan menendangi kaki dia sendiri.


Tadinya Ernest hanya berniat menenangkan Jovi dengan ciuman, tetapi birahinya sedikit naik, setelah merasakan lembut bibir merah Jovi. Di tambah ruang yang gelap, mengangkat tinggi, keinginan Ernest.


Putra Tuan Toni tersebut, memberanikan diri mencium bibir Jovi lebih dalam. Ketika Jovi sendiri, membiarkan bibirnya di cium oleh Ernest. Semua mengalir begitu saja.


"Cuupp.., eeuuuumh," Ernest menyedot bibir bawah Jovi.


"Euuummh.. cupp.. euuummh cup," ciuman Ernest semakin kuat.


"Heuuumb, aahhh..., uummb," bibir Jovi tidak kuat menahan serangan.


"Sluuuurrrph.. sluuuurrph..., euummb..," lidah Ernest membelit lidah Jovi.


"Eeeuuuh, sluuurrph, eeuumbb," ciuman Jovi mengimbangi.


Malam ini, Ernest melakukan semua dengan secara sadar. Tidak ada efek obat seperti yang diberikan oleh Meghan, seperti beberapa waktu lalu. Mereka berdua melakukannya malam ini, saling mau sama mau.


Ernest sendiri, baru kali ini merasakan menciumi Jovi secara sadar. Dia merasakan, betapa nikmat mencumbu bibir merah suster cantiknya, dengan sangat romantis.


Jovi sendiri merasakan tubuhnya mulai terasa hangat. Keringat dingin dari ketakutan, sudah hilang menjadi tetesan nikmat surga dunia bersama Ernest.


Rasanya Ernest, segera ingin menidurkan Jovi, menjamah setiap jengkal tubuh perempuan cantik tersebut. Aliran darah Ernest, terasa lebih cepat berjalan, birahinya mulai tidak bisa di kendalikan.


"Heuuummb.. ahhh...,cuppp.. sluuurrph, sluuurph..," mata Ernest ikut menutup.


"Haaaaa... euuummb," Jovi membuka mulut mencari udara.


"Sluuurphh... euummb," tetapi Ernest masih menyerang terus.


"Tuan..," panggil Jovi disela ciuman bersama Ernest.


"Euuumb... cup.. cup.. euummb," kali ini Ernest memberikan ritme lebih pelan.


"Aaammmb.. euuumb," Jovi kesulitan memberi tahu.


Perempuan cantik tersebut, sudah ingin menghentikan permainan bibirnya dengan Ernest. Ciuman yang dilakukan Ernest atas kesadaran sendiri, justru semakin membuat Jovi kelimpungan.


Daritadi Ernest pandai memainkan lidah, ciuman Ernest sangat hangat, semua teknik ciuman, dikuasai oleh Ernest, membuat runtuh pertahanan semua wanita yang di cumbu.


Di akui oleh Jovi, ciuman yang diberikan Ernest memang sedikit menghilangkan rasa panik, atas phobia suster cantik tersebut. Di dalam ruangan, juga sama sekali belum memunculkan tanda listrik akan menyala.


"Euuummb.., sluuuurph.., gleek, sluurph.. ahhh," Ernest masih mencumbu Jovi.


"Tuan," Jovi sudah memanggil untuk ke dua kali.


"Eeeummb.., sluurpph, cup, cup."


Jovi sengaja tidak membalas ciuman Ernest, karena semua semakin membuat terangsang tubuh Jovi. Bulu-bulu halus ditubuh Jovi, sudah mengajak berdiri, lewat perlakuan Ernest.


Malam ini, Jovi tidak mau mengulang hal yang sama, seperti saat Ernest pulang dari reuni bersama teman-teman.


Tidak kehabisan akal, perempuan cantik tersebut, pura-pura ketiduran, saat di serang ciuman dari Ernest. Nampaknya hal itu, sukses membuat Ernest sadar, dan melihat Jovi sudah tertidur pulas.

__ADS_1


Ernest menghentikan langsung ciuman di bibir Jovi. Tangannya terasa menyapu bibir lembut Jovi, yang sudah dibuat basah karena ulah putra Tuan Toni itu.


"Suster.. suster sudah tidur?," panggilnya.


Jovi pura-pura tertidur.


"Suster, suster dengar saya?," Ernest menggoyang wajah Jovi.


"Sust..."


Semua tidak ada tanggapan dari Jovi, membuat Ernest yakin bahwa Jovi sudah tertidur. Perlahan, dekapan erat dari tubuh Ernest, mulai merenggang.


Ternyata Ernest akan menaruh kepala suster cantik itu, di atas pahanya. Ernest sendiri membetulkan posisi duduk Jovi, yang salah, perhatian Ernest betul-betul sangat sayang pada suruhan Fictor.


Jass putih yang di kenakan Ernest mulai di lepas, untuk menutup paha dan betis putih suster Jovi. Pagi tadi, karena suster Jovi mengenakan rok putih, membuat Ernest melepas jass putih miliknya.


Lewat keheningan malam, Ernest bergumam sendiri, sambil membelai lembut rambut Jovi, yang ada dipangkuannya. Fikiran Ernest dibuat bertanya lagi, siapa sebetulnya Jovi.


Jovi sendiri, merasakan lembut bagaimana belaian Ernest. Tangan Ernest satunya, juga terasa mengusap lembut lengan tangan susternya. Menidurkan Jovi, tanpa paksaan.


"Suster Jovi, siapa kamu sebenarnya? jangan buat saya dilema suster? kamu begitu baik, tetapi kejadian hari ini sedikit membuat saya ragu," gumam Ernest sendirian.


"Jika kamu suruhan orang, apa modus yang kamu gunakan, kenapa sampai sekarang saya masih kamu perlakukan dengan baik? seorang suster tidak mungkin bisa membuat berita acara, siapa kamu suster?," Ernest kembali bertanya lagi.


"Kamu cantik sekali suster ketika tidur, suster orang yang sabar, semoga nantinya ada laki-laki baik yang meminang kamu suster," tutur Ernest memandang lelap tidur Jovi.


"Yaitu aku," sambung Ernest di dalam hatinya.


Semua yang dikatakan Ernest, langsung membuat hati Jovi tersentak. Jovi baru menyadari kesalahannya hari ini, bodohnya Jovi bisa mempercayai tawaran Ernest, menjadikan dia sekertaris.


Beruntung, Jovi sangat lega, dan berterimakasih, atas pemadaman listrik sore tadi. Jovi baru menyadari, kalau tidak ada lampu mati, mungkin dia tidak bisa lolos dari jerat serta tipu daya Ernest.


Sekarang Jovi, akan kembali lebih berhati-hati dengan Ernest. Suster Jovi semakin sadar, pantas saja, Ernest sempat memuji bahwa, kepandaian yang dimiliki Jovi sangat hebat. Ternyata semua itu, sudah di curigai Ernest.


"Tuan Ernest, ternyata tuan sudah mencurigai saya..!! maafkan saya tuan, telah membohongi Tuan Ernest selama ini, maaf tuan, saya tidak ada pilihan lain, keberanian saya belum terkumpul semua tuan, untuk mengatakan semuanya," jawab Jovi di dalam batinnya.


"Terimakasih banyak tuan, sudah mendoakan saya dengan baik, semoga tuan juga mendapatkan pendamping yang baik, setelah ditinggal Meghan," tutur Jovi masih membatin.


"Tuan Ernest selalu baik pada saya, maafkan saya tuan Ernest, terimakasih tuan, sudah selalu peduli pada saya, yang tidak becus mengurus tuan," derai air mata Jovi keluar.


Tidak terasa, semua kebaikan Ernest hari ini, membuat air mata Jovi kembali turun berlinang membasahi pipi. Apalagi setelah Ernest mendoakan Jovi, membuat hati perempuan cantik itu, dilanda kegalauan.


Ada yang tidak bisa dijelaskan oleh suster Jovi, dia merasakan seperti tidak ingin kehilangan Ernest untuk malam ini, dan malam malam selanjutnya. Jovi tidak sadar, dia mulai jatuh cinta pada CEO muda wijaya group tersebut.


Seandainya waktu bisa diputar, Jovi akan memilih bekerja menjadi perawat di rumah sakit milik Toni Wijaya. Sayangnya, kehidupan mengantar Jovi pada garis hidup yang berbeda.


Perempuan cantik tersebut, harus rela menjadi budak Fictor, sebelum akhirnya di pertemukan oleh seorang Ernest Wijaya. Pengusaha sukses, asal dari Surabaya.


"Tringg.. tingg.. tingg.. ting..," ponsel Ernest berbunyi.


"Hallo, selamat malam."


"Hallo selamat malam tuan, ini saya Pak Rahmat, pinjam HP'nya pak satpam karena HP saya ketinggalan."


"Ouh iya pak, bagaimana?? apa di bawah juga mati lampu pak?," tanya Ernest.


"Iya tuan, kantor gelap gulita, hanya tinggal lantai ruang dua saja yang menyala, tuan kenapa belum turun?," tanya Pak Rahmat.


"Ini pak, saya terjebak di ruang berkas dengan suster Jovi, kunci pintu menggunakan kartu, jadi saya nggak bisa keluar," Ernest membelai rambut Jovi.


"Ya Allah tuan, terus bagaimana? apa suster Jovi juga baik-baik saja," Pak Rahmat ikut mencemasi.


"Iya baik pak, tadi sempat histeris sebentar, tapi sekarang sudah tidur, ya sudah Pak Rahmat tunggu dibawah ya..!! sampai lampunya nyala," Ernest memberi pesan.


"Baik tuan, kalau begitu, saya tak ngopi di dekat kantor."


"Iya pak, nggak papa." Ernest langsung menutup telepon.

__ADS_1


Baterai Ernest sudah terlihat lowbat, hanya tinggal sisa 3%. Jam ditangan Ernest sekarang sudah menunjukkan pukul 21.30. Membuat mata Ernest mulai tidak bisa menahan kantuk.


Mereka berdua akhirnya terlelap diantara lorong ruang berkas. Jovi dan Ernest terpaksa bermalam di kantor, karena ada pemadaman listrik.


__ADS_2