Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
45. Mengejar Waktu


__ADS_3

Jovi telah sampai di rumah, perintah Ernest dengan sigap di terima, sehingga Jovi langsung mencari dimana keberadaan Pak Yoyok. Kunci card serta pin laci sudah Jovi cek, seperti yang Ernest perintahkan.


Sebelum Jovi mencari di mana Pak Yoyok, dokumen pentingnya di tindih pada bawah bantal. ID card check lock miliknya, dari kantor Semesta Grup, sudah tidak berguna lagi, Jovi taruh juga di bawah bantal tidur.


Walaupun sebentar lagi perempuan cantik itu, tidak lagi menjabat sebagai sekertaris di kantor Fictor. ID Card lengkap dengan jepitan baju itu, masih nampak bagus dan terawat, bertulis Semesta Grup Corporate.


"Terimakasih Semesta Grup, sudah menemani dan memberikan pengalaman indah maupun buruk, meskipun loe sudah bukan lagi pegawai disana Jov, semoga Semesta Grup tetap menjadi perusahaan yang bergengsi, aamiin," doa Jovi menyebut kantornya.


Setelah itu, dia lalu berjalan ke garasi, tapi terlihat sepi. Dapur juga tidak ada orang, Jovi mencari kemana perginya semua asisten rumah tangga Ernest tersebut.


Satu saja bibi, juga tidak ada yang muncul di area belakang rumah.Suara televisi, maupun DVD, biasanya memecah keheneningan di bagian arah dapur belakang, juga tidak terdengar sama sekali.


Kemana perginya semua. Jovi mulai takut, terjadi apa-apa di rumah besar Tuan Toni tersebut. Benar-benar tidak ada suara, yang mampu memecah keheningan, Jovi berjalan pergi lagi.


"Pak Yoyok..., Pak Yoyok di mana?," suaranya menelusuri kamar sopir.


"Bik Yuni, bik?? kenapa sepi sekali," Jovi kebingungan.


"Bik Lusi, Bik Ima, Bik Lusi, bibik... kemana ya semua?,"


"Pak Yoyok, Pak Tono, Pak Lukman, Pak Eko, Pak Rahmat,"


Satu persatu pegawai di rumah Toni Wijaya, mendapat absen satu-satu dari bibir Jovi. Rasa cemas, di hampiri khawatir, membuat Jovi keluar ke arah taman samping rumah.


Tangan Jovi mengambil lagi ponsel, nomor telepon rumah Ernest, dihubungi kembali oleh suster cantik tersebut. Suara panggilan tersambung, namun tidak ada yang mengangkat. Malah bunyi telepon rumah Ernest, keluar hingga ke telinga Jovi.


Jovi mondar mandir, tubuhnya hampir tidak bisa berhenti, apalagi duduk menikmati tanaman indah hidroponik, terjajar rapi di atas rak tanaman kesukaan Tuan Toni.


"Tuuuttt... tuuutt... tuut..," panggilan tersambung.


Jovi menghubungi nomor ponsel Pak Yoyok, yang kapan hari tidak sengaja di dapatkan Jovi, saat menjemput Ernest reuni bersama dengan Pak Rahmat juga.


Pak Rahmat terlihat belum pulang sampai sekarang, setelah kemarin mengantarkan Ernest, dan rencana menjemput pulang Tuan Toni ke rumah. Setelah beberapa minggu meeting ke luar kota.


"Kenapa tidak di angkat kemana mereka?," gumam Jovi sendiri.


"Haiii...., suster Jovi," terdengar suara laki-laki memanggil.


Jovi sedikit terkejut, dua matanya langsung mencari dari mana suara itu berasal. Tetapi tidak ada satupun orang di sekitar dirinya. Suara itu, di amati Jovi lebih dalam, ternyata bercampur riuh suara perempuan, siapa itu?.


"Suster saya di sini, haii Suster Jovi..," sekarang panggilan perempuan.


Jovi masih bingung, darimana asal suara tersebut. Perempuan cantik tersebut, mengintip dapur, namun tetap tidak ada siapa-siapa.


"Suster Jovi, benar-benar tidak tau kita?," Bik Yuni memberi tahu Pak Yoyok.


"Iya, malah masuk ke dapur ya Yun??,"


"Panggil lagi atuh Yok," suruhnya.


"Haii suster Jovi, saya di sini, suster...!!," teriakan Pak Yoyok sudah bertenaga.


Sopir di rumah Toni Wijaya tersebut, nampak kesal, Jovi tidak mau melihat ke arahnya dan Bik Yuni. Mata Jovi justru mencari ke arah yang tidak-tidak. Seperti kamar mandi, gudang, dan kandang.


Lama-lama Jovi juga merasa merinding sendiri, dari tadi ada suara tapi tidak ada wujudnya. Perempuan cantik tersebut menaruh curiga, jangan-jangan selama ini rumah Ernest berhantu.


Bulu halus di tubuh Jovi, kompak mengangkat satu sama lain. Tengkuk kepalanya terasa berat, ini seperti ada makhluk halus yang sedang mendatangi dirinya di taman belakang.


"Suster.... susterr... saya di atas, suster coba lihat, ke atas suster...," teriak Pak Yoyok.


"Suster Jovi.....," bantu Bik Yuni.


"Suster Jovi......, kami di balkon belakang lantai tiga suster, suster Jovi, wooooy.. lihat ke atas," suara Pak Lukman ikut berteriak.


"Suster... lihat atas...," Pak Yoyok mengulang lagi.


Jovi tidak sengaja melihat ke atas, ada para bibi dan sopir Tuan Toni berjajar, ternyata memandang ke arah Jovi. Senyum manis suster Ernest tersebut, langsung muncul dan lega.


Tangan tangan semua pegawai di rumah Ernest, melambai menyuruh Jovi ikut naik ke atas. Jovi langsung berlari ke arah tangga yang ada di luar rumah, menuju lantai tiga, menyusul semua para asisten rumah tangga.


Dan benar, semua bibi dan sopir di rumah Ernest, sedang pesta bakar bakar ikan, bau'nya baru terasa menyengat, saat Jovi berjalan menuju ke arah mereka.


Jovi sendiri baru tau, ada balkon yang sangat luas, di lantai tiga rumah Ernest. Selama ini, perempuan cantik tersebut, tidak pernah bertandang ke lantai dua, atau tiga rumah Ernest.


Dari dulu Jovi setia tinggal dibawah lantai satu. di samping kamar Ernest, yang sengaja di berikan Tuan Toni. Jovi melihat banyak ikan bakar yang sudah matang, Pak Tono lah yang terlihat membakar ikan, di atas pemanggang.


"Suster Jovi nyari'in kita ya..? ," tanya Bik Yuni.


"Pasti tadi suster Jovi bingung ya?," imbuh Bik Imah.


"Iya bik, saya baru tau, Kalau di sini ada balkon rumah yang luas, dari tadi saya bingung di bawah, cari ke mana semua orang? kok nggak ada?,"


"Terus waktu kita panggil tadi? suster dengar?," Pak Tono ikut bertanya.


"Dengar pak, ada suara, tapi nggak ada orangnya, saya malah takut, pikiran saya ngiranya rumah tuan Ernest berhantu pak, di bawah tadi saya beneran takut sekali,"


"Hahahaha...,"


Semua nampak tertawa, Jovi menjawab pertanyaan Pak Tono dengan lugu. Aroma ikan bakar, lengkap dengan sambal kecap di irisi cabai, membuat perut Jovi terasa semakin lapar.

__ADS_1


Suasana kekeluargaan yang di miliki antar sesama pegawai. Membuat Jovi seperti enggan pergi meninggalkan rumah yang sudah menampungnya selama satu bulan.


Bik Yuni terlihat memberi nasi, di atas piring Jovi, ikan bakar di persilahkan oleh Pak Eko, dan Pak Yoyok, untuk amunisi makan siang. Canda tawa dari semua para pegawai, semakin membuat Jovi lupa perintah Ernest.


"Suster Jovi, maaf tadi ada apa mencari saya...?," tanya Pak Yoyok.


"Ouh iya pak, Ya Tuhan, saya hampir lupa, tadi tuan Ernest telepon saya, berkas tuan Ernest ada yang tertinggal di kantor, tuan minta Pak Yoyok mengantar saya untuk ambil berkas itu, di kantor,"


"Baik suster, kalau begitu habis ini saya siap-siap, apa suster juga sudah di kasih tahu tuan Ernest, kalau suster di minta menyusul ke Jakarta?,"


"Ouh sudah Pak Yoyok, Pak Yoyok berarti juga sudah di beri tahu ya..?," ucap Jovi disela-sela makan.


"Iya suster, tadi saya sudah mengambil tiket terbang suster, di travel langganan tuan Ernest, suster Jovi disana jangan pacaran terus lo ya, sama tuan Ernest," goda Pak Yoyok.


"Aaaa.... ng-nggak lah pak, ng-ngapain saya di sana pacaran? saya tidak ada apa-apa pak dengan tuan Ernest, sungguh?," Jovi dibuat gagap.


"Ada apa-apa juga nggak papa kok suster, lagian kita lihat suster Jovi cocok kalau sama tuan muda," Bik Lusi menyetujui.


"Apa sih bik? nggak ahhh....," Jovi terlihat salah tingkah.


"Sudah, sudah, kalian ini pasti godain suster Jovi, suster, nanti suster langsung ke kantor saja ambil berkas yang di minta tuan, biar nanti saya bantu suster bereskan baju suster," tutur Bik Yuni.


"Nggak usah bik, biar saya saja yang bereskan, nanti saya ambil berkasnya juga tidak lama,"


"Baik suster, kalau begitu."


"Ya udah pak, saya ke bawah dulu ya, nanti pak Yoyok langsung turun ke garasi aja ya...?," pinta Jovi menaruh piring kotornya di bak pesta.


"Iya suster, saya tak ganti baju dulu, biar ndak bau ikan."


"Cepetaan Yok, nanti kasihan Tuan Ernest, kalau berkasnya tidak sampai tepat waktu," Bik Yuni membuat gugup.


"Iya, iya, sabar atuh Yun, kamu ini mirip Tuan Toni aja," gerutu Pak Yoyok.


"Hahaha, ada-ada aja Yok," sahut Pak Eko.


Jovi sudah lebih dulu berlari turun ke lantai 1, menuju kamar. Baju yang di pakainya keluar berubah bau, menjadikan Jovi seperti penjual ikan.


Pesta bakar ikan siang itu, menyulap perut kosongnya menjadi kenyang. Rambut Jovi juga ternyata tidak luput dari bau ikan asap.


Dirinya tidak mungkin berangkat ke Jakarta dalam kondisi bau badan tidak sedap. Akhirnya Jovi memutuskan untuk mandi sebentar, sebelum keberangkatan terbang ke Jakarta sore ini.


10 menit Jovi mandi di dalam kamar mandi.


"Toookk.. took.. took..," Pak Yoyok mengetuk Pintu.


"Suster Jovi, sudah jam 1 suster, ayoo.. kita ke kantor suster, nanti kita ketinggalan pesawat," Pak Yoyok mencoba mengingatkan.


"Ouh baik suster, kalau begitu saya tunggu di luar ya..?," Pak Yoyok menunggu jawaban dari kamar Jovi.


"Baik Pak Yoyok."


Jovi mempercepat dirinya untuk segera ganti baju, tangannya hanya mengoles pelembab, membubuhkan warna merah pada bibir, serta alis yang masih dibiarkan polos, dan pipi tanpa blush on.


Pak Yoyok sudah membunyikan suara mesin mobil, Jovi keluar kamar membawa satu tas putih, sama saat pergi ke kantor Fictor, pagi tadi. Tubuh Jovi berlari cepat, kegugupan mengejar waktu, membuat keningnya berkeringat.


Pak Yoyok langsung melajukan mobil, setelah mengetahui Jovi sudah masuk ke dalam mobil. Terik matahari, bisa di lihat dari kaca jendela, sangat panas membakar kulit.


Beruntung Jovi naik mobil, sehingga tidak perlu merasakan panik akibat sengatan matahari. Mobil melaju tidak stabil, kadang pelan, kadang kencang, mengikuti kondisi jalanan.


Dari ponsel Jovi, Ernest mengirim pesan whatsapp , Jovi sudah berangkat ke bandara atau belum. Karena pesta ikan bakar para pegawai di rumah, amanat Ernest sedikit terlambat, untuk segera di lakukan Jovi.


Salah satu mobil hitam mewah pajero sport, koleksi dari petinggi besar Wijaya tersebut, di gunakan Pak Yoyok untuk mengantar Jovi siang ini.


Sudah lebih dari pukul 13.40 WIB, namun Jovi dan Pak Yoyok belum sampai di kantor Wijaya. Semua tak hayal langsung mulai mencuri rasa panik, dari sopir maupun suster Jovi.


"Suster Jovi, sudah sampai di mana? suster sudah di bandara atau belum? pesawat terbang pukul 15.00," pesan whatsapp baru dari Ernest.


Jovi langsung memberi tahu Pak Yoyok, menyuruh agar mobil berjalan lebih kencang.


"Pak Yoyok, sedikit cepat ya..?? tuan bilang, penerbangan nanti jam 3 sore," Jovi khawatir tidak bisa tepat waktu.


"Harap bersabar suster, jalanan sedikit macet,"


"Huuuhhh... baik pak," wajah Jovi terlihat bingung.


Jalanan Surabaya memang tidak bisa terhindarkan dari macet. Dari kacamata Jovi, jalan kota Surabaya terlihat berjubal dengan mobil-mobil pribadi.


Tau begitu, Jovi tidak akan memilih untuk menikmati pesta ikan bakar, jika akhirnya seperti ini. Dering ponsel Jovi kembali terdengar, panggilan masuk ternyata nampak di lakukan Ernest.


Sudah pukul 13.40 siang, sama sekali tidak ada kabar dari suster Jovi maupun Pak Yoyok sopir Tuan Toni. Mobil sudah mulai terlihat masuk ke dalam gerbang utama perusahaan Wijaya Grup tersebut.


Pak Yoyok memarkir mobil tepat di depan pintu kaca kantor Wijaya. Jovi menurunkan tubuh, belum menutup pintu menyelesaikan panggilan telepon dari Ernest, sejak tadi.


"Hallo Tuan Ernest,"


"Hallo suster, kenapa pesan saya tidak di balas? suster sudah sampai mana? sudah di bandara atau masih di rumah? berkas saya sudah di ambil kan?,"


"Aaaaa... i-iya tuan, ini saya dan Pak Yoyok perjalanan, setelah ini kita berdua akan langsung menuju ke bandar tuan," mata Jovi mengerjap sambil menjelaskan.

__ADS_1


"Lha terus berkas saya sudah di ambil belum sus? suster, hallo, suster Jovi,"


"Maaf tuan, ini saya masih ambil sama Pak Yoyok, tapi kita sudah mau pulang kok tuan," bohongnya.


"Ouh begitu, ya sudah sedikit cepat ya suster, nanti tut.. tut.. tut..,"


Sambungan telepon terputus, ternyata ponsel milik Jovi baterainya habis. Benar-benar persiapan yang amburadul, untuk pergi ke Jakarta. Power bank tidak di bawa, begitupun juga charger yang juga tidak di bawa.


"Yah.. matiiii....," gumam Jovi.


"Pak Yoyok, saya cuma sebentar, Pak Yoyok tunggu di sini saja? saya mau masuk dulu," Jovi memberitahu lewat jendela pintu mobil.


"Baik suster Jovi, saya tunggu di sini, cepat ya suster sudah jam 2,"


"Iya Pak Yoyok, saya masuk."


Jovi masuk ke dalam kantor menuju ruang direktur utama, kantor Wijaya Grup.


*********************


RUMAH TONI WIJAYA.


Kepanikan untuk memburu waktu ternyata bukan hanya di cemaskan oleh Jovi dan Pak Yoyok saja. Dari rumah Toni Wijaya, ternyata ada Bik Yuni, sedang mencemaskan Pak Yoyok dan Jovi belum datang-datang juga.


Bik Yuni mondar mandir di depan pintu kamar Jovi, tiket pesawat masih terlihat belum terjamah tangan Jovi, masih berada seperti semula di atas meja. Berkali Bik Yuni melihat jam berjalan meninggalkan pukul 14.00 lebih jauh.


Jovi belum mempersiapkan sama sekali, koper keberangkatannya untuk ke Jakarta. Satu koper untuk pulang saja, yang sudah di siapkan Jovi dari lusa kemarin. Bik Yuni tetap masih harap-harap cemas, menunggu kedatangan Pak Yoyok dan suster Jovi.


"Sudah sampai jam segini, kenapa suster Jovi dan Yoyok belum balik ya..?," Bik Yuni meremasi tangan.


"Apa suster Jovi, sudah mempersiapkan kopernya yang untuk ke Jakarta ya? ouh iya, kenapa daritadi aku nggak ngecek saja, biar nanti suster langsung bisa berangkat,"


Niat baik Bik Yuni untuk membantu Jovi, mengajak langkah asisten rumah tangga, kepercayaan Tuan Toni itu, untuk masuk ke dalam kamar Jovi.


"Kreekkkk....," Bik Yuni membuka pintu.


Pemandangan yang terlihat di dalam kamar adalah sisa handuk, alat make up, serta baju kotor tergeletak di atas ranjang. Sendal lantai juga hanya tinggal sisi kanan, tidak ada pasangannya.


Untung saja, Bik Yuni masuk ke dalam kamar, sehingga bisa membantu keberangkatan Jovi, agar dapat berangkat sesuai dengan jadwal penerbangan yang sudah tertulis.


Kamar tersebut, nampak tidak seperti biasa. Bik Yuni mengemas baju kotor serta handuk basah Jovi, ke dalam keranjang. Sendal sisi kiri sudah terlihat di pasangkan lagi dengan sisi kanan oleh Bik Yuni. Satu persatu tangan Bik Yuni membereskan semuanya.


"Suster Jovi, pasti suster tidak sempat membereskan, haduuh.... semoga suster bisa berangkat tepat waktu," doa Bik Yuni mengikuti.


"Ini bedak suster, foundation, lipstik, maskara, semuanya kenapa berantakan, ya ampun suster, nggak usah make up pun suster udah kelihatan cantik,".


Bik Yuni tampak berbicara sendiri, sambil mengemas alat make up Jovi, yang mulai di kembalikan Bik Yuni pada tas make up kecil milik suster Ernest itu.


Handuk basah yang sudah di ambil Bik Yuni, dari atas bantal. Menyisakan urung bantal menjadi basah. Apalagi warna putih urung bantak tersebut, semakin memperjelas basahnya bantal di kamar Jovi.


" Bantalnya basah, mending aku jemur aja," Bik Yuni mengambil urung bantal basah.


JENG... JENG.... JENG....


Awalnya Bik Yuni tidak mengetahui, ada dokumen penting di bawah bantal tidur itu. Setelah Bik Yuni mengangkat bantal, dan melepas urung bantal. Bik Yuni baru sadar, menemukan map milik Jovi, serta ID Card kantor kakak Aqila itu.


Tadinya Bik Yuni hanya berencana memindahkan dokumen penting milik Jovi saja, tapi ternyata beberapa kertas menyelinap keluar map tidak sesuai, tangan Bik Yuni memaksa harus membenahi dulu semua isi map dengan baik.


"tag....," kertas ijazah Jovi terjatuh.


Bik Yuni membaca santai, suster Jovi pernah menempuh S1 di Stikes Wijaya, kampus milik Toni Wijaya itu. Asisten kepercayaan Tuan Toni tersebut, biasa saja membaca tanda tamat belajar Jovi.


"Suster Jovi cantik sekali waktu masih kuliah, wajahnya masih terlihat imut, belum dewasa," kata Bik Yuni menemukan foto ijazah Jovi.


Tangan Bik Yuni merapikan lagi, membuka berkas, copy salinan surat persetujuan pengunduran diri Jovi, yang juga ada di dalam map tersebut.


Raut wajah Bik Yuni tenang membaca, perlahan ketenangan yang ada di wajah Bik Yuni, berubah menjadi syock. Matanya langsung terlihat kosong, pikiran Bik Yuni tidak bisa connect.


"Suster Jovi, sekertaris..?," Bik Yuni tercengang.


Asisten tuan Toni Wijaya itu, tetap melanjutkan membaca surat pengunduran diri Jovi.


"Tanggal pengundurannya hari ini, siapa sebenarnya suster Jovi? "


Bik Yuni kembali di ingatkan oleh satu persatu kejadian. Asisten itu flashback, Jovi pernah tidak sengaja bilang, saat sebelum mengantar Ernest kontrol ke Rumah Sakit Wijaya.


Saat itu di dapur, Jovi mengatakan bahwa Jovi sudah terbiasa dengan kemarahan boss'nya di kantor. Tapi kemudian Jovi tidak mengaku, malah mengatakan Ernest yang biasa memarahi Jovi.


"Terus kenapa suster Jovi menjadi perawat di rumah ini? kalau dia sekertaris, kenapa suster tidak bekerja?," tanda tanya mulai muncul.


"Apa jangan-jangan suster Jovi adalah suster gadungan?, atau suster Jovi adalah suruhan orang? Ya Tuhan...," tangan Bik Yuni terasa gemetar.


ID Card Jovi juga masih berada di tempat yang sama. Di pegang langsung oleh Bik Yuni, PT. Semesta Grup, Jovi Andrianita beserta foto di dalamnya, melengkapi kejanggalan yang di temukan Bik Yuni.


Apa yang sebetulnya terjadi, Bik Yuni tidak habis fikir dan menyangka, selama ini sikap baik Suster Jovi sudah menipu semua keluarga di rumah Toni Wijaya.


Selama ini, Bik Yuni tau sendiri, bagaimana sikap Jovi selalu begitu baik dengan Ernest, hingga membantu tuan mudanya itu sembuh. Tidak mungkin jika Jovi tega berdusta pada tuan Toni dan keluarga.


Rasa curiga bercampur rasa tidak percaya, masih membuat kondisi hati Bik Yuni dilema. Pertanyaan yang tidak mampu di jawab oleh Bik Yuni, muncul satu persatu.

__ADS_1


"Tiiiinnnn... tiiiinnn..," suara klakson mobil Pak Yoyok datang.


__ADS_2