Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
105. Elegi Esok Pagi


__ADS_3

Mata Jovi berbinar. ia menggeleng kepala.


"Tidak, saya sudah melakukan kesalahan."


Pelukan tubuh Jovi melemah.


"Saya bahkan sudah mengecewakan tuan berkali-kali," kata Jovi lirih.


"Tapi kamu tetap wanita yang saya cintai. Seperti kata saya dan hanya kepada kamu sayang. kamu tetap wanita yang saya pilih menjadi ibu dari anak-anakku nanti."


"Apa masih pantas? sementara saya sendiri sudah memarahi tuan dengan sangat berani dan,"


"Husssst."


Ernest enggan membahas.


Di pelukan, rambut Jovi mengusik hidung mancung Ernest. Dia sadar akan kesalahan yang diperbuat. Ernest terus mengusap helai rambut Jovi sangat lembut.


Ernest melepaskan pelukan. Kedua tangan laki-laki tampan tersebut mencengkram pundak Jovi. Mata Ernest menatap dalam ke arah Jovi.


Pandangannya sangat terlihat teduh, meski tidak bisa di pungkiri, cacian Jovi yang terjadi baru kemarin siang sempat membayang.


Bibir Jovi menurun, mimik wajahnya berusaha menegar wajah. Ia bisa melihat hidung Ernest yang hanya berjarak tidak ada 5 cm dari wajahnya.


"Itu sudah terjadi lusa, untuk apa kita risaukan hal yang sudah terjadi, kita hanya perlu memperbaiki yang ke depan, kita masih punya waktu,"


"Tuaaannn," Jovi tak kuasa menahan. ia menangis memeluk Ernest.


Putra tampan Tuan Toni tersebut tersenyum bahagia.


"Tuhan, apa saya masih pantas untuk mendapatkan ini semua, setelah semua upacan saya yang menyakiti Tuan Ernest. Tuhann, kesempatan ini terlalu indah buat saya, yang tidak bisa saya tebus dengan apapun," kata Jovi di hati.


Perempuan kakak Aqila itu, merasa sangat beruntung dicintai laki-laki seperti Ernest. Laki-laki penyabar, berkedudukan tinggi, dan tetap tidak mencintai Jovi.


Masih di ruangan sama.


Dokter Nalen yang sedari tadi hanya pura-pura tidur. Merasakan kesal, sedih, dan sakit hati, ingin emosi tetapi harus ditahan.


Bagai senjata makan tuan, perbincangan tanpa malu menyusup telinga Dokter Nalen. Percakapan romantis Jovi dan Ernest justru di saksikan oleh Dokter Nalen.


Di atas ranjang, Ernest dan Jovi terlihat sama-sama melepas rindu. Mama serta papa dan Aqila juga nampak asyik di luar ruangan tanpa masuk.


"Tuan,"


"Mmmbb," Ernest mengangkat alis.


"Saya rindu," Jovi tersenyum.


"Iya tau, sama..!! saya juga," jawab Ernest mengelus pipi Jovi.


"Bukan, bukan seperti itu," Jovi menggeleng manja.


"Lalu?," Ernest mengernyitkan dahi.


Jari telunjuk Jovi mengarah ke bibirnya sendiri.


"Haha," Ernest tertawa. ia mengangguk paham sekarang.


"Ternyata kamu bisa nakal ya, cup," Ernest mencium kening Jovi.


Tidak langsung menuruti Jovi. Laki-laki tampan tersebut menggenggam tangan Jovi.


"Janji yang terakhir kalinya ya, bahwa tidak akan ada lagi yang meninggalkan di antara kita."


"Jan," kata itu terhenti.


"Cuupht," Ernest sudah mencium bhi bhir Jovi.


Tangan kedua mereka tampak memeluk Ernest. Rasanya masih sama, hangat sentuhan di bagian itu terasa menjalari tubuh.


Mengerti kondisi Jovi sedang sakit, Ernest mengontrol ciuman yang di berikan. Sebab, tidak mungkin Jovi sanggup mengimbangi.


Sesekali tubuh Jovi sering terdorong ke belakang, saat Ernest "memaksa" masuk dan mencari lidah.


"Euuuummb,"


Suara-suara yang dihasilkan dari bibir mereka. Sedotan Ernest membuat Jovi hampir lemas, hilang tenaga.

__ADS_1


Dokter Nalen awalnya kuat, lama kelamaan ia semakin sudah tidak kuat. Apalagi semakin lama, suara bibir mereka membuat hati geli.


"Uhuukk.. uhuuukkk," Dokter Nalen bangun.


Spontan Jovi melepaskan Ernest, akan tetapi tangan Ernest menahan Jovi. Sungguh, bola mata Jovi langsung melihat ke arah Dokter Nalen.


Sentuhan yang di beri Ernest sudah tidak bisa lagi ia menikmati. Ernest pura-pura saja dengan ketidak tahuannya.


"Jovi, kamu sudah sadar?."


"Mmmbbb," bibirnya masih tersumbat.


"Sudah," Jovi akhirnya bisa menjawab.


Dokter Nalen melihat Ernest. Tepat berada di seberang ranjang sisi satunya, Ernest tidak membalikkan badan. Jovi meminta Ernest melihat Dokter Nalen.


"Tuan, ada Dokter Nalen."


"Ouh iya," kata Ernest tanpa melihat.


"Maaf mengganggu kalian berdua, seharusnya saya tidak memiliki kapasitas untuk ketiduran di sini, tadi aku kelelahan Jov soalnya," Dokter Nalen memasang wajah muram.


"Tidak papa Dok, terima kasih atas semua niat baiknya," Jovi bergerak kurang nyaman.


"Ernest, saya minta maaf, harusnya anda yang menunggui Jovi di sini, saya mengambil tempat anda, maaf sekali saya tidak bermaksud apa-apa."


Ernest akhirnya balik badan. Dokter Nalen menggulung kedua tangannya di samping saku sebelah.


"Ya nggak papa, asal jangan ambil Jovi saja hehehe, Saya berterima kasih juga, Dokter Nalen sudah mau menjaga Jovi yang sudah berstatus calon tunangan saya, lain kali tidak perlu repot-repot."


Dari situ Dokter Nalen naik pitam dan merasa di rendahkan.


"Ouh dan juga iya, satu lagi..!! maaf, pacaran kami tadi menganggu tidur anda."


"Baru calon tunangan ? di luar sana, yang menikah saja banyak yang bisa cerai haha."


"Dokter," Jovi memarahi.


"Jovi harap Dokter Nalen bisa menghargai keputusan Jovi. Doakan kami yang baik-baik itu lebih membuat saya bahagia. Bukan malah mendoakan yang tidak-tidak."


"Aku nggak mendoakan Jovi. Aku hanya berpesan, jangan terlalu mencintai seseorang dengan lebih, karena Tuhan tidak suka dengan yang berlebihan."


"Iya, betul memang. Karena ada orang yang berlebihan di sini, sampai tidak mau menerima kenyataan." jawab Ernest.


Jovi menjadi penengah tanpa ucapan apapun. Dokter Nalen sudah merah padam, sedang Ernest sangat kesal, apabila mengingat tentang kelicikan Dokter Nalen membawa Jovi ke RS Intan Medika.


Dokter Nalen beranjak dari kursi.


"Cekleekk.."


Mama Jovi membuka pintu.


Dibarengi dengan Aqila dan papanya. Mereka bertiga saling memandang melihat Jovi, Ernest dan Dokter Nalen sedang bersi tegang.


Papa Jovi memecahkan suasana.


"Dokter Nalen, terima kasih banyak atas sarapannya. Kami bertiga sudah kenyang sampai perut segendut siapa Qila?."


"Gendut seperti tuan crab papa."


"Bukan Tuan Ernest ya Qil?," sahut mama Jovi.


Mereka tertawa. Akhirnya Jovi, Ernest juga Dokter Nalen ikut pura-pura tertawa. Ponsel Ernest bergetar, semua tatapan mereka mengarah ke Ernest.


Aqila kemudian turun dari gendongan. Mama Jovi menghampiri anaknya, sementara Dokter Nalen berada di dekat papa Jovi.


"Jovi, kamu sudah bangun sayang?," tanya mama Jovi.


"Sudah ma."


"Dokter Nalen jadi praktik jam berapa? hati-hati telat lo hehehe," papa Jovi mencairkan suasana.


"Maaf sebelumnya tante, apa pesanan saya buat om sama tante belum sampai sini ya?."


"Pesanan apa Tuan Ernest? tidak, om sama tante tidak menerima apa-apa," sahut papa Jovi.


Mama Jovi merasa aneh.

__ADS_1


"Soalnya kurir yang mengirim makanan bilang kalau pesanannya sudah sampai, dan sudah di terima keluarga Jovi."


Mama dan papa Jovi saling berpandangan. Dokter Nalen mulai panik, bahwasanya ia yang menerima bingkisan tersebut dari kurir.


"Pesanannya ayam bakar dan ayam goreng?," tanya mama Jovi.


"Kok bisa sama ya..??," kata mama Jovi tidak beres.


Dokter Nalen langsung terlihat gugup.


"Iya tante, sudah di kirim tadi pu,"


"Salah ruangan mungkin atau kalau nggak begitu salah alamat, jangan-jangan di kirim ke RS Wijaya Pak Ernest," Dokter Nalen memotong pembicaraan.


"Alamatnya benar di sini, kurir juga sudah mengatakan pesanan telah sampai. Harusnya tidak mungkin salah, kecuali ada orang yang mengaku ngaku sebagai keluarga Jovi."


"Maksud anda apa? anda menuduh saya?," ucap Dokter Nalen bersuara tinggi.


"Saya tidak menunduh anda Dokter Nalen," Ernest kaget dan bingung.


"Jelas-jelas saya yang sudah membawakan ini semua untuk Om Yusuf dan tante Rita, anda pikir saya akan melakukan cara murahan seperti itu," emosinya sangat tinggi.


"Tapi saya rasa, anda ini dari tadi ingin sekali melihat saya terlihat buruk di depan orang tua Jovi ya? saya yang mengirim sarapan itu untuk orang tua Jovi," Dokter Nalen mencari pengakuan.


"Sudah, sudah..!! Dokter Nalen, yang di maksud Ernest pesanannya belum sampai di karenakan mungkin, ada pengunjung pasien, atau siapa diluar yang mengaku kerabat Jovi," papa Jovi melerai.


"Maksud saya juga begitu om," Ernest mengangguk.


"Ya walaupun makanannya tidak sampai, terima kasih juga ya Ernest. Mungkin, orang yang mengambil memang lebih membutuhkan."


"Iya om, lain kali saya akan menyuruh sopir saja."


Mama Jovi semakin percaya, bahwa sarapan pagi yang di bawa Dokter Nalen bukanlah dari Dokter tersebut. Lirikan mama Jovi melihat malas pria berjass putih tersebut.


Karena perbuatannya sendiri, Dokter Nalen malu, laki-laki yang juga berkulit putih ini, diam seribu bahasa. Apalagi Jovi, ia sama sekali tidak tahu menahu.


Seolah masih tak mau kalah, Dokter Nalen masih menjawab lagi.


"Ya mungkin ini bisa dijadikan pembelajaran, jadi sedikit-sedikit jangan kurir, sedikit-sedikit sopir, karena orang yang kita cinta, tentu lebih bahagia dengan kehadiran kita, meski tanpa buah tangan," kata Dokter Nalen.


Papa Jovi mengangguk setuju. Ernest sudah kebal dengan pencitraan Dokter Nalen, selama di depan calon besan dari Toni Wijaya.


Jovi melihat suasana tidak ada yang cair, masih tegang sendirinya. Raut wajah Ernest juga tidak sebahagia saat datang, Jovi lalu memutar cara.


"Dokter Nalen," panggil Jovi.


Dokter Nalen menoleh.


"Besok kalau saya dan Tuan Ernest bertunangan. Dokter Nalen jangan lupa datang ya..!! karena Dokter adalah tamu istimewa dan tentu saya akan sangat senang sekali Dokter."


"Aa,aa, a.. iya, iya..!! pasti, aku pasti datang di hari bahagia kamu Jov, pasti itu. Karena kamu juga sangat berarti bagi aku," ucapan terakhir Dokter Nalen sempat terbata-bata.


Mama dan papa Jovi langsung tersenyum. Berarti pernikahan ini akan terjadi. Mereka berdua saling mencuri pandang senyum bersama.


"Iya Dokter Nalen, persahabatan kalian kan sudah sangat lama, dari dulu Jovi masih kuliah dibantu skripsi, diantar pulang, tapi namanya jodoh yaa tetap cuma satu," papa Jovi tersenyum.


"Akhirnya anak mama menemukan jodohnya, datang ya Dokter Nalen.." mama Jovi girang sekali.


"Iya Dokter, saya juga akan ikut senang," Ernest ikut-ikutan mertuanya.


"Pasti tante, pasti om," ucap Dokter Nalen memaksa senyum.


Hari ini Ernest menang. Dewi fortuna sedang berada di pihak CEO utama Wijaya Grup. Sehebat apapun melepaskan, akan tetap bertahan karena campur tangan Tuhan.


"Kalau begitu, saya permisi pergi tante, om, Jovi, dan Pak Ernest. Karena saya ada praktik jam 9 ini," Dokter Nalen mengalungkan ID Card.


"Iya Dokter Nalen, hati-hati," ujar papa Jovi.


"Iya, selamat bertugas," mama Jovi menjawab.


Ernest mengangguk.


Dokter Nalen pergi.


Merasa tidak setegar karang lagi, ia keluar ruangan. Bagaikan di hempas syantik, laki-laki yang juga berparas tampan itu meremas gagang pintu saat menutup pintu.


"AWASSS saja Ernest, akan kubuat hidup kamu tidak tenang dan bahagia di samping Jovi. Sampai akhirnya kamu benar-benar paham bahwa posisi loe bukan di samping Jovi," ucapnya di hati.

__ADS_1


Kata-kata tersebut di ucap Dokter Nalen seperti ia bersumpah dengan dirinya sendiri, bahwa tidak akan membuat Ernest bahagia bersama Jovi.


__ADS_2