
Ini kali pertama, Ernest akan berpisah dengan Jovi, dalam waktu yang lama. Karena pekerjaan, Ernest di haruskan untuk bertandang ke Jakarta, menemui klient juga investor dari negara Swiss.
Tadinya putra Tuan Toni tersebut, berencana mengajak Jovi untuk pergi ke Jakarta. Namun, mengingat habisnya masa kerja Jovi yang tinggal hitungan hari, semua mengurungkan niat Ernest.
Jovi sendiri berharap, sebelum dirinya benar-benar pergi meninggalkan rumah megah Tuan Toni. Jovi ingin mengucapkan salam perpisahan, menjabat tangan dua tuan di kerajaan wijaya tersebut.
"Bik Yuni, Pak Yoyok, Pak Rahmat, saya titip rumah ya..?? selama tidak ada papa dan saya, rumah ini menjaga tanggung jawab semua para pekerja, mengerti..??."
"Mengerti tuan," jawab Pak Yoyok.
"Baik tuan," sahut Bik Yuni.
"Siap tuan," tandas Pak Rahmat.
"Tuan Ernest jaga diri baik-baik ya di Jakarta? tuan jangan lupa minum obat, meskipun pekerjaan tuan banyak, tuan harus ingat makan tepat waktu ya tuan?,"
"Iya suster, iya, saya pasti jaga diri, Suster Jovi, juga jaga diri baik-baik ya..!!"
"Iya tuan,"
"Suster jangan lupa makan, jangan juga keluar tanpa izin lagi ya, saya tidak lama kok," Ernest mengusap lembut kepala Jovi.
"Ciiiieeeee....," celetuk Pak Rahmat.
"So weeet mat.....," Pak Yoyok tak kalah iseng.
"Guemessshh.. mes.. mes.. Yok," tingkah Pak Rahmat lucu.
"Huussssttt...., heh, Rahmat, Yoyok," Bik Yuni langsung memicingkan matanya.
"Ehhh.. sudahh, sudah, Rahmat, Yoyok sudah atuh," Bik Yuni menurunkan tangan Pak Rahmat yang seperti cherybelle.
"Hehehehe.....," Pak Yoyok tercengir.
Pak Rahmat dan Pak Yoyok nampak memasang wajah lucu, keduanya melakukan semua, tanpa merasa berdosa. dua sopir itu bak remaja, sedang menertawai temannya yang di landa cinta.
Ernest dan Jovi langsung terlihat salah tingkah, karena ulah jahil Pak Rahmat dan Pak Yoyok. Sedang Bik Yuni hanya geleng kepala, teman kerjanya sangat tidak tau malu.
Jam tangan Ernest tak sengaja, menunjukkan pukul 12.45 siang. Membuatnya sedikit harus mengejar waktu, mesin mobil langsung terdengar menyala, ketika Ernest memerintah untuk segera mengajak ke bandara.
Jaket putih, dengan celanan jeans warna abu-abu, serta kaos santai biru muda, berlari pergi mengikuti Ernest masuk ke dalam mobil. Terik matahari siang itu, mengawal kepergian Ernest keluar dari rumah.
"Ouh ya suster, saya lupa bilang, tadi papa whatsapp, hari ini gaji suster sudah di transfer."
"Terimakasih banyak Tuan Ernest."
"Oke, kalau gitu saya pergi dulu ya..!! Bik Yuni, Pak Yoyok, Suster Jovi, jaga diri semua ya..," Ernest berjalan masuk ke mobil.
"Iya tuan, hati-hati di jalan." suara Bik Yuni mengikuti.
"Rahmat, jangan lupa hubungi rumah, kalau nanti ada kendala di jalan," pesan Pak Yoyok.
"Baik Yok," tangan Pak Rahmat mengucap tanda OK.
Perlahan kaca jendela mobil, mulai naik ke atas, ditutup tangan Ernest. Lambaian Jovi dan Bik Yuni serta Pak Yoyok, sedikit demi sedikit sirna dari pandang Ernest.
Mobil yang dikemudikan Pak Rahmat, berjalan keluar dari pintu gerbang rumah. Jovi melihat mobil Ernest keluar, hingga tak menyisakan ekornya lagi. Sedangkan Bik Yuni dan Pak Yoyok sudah duluan pergi.
Kepergian Ernest mengantar lamunan Jovi pada peristiwa beberapa bulan silam. Perempuan cantik tersebut, mengingat pertama kali, bagaimana dulu dinginnya Ernest pada dia.
Tetapi tidak terasa, 3 hari lagi, Jovi akan hengkang dari rumah, dan tidak bisa lagi bertemu Ernest. Rasanya, Jovi ingin membuat waktu berjalan lambat, di akhir masa kerja sebagai suster untuk tuan muda, semua teras begitu cepat.
"Tuan Ernest, apakah kita masih bisa bertemu ? setelah nanti, saya sudah tidak menjadi suster Tuan Ernest lagi, apakah tuan juga masih sudi, membalas pesan, jika saya menanyakan kabar tuan?."
"Jalan kita berbeda tuan, saat ini Tuhan hanya sengaja mempertemukan kita, sebelum akhirnya kamu akan kembali asing lagi Jov, dimana asal kamu berada? ya di situ kamu, kamu tidak pantas berada di rumah ini." gejolak hati Jovi meratapi.
Jika biasanya melunasi hutang papa Jovi, adalah hal yang sering menyita pikirannya. Saat ini, Jovi justru lebih sering meratapi akhir masa kerja dirinya menjadi suster.
Pikirannya bergerilya, berandai-andai yang tidak-tidak. Seandainya Jovi memiliki biaya, dia ingin kembali kuliah mengambil jurusan S1 perkantoran, agar bisa menjadi sekertaris di kantor Ernest.
Namun semua hanya isapan jempol belaka, hutang pokok dan bunga dari pinjaman yang di berikan Fictor, lebih dulu memangkas semua mimpi indah Jovi.
Dunia sangat tidak adil, di usia yang masih terhitung muda, tekanan dalam kehidupan Jovi silih berganti. Di tindas, di bully, semua sudah menjadi makanan sehari hari perempuan cantik tersebut.
"Triiiingggg... tingggg.. tingg...,"
PAPA MEMANGGIL......
__ADS_1
Belum ada 2 jam, percakapan Jovi dengan papanya di dalam taksi. Ponsel Jovi sudah berdering lagi. Nampaknya papa Jovi ingin mengajak lagi putri cantiknya itu berbicara.
"Hallo pa,"
"Hallo Jov, kamu lagi sibuk?,"
"Nggak pa, ada apa pah? kok tumben papa telpon siang begini, kenapa pah..?," Jovi heran.
"Barusan tiba-tiba papa dapat surat, surat itu berisi penjelasan, bahwa uang pinjaman yang diberikan Om Purwo, bunganya naik 25% Jov, pasti kamu tau, kenapa bisa begitu? apa yang sebetulnya terjadi?, kamu jangan buat papa bingung Jovi."
"Aaaaa... nanti Jovi jelaskan kalau Jovi sudah pulang saja pa, ceritanya panjang, Jovi takut kalau Jovi jelasin di telefon, papa nanti salah paham."
"Terus Jov, uang apa yang akan kita buat bayar ke Om Purwo?? ini sama saja, laba perusahaan yang udah mulai normal, nggak jadi normal, karena cuma buat bayar bunga ke Om Purwo aja Jov," papa terdengar Jovi pasrah.
"Jovi... 195.000.000 sebulan itu dari mana? jumlah itu sangat banyak Jov..!! bahkan laba kantor papa saja, satu bulannya jarang mencapai angka itu, Ya Tuhan Jov... apa lagi yang kamu lakukan? papa udah nggak habis fikir sama kamu."
"Jovi masih ada tabungan sedikit pa, buat bayar bunga bulan ini, tambahannya nanti kita bisa jual apa gitu pa..?? ya pah ya..??," suara Jovi ketakutan.
"Jual apa lagi Jov, jual mobil kamu? jual mobil papa? iya sebulan jual mobil, besoknya lagi jual apa? habis Jov, kalau kamu buat seperti itu," air mata papa Jovi keluar menetes.
"Ya Tuhan, Jovi, Jovi, kamu kenapa bikin pening papa, stress Jov papa, kalau kamu terus terusan seperti ini, ditanya masalahnya apa? kamu nggak jawab, nggak ngaku,"
"Sebenarnya mau kamu itu apa? kalau kamu udah nggak bisa nurut lagi sama papa, nggak usah pulang, jangan pulang ke rumah, pergi saja sejauh jauhnya," bentak papa Jovi tak terhindar.
"Papa jangan, Jovi tetep mau pulang pa, Jovi cuma nggak mau papa nambahin beban pikiran papa, Jovi janji nanti kalau Jovi pulang, Jovi akan jelasin semuanya ke papa, Jovi janji akan cari cara untuk melunasi hutang ke Om Purwo,"
"Bunga hutang naik 25% apa itu namanya kalau nggak nambahin beban, kamu sudah dewasa Jovi, harusnya kamu bisa berfikir, ekonomi keluarga kita masih sulit, kalau sudah tahu Fictor akan menaikkan suku bunga, apa kamu nggak bisa, sedikit saja bertahan di kantor semesta, tau lah papa kecewa sama kamu."
"Hikss... pah, maafin Jov, selama ini Jovi selalu nyusahin papa. Jovi nggak ada,"
"Tuuttt... tuuttt.. tuuutt...," sambungan telepon langsung diputus papa Jovi.
Seketika itu, rasa hati Jovi seperti disayat banyak pisau tajam. Amarah papa Jovi akhirnya tidak bisa tertahan, setelah mengetahui suku bunga tiba-tiba naik 25% dari bunga sebelumnya hanya 7%.
Terik matahari seolah mengerti kesedihan yang dialami suster cantik Ernest tersebut. Sengatan matahari lebih menurun, cuaca berubah mendung, meski belum ada tetesan air surga, sedang jatuh membasahi bumi.
Diakhir masa kerja, semua masalah datang menghantam secara bertubi-tubi. Tak pandang, mental apa yang dimiliki Jovi, beban hutang, beban rasa berdosa, penjelasan yang belum selesai ke Ernest, jadi satu menjadi depresi.
Jovi masuk ke dalam kamar, derai air mata, belum seberapa memenuhi wajahnya, langsung dihapus paksa tangan Jovi, tanpa menyeka terlebih dulu.
Satu persatu pakaian yang tergantung pada almari, dijatuhkan ke arah koper hitam oleh Jovi. Tangan perempuan cantik tersebut, melipat cepat semua baju yang sudah di keluarkan Jovi.
Kata-kata dari papa Jovi, masih terngiang di kepala. Suara kecewa dari papa Jovi bisa dirasakan oleh putri sulungnya tersebut. Meski tidak bertatap muka, semua tetap menorehkan luka yang sama, sama-sama pahit.
"Apa yang kamu cari Jovi? bukankah semua tujuan kamu, adalah membahagiakan kedua orang tua kamu, kenapa kamu justru membuat papa sedih, membuat beliau kecewa Jovi," batinnya tersiksa.
"Ini sudah melelahkan, ayoo pulang Jov, rumah adalah peristirahatan yang paling nyaman, sekalipun itu dibawah kolong jembatan," tangis Jovi berderai.
Triiinggg... tinggg.. tinggg..
ERNEST MEMANGGIL.......
Ada apa lagi, Ernest menelpon, hampir seharian, ponsel Jovi silih berganti menerima panggilan telepon. Isak tangis masih menggaung di dalam kamar, perlahan di atur normal, agar Ernest tidak menaruh curiga.
Belum ada 3 jam meninggalkan rumah, apa lagi yang dicari maupun di minta Ernest. Jovi menggeser tombol panggilan telepon ke samping, disitu langsung terdengar suara Ernest.
"Hallo,"
"Hallo suster."
"Ya tuan, ada apa? kenapa tuan menelpon? apa obat yang saya bawakan di kotak, salah ya tuan? atau gimana?."
Jovi berharap tidak ada masalah lagi, menghantam dirinya. Telepon dari Ernest siang itu, mengusik ketenangan, takut jika Jovi menyumbang kesalahan baru.
"Hehehe... Susteerrr.. ini saja saya masih di bandara, pesawat sedang delay.. ini saya masih menunggu,"
"Ouh begitu, saya kira tuan sudah sampai di Jakarta,"
"Belum kok belum, ini saya masih di ruang tunggu."
"Terus ada apa tuan? kenapa tuan menelpon saya? tuan butuh apa, nanti saya sampaikan ke Bik Yuni, atau kalau nggak gitu, ke Pak Yoyok, kenapa tuan?,"
"Tidak kok, ini saya ma-mau bilang kalau masih di bandara, i-iya begitu maksudnya," Ernest beralasan.
"Ouh, saya kira ada apa, sudah hanya itu saja? kalau begitu saya tutup telponnya ya tuan? habis ini saya langsung kasih tau Bik Yuni,"
"Ja-jangan dulu suster, sebentar?,"
__ADS_1
"Ya tuan, kenapa lagi?."
"Aaaa... suster sudah tidur siang?," tanya Ernest bingung mencari pembahasan.
"Hah...?? tidur siang? kenapa memang, saya belum tidur siang tuan, lagian ini juga sudah menjelang sore,"
"Ouh iya ya, sudah sore, Suster Jovi sudah suster tidur sore?,"
"Hahaha.. gimana sih tuan ini? saya tidak mungkin tidur sore tuan, ini saya sedang merapikan sisa racikan obat yang sudah tuan bawa tadi."
"Ya-ya kan maksudnya ya kan sekarang saya tidak ada di rumah, jadi suster mungkin bisa tidur siang begitu," Ernest mengeles.
"Ouh begitu to, nggak tuan, meskipun tuan tidak di rumah, saya tidak tidur,"
Percakapan Ernest dan Jovi di telepon, ternyata menyimpan senyum malu Jovi saat di dalam kamar. Rasa bahagia, langsung melukis senyum manis, yang terlihat di tahan oleh kakak Aqila tersebut.
Berbeda dengan Jovi, sore itu di bandara, Ernest justru kehabisan ide mencari topik percakapan dengan Jovi. Walaupun hanya via suara, tidak biasanya Ernest menjadi seperti laki-laki telmi alias telat mikir.
Jovi tidak menyadari, jika putra tampan Tuan Toni tersebut, hanya ingin mendengar suara Jovi, yang tiba-tiba di rindukan oleh Ernest, saat menunggu delay di bandara juanda Surabaya.
"Suster...,"
"Ya tuan, kenapa?."
"Suster, sudah aaa.... makan? iya suster sudah makan?."
"Belum tuan, habis ini, Tuan Ernest juga apa sudah makan?," tanya Jovi malu-malu.
"Tadi barusan saya makan sama Pak Rahmat sebelum masuk bandara, Suster Jovi jaga kesehatan ya..?? jangan sampai maag suster kambuh lagi, meskipun saya jauh, tapi saya peduli akan kesehatan suster,"
"Terimakasih tuan, tuan juga jaga kesehatan,"
"Suster itu anak perempuan pertama, jadi suster harus memberi contoh pada adik suster, ya meskipun saya sendiri tidak punya adik, kakak itu sebagai contoh dan panutan, kalau makan saja tidak bisa dijaga, bagaimana suster menjaga diri, ya kan?."
Jovi tersenyum, dengan ponsel di telinga kiri.
"Iya tuan... hehehe.."
Kata-kata itu mengalir begitu saja, lewat bibir indah Ernest. Semua yang di dengar Jovi dari dalam telepon, membuat dirinya tersenyum sendiri. Jovi merasa senang, perhatian Ernest ternyata begitu menyulap hati lembuh suster Jovi.
Sisa air mata yang tadinya masih menetes membasahi pipi Jovi. Perlahan hilang mengubah menjadi senyum. Kesedihan yang di alami Jovi, sejenak terlupakan, sebab telepon Ernest sore itu.
Belum ada satu hari Ernest dan susternya berpisah. Kerinduan antara mereka berdua nampaknya sudah memenuhi ruang hati. Kepergian Ernest yang masih diperkirakan sehari, dua hari itu, mengajak Jovi harus bersabar.
"Tuan Ernest,"
"Ya kenapa?."
"Kalau masa kerja saya sudah habis, lalu Tuan Ernest belum bisa pulang dari Jakarta, berarti kita sudah tidak bisa bertemu lagi tuan?."
"Kenapa begitu? bisa kok, kecuali Suster Jovi pindah ke planet pluto, baru kita tidak bisa bertemu, ada-ada saja,"
"Hahaha.. tuan," tawa Jovi terdengar bahagia.
"Ya nanti saya usahakan, sebelum masa kerja suster habis, saya sudah kembali lagi ke Surabaya, walaupun kemungkinan hal itu sangat kecil, tinggal menyesuaikan dengan klient saya suster, maklum kerja banyak, sampai lupa nikah," celoteh Ernest.
"Hehehe, nggak papa tuan, nanti saya sowan (pergi) ke rumah tuan lagi saja, untuk pamit ke Tuan Ernest dan Tuan Toni juga,"
"Iya, begitu juga lebih baik suster, atau sekalian aja kita keluar bareng, suster bilang kan ada yang masih ingin suster jelaskan ke saya, masalah apa lagi sih? hahaha,"
"Hehehe.., ya saya tidak sebaik yang Tuan Ernest lihat, saya banyak salah dengan tuan dan juga keluarga, saya ingin meminta maaf untuk semuanya tuan," perlahan Jovi mulai membuka pengakuannya.
"Suster Jovi, saya beritahu ya..!! kita itu tidak bisa menilai diri kita sendiri, yang bisa menilai baik buruknya kita itu, ya orang lain, jadi suster jangan seperti itu, itu tidak baik untuk mental suster, terlalu merendahkan diri, sampai lupa bahwa kita juga punya harga diri." nasihat Ernest mengikuti.
"Suster Jovi, bagi saya, suster bukan orang baik, tapi suster lebih dari baik, semua orang memiliki kacamata sendiri-sendiri dalam hal penilaian, suster tidak perlu menjelaskan tentang siapa suster kepada siapapun, karena yang membenci suster tidak akan mempercayai itu, dan yang menyukai suster tidak butuh itu semua, Mengerti?,"
"Mengerti tuan,"
"Sudah dulu ya suster," Ernest tidak fokus.
"Pesawat saya sudah datang, penerbangan sebentar lagi, salam ya suster buat semua orang di rumah, saya berangkat dulu, daaa... suster"
"Iya tuan, hati-hati,"
"Tuuutt...," telepon Ernest sudah ditutup.
Mendengar nasihat baik dari Ernest, tidak terasa berhasil membuat Jovi menangis. Jovi selalu dibuat menangis, atas sikap baik Ernest, nasihat-nasihat baik yang Ernest berikan, selalu menyentuh hatinya.
__ADS_1
Semua kebaikan Ernest, cara Ernest menghargai orang lain, kepercayaan Ernest pada Jovi, tak hayal membuat Jovi dibunuh rasa bersalah lebih dalam.
Sebaik itu, putra Tuan Toni memperlakukan susternya, tetapi apa yang dibalas Jovi, mengungkap jati dirinya saja, itupun belum berhasil sepenuhnya baru 50% di lakukan. Sisanya masih menjadi hutang.