Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
21. Kabar Bahagia Kondisi Ernest


__ADS_3

Pukul 06.15 Ernest sudah terlihat tampan, dengan atasan kemeja biru tosca tanpa motif yang dipilih Jovi, serta bawahan celana warna abu-abu.


Sepatu sport warna putih dipilih Ernest sendiri, untuk dikenakan pada kedua kakinya. Jam tangan merk rolex warna abu-abu menghiasi lengan tangan Ernest, juga terlihat melengkapi penampilan hari ini.


Setelah mempersiapkan keberangkatan Ernest, check up ke rumah sakit dengan cukup lama. Ditambah lagi menyiapkan bekal, serta segala pernak-pernik yang dibutuhkan Ernest, Akhirnya Jovi bisa menyusul Ernest masuk ke dalam mobil.


Pagi ini, Jovi sudah benar-benar memastikan, tidak ada kekeliruan yang dilakukan dirinya. Sebelum akhirnya, mobil pajero sport hitam milik Ernest membawa mereka berdua pergi.


"Dreeett.. dreeettt.. dreeet..." (Ponsel Jovi bergetar)


Jovi merasakan getar di dalam saku celana kain, berwarna putih yang dirinya kenakan. Jovi lebih memilih meraba menggunakan tangan kiri, agar nantinya apabila Fictor yang menghubungi, Jovi bisa segera mengubah sikap.


"Bagus kalau keadaan si Ernest semakin memburuk, loe harus buat keadaan dia lebih semakin memburuk lagi.." (isi pesan whatsapp Fictor)


"Baik Pak Fictor, 2 malam ini saya sudah sengaja, tidak mengolesi alergi Pak Ernest dengan salep yang sudah dikirim dari rumah sakit. Biar bintik-bintik merah Pak Ernest tidak segera sembuh" (Jovi membalas pesan chatt)


"Bagus, kepintaran loe udah ada peningkatan" (pesan terakhir Fictor, sebelum akhirnya Jovi memasukkan ponsel kembali)


Jovi sedikit tidak percaya ternyata, dirinya lebih cerdik dari atasannya tersebut. Yang dengan mudah Fictor langsung mempercayai, ucapan perempuan, mengantar Ernest pergi.


Hari ini menjepit poni rambutnya ke belakang, kebiasaan itu, selalu menjadi gaya rambut yang sering digunakan olehnya. Ketika Jovi bosan dengan poni menyamping yang dia miliki.


Belum selesai Jovi berbangga diri, atas keberhasilannya membohongi Fictor berkali-kali. Ternyata kereta beroda empat yang dikemudikan Pak Rahmat, sudah menghentikan mobil pada tempat parkir.


Tempat parkir milik rumah sakit, yang memang sudah dikhususkan hanya untuk para direksi rumah sakit, dan orang yang berkepentingan khusus.


"Kita sudah sampai tuan," Pak Rahmat memberitahu lewat pintu jendela.


"Baik Pak Rahmat," kata Ernest mempersiapkan diri keluar mobil.


"Nanti saya nunggu sini, atau seperti dikantor, saya pulang dulu tuan?," tanya Pak Rahmat membantu Ernest.


"Tunggu disini saja Pak Rahmat."


"Baik tuan, tuan masuk dengan suster Jovi?."


"Iya Pak Rahmat."


Pak Rahmat lalu menganggukkan kepala. Pria yang sudah setia mengabdi kepada keluarga Toni Wijaya tersebut, mengeluarkan kursi roda dari arah bagasi mobil.


Ernest membantu tubuhnya, untuk berusaha duduk sendiri diatas kursi roda. Tubuh dan kondisinya dipaksakan agar segera sehat, mengingat banyaknya pekerjaan masih menanti.


"Pak Rahmat disini dulu ya..!! saya dan suster Jovi tidak lama," Ernest mewanti.


"Baik tuan, saya tunggu di dalam mobil," jawab Pak Rahmat membungkukan diri setengah badan.


"Ayo suster," kata Ernest mengkomando.


"Baik tuan," anggukan Jovi menyertai.


Suasana di depan pelataran, rumah sakit swasta terbesar di Surabaya tersebut, masih menunjukkan keadaan sepi. Beberapa pegawai yang menahan kantuk, semua terlihat.


Belum ada para pengunjung yang datang menjenguk, maupun pergantian shift para karyawan serta perawat pagi itu. Dimana sebetulnya, pergantian shift sudah ditunggu-tunggu oleh semua pegawai.


Mungkin karena memang Ernest datang diwaktu yang salah, dimana waktu masih sangat begitu pagi. Bahkan jam besar diatas gedung rumah sakit, baru saja menunjukkan pukul 06.45.


Jovi mendorong kursi roda Ernest, melewati halaman parkir yang tumpah, oleh motor roda dua para pengunjung. Kembalinya Jovi ke rumah sakit, selalu mengingatkan hal-hal kecil yang dilakukannya pada saat sekolah.


Rasa penyesalan Jovi kadang terbersit pada hati kecilnya. Dimana dulu menjadi seorang perawat adalah cita-cita utama Jovi. Hati perempuan lemah lembut itu digerogoti ingin memutar waktu, kembali ke masa lalu.


"Selamat pagi Pak Ernest," sapa salah satu perawat yang kebetulan berpapasan dengan mereka.


Seperti biasa, Ernest hanya mengangguk.


"Selamat pagi Pak Ernest," kali ini sapaan dari pegawai rumah sakit.


Lagi-lagi Ernest hanya mengangguk.


Lamunan Jovi terbuyar setelah sapaan yang diucap oleh perawat dan pegawai rumah sakit pagi itu. Kursi roda yang didorong Jovi, memasuki pintu utama koridor. Melewati para pegawai shift 3 yang akan berakhir pukul 07.00.


"Selamat pagi Pak Ernest."


"Selamat pagi bapak."

__ADS_1


"Pak Ernest.. selamat pagi."


Semua saling sahut menyahut, menandakan bahwa Ernest Wijaya bukanlah orang sembarangan di dalam rumah sakit. Nama rumah sakit, yang sama dengan akhiran nama milik Ernest.


Jovi melihat kasihan, wajah lusuh bercampur lelah yang terlihat di wajah para perawat. Tapi tetap mampu memberikan senyum pada Ernest, dengan tulus dan manis.


Anak-anak magang yang sedang berada pada shift 3 rumah sakit, pasti segera berharap, jarum jam menunjukkan pukul 07.00. Dimana ternyata, peraturan shift dirumah sakit Wijaya sama sekali tidak ada perubahan.


"Tuan, cobalah Tuan Ernest memberikan senyum pada mereka," dia berbisik pelan.


"Malasss ahh..," ucap Ernest.


"Lihatlah tuan, bagaimana baiknya mereka. setelah lelah bekerja tapi masih mau, memberikan senyum tulus pada tuan," lihat Jovi tak tega.


"Sudah jadi tugasnya," Ernest hanya mengucapkan itu.


"Baiklah tuan jika begitu," ucapnya pasrah.


Jovi melajukan lagi kursi roda Ernest.


Sikap kaku Ernest, mungkin menurun dari Tuan Toni yang terlahir sangat disiplin. Jovi masih tidak habis pikir, satu-satunya laki-laki pewaris tunggal kekayaan harta Wijaya itu, sangat begitu dingin dengan orang luar.


Padahal jika dibanding dengan para pegawai dirumah, Ernest bisa melembutkan sikap dan selalu berbaik hati. Ernest tidak biasa membuka sikap dengan orang luar, sikapnya benar apatis.


Setelah itu, Ernest dan Jovi masuk keruang praktik Dokter Edo spesialis orthopedhi. Lagi-lagi Jovi sedikit malu, jika harus dipertemukan Dokter Edo begitu sering. Pasalnya Dokter Edo mengetahui banyak semua masa lalu Jovi.


"Kreeekkk.." (Ernest membuka pintu lalu masuk)


"Selamat pagi Pak Ernest," sapa Dokter Edo.


"Selamat pagi juga dokter," Ernest menyapa balik.


"Wahh.. hari ini Pak Ernest datang dengan suster cantik Jovi," puji Dokter Edo sembari tertawa.


Jovi tersipu malu


"Kok bisa cantik, dulu mama kamu nyidam apa sih?? Jovi.. Jovi..," Dokter Edo tersenyum menggeleng kepala.


Ernest ikut tersenyum mendengar itu.


Meskipun sudah beberapa tahun tidak pernah bertemu, tetapi semuanya masih natural . Sama persis saat Jovi masih menjadi mahasiswa, di kampus bersama dengan Ola.


"Memang keren rekrutmen anda Pak Ernest..!! dapat suster paket komplit.. sudah pintar dan secantik Jovi," puji Dokter Edo terulang lagi.


"Hahaha.. anda berlebihan dokter," tutur Ernest merendahkan diri.


Walaupun di dalam ruangan, Dokter Edo dan Ernest selalu menggodai Jovi. Perasaan perempuan cantik itu, masih belum bisa tenang.


Jovi masih khawatir, Dokter Edo dan Ernest akan kembali mencerca, dengan pertanyaan seputar perekrutan yang gagal di rumah sakit tempo lalu.


Tidak lama setelah itu, Ernest kemudian diperintah Dokter Edo, untuk membaringkan tubuh diatas bed cover ruang praktik rumah sakit. Semua ternyata seperti apa yang dikatakan oleh Jovi tadi malam, terjadi benar-benar betul.


Hari ini Ernest sudah bisa melakukan lepas gips dari tangan kanannya. Kebahagiaan Ernest semakin terlihat, ketika gips ditangan Ernest benar-benar sudah berhasil dilepas. Setelah Dokter Edo memberikan penanganan.


"Selamat ya Pak Ernest, gipsnya sudah bisa dilepas.. dan kondisi Pak Ernest juga semakin membaik," Dokter Edo bahagia.


"Terimakasih Dokter Edo, semua juga berkat bantuan Dokter Edo dan Suster Jovi," kata Ernest sangat berbahagia.


"Sekarang hanya sisa kaki Pak Ernest, yang masih di gips.. kemungkinan semakin akan membaik dalam 2 minggu ke depan," kata Dokter Edo menulis resep untuk pasiennya.


"Syukurlah.. Karena akhir bulan saya sudah harus terbang ke Jakarta dokter," Ernest mengingat jadwal.


"Wah... Pak Ernest harus benar-benar jaga kondisi ya..!! karena bekas gips dilengan Pak Ernest, belum sepenuhnya bisa dibuat aktivitas normal," Dokter Edo menggeleng aktivitas padat Ernest.


"Hmmmm.. baiklah," Ernest sedikit kecewa.


Kabar membaiknya kondisi Ernest, juga menjadi kebahagiaan untuk Jovi. Perempuan cantik itu, beranggapan masa kerja dirinya akan segera berakhir. Apalagi ditambah kabar baiknya kondisi Ernest.


Jika memang benar bulan terakhir Ernest akan terbang ke Jakarta. Hari terakhir bekerja juga, bayangan Jovi kembali ke rumah, sudah bertebaran memupuk harapan.


"Kalau begitu, Pak Ernest banyak-banyak minum susu, karena susu mengandung kalsium banyak dan baik untuk ulang," ucap Dokter Edo berjass putih.


"Satu karton sehari ya Dok?," canda Ernest.

__ADS_1


"Waahhh.. jangan dong.. overdosis nanti Pak Ernest, bisa-bisa saya langsung dipecat Pak Toni.. bisa mati saya..," tawanya mengikuti.


"Nggak lah.. dokter," Ernest salah tingkah.


"Mana angsuran perumahan saya di grand surya belum lunas Pak Ernest, haduuhh.. pusing nanti saya pak," Dokter Edo tertawa.


Ernest dan Dokter Edo tertawa secara bersama-sama.


Nampaknya sikap over Tuan Toni, mungkin sudah menjadi rahasia umum, untuk semua perawat, pegawai, serta bagian keluarga Wijaya.


Jovi ikut tersenyum, mengingat lagi bagaimana Dokter Edo?? yang ternyata juga takut dengan Tuan Toni, serta semua kondisi yang menyangkut Ernest.


"Hahahaaha.." (Jovi tertawa)


Ernest dan Dokter Edo memandang aneh kearah Jovi.


"Suster...," Panggil Ernest.


"Aahh iya.. tuan," Jovi berhenti tertawa.


"Ada yang aneh ?? sampai kamu tertawa?," tanya Ernest.


"Ha..??," Jovi memandang sekelilingnya.


Perempuan cantik tersebut baru menyadari, jika Jovi tertawa pada saat Ernest dan Dokter Edo, sudah berhenti tertawa lebih dulu. Sehingga terlihat sikapnya sedikit bodoh.


"Ng-nggak tuan, nggak ada tuan," jawabnya tergagap.


"Kamu menertawai saya ya Jovi?? hayoo... ngaku," goda Dokter Edo sedikit mencairkan suasana.


"Bu-bukan dokter, beneran dokter, bukan," Jovi takut salah paham.


"Hahaha nggak kok, saya juga bercanda," Dokter Edo tersenyum.


Pagi ini, Ernest sebetulnya tau apa yang membuat suster pribadinya itu tertawa. Semua tidak lepas, dari sikap Tuan Toni yang ditakuti kebanyakan banyak orang. Terkhusus para pegawai dirumah sakit.


Ernest terlihat bahagia, berkali-kali dirinya membolak-balik lengan, yang sudah lepas dari gips. Dokter Edo yang sekarang sudah memindahkan diri, menulis resep obat diatas meja kerja.


Dokter Edo yang ada didepan Ernest, memberikan selebaran, pada telapak tangan Jovi. Dimana tulisan tangan Dokter Edo, sama sekali tidak bisa dibaca oleh Jovi.


"Jovi, ngomong-ngomong.. kamu sudah punya pacar belum? gimana sama Nalen?? dulu kamu bilang kamu mau fokus kuliah dulu.. sekarang kan sudah lulus lama," tanya Dokter Edo disela-sela menulis resep.


"Hehehe.. dokter Nalen lebih cocok sama perempuan, yang se profesi dengannya saja dokter," suara Jovi memelan.


"Dari dulu jawaban kamu seperti itu terus.. sebetulnya apa sih masalah kalian?," ucap Dokter Edo sedikit membuka masa lalu.


"Tidak ada Dokter Edo," jawabnya.


"Pasti masalah Nalen yang suka mabar ya.??," Dokter Edo menjawab tidak serius.


"Hahaha bukan dok, dokter ada-ada saja," ucapnya tak kuat menahan tawa.


Jovi dan Dokter Edo terlanjur bahagia mengupas masa lalu, hingga lupa ada Ernest yang disulap, hanya menjadi pendengar setia.


Perasaan hati laki-laki tampan tersebut, dibuat bingung siapa Nalen? dan apa hubungannya bersama Jovi?, semua benar-benar tidak ada yang bisa menjawab.


Jarum jam diruang Dokter Edo, menunjukkan pukul 07.30. Telepon diruang Dokter muda itu, juga mulai lebih sering berdering, pasiennya mulai melakukan indent nomor.


Semua membuat Ernest, meminta Jovi agar segera menerima resep, dan segera mengajak pergi keluar ruangan. Agar segera pergi.


Selain karena Dokter Edo akan menerima pasien, Ernest juga sedikit kurang suka, melihat Jovi yang terus-terusan memberi senyum, dan bercanda dengan Dokter Edo.


Sementara dengan putra Tuan Toni, senyum Jovi hanya sebagai formalitas. Rasanya Ernest begitu tidak terima.


"Kalau begitu, terimakasih ya dokter, saya dan suster Jovi permisi dulu," Ernest berpamitan.


"Ouh iya Pak Ernest, dengan senang hati.. saya menunggu kontrol selanjutnya," jawab Dokter Edo beranjak dari kursi.


"Doakan secepatnya," senyum tampan Ernest membersamai.


"Saya juga permisi Dokter, mari," Jovi memamitkan diri sopan.


"Iya Suster Jovi, hati-hati.. dijaga Pak Ernestnya baik-baik ya..!!," pesan Dokter Edo sembari menepuk pundak perempuan cantik kesayangan Ernest.

__ADS_1


Kemudian langkah kaki Jovi, terdengar mendorong kursi roda Ernest keluar ruangan. Pergi meninggalkan ruang praktik spesialis tulang.


Di pagi yang sudah menunjukan suara bising, pada setiap ruang poli. Dimana setiap ruang poli telah dilengkapi antrian panjang para pasien.


__ADS_2