Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
35. Terjebak Di Ruang Berkas


__ADS_3

Jovi sebenarnya enggan berurusan dengan Meghan, namun sikap Meghan dari tadi selalu memojokkan dirinya, membuat perempuan cantik itu, hilang kesabaran.


"Ouh jadi gitu, siapa tau loe punya orang dalam kan?? buat lolosin loe ke rekrutmen kerja yang dicari Pak Toni," Meghan masih terlihat garang.


Jovi mendiami Meghan lagi.


"Hey.. cungokk dengerin gue, telinga loe lagi bermasalah kah? woooyyy...," teriak Meghan pas di telinga kiri Jovi.


"Apa...???," telinga kiri Jovi langsung berdengung hebat sebab ulah Meghan.


"Loe ada orang dalam kan, masuk ke rumah sakit? loe ini mau'nya apa? ngapain nyusup ke kantor wijaya juga?," kaki Jovi di tendangi lagi oleh Meghan.


"Nggak."


"Nggak nggak.. mata loe," Meghan melampiaskan semua amarah.


"Jawab yang lancar dong, kakak sekertaris," sindir Meghan lagi.


"Iiiiss.. aduuuh," Jovi menahan rintihan.


Tiba-tiba Sonia langsung berlari, tangan yang tadinya asyik memainkan ponsel, menarik tangan Meghan pergi. Gerak cepat Sonia, di karenakan Ernest mulai kembali masuk ruangan.


Meghan tersentak, Sonia seperti menyeret karung ringan, ke arah tubuhnya. Tanpa menjelaskan banyak, dua staff pegawai kantor wijaya itu, pergi keluar.


Jovi di tinggalkan sendiri, di dalam ruangan. Sonia dan Meghan takut, Ernest akan marah jika mengetahui, suster kesayangannya di hajar berat oleh Meghan sore ini.


Sedangkan Ernest terlihat bergegas masuk mencari Jovi lagi, laki-laki tampan itu mulai tidak tenang, jika harus meninggalkan Jovi lama-lama.


"Kreeeekk...," Ernest membuka pintu.


"Suster Jovi, kok sendirian? semuanya kemana?," tanya Ernest bingung.


"Tadi pegawai tuan yang laki-laki dan perempuan keluar ruangan, Meghan dan Sonia juga ikut keluar," Jovi mengemas ponselnya.


"Ouh, suster berani ya sendirian? apa tidak takut."


"Tidak tuan," Jovi menggeleng.


"Ouh ya suster, nanti kita pulang telat ya, ikut saya ke ruang berkas dulu," ajak Ernest.


"Baik tuan."


Perempuan cantik itu beranjak dari kursi, Jovi baru melihat jika betisnya hitam membiru, karena tendangan Meghan. Bibirnya dari tadi menyeringai kesakitan, meski tidak disadari Ernest.


Ernest mengajak Jovi sedikit berjalan cepat, mengingat kantor akan segera tutup setelah selesai lembur. Pukul 17.00, jarum jam sudah mulai berjalan kembali.


Ernest memberanikan diri, menggandeng tangan putih Jovi. Perlahan tapi pasti, jemari tangannya, merangkap jadi satu dengan jemari tangan kanan Jovi.


Mereka berjalan berdua melewati lorong kantor, dengan bergandeng tangan. Tenangnya suasana kantor sore ini, semakin membuat Jovi merasa aneh atas perlakuan Ernest.


"Suster Jovi, kenapa jalan kaki suster seperti itu?," Ernest melihat kaki Jovi di seret.


"Tidak apa-apa tuan, tadi kena pojok meja aja jadinya sedikit sakit," Jovi berbohong.


"Hati-hati suster, baru ditinggal sebentar saja sudah ada yang lebam begini, apalagi nanti kalau saya tinggal lama ya suster," goda Ernest.


"Hehehe," Jovi menunduk tersipu malu.


"Kalau saya pergi, suster mau ikut saya?," Ernest bertanya.


"Tuan ada meeting?? tuan mau pergi ke mana?."


"Ke pelaminan hahaha."


"Ahhh.. tuan ini," Jovi merasa jengkel.


"Hahaha maaf maaf," Ernest menahan tawa.


Tangan kanan Ernest, masih menggandeng tangan kiri Jovi. Senyum Ernest tergambar setelah menjahili Jovi, perempuan pendiam, dan selalu serius.


"Suster?," Ernest menghentikan langkah kakinya.


"Ada apa tuan?."


"Rambut suster Jovi, menutupi wajah suster," Ernest membenahi rambut Jovi.


"Haaa?."


Ernest membuang beberapa helai rambut, sudah menutupi wajah susternya. Semua rambut Jovi, di arahkan ke belakang daun telinga, menjadikan suster Jovi semakin terlihat cantik.


Jovi sendiri belum sempat menepis bantuan Ernest, tangan laki-laki tampan tersebut, sudah memperbaiki posisi rambutnya. Mata Jovi tidak bisa lepas dari bola mata Ernest, begitupun juga sebaliknya.


Di akhir pekerjaan Jovi menjadi perawat, rasanya Jovi mulai tidak tega meninggalkan Ernest. Dalam hati kecilnya, perempuan cantik itu berharap Tuan Toni bisa memperpanjang kontrak.


"Ahh.. tuan, ayo kita jalan lagi tuan," tutur Jovi membuang tangan Ernest.


"Ouh iya, ayoo.. ayoo..," Ernest terlihat salah tingkah.


"Kita tidak jadi ke rumah sakit tuan."


"Ouh iya, lupa..!! tidak jadi suster, besok saja."


"Baik tuan, tuan hati-hati kalau jalan, sayang nanti kalau luka di kaki tuan, membengkak lagi," tuturnya mengingatkan.


"Iya, ini sudah hati hati kok."

__ADS_1


*********************


RUANG BERKAS LANTAI 6


Ernest menempelkan kartu pada pintu otomatis kantor di ruang berkas. Kartu tersebut, hanya dipegang oleh staff berkas dan atasan kantor wijaya grup saja.


Setelah pintu ruang berkas terbuka, Ernest mengembalikan kartu pintu ke dalam sakunya. Mereka berdua masuk ke dalam ruangan, dimana AC langsung menyergap dingin ke arah tubuh Jovi.


Suhu AC diruangan ini, lebih terasa 2x kali lipat, jika dibanding dengan suhu di ruang kerja Ernest sendiri. Semua di sengaja, untuk tetap menjaga file dan berkas di kantor agar tidak rusak.


Jovi sendiri langsung memeluk tubuhnya dengan kedua tangan. Ruangan tersebut, hanya dipenuhi dengan berkas di setiap lorong, tidak ada yang lain, selain rak tinggi di lengkapi arsip kantor.


"Suster, suster cari PT. Mahakam ya..!! saya yang mencari PT. Torifam," pinta Ernest.


"Baik tuan."


"Ingat ya suster, Mahakam map hijau, Torifam map kuning."


"Iya tuan, saya masih ingat."


"Ya sudah, saya tinggal ke lorong lain ya sus?," Ernest membalikkan tubuh pergi.


"Baik tuan."


Jovi memang sudah berada di lorong, bagian map'nya berwarna kuning semua. Dari rak tersebut, map kuning di bagi menjadi 4 bagian. Kuning muda, kuning jingga, kuning kunyit, dan kuning biasa.


Satu persatu file kerjasama yang diminta Ernest, mulai di cari oleh Jovi. Tangannya berlari dari satu berkas, ke arah berkas yang lain. Semua terlihat dilakukan Jovi, dengan masih semangat.


Ernest sendiri juga sama, menyusuri lorong, mencari file dari PT Mahakam. Semua map memiliki warna berbeda, dengan PT berbeda pula. Satu persatu, mulai dipilah oleh laki-laki tampan, menjabat sebagai CEO.


"Tiiiiiiittttttt.... ttttiiiiiittt... tiiitttttttt..."


Saklar lantai 6 terdengar berbunyi.


Jovi mulai panik, meski semua lampu masih menyala terang, suara saklar menandakan adanya penurunan daya di kantor Ernest sore ini.


Jovi membuka lembaran, dengan sangat cepat, mencari lagi file kerjasama. Dia berharap segera bisa pulang dengan Ernest, menjauhkan diri dari mati lampu.


"Suster Jovi..," panggil Ernest dari kejauhan.


"Ya tuan."


"Bagaimana? suster sudah menemukan atau belum?.


" Belum tuan, saya masih mengecek."


"Oke."


Ernest dan Jovi masih mencari lagi berkas dari kedua PT yang hilang. Ernest menemukan permintaan kerjasama dari Mahakam corporate. Semua sudah merampungkan sebagian pekerjaan di kantor.


Fikiran Jovi terbagi antara takut dengan mati lampu, dan memilah berkas satu persatu. Phobia kegelapan yang dimiliki Jovi sejak kecil, sampai sekarang masih mengalir deras di tubuhnya.


"Tiiiittttt.... ttiiittttt... tiitttt...."


SAKLAR LAMPU BERBUNYI LAGI.


Perempuan cantik tersebut, mempercepat gerak tangannya. Suara saklar lebih sering berbunyi, degup jantung Jovi mulai tidak beraturan.


Ernest berjalan ke arah Jovi, dari belakang, Ernest melihat perempuan cantik, rambutnya seperti biasa jatuh menutupi wajah. Jovi terlihat, menyilakan rambutnya ke belakang telinga lagi.


"Suster sudah ketemu?, tanya Ernest.


"Sebentar tuan, belum ketemu."


"Saya bantu carikan..!!," Ernest turut ikut membuka file.


"Iya tuan, mungkin di bagian ini."


Tidak berselang lama, suara Jovi sudah kegirangan menemukan berkas dari PT. Torifam. Wajah cantiknya melihat ke arah Ernest, masih memegang berkas dengan tatanan penuh.


"Tuan Ernest, sudah ketemu," ucapnya menyodorkan file.


"Ouh iya, terimakasih suster," Ernest mengambil berkas dari tangan Jovi.


"Ayoo tuan, kita keluar saja."


"Kenapa buru-buru?"


"Saya takut mati lampu tuan," raut wajah Jovi tidak tenang.


"Meskipun mati lampu, disini tidak ada hantu suster..!!," Ernest tersenyum.


"Tapi saya takut tuan."


"Ya sudah, ya sudah, ayoo kita keluar," Ernest menuruti dengan tidak tega.


"Terimakasih banyak tuan," Jovi mulai lega.


Mereka berdua berjalan keluar menuju pintu. Tetapi ternyata, pintu sudah tidak bisa dibuka lagi oleh Ernest. Daun pintu yang sudah otomatis, harus menggunakan kartu, tidak berfungsi lagi.


Jovi melihat Ernest dari tadi masih belum bisa membukanya. Meski kartu sudah ditempelkan berulang kali, tetap saja tidak bisa dibuka. Mereka berdua terjebak di dalam ruang berkas malam ini.


"Tuan, kenapa pintu nya??."


"Kemungkinan, di lantai lain sedang lampu mati suster, pintu ini aliran listriknya ikut dari gardu lantai 4," terang Ernest.

__ADS_1


"Ha...?? kita terkunci?," jawab lemas Jovi.


"Menunggu listrik di lantai 4 menyala dulu, tadi sudah saya tanyakan dari pihak PLN, pemadaman dilakukan tidak lama, tapi sampai sekarang belum juga selesai," gerutunya.


"Ya Tuhan..," bibir Jovi terasa lemas.


"Memangnya kenapa suster? kalau mati lampu pun kan masih ada saya."


"Bukan begitu tuan, tetapi saya.."


"Jleeeeeeeepppp...,"


SEMUA LAMPU DI RUANG BERKAS MATI TOTAL.


"Waaaaa...., tuan," Jovi langsung memeluk Ernest.


Ernest dibuat terkejut, tubuh Jovi terasa mendekap erat semua tubuhnya. Perempuan cantik itu, menjadi histeris setelah tidak ada cahaya sama sekali, menyorot ke arah wajah Jovi.


"Tuan, ayoo keluar, saya takut, tuan ayo keluar, saya takut," suaranya betul-betul ketakutan.


"Iya iya suster, sebentar, kita belum bisa keluar suster, ini masih mati lampu," Ernest dicengkram pelukan hebat Jovi.


"Nggak mau, aku mau keluar, mama tolong Jovi ma," tangisnya mulai membasahi wajah.


"Jovi mau keluar tuan, Jovi nggak mau disini, ayooo tuan, hiks.. hiks..," suara serak Jovi menarik baju Ernest.


"Iya iya, tenang suster, suster suster, ada saya sus, disini ada saya," Ernest juga ikutan gugup.


"Huaa... pulang," Jovi histeris.


"Ya ampun suster, kamu ini kenapa? suster jangan bikin saya panik, ya Tuhan," Ernest mendekap erat Jovi khawatir.


"Hiks.. hiks.. pulang tuan," hanya itu terus yang dikatakan.


Jovi benar-benar tidak mau membuka mata, kedua tangannya memeluk erat Ernest, sampai membuat putra Tuan Toni sulit bernafas. Laki-laki tampan itu, seperti ikut dibuat mati, karena kambuhnya phobia Jovi.


Dari kecil Jovi takut dengan kegelapan, semua karena masa kecil yang di alami Jovi. Teman kecilnya meninggal dunia, saat Jovi bermain petak umpet dengan dia, ketika mati lampu di kompleks tempat tinggal perumahan.


Semua semakin bertambah parah, saat Fictor menghukum Jovi, memasukkannya ke dalam gudang, tanpa lampu yang di nyalakan. Sampai sekarang, salah satu kelemahan Jovi adalah kegelapan.


Lama di dekap oleh suster cantiknya itu, Ernest mulai kesulitan bernafas. Sudah terlalu lama Jovi memeluk dirinya, mulai dari mati lampu hingga sekarang.


"Suster, saya nggak bisa nafas ini," Ernest batuk-batuk.


"Nggak mau, saya mau keluar tuan, saya mau pulang," Jovi masih memeluk erat, wajahnya di benamkan pada dada Ernest.


"Iya tau suster, sebentar, sebentar, suster coba buka mata sedikit saja," pintanya.


"Pulang tuan, Jovi mau pulang," tangisnya menderu lagi.


"Ya Tuhan suster Jovi, iya iya, habis ini pulang, disini tidak ada apa-apa suster," Ernest kesal melihat Jovi tidak mau membuka mata.


"Nggak mau, ayoo pulang, keluar dulu tuan," rengeknya sangat tidak seperti Jovi yang Ernest kenal.


"Ya sudah, ya sudah, ikuti langkah kaki saya," pinta Ernest.


"Pulang tuan," Jovi masih saja terus seperti itu.


"Iya suster, sebentar, kaki saya sakit, sudah terlalu lama berdiri, kita duduk dulu," rintih Ernest.


Laki-laki berjas putih itu, mengajak Jovi berjalan, duduk menyandarkan diri di bawah tempat berkas. Dengan tubuh masih di dekap Ernest, Jovi mengikuti ke mana ajakan pasiennya.


Sedikit demi sedikit, Ernest mendudukan dirinya, meluruskan kaki kanan, yang masih dalam perawatan. Sedangkan tubuh Jovi, tetap masih di dekap olehnya. Kali ini, Jovi duduk di samping kiri Ernest.


Daritadi kedua mata perempuan cantik itu, tidak terbuka, walaupun sudah di minta Ernest. Kepala dan tubuh Jovi masih di peluk erat oleh Ernest, ditambah usapan rambut dari Ernest, untuk menenangkan Jovi.


"Suster, suster kenapa seperti ini?," tanya Ernest mengelus rambut Jovi.


"Dari tadi tangis suster belum berhenti, suster jangan seperti ini, kita disini cuma berdua suster."


"Dari kecil saya takut gelap tuan, teman saya pernah meninggal waktu kami bermain petak umpet pas mati lampu, di kompleks perumahan," mata Jovi tetap tidak mau membuka.


"Hmmm.. sekarang coba suster buka mata suster, itu kejadian kan sudah belasan tahun yang lalu sus," Ernest mengangkat wajah Jovi.


"Suster Jovi, coba buka mata suster," pinta Ernest.


"Yakini hati suster, tidak ada apa-apa disini," dua tangan Ernest mengusap air mata susternya.


Perlahan suster Jovi memberanikan diri membuka mata, Ernest melihat mata susternya itu, tidak mau dibuka sama sekali.


"Ayoo suster, coba di buka perlahan, kejadian itu sudah belasan tahun yang lalu suster," tatap mata Ernest merasa kasihan.


Jovi menganggukkan kepala.


Perlahan, kedua bola mata tersebut membuka, melihat wajah tampan Ernest. Jovi berhasil membuka mata, melawan phobia yang ada ditubuhnya.


Jovi memandang sekeliling ruangan, masih saja gelap, tidak ada cahaya. Semua langsung membuat Jovi histeris, terbayang teman kecil kompleks yang meninggal.


"Waaaaaa.....," teriaknya menutup mata memeluk Ernest.


"Nggak mau tuan, ayooo pulang, Jovi takut di sini," tangisnya semakin pecah sebab ulah Ernest.


"Iya iya, maafkan saya suster..!! habis ini kita pulang," Ernest mendekap erat lagi.


Kesalahan yang dilakukan Ernest, semakin membuat Jovi, kembali histeris. Alumni Universitas Indonesia tersebut, baru menyadari, jika phobia susternya, memang sangat parah.

__ADS_1


__ADS_2