Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
74. Jadi Salah Tingkah


__ADS_3

Hari sudah pagi. Jovi membuka mata pada pukul 05.00 WIB. Di luar suara Aqila mengusik telinga. Surat lamaran di buat Jovi tadi malam, kembali di cek akan ia kirim ke RS Intan Medika.


Meski tadi malam, pukul 01.00 dini hari perempuan cantik tersebut baru memejamkan mata. Hari ini Jovi bersiap membersihkan tubuh, pergi ke kamar mandi.


Ia memanfaatkan waktu 1 jam sebelum berangkat ke rumah Tuan Toni menuju rumah sakit. Jarum jam terus berjalan, Aqila beranjak dari tidur menyalakan televisi.


Jovi menggodai Aqila. Beberapa saat setelah itu ia jalan ke kamar mandi. Mama Jovi menanyakan keberangkatan putrinya.


"Jov.. kamu berangkat jam berapa?."


"Jam 7 Jovi sudah berangkat ke rumah Tuan Toni mah, nanti Jovi berangkat jam setengah 7 ke rumah sakit. Jovi sudah whatsapp izin Tuan Ernest berangkat telat."


"Ouh begitu, ya sudah kalau begitu..!! tapi sudah dibalas? kalau belum gimana? takutnya beliau ada kerjaan di kantor."


"Di read, tapi nggak di balas."


"Nah tau begitu kamu segera siap-siap aja.!! sekarang kamu kan sudah di kasih fasilitas mobil, usahakan jangan mengecewakan lah Jov."


"Iya mamah, siap 86 mamah."


Mama Jovi tersenyum.


"Sudah, Jovi buruan kamu siap-siap. kasihan kalau nanti Tuan Ernest menunggu kamu."


"Iyaaaaa....," Jovi gemas. Ia masuk kamar mandi.


Sepagi ini aktivitas keluarga mulai terasa. Aroma masakan dari arah dapur membuat ruangan tercemar. Pukul 05.30 mama Jovi memasak sarapan.


Aqila sedang bermalas-malasan di depan TV. Papa Jovi menunggui sembari membaca koran. Chanel Nickelodeon kesukaan Aqila mendominasi seluruh ruangan.


"Took.. tok.. tok.."


Papa Jovi mengernyitkan dahi. Tamu siapa datang se pagi ini.


"Mah.. ada tamu mah, mama bukain mah, Bu Eko ngasih masakan."


"Papah..!! coba bukain dong, mama lagi repot di dapur ini.. Bu Eko anaknya habis di khitan yang paling kecil, acaranya baru besok."


Papa Jovi beranjak. Lembaran koran berserakan di atas meja. Aqila melirik ke mana papanya pergi. Gadis kecil tersebut tetap asyik menonton.


"Took.. tok.. tok...," pintu rumah di ketuk lagi.


"Iya, sebentar." papa Jovi membuka pintu. Wajahnya tersenyum.


Beberapa detik berubah lagi. Tamu pagi ini bukan dari tetangga, wajahnya juga tidak familiar di mata laki-laki berkacamata tersebut.


Tampilan dan gaya casual serta rambut rapinya membuat papa Jovi lebih bertanya lagi. Kemeja motif kotak-kotak, celana putih, serta jam tangan hitam tampak membuat berkharisma.


Papa Jovi sama sekali tidak mengenali. Ia memang tidak kenal.


"Siapa ya?."


"Selamat pagi om," ucapnya memberi salam serta menjabat tangan papa Jovi.


"Iya selamat pagi, ini siapa ya? dari bank mana?."


"Bank?." laki-laki itu berbalik menatap dengan wajah kebingungan.


"Iya Bank..!! mas'nya sedang melakukan survey lapangan terhadap para nasabah ya.. tapi kenapa se pagi ini?."


Ernest tersenyum. Wajah tampan putra Tuan Toni malah di kira seorang pegawai bank.


"Hehehe, maaf om, pagi ini saya ingin bertemu Pak Yusuf dan Ibu Rita bisa?."


"Ya, ya, bisa sekali. Silahkan masuk. Mohon maaf ya saya lupa tidak mempersilahkan anda masuk ini hehe."


"Tidak papa Om."


Ernest masuk mengikuti papa Jovi. Ruang tamu berukuran 3,5 x 4 meter, lengkap dengan ornamen warna monokrom di pandang Ernest satu persatu.


Jika sebesar ruang tamu di rumah Ernest namun nyaman dan terawat. Papa Jovi mencari mama Jovi ke dapur. Aqila mengintip siapa tamu datang, maklum itu menjadi kebiasaanya.


"Sebentar ya.. saya panggilkan istri saya dulu."


"Baik om."


Papa Jovi memanggil istrinya. Mama Jovi sedang mencuci piring. Hidangan sayur asem, ikan laut, dan tempe ada di atas meja makan semua.


"Mah.. mamah.. ada tamu."


"Siapa pah? nggak jadi Bu Eko?."


"Bukan, ini bukan Bu Eko.. Pegawai bank mah, orangnya tampan sekali, sedang melakukan survey lapangan.. tapi ini kok manggil papa dengan sebutan Om ya mah."


"Pegawai baru mungkin pa. Wajar aja kalau masih bingung bersikap ke nasabah."


"Iya, ya, benar mah, ayoo mah cepetan. lihat mah, orangnya beneran cakep, sayang dia jadi pegawai lapangan, harusnya dia cocok jadi teller di bagian kantor mah."

__ADS_1


"Papah nih, bikin penasaran aja. Siapa sih pa?." mama Jovi mempercepat cuci tangan.


"Eh mah, mah, bukan teller mah..!! tapi wajahnya cocok umpama jadi CEO CEO muda mah."


Jovi keluar kamar mandi. Di dapur, mama dan papa perempuan cantik tersebut tampak gaduh bisik-bisik sendiri.


Sembari mengenakan kimono bermotif keropi, Jovi mendekati mama dan papanya.


"Mamah, papah kok rame sendiri, ada apa?."


"Ini Jov, papa kamu, heboh ada pegawai bank orangnya ganteng banget katanya, mama akhirnya buru-buru cuci tangan cepet cepetan."


"Hahaha.. ada-ada aja."


"Beneran Jov, papa nggak boong." papa Jovi pergi lagi ke ruang tamu.


Jovi juga masuk ke dalam kamar. Sepertinya kedatangan Ernest tidak di sadari oleh semua keluarga Jovi. Wajar, sebab selama ini, kedua orang tua Jovi tidak pernah bertemu Ernest.


Jovi mengambil ponsel. Ia mengirim lagi pesan whatsapp, belum sempat di balas Ernest. Putra Tuan Toni ada di ruang tamu membaca pesan Jovi.


"Tuan Ernest.. saya nanti izin berangkat telat. tapi saya usahakan nanti saya berangkat sesuai jam, mohon untuk di balas."


Ernest tersenyum. Gaya Chatting Jovi masih terlihat sangat formal. Mama Jovi akhirnya bertemu Ernest, ibunda Jovi pandangannya sempat tidak berkedip.


Semua yang di katakan papa Jovi benar adanya. Tuhan sangat baik hati pada laki-laki sedang duduk di sofa pagi ini. Wajahnya sangat tampan dan sempurna.


Ernest menjabat tangan mama Jovi.


"Selamat pagi tante," ia berdiri dari sofa.


"Iya selamat pagi, siapa ya? dari Bank Danamon ya mas'nya?."


"Bukan tante, perkenalkan saya Ernest om dan tante."


"Ouh Ernest mah namanya, dari Bank Danamon ya?," papa Jovi mendesak dengan pertanyaan sama.


"Bukan Om, saya bukan pegawai Bank Danamon."


Mendengar perkenalan diri dari laki-laki tampan tersebut, jantung mama Jovi berdebaran. Mama Jovi langsung menyenggol cepat pundak suaminya.


Papa Jovi tidak paham dengan yang di maksudkan istrinya. Tatapan mata mereka saling beradu. Ernest tersenyum ramah.


"Ernest? maksudnya Tuan Ernest?," tanya mama Jovi.


"Siapa mah? Tuan Ernest siapa?," papa Jovi balik tanya.


"Saya Ernest tante dan om.. tidak perlu menggunakan kata Tuan, karena biasanya kata itu hanya di pakai saat di rumah saja."


Papa Jovi baru sadar, laki-laki yang ada di depannya adalah Ernest putra Tuan Toni. Mendadak sikap mama dan papa Jovi tidak enak, tercengir malu.


Ramai-ramai di ruang tamu, Aqila membangunkan diri berlari cepat mencari papa dan mamanya. Kedatangan Ernest pagi ini, ternyata tidak membuat Aqila lupa.


"Waahhh.. ada Om Ernest ke sini."


"Haiii Aqila, belum mandi ya?,"


Aqila kegirangan. Mama dan papa Jovi semakin aneh. Putri kecil pasangan Yusuf dan Rita itu lebih mengenali Ernest.


"Belum Om Ernest. Om ke sini dengan siapa? Om Ernest mau ke sekolahnya Aqila ya? tapi sekolah Aqila libur Om Ernest."


"Yaaa.. libur ya, ya udah kapan-kapan aja ya kalau gitu, padahal Om Ernest sudah siap-siap ini."


"Besok saja Om Ernest ke sini, biasanya Aqila di antar papa ke sekolah. Om Ernest mau anterin Aqila? mau ya om?."


Mama Jovi menghentikan ucapan Aqila. Ia lalu mempersilahkan Ernest duduk kembali.


Celoteh riang Aqila terdengar masuk hingga ke dalam kamar Jovi. Papa Jovi terkesima menyambut kedatangan calon menantu.


"Silahkan duduk Ernest, maaf ya, tadi saya dan suami sempat mengira kalau kamu pegawai bank."


"Tidak papa tante hehe, saya juga maaf sudah mengganggu pagi-pagi. Kelihatannya kedatangan saya ke sini terlalu pagi."


"Ernest apa memang sudah ada janji dengan Jovi sebelumnya? Jovi baru selesai mandi, dan siap-siap itu," tanya papa Jovi.


"Tidak Om, saya memang sengaja menyempatkan ke sini dulu, karena nanti saya akan pergi ke Sidoarjo dan kemungkinan malam baru pulang."


"Ya Tuhan, kalau begitu ngapain sampai repot-repot begini, besok-besok kan bisa datang ke sini, toh pintu kami tetap akan selalu terbuka untuk anda dan keluarga anda Tuan Ernest."


Perempuan cantik sedang menyisir rambut tersebut secara seksama, mendengar Aqila menyebut nama Ernest terus menerus.


Tidak tenang, Jovi keluar kamar. Siapa yang dipanggil Aqila dengan sebutan Om se pagi ini. Rasanya tidak mungkin, apabila jam 6, ada Ernest di rumah Jovi.


"Mah, ada siapa? Aqila ke mana?," Jovi membuka tirai pembatas antara ruang keluarga dan ruang tamu.


Seketika mata Jovi langsung terbelalak. Ernest duduk di sofa. Jantung Jovi berdegup tidak beraturan, ia langsung menundukkan kepala, saat matanya bertemu mata Ernest.


"Jovi, ini ada Tuan Ernest.," mama Jovi memberi tahu.

__ADS_1


"Kakak, kakak, Om Ernest ke sini..!! Om Ernest bilang mau ke sekolah Aqila, tapi sekolah Aqila libur kak." imbuh Aqila menggandeng Jovi.


"Kok diem aja Jov, ini lo ada Tuan Ernest," ucap papa Jovi.


Jovi sangat malu. Meski setiap hari sudah bertemu Ernest. bertandangnya Ernest datang ke rumah Pak Yusuf pagi ini, cukup menyita adrenaline hatinya.


Mau tidak mau, Jovi akhirnya memberanikan diri melihat ke arah Ernest. Tangan sudah gemetar, Jovi mencoba seperti tidak apa-apa.


Ernest benar-benar membuktikan perkataannya tadi malam. Di total belum ada 24 jam, laki-laki tampan tersebut sudah bertamu menemui orang tua Jovi.


"Tu-tuan pagi sekali ke sini? tadi sa-saya whatsapp belum di balas,"


"Ouh itu, iya itu waktu saya tadi di perjalanan menuju ke sini sayang. Eh sayang, maksudnya suster."


Mama dan papa Jovi tersenyum. Jovi nampak malu, menutup muka.


"Soalnya tadi sempat salah belok ke gang perumahan suster, tapi tanya orang akhirnya ketemu,"


"Hehehe i-iya," jawab Jovi memaksa tertawa. Degup jantung sangat susah di kendalikan.


Seperti tidak membuang waktu, Ernest mengatakan kedatangan dia kemari untuk apa. Beruntung pada saat itu, mama Jovi tidak mengenakan daster.


Entah suasana ruang tamu yang hangat, atau suhu tubuh Jovi tinggi, yang jelas perempuan cantik tersebut tubuhnya di jalari rasa panas dingin.


"Maaf Om dan tante, saya belum bisa mengajak papa ke sini, karena tadi malam papa baru datang dari luar kota. Jadi beliau masih kelelahan."


"Tidak papa Ernest, kamu bermain ke sini, kami sangat senang sekali dan berterima kasih. Tidak menyangka ya mah kita, Ernest mau bermain ke rumah Jovi."


"Iya pah, betul."


Mama dan papa Jovi saling membagi senyum. Jovi rasanya ingin kabur pergi. Kedatangan Ernest sungguh memporak porandakan hati.


Senang, tidak menyangka bercampur jadi satu. Seorang CEO besar, tadinya di kira pegawai bank mampir ke rumah.


"Om dan tante, ngomong-ngomong, apa Suster Jovi tidak pernah memberi tahu sebelumnya tentang saya ? mungkin maksud kedatangan saya pagi ini begitu?."


Mama, papa Jovi saling pandang.


"Tidak kok."


"Jovi nggak pernah cerita, paling di pendam semuanya biar sampai jadi harta karun mungkin," mama Jovi malah memberi tahu tanpa menutupi.


"Mamah...," protes Jovi. Ia menginjak kaki mamanya.


Ernest tersenyum. Papa Jovi melihat Jovi sangat salah tingkah.


"Tidak tuan, memang belum ada waktu untuk memberi tahu saja. Tapiii... Tuan Ernest sudah ke sini dulu. Be-begitu tuan se-sebetulnya, jangan dengerin mamah."


"Wahhh.. begitu ya..!! maaf ya Suster, kedatangan saya terlalu buru-buru berarti. Tapi tadi malam kan saya sudah bilang ke Suster Jovi."


"Nah... gitu tadi malam mama tanyain nggak ngaku lo..!! sekarang ngapain malu ada Tuan Ernest, lihat tin dong, itu lo beliau pakai baju hitam, tadi di kira papa kamu pegawai bank."


"Hah? beneran mah? Mamah, tapi mamah jangan gitu dong, Jovi malu." bisik pelan Jovi. Mama Jovi lantas tertawa.


"Jovi, kamu sampai lupa belum buatin teh kan untuk Tuan Ernest, hayooo..!! kasihan lo jauh-jauh ke sini, belum sarapan juga."


"Iya pah.. haduhh.. ma-maaf ya Tuan Ernest, sa-saya buatkan teh dulu, i-iya,"


Ernest mengangguk bilang "jangan manis-manis."


Jovi buru-buru lari. Kakinya menabrak guci besar di samping tirai, hingga sempat terseok. Ernest kaget.


"Hati-hati Suster Jovi, itu nggak papa kakinya," Ernest menunjuk khawatir.


"Tidak tuan, ti-tidak papa." kaki Jovi tetap lari ke dapur.


"Hati-hati Jovi, di ingat-ingat jangan terlalu manis, itu nanti nggak konsen.. awas keliru garam lo ya..!!"


"Iya mamah."


Kehadiran Ernest secara tiba-tiba sukses memantik rasa gugup. Perempuan se cantik Jovi berhasil di buat gugup tak bergerak di depan Ernest.


Sisa Ernest dan orang tua Jovi di ruang tamu. Papa Jovi menyungging senyum. Mama Jovi selalu memperhatikan, Ernest benar-benar sangat tampan.


"Nak Ernest, sebelumnya, saya pribadi sebagai orang tua Jovi meminta maaf atas kejadian yang di lakukan putri kami beberapa waktu lalu. Selama ini, Jovi tidak pernah menceritakan apapun pada kami, baru kemarin sepulang dari Jakarta, Jovi baru menceritakan semua. Di mana masalah Pak Fictor sudah terjadi dan berjalan sangat jauh," papa Jovi mengadu.


"Benar Ernest, saya sebagai mama Jovi juga meminta maaf sebesar besarnya pada keluarga kamu. Kami belum bisa ke sana untuk meminta maaf, kami pun tidak bisa mengetahui secara banyak karena Jovi memendam semua sendiri."


"Tidak papa Om dan tante, di sini saya juga menyumbang salah besar terhadap Suster Jovi. Suster Jovi adalah korban dari semua, selama Jovi menjadi suster saya, dia tidak pernah mencelakai saya ataupun menciderai saya."


Ernest menutup semua pembicaraan.


"Om, tante, maksud dan tujuan saya ke sini sebetulnya bukan untuk itu. Selain untuk silaturahmi saya ke sini karena ingin meminta Suster Jovi menjadi istri saya. Saya ingin mendapat restu dari Om dan tante, bahwa selama ini saya sangat mencintai putri om dan tante."


Mama dan papa Jovi terperangah. Jovi baru saja datang membawa teh di atas nampan. Kakinya gemetar, masih tidak menyangka dengan apa yang barusan di dengar.


Aqila seolah ikut terlarut dalam perbincangan pagi itu. Gadis kecil tersebut duduk diam di atas pangkuan mama Jovi tanpa rewel.

__ADS_1


__ADS_2