
"Saya mencintai tuan."
"Saya juga sangat mencintai kamu suster Jovi."
Di lihat dari wajahnya, Jovi sangat bahagia. Perempuan cantik tersebut menghirup udara segar kota Batu, Malang. Semilir angin seperti terasa benar-benar di puncak gunung.
Ernest mengajak Jovi duduk. Salah satu kursi di sediakan pelayan yang dilapisi kain berwarna putih. Selama Jovi hidup, ia tidak pernah membayangkan semua ini terjadi padanya.
Cuaca di sekitar restoran sudah berubah. Mengingat hari mulai berganti malam. Lampu-lampu menyala sangat bagus.
Panorama gunung masih nampak menjulang, di bersamai oleh kabut. Dan disitu hanya ada mereka berdua. Jovi serta Ernest melihat sekitar. Sangat memuaskan, bak berada di luar negeri.
Kunang-kunang semakin melengkapi indah pemandangan. Sayap ikut mengeluarkan cahaya, sehingga Jovi berdecak kagum. Ia tidak mau pulang. Dia ingin menepi di sini bersama dengan Ernest.
Surabaya sudah terlalu jahat untuk hidupnya. Jovi seperti tidak mengenal siapa dirinya. Ernest menyuruh Jovi duduk. Di ujung restoran paling samping di bawah lampu-lampu.
"Suster duduk di sini, tutup matanya lagi dan jangan intip-intip,"
"Kenapa menutup mata lagi tuan? saya tidak mau," tutur Jovi.
"Ayoolah.. sekali lagi saja." bimbing Ernest menyuruh Jovi duduk.
Ternyata Jovi menuruti. Ia menutup mata meski tanpa dasi kerja laki-laki tampan tersebut. Ernest mengeluarkan tempat cincin warna merah dari celana.
Lingkar cincin sama persis dengan yang dijatuhkan Ernest saat bertengkar dengan Jovi saat di Jakarta. Saksi derai air mata ketika ditinggal Jovi, juga cincin itu.
Ernest duduk di samping Jovi. Tangan kiri menjadi penyangga tempat cincin. Tangan kanan Ernest menyilakan rambut Jovi terkena angin. Desusan angin perlahan membuat gigil. Sebab sangat dingin.
"Sudah atau belum tuan?."
"Sebentar, sebentar, tunggu."
"Baik," Jovi menghirup aroma udara.
"Sudah, sudah. Sekarang suster sudah boleh membuka mata."
Perlahan, mata terbuka. Jovi melihat di depannya, cincin berwarna putih, diatasnya tersemat berlian berbentuk kotak mengkilat. Rambut Jovi yang tertiup angin menutupi mata. Ia ingin menangis tapi tidak bisa.
Sudah berapa kebahagiaan di beri oleh putra Tuan Toni tersebut. Ernest senyum. Jovi memandangi. Tidak bisa berucap apapun. Jovi langsung memeluk lagi Ernest.
"Tuan tidak perlu seperti ini, saya sudah mencintai tuan, saya hanya ingin tuan bersama dengan saya selamanya."
"Saya ingin memberi ini sudah sangat lama Suster Jovi, saat kita masih di Jakarta sebelum pertengkaran itu. Saat saya ingin melamar kamu, ya tapi."
Ernest menghentikan ucapan. Jovi tetap memeluk. Ernest lanjut tersenyum. Wajah Ernest berpangku diatas pundak Jovi.
Silih berganti hati Ernest untuk wanita lain, Jovi lah yang mencintai Ernest sangat tulus. Baru terasa, Jovi melepaskan pundak Ernest.
Sore itu, Cincin putih tersebut di sematkan Ernest pada jari manis Jovi. Rasa senang menuju hari pertunangan semakin terasa.
"Cincinnya secantik yang memakai," kata Ernest.
Jovi tersenyum.
"Cukup sekali saja ya suster saya kehilangan kamu, rasanya saya sudah tidak sabar lagi menunggu hari pertunangan serta pernikahan kita."
"Sepulang dari Malang ya tuan, mama dan papa pasti akan ke rumah bertemu tuan besar."
Ernest mengangguk.
"Kita makan malam di sini sebentar setelah itu kita langsung pergi ke BNS agar tidak kemaleman, mmbb.. bentar, mau tidur hotel atau pulang?,"
"Pulang saja, entahlah tuan firasat saya tidak enak."
"Jangan bilang, firasatnya tidak enak karena cincin itu terjeda saya berikan pada suster Jovi harus melalui pertengkaran dulu ya?."
"Tidak tuan, bukan begitu.. aaa.. saya tidak pernah berfikir seperti itu, apa lagi minta beli baru."
Ernest mengernyitkan dahi. Kata-kata itu tiba-tiba terlontar begitu saja dari mulut Jovi. Ernest pura-pura membuang muka. Balik lagi, tatapannya tersenyum ke Jovi. Mereka berdua lantas tertawa.
Dinner dadakan yang sangat romantis. Restoran yang sengaja di kosongkan, suasana pemandangan yang mempesona, sangat mendukung keberhasilan Ernest melamar Jovi.
Tidak berlangsung lama, Ernest dan Jovi melanjutkan makan malam. Sikap manja Ernest, meminta Jovi menyuapi. Di depan meja, di hiasi beberapa lilin aroma lavender yang sungguh harum.
Dering ponsel Ernest tidak di hiraukan. Mereka berdua larut ke dalam dinner romantis. Meski bukan di restoran semahal Enmaru Restaurant, namun ini lebih indah dari bayangan Jovi.
"Kalau besok saya punya anak, saya maunya juga tetap kamu suapin suster, biar anak kita yang di suapin bibi di rumah ya? mama Jovi tetap milik papa Ernest."
"Tuuaaaan, jangan seperti itu.. saya tidak tega." Jovi mengggeleng kepala.
"Hehehe.. ya udah deh, sebagai papa yang bijaksana.. aku bakalan rela makan telat, yang penting anak dan istri makan dulu, selanjutnya biar nanti bisa di suapin Suster Jovi."
"Masih lama tuan, jangan dibayangkan dulu.. kata orang tu jaman dulu nanti pamali."
__ADS_1
"Halahh.. percaya aja kamu sust, semua itu berawal dari mimpi, bermimpi awalnya menjadi suami suster contohnya," Ernest tersenyum.
Jovi menggeleng kepala. Merasa tidak mungkin. Ernest lebih awal mencintai Jovi. Jarum jam menunjukkan pukul 18.00 WIB. Keduanya asyik menikmati hidangan makan malam.
"Harusnya saya yang bermimpi seperti itu, tuan kan yang lebih kaya, dan lebih segalanya."
"Tapi buktinya, kebahagiaan saya hanya ada di kamu. Percayalah suster Jovi, apapun yang merintangi kita, apapun yang membuat kamu sakit, saya tidak akan bisa menerima, saya mencintai kamu."
"Cupp." Ernest mencium kening Jovi.
Jovi merasa berdebar. Ini tidak dari sikap Ernest. Jovi merasa gelisah dan hatinya tidak tenang. Kadang tidak ada apa-apa, ia memandang ke luar jauh melihat gunung serta tatapannya kosong.
Jovi lalu memberitahu Ernest.
"Tuan, kenapa saya merasa gelisah? saya seperti merasa ada sesuatu yang aaa.. saya tidak bisa menjelaskan,"
"Kenapa?," Ernest menengadahkan kepala Jovi.
"Tidak tahu," Jovi menggeleng.
"Sudah, sudah, jangan memikirkan yang aneh-aneh. Saya sudah di sini, saya tidak akan pergi ke mana-mana." Ernest mencoba menenangkan.
Jovi dan Ernest saling berpelukan.
Syukurlah, pelukan hangat Ernest bisa meminimalisir kecemasan Jovi. Khawatir yang tiba-tiba datang, sedikit membuat Jovi gelisah akan firasatnya.
Tidak lama setelah makan malam, mereka berdua berangkat ke salah satu wisata yang ada di Batu. BNS atau Batu Night Secret Zoo. Jovi belum pernah bertandang ke Malang, jadi ia tidak tahu. Ernest akan membawa ia kemana.
Perjalanan cukup menyita waktu, namun tidak seperti di Surabaya. Malang lebih lenggang tanpa kemacetan. Jovi mengecek ponsel, memberi tahu ke mama dan papanya akan kabarnya.
"Mah, Jovi masih di Malang dengan Tuan Ernest, kemungkinan Jovi pulang telat."
Tidak berselang lama, ponsel langsung berdering.
"Triing... tingg.. tingg...,"
MAMA MEMANGGIL.....
"Hallo mah,"
"Hallo Jov, kamu masih di Malang? nanti pulang jam berapa sayang?," nada mama Jovi cukup santai.
"Iya mah, ini masih di Malang. Paling nanti jam 11 atau paling telat jam 12 mah sampai di Surabaya."
"Kemungkinan jam 12'an suster Jovi, itu kalau macet," Pak Rahmat memberi tahu.
"Ya sudah jangan malam-malam ya Jov pulangnya, besok kamu harus ikut test rumah sakit Intan Medika, tadi Dokter Nalen ke sini mencari kamu."
Jovi menyebut nama Dokter Nalen. Ernest langsung menoleh.
"Apa iya mah? berarti Jovi lolos? kenapa Dokter Nalen tidak menelpon Jovi mah? ya nanti coba Jovi tanya Dokter Nalen,"
"Iya sayang, tadi mama bilang kamu ke luar kota dengan Tuan Ernest. Mama sudah suruh menghubungi kamu kok, mungkin Dokter Nalen ada praktik."
Jovi mengangguk.
"Kamu harusnya cek website rumah sakit dong Jov, jangan terlalu sering meminta bantuan Dokter Nalen, kalau tadi Dokter Nalen tidak ke sini, kamu tidak tau kan?," mama Jovi mengingatkan.
"Iya mah, maaf."
"Eeeee tapi mah," Jovi ingin bertanya sesuatu.
"Iya kenapa sayang?," jawaban mama Jovi tidak berubah tetap santai.
"Aaa.. nggak, nggak. Aaaa.. tapi mah."
"Iya kenapa Jovi?."
Ernest juga mengarahkan pandangan ke Jovi semakin aneh. Isyarat mata Ernest ingin begitu tau. Jovi melihat Ernest, ia takut.
"Mah.. di rumah nggak ada kabar apa-apa kan? selain Dokter Nalen ngasih tau kalau Jovi lolos buat besok?."
"Nggak kok, nggak ada apa-apa. Kabar apa memang?."
"Jo-Jovi ngerasa ada sesuatu yang nggak enak aja di hati Jovi mah." ucap Jovi menurunkan volume suara. Ernest hampir tidak bisa mendengar.
"Aaahhh.. cuma perasaan kamu aja Jov, kabar apa sih? kabar pertunangan kamu dengan Tuan Ernest yang tinggal sebentar lagi hahaha," mama Jovi malah tertawa riang.
Jovi ikut tertawa.
"Mamah bisa aja, ya udah mama selamat malam ya selamat istirahat, Jovi sayang mamah cup," Jovi mencium teleponnya.
"Iya.. hati-hati nanti kalau pulang jaga diri," mama Jovi lalu menutup telepon.
Ernest menanyakan siapa yang menghubungi. Sorot matanya terlihat tenang. Jovi menjawab mamanya menghubungi.
__ADS_1
Ernest ternyata hanya kurang suka akan kecemasan Jovi. Entah dari mana hal itu merasuki, Jovi kadang terlihat tidak bisa tenang. Ia dipermainkan oleh perasaannya sendiri.
"Kamu tidak menelpon Dokter Nalen suster?."
"Tidak, tapi saya sudah mengirim whatsapp ke Dokter Nalen. Pengumumannya belum tersedia di website, besok jam 8 baru di umumkan, jam 12 test tulisnya."
Ernest tampak memahami.
"Dokter Nalen lebih tau dulu karena dia bekerja di sana, jadi dia memberi tahu kamu."
Suasana terasa hening.
"Jangan lama-lama bekerja di sana, setelah kita menjadi suami istri, saya tidak mau istri saya bekerja. Karena bekerja adalah tanggung jawab laki-laki." ucap Ernest penuh makna tersurat.
"Baik." jawab Jovi.
Dokter Nalen benar-benar ingin menjadi laki-laki pertama sebagai pahlawan Jovi. Sebenarnya Jovi paham, putra Tuan Toni tersebut sedang cemburu.
BNS, MALANG.
Tidak berselang lama, mobil Ernest sampai di BNS. Salah satu wisata terkenal di kota Batu, setelah banyak wisata lain. Seperti Jatim Park, Museum Angkut dan lainnya.
Ernest mengajak Jovi turun dari mobil. Pak Rahmat memarkir kendaraan roda empat. Ia memilih tidak ikut masuk. Pak Rahmat menikmati kopi dan layanan netflix di mobil.
Pertama yang tergambar, suasana lampu warna warni di pintu masuk. Loket antrian tampak mengular oleh tubuh para pengunjung. Jovi Ernest ikut masuk ke barisan.
Kehadiran mereka cukup menyita perhatian. Sebab Ernest terlihat sebagai laki-laki pendatang yang asing. Jovi cukup kagum dengan tempat tersebut. BNS sangat indah di malam hari.
Baju hitam, sepatu olahraga, lingkar jam tangan, menjadi perhatian pengunjung. Mulai dari anak-anak bersama orang tua, remaja, hingga orang-orang se usia Ernest dan Jovi.
Ernest keluar dari antrian. Ia mendapat dua gelang kertas. Bagi Ernest harganya sangat terjangkau untuk menikmati wisata ini. Tidak sampai keluar uang 300 ribu.
"Kita ke mana?," Ernest menggandeng Jovi.
"Eh, pacarnya itu. Aduuh.. ganteng banget ya mas mas itu," bisik salah satu pengunjung.
"Iya lo, yang cewek juga cantik, tapi yang cowok udah ganteng, kharismatik Mel.. uuuuuuu... lumer gue," sahut perempuan berhijab di sampingnya.
Jovi sedikit tersenyum. Jovi menoleh ke samping. Ernest memang tampan. Hidung mancung Ernest, di amati Jovi mengikuti kata-kata anak remaja tadi.
Ernest ternyata tau, Jovi mencuri pandangan ke arah dia.
"Heii.. kenapa senyum-senyum?,"
"Nggak, nggak papa," Jovi menggeleng kepala. Jovi mengarahkan kepalanya lagi ke depan.
"Eiiihh.. kenapa sih? tadi suster tersenyum kan? lihat apa? ada teman suster? atau siapa sih? lihatin saya kan tadi?,"
"Iya, lihatin cuma sebentar kok." Jovi menggembungkan pipi.
"Kok tercengir gitu? kenapa dilihatin? ganteng ya? hahaha," Ernest tertawa. Tangannya meraih pinggang Jovi jalan bersama.
Tidak terasa, sikap Ernest menjadi perhatian para pengunjung. Beberapa dari yang terkesima tertawa kegirangan sendiri. Mereka tampak asyik menikmati panorama BNS malam itu.
"Cekreeekkk..." seseorang memotret Jovi dan Ernest dari belakang.
Jovi dan Ernest mencari wahana atas dasar kesepakatan dulu. Ada beberapa wahana ditakuti Ernest, ia jarang bermain ke wisata-wisata yang banyak wahana seperti di BNS.
Jovi menunjuk salah satu wahana favorit dia.
"Tuan, tuan, ayooo kita naik itu."
"Huusssstt.. suster? kita dilihatin banyak orang, jangan panggil tuan, panggil Ernest aja kalau nggak bisa panggil sayang," bisik pelan Ernest.
Jovi memandang sekelilingnya.
Semua orang benar melihat ke arah Jovi. Teriakan semangat Jovi memanggil Ernest jadi perhatian. Para pengunjung sedang menikmati wahana tampak histeris teriak kencang dan menyudahi permainan.
"Mmmb.. baik Ernest, begitu ya?," tawa Jovi menambah.
"Hiiissss.. giliran kalau manggil Ernest aja bisa fasih gitu, iya deh iya, panggil gitu aja."
"Biar kita seperti seumuran yang Kak Ernest."
"Geli ahh suster, Ernest aja jangan ditambah-tambah, tapi kalau ditambah sayang sedikit nggak papa." Ernest mengedipkan mata sok tampan.
"Mau'nya ahhh..!! Eh Ernest, malam ini kita panggil nama aja ya.. biar kita seperti anak seumuran yang lagi ngedate gitu ya."
"Oke Jov gampang, ya udah yukk Jov, kita naik wahana yaa Jov..?? yang ini kan Jov? Jovi ayoook.." gandeng Ernest.
Tawa Jovi langsung cekikikan. Logat Ernest memanggil nama Jovi sangat terlihat kaku. Berbeda dengan Jovi, perempuan cantik tersebut menyebut nama Ernest terlihat biasa tidak aneh.
__ADS_1
Mereka berdua lalu menikmati wahana lain. Seperti sepeda udara, rumah hantu, rumah kaca, dan memilih spot spot foto yang bagus. Ernest dan Jovi mengabadikan moment bersama.