Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
87. Gallery Wedding


__ADS_3

"Ya kan betul kan?," Dokter Nalen memastikan berulang-ulang.


Jovi mengangguk.


"Kalaupun itu tertendang Jov, siapa yang menendang? nggak ada christiano ronaldo loh di situ hahahha."


Jovi diam saja.


"Lucu nggak sih? atau di situ nggak ada Irfan Bachdim Jov, kamu tau nggak sih Jov yang aku maksud? kok diem aja." Dokter Nalen tertawa garing.


"Dokter, sudah. ini bukan saatnya untuk bercanda," mata Jovi terlihat marah.


"Maaf, maaf, tadi aku cuma mencoba mencairkan suasana biar kamu tidak terlalu tegang dengan kondisi Ernest."


Dokter Nalen gelagapan.


Jovi menutup muka. Menjelang 5 hari pertunangan, ia justru mencetak musibah. Apa yang akan dikatakan Jovi pada Tuan Toni nanti.


Menunggu Ernest selesai. Dokter Arfin melepas stetoskop, tungkai kaki Ernest di tekan, sedikit di gerakkan, lalu dipukul dengan alat medis.


Sebenarnya Dokter Nalen tengah harap-harap cemas, pasalnya ia baru kali ini melakukan hal. gegabah pada orang lain.


Bola matanya berlari melihat Ernest kasihan, akan tetapi egois perasaan Dokter Nalen lebih mendominan. Ia sakit hati dengan kata-kata Ernest, belum lagi Ernest yang lebih sering mendapat perhatian dari Jovi.


Jovi meremas tangan. Apa yang ia akan katakan pada Tuan Toni, lagi-lagi putra sematang wayangnya terluka saat pergi dengan Jovi.


Jovi buru-buru mengambil telepon.


MEMANGGIL MAMA..


1 menit kemudian.


"Hallo."


"Hallo mama," Jovi menjawab.


"Ya Jov, kenapa sayang?."


"Mah.. Tuan Toni sudah pulang apa masih di sana?,"


Dokter Nalen menoleh, Jovi serius menerima telpon.


"Tuan Toni? ada apa papanya Ernest di rumah Jovi," hatinya bertanya sendiri.


"Pak Toni baru saja pulang, memangnya kenapa? kamu belum kembali ke rumah Tuan Ernest? kamu masih test di rumah sakit?," tanya balik mama Jovi.


"Sudah selesai mah, tapi waktu Jovi lagi test, aaa.. Tuan Ernest cedera sedikit. Jovi nggak tau parah atau tidaknya, lukanya di bagian kaki sebelah kanan yang habis patah mah."


"Loh kok bisa? terus gimana kondisinya sekarang Jov? harusnya tadi biar Tuan Ernest pulang saja, kamu yang ikut test aja. Masih bisa jalan kan?,"


"Belum tau mah, ini Jovi di antar Dokter Nalen ke temannya yang lagi praktik. Semoga saja tidak papa," Jovi menutupi rasa cemas.


"Ya udah, kalau gitu nanti kamu langsung bawa pulang ke rumahnya saja. Bawa taksi, atau kalau nggak gitu kamu yang nyetir ya..!! awas.. yang pelan-pelan bawa mobilnya."


"Iya mah baik." Jovi menutup ponsel.


Dokter Nalen sudah tidak ada di tempat, laki-laki tersebut mendampingi Dokter Arfin melihat kondisi Ernest.


Beruntung, yang di lakukan Dokter Nalen pada Ernest langsung mendapat pertolongan, luka Ernest bisa di tolong.


Sedikit kain gips ringan warna coklat di pasangkan ulang. Rasa bersalah Dokter Nalen ditebus membantu mengecek detak jantung, kondisi darah dan lain dari Ernest.


Jovi menaruh iba melihat pemandangan tersebut. Dokter Arfin duduk di kursi, Jovi jalan menghampiri cepat.


Tas selempang milik dia ikut pontang panting mengikuti. Di ranjang tempat periksa, mata Ernest menutup, ia lebih suka gelap dibanding melihat Dokter Nalen.


"Bagaimana Dok kondisinya?," Jovi takut.


Ekspresi Dokter Arfin tidak bisa begitu jelas di baca, memantik kekhawatiran Jovi lebih panik.


"Baik, baik, tidak ada apa-apa. Luka di kaki pasien sudah saya gips kembali. Yaa.. untuk menghindari benturan berat lagi. Beruntung juga pasien menjalankan pola hidup sehat serta mengkonsumsi banyak makanan-makanan penguat tulang, jadi retak pada tulang kaki pasien tidak se mengkhawatirkan tadi."


"Syukurlah," Jovi bernafas lega.


"Saya berpesan kaki pasien jangan gerak dulu, dan jangan banyak beraktivitas, itu saja..!! penguat tulang dan obat-obatnya nanti bisa anda tebus di apotik rumah sakit."


"Baik Dokter, terima kasih." Jovi menerima resep obat.


Perempuan cantik tersebut menghampiri haru ke Ernest. Dokter Nalen memindah alat pengecek darah, Jovi berdiri di samping Ernest.


"Tuan, bangun tuan..!!"


Ada suara Jovi, Ernest baru mau membuka mata.


Jovi tersenyum.


"Tuan, kakinya sakit lagi. Maaf tuan, saya tidak sengaja," Jovi meremas lengan Ernest peduli.


"Sama Ernest, saya juga minta maaf. Kecelakaan kecil ini juga saya yang menyumbang sedikit, andai tadi saya bisa menangkis kaki itu pasti tidak sampai seperti ini," ucap Dokter Nalen.


Ernest memutar bola matanya ke atas, di mana suara Dokter Nalen tepat berada di atas mata. Tak di tanggapi, Ernest meminta buru-buru segera pulang.


"Ayooo kita pulang suster."


Jovi melihat Dokter Nalen, ucapannya di biarkan berlalu begitu saja.

__ADS_1


"Suster.. ayooo..!!," Ernest mengangkat lengan Jovi.


"Aaaaa.. ouh iya, iya. ayooo..!!!"


Jovi membantu Ernest bangun. Dada bidang Ernest merangkul pundak lebar Jovi. Dokter Nalen menyesal, kecelakaan kecil itu lebih banyak membuat Jovi iba pada putra Tuan Toni.


"Kalau begitu kami permisi dulu Dokter Nalen dan Dokter Arfin, mari," setengah badan Jovi membungkuk.


"Ouh iya, hati-hati..!! Sodari Ernest jangan lupa konsumsi obat tetap rutin dan pertahankan kompisisi asupan makanan penguat tulangnya juga ya," pesan Dokter Arfin.


"Baik Dokter, terima kasih sudah memberi pertolongan pada luka saya." Ernest tersenyum.


"Itu sudah tugas saya, berterima kasihlah ke Dokter Nalen dan mbaknya, karena tepat langsung membawa anda kemari," pujinya.


Jovi terkekeh.


Ernest dari tadi memunggung'i wajah Dokter Nalen. Laki-laki tersebut menghadap ke Dokter Arfin seperti di ruang ortopedi tidak ada siapa-siapa.


"Tuan tidak mau pamit dengan Dokter Nalen sebelum kita pulang?," tanya Jovi.


"Ayooo...!! mana kursi rodanya tadi."


"Ouh itu suster," Ernest menunjuk.


"Iya, iya, baik." suara Jovi menuruti.


Kursi roda di tumpangi Ernest jalan keluar. Keinginan segera pergi benar terlihat, tangan Ernest membantu mempercepat roda kursi berjalan pergi.


Tidak sempat berpamit jabat tangan, Jovi izin pergi dulu dengan Ernest ke Dokter Nalen lewat lambaian tangan. Ernest tidak peduli, yang terpenting ia pulang.


Di tempat parkir.


Jovi membantu menggandeng tangan Ernest. Mau tidak mau kaki harus di seret, sebab Jovi perempuan.


Tidak di sangka, Dokter Nalen mengikuti Ernest dan Jovi ke halaman parkir RS. Intan Medika. Tangan lembut Jovi, menyapu rambutnya cepat lalu masuk mobil.


"Jov.. Jov.. kenapa sih kamu mau aja bersusah susah buat dia. Dia hanya orang baru, dia tidak kenal kamu. Aku yang lebih kenal kamu Jov, arrrggghh....," Dokter Nalen langsung pergi.


Di jalan.


Mobil putih melaju dengan kecepatan normal. Beberapa kali Jovi kadang sangat pelan, takut goncangan di jalan memperparah luka baru Ernest.


Di mobil mereka berdua sama tidak bertegur sapa. Ernest diam menatap depan jendela, Jovi konsentrasi mengendarai.


"Tuann.." Jovi menatap sebentar.


"Ya..."


"Tuan, kenapa tuan tadi tidak menjawab permintaan maaf Dokter Nalen?," Jovi memberanikan diri bertanya.


"Sungguh..?? tidak melakukan kesalahan?," Jovi menyudutkan.


"Bahas yang lain saja yang lebih penting. Pertunangan kita, pernikahan kita, banyak yang lebih penting dari itu," pandangan mata Ernest kosong.


"Tapi Tuan cidera benar-benar hanya karena kesenggol pengunjung rumah sakit atau karena yang lain?," Jovi tidak menyerah.


"Karena kurang waspada."


"Hanya begitu?," Jovi menatap sayu.


Suasana hening, Ernest tidak mau menjawab. Jovi mengubah pandang mata, fokus berkendara.


Kadang Ernest geram akan sikap Jovi, kebiasaan baik yang selalu dilakukan Jovi membawa sifat menilai orang sama berlaku hingga sekarang.


Jovi tidak bisa menilai mana orang yang baik dan tidak baik, semua dianggap sama. Benar saja, Fictor selalu memanfaatkan sikap tidak tega yang di miliki perempuan tersebut.


"Sayang..," suara Ernest memecah.


"Aaaa.. iya sayang."


"Pertunangan kita kan sebentar lagi, kemungkinan besok kalau saya nggak bisa nemenin kamu, kamu fitting baju dengan mama rita saja ya?."


Jovi speechless.


"Fitting baju pengantin di Boutique Ellen's Gallery.. Di situ nanti suster temui Sist Elea pemilik Butiknya. Papa yang merekomendasikan butik tersebut."


"Baik sayang, kenapa papa benar-benar sangat antusias dengan pertunangan ini? padahal, aku saja yang mau tunangan belum cek untuk fitting baju," Jovi bertanya ingin tahu.


Ernest tersenyum kecil.


"Ya karena papa sangat sayang dengan saya. Bukan hanya Suster Jovi saja yang sayang dengan saya," goda Ernest.


"Hahahhaa, iya kok, percaya." Jovi mengangguk lucu.


PERUM GRIYA INDAH.


Sampai di perumahan, Jovi masuk ke dalam rumah. Pak Tono memberi senyum, tidak percaya Jovi yang mengemudikan sendiri mobil tuannya.


Mobil terparkir di garasi terbuka milik Tuan Toni, Jovi berlari masuk ke dalam rumah. Kursi roda lama yang sudah tidak terpakai, dengan terpaksa di gunakan lagi.


Tuan Toni keluar dari ruangan.


Jovi setengah mati gemetar, wajahnya pucat pasi akan menjelaskan. Rona wajah Tuan Toni mengerutkan kening, matanya melihat kursi roda.


"Jovi, sudah datang?," Tuan Toni tersenyum.

__ADS_1


"Sudah tu-an, aa.. maksudnya sudah pah."


"Hahaha, kan hampir salah lagi," tangan Tuan Toni menuding Jovi, tetapi Jovi tidak bisa tersenyum.


"Ernest ke mana? kursi rodanya buat siapa?,"


"I-itu pah, tadi waktu nungguin saya test di rumah sakit, Tuan Ernest kakinya tidak sengaja di injak pengunjung rumah sakit."


"Di injak? mmmb... kok ada saja. Ya sudah nggak papa, kamu ajak masuk aja ya Jov," pinta Tuan Toni kecewa.


"Bik Yuni, tolong bawakan air hangat untuk Ernest ya."


"Baik tuan," sahut Bik Yuni berada tidak jauh dari tempat.


Jovi melihat wajah kecewa dari papa Ernest. Buru-buru perempuan cantik tersebut keluar memindahkan Ernest pada kursi roda, lalu mengajak masuk.


Ernest sempat bertanya, bagaimana reaksi Tuan Toni. Hanya saat belum dijawab Jovi, papa Ernest sudah berdiri di depan pintu sambil geleng kepala.


"Kok bisa itu lo gimana?," Tuan Toni menaruh dua tangan di saku.


"Nggak sengaja pa, tapi nggak papa tadi sudah di tangani oleh Dokter di rumah sakit."


"Nest, Nest, mau tunangan kok malah naik kursi roda lagi, papa ragu nanti bisa nggak tuh malam pertamanya?."


"Hahahaha," Jovi Ernest kompak tertawa.


"Ya di usahakan dong sembuh pada waktunya. Mencetak bibit penerus Wijaya menjadi cucu utama keluarga Wijaya kan juga butuh tenaga pa."


"Ya sudah, pakai tenaga dalam aja biar nggak repot," Tuan Toni tertawa.


Ernest tau, apa jadi bila Jovi bukan calon menantu mungkin sudah di intimidasi seperti dulu. Saat Ernest terkena alergi karena kesalahan Jovi, dan sekarang terulang.


Tuan Toni menemani Ernest dan Jovi masuk ke kamar Ernest. Beberapa kali, Tuan Toni menelpon Dokter dari rumah sakit Wijaya segera ke rumah.


"Tapi itu nggak papa kan Nest?," Tuan Toni bertanya ulang lagi.


"Iya pah, nggak papa. Cuma butuh makan penguat tulang dan aktivitas yang tidak berlebih selama masa penyembuhan," Ernest duduk di kursi.


"Huuuuh.. kemarin masa penyembuhannya udah lama banget, sekarang mau sembuh balik lagi ke masa penyembuhan," gumam Tuan Toni.


"Ya biasanya orang kalau mau melakukan kebaikan seperti tunangan atau menikah kan pasti ada cobaannya pah, papa sendiri yang bilang kan?,"


Pertanyaan Ernest membuat Tuan Toni terdiam. Hal itu memang sering di nasehatkan pada Ernest jauh sebelum Ernest akan bertunangan, ternyata hari ini terjadi benar.


"Ya, ya, benar benar." Tuan Toni berpaling ke jendela kamar.


Jovi paling merasa sedih. Secara tidak langsung Tuan Toni kembali tidak enak hati akibat kecelakaan kecil.


"Maaf papa, tadi Jovi kurang waspada. Jovi tidak tau kalau menunggu di luar ada kejadian tidak sengaja yang berujung ke luka Tuan Ernest."


Tangan Jovi meremas jemari lain seperti biasa. Ia gelisah, Tuan Toni kasihan melihat rasa bersalah putra Pak Yusuf tersebut.


"Meski benar yang dikatakan Ernest. Semua orang pasti mempunyai cobaan saat akan melakukan niat baik menghalalkan hubungan. Jadi mungkin, ini adalah cobaan untuk niat baik kalian harusnya kamu itu waspada Jovi." Tuan Toni tidak kuat menahan amarah.


Jovi menahan tangis, bibirnya menurun ke bawah.


"Kalian harus sama-sama waspada, coba lihat di luar sana berapa banyak pemberitaan yang salah kaprah tentang kalian. Apa iya hanya untuk menjaga keselamatan masing-masing, kalian tidak bisa bekerja sama?," tegas Tuan Toni.


"Maaf pah," bilang Ernest.


"Jovi juga pah, Jovi minta maaf."


"Sudah jangan sedih, ini nggak papa suster," Ernest menggenggam tangan Jovi.


Suasana sekejap tampak tak bersuara.


"Ouh iya Jov, papa hampir lupa. Kamu tolong naik ke atas ya, masuk ke ruangan di sebelah kamar CCTV, tau nggak? coba kamu ke sana."


Jovi dan Ernest saling berpandangan.


"Baik pah."


"Ya sudah buruan ke sana, ada yang papa ingin sampaikan secara empat mata dengan putra papa. cepattt..!!,"


Jovi mengangkat kepala. Ia jarang pergi ke lantai atas, akan tetapi Jovi pernah naik di sana saat bersama Ernest di ruang CCTV beberapa waktu lalu.


Ernest tidak tega melihat Jovi, setidaknya ia bisa belajar dari kesalahan.


Jovi keluar kamar, ia naik ke atas mencari ruangan yang di maksud Tuan Toni dengan fikiran campur aduk.


Sangat sedih, dengan kejadian yang di lakukan Dokter Nalen semua memancing masalah baru.


Sampai di atas, Jovi masuk ke ruang sebelah kamar CCTV yang di maksud Tuan Toni. Ada sedikit suara gaduh di dalamnya, perlahan jemari lentiknya membuka.


"Daaaarrrrrrrrrr.......," hati Jovi gemetaran.


Sebuah ruang yang di sulap dengan nuansa putih oleh gaun-gaun pernikahan tampak tergantung rapi beserta designernya.



Bukan hanya satu pilihan gaun, di sana dress serta gaun mewah pernikahan ada puluhan lebih, tergantung seperti di boutique.


"Hai Nona Jovi, silahkan masuk," ajak salah satu perempuan cantik penata rias.


"Kami datang ke sini, atas permintaan dari Tuan Toni.. selamat ya atas pertunangan anda Nona Jovi dengan Tuan Ernest yang akan berlangsung sebentar lagi," ucap salah satu pegawai.

__ADS_1


__ADS_2