Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
54. Bus Jakarta Surabaya


__ADS_3

Setelah sampai di terminal, ajakan kaki Jovi langsung membawa dirinya keluar mobil, dan mendorong koper kecil miliknya. Jovi telah tiba di pemberhentian.


Rambut perempuan cantik itu, langsung di sambut terpaan polusi berasal dari bus-bus antar kota maupun provinsi. Udara panas juga langsung menyergap kulit putih Jovi.


Beberapa kondektur saling adu mendapatkan penumpang, pedagang asongan lebih berhamburan banyak dalam pandangan mata Jovi. Aroma terminal serta polusi udara sebetulnya membuat Jovi nampak pening.


Meski begitu Jovi tetap terlihat langsung berjalan ke arah barisan bus jurusan Jakarta Surabaya. Amanat Ernest mengajak sopir juga ikut keluar, menemani Jovi, hingga mencari bus ke dalam terminal.


"Surabaya, Surabaya, Denpasar,"


"Semarang, Semarang, Cilacap."


"Malang, Malang, Pasuruan,"


"Bandung, Bandung,"


Satu persatu tawaran, semua jurusan bus, nampak membingungkan kepala Jovi. Dia harus memilih jurusan mana untuk naik bus ke Surabaya. Matanya mulai mencari, Jovi melihat bus jurusan Jakarta Surabaya.


Hampir 10 tahun, Jovi sudah tidak pernah menggunakan salah satu transportasi darat itu. Hidup mengembalikan Jovi untuk bernostalgia, pada masa SMA, di mana perempuan cantik tersebut pernah naik bus.


"Mbak mau ke mana mbak?." kondektur seolah ingin membantu koper Jovi.


"Mbak, ke mana? Surabaya mbak, Jakarta atau ke mana?." sahut kondektur lain.


"Iya pak, Surabaya."


"Jurusan Denpasar bisa mbak?."


"Jurusan Banyu Wangi juga bisa."


"Sama saya saja mbak, cuma 7 jam perjalanan." kondektur bertopi ikut menawari.


"7 jam, cepatnya," Jovi membatin.


Koper Jovi nampak di perebutkan.


Jovi bingung mengikuti ucapan kondektur, mata perempuan cantik tersebut, berusaha mencari kondektur baik, yang di rasa Jovi bisa meyakinkan kepulangan dia ke Surabaya.


"Sini mbak sini bisa? jurusan Jakarta, Semarang, Surabaya juga bisa, langsung mbak."


"Aaaa.. iya kah? baik pak," Jovi asal percaya.


"Ayooo.. ayoo mbak, sana mbak," punggung Jovi di dorong.


"Suster Jovi, jangan, itu semakin jauh nanti, suster langsung naik ke bus jurusan Jakarta Malang Surabaya saja, ke sana suster..!!" sopir suruhan Ernest tidak memperbolehkan.


"Ayoo.. mbak gimana?, bisa kok bisa." kondektur tampak memaksa pergi ke arahnya.


"Tidak tidak pak, tidak jadi, tidak usah," sopir Ernest menarik koper Jovi ke arahnya.


"Aaaa....," Jovi yang bingung.


"Oooo.. dasar, di bilang bisa, bisa, tapi nggak percaya," kondektur berkulit hitam tersebut marah.


"Iya bisa, tapi jarak semakin jauh, kasihan penumpang lah pak, cari rezeki ya yang baik, jaraknya juga kasih tau, pantura banyak macetnya, lagian sekarang sudah ada tol, kasihan nanti kalau nona ini kesasar."


"Taaaaaiii....," kondektur berkata kotor.


Jovi langsung takut.


Amarah kondektur terlihat sinis berlalu pergi, coba mencari penumpang lain. Sopir travel Ernest sendiri, sudah biasa melihat sikap jutek para kondektur. Asal memanfaatkan penumpang polos seperti Jovi.


Siang itu, perempuan cantik tersebut terlihat jalan ke arah jurusan bus pada kota kelahirannya, Surabaya. Jovi membeli masker, kantong plastik, dan permen sebagai persiapan, apabila tiba-tiba dirinya mabuk di perjalanan.


"Bapak, terima kasih banyak ya pak..!! sudah mau mengantarkan saya sampai masuk terminal, kalau seandainya tidak ada bapak, saya pasti sudah mengikuti kondektur tadi," nafas lega Jovi mengikuti.


"Sama-sama suster Jovi, lain kali suster jangan asal percaya saja, ibu kota itu lebih kejam dari pada Surabaya suster, di sini banyak kondektur yang tega menurunkan penumpangnya asal-asalan, pokok penting bus'nya ramai, setoran penuh, masalah penumpang bodo amat."


"Ya Tuhan, sebegitunya..!! maaf pak, saya benar-benar tidak tau, sekali lagi terima kasih banyak ya pak, kalau tidak ada bapak di sini, mungkin nasib saya sudah berbeda pak."


"Sama-sama nona Jovi, saya sendiri sebetulnya hanya menjalankan perintah dari Tuan Ernest. Tuan lah yang meminta saya untuk mengantar dan mencarikan bus untuk anda suster."


"Oo.."


Mendengar nama Ernest, Jovi merasa hilang tenaga.


Perempuan cantik tersebut nampak sangat terbantu dengan sopir travel yang di bawakan Ernest. Pasalnya, Jovi hampir salah memilih jurusan bus.


Lewat tipu daya godaan para kondektur, asal bilang bisa dan sampai tempat tujuan.


Pukul 10.00 tak ubahnya membuat terminal nampak menjadi hamparan gurun pasir. Terasa panas, menjadikan tenggorokan kering dan berdahaga, serta aroma polusi yang sangat kotor.


Kecil besar, tua muda dan balita tubuh para pengamen jalanan juga nampak menengadahkan tangan, berlomba mendapatkan simpati pada Jovi. beberapa pedagang juga nampak memikul, dan menjajakan dagangan.


Jovi sengaja tidak naik lebih dulu ke dalam bus. Aroma tidak sedap, naik turun para penumpang, benar-benar belum bisa membuat tubuh Jovi beradaptasi. Sangat susah.


"Aaaa.., saya makasih'nya tetap sama bapak aja." Jovi tersenyum.


"Gi-gimana ya non, bukan saya mencampuri urusan anda dengan putra Bapak Toni Wijaya, sebetulnya Tuan Ernest sangat mengkhawatirkan kepergian nona Jovi sendirian." sopir berdiri di samping Jovi.


Jovi pura-pura menyibukkan diri.


"Sebelum nona Jovi datang ke Jakarta, perjalanan menjemput anda suster, tuan selalu meminta saya ngebut, takut nona menunggu lama di bandara, tuan juga sempat berdiskusi dengan saya, restoran mana untuk mengajak suster makan malam. saya kira anda akan ada di Jakarta lama nona Jovi, tapi ternyata tidak hehee.." tawa garing bapak sopir itu keluar.


Jovi mendiamkan suasana, peraduan bising terminal lah yang terdengar masuk ke telinga pak sopir.


"Ya salam saja buat beliau pak." jawab Jovi setengah hati.


"Baik nona, akan saya sampaikan," senyum manis pak sopir tampak mengikuti.


Jika bukan sopir yang berbicara seperti itu, perempuan cantik tersebut akan sangat enggan menjawab.


Melihat keadaan terminal Jakarta, rasa syukur masih terlihat di ucap oleh kakak Aqila tersebut. Jovi beruntung tidak bernasib seperti mereka, yang harus ikhlas menerima takdir Tuhan.


Sepanas ini, para pedagang dan kondektur berlalu lalang tiada henti. Keringat deras mereka sama sekali tidak di hiraukan. Kadang sapuan dari kain kotor yang di gantungkan di pundak mereka, menjadi penyeka keringat masing-masing.

__ADS_1


Nampaknya terik matahari sudah menjadi makanan sehari-hari para kondektur dan pedagang asongan. Terminal tak ubahnya menjadi ladang rejeki untuk mengais pundi-pundi rupiah.


"Tin.. tin...," klakson di bunyikan pertanda bus persiapan berangkat.


"Ayooo.. ayoo.." kondektur berseragam memberi aba-aba.


Para penumpang berhamburan masuk, sebagian dari mereka sudah masuk duluan. Jovi sendiri nampak menjinjing koper miliknya. Sebelum pergi dari Jakarta, ucapan perpisahan juga di berikan pada sopir travel suruhan Ernest.


"Pak, saya balik ke Surabaya ya..? terima kasih pak, sampai jumpa, semoga bapak selalu dalam kondisi sehat ya.. aamiin."


"Terima kasih banyak suster, hati-hati di jalan."


Rambut panjang kuncir kuda milik Jovi, nampak mengikuti arah pemiliknya masuk. Aroma AC dan bau khass bus, langsung menyergap hidung mancung kakak Aqila tersebut.


Kepala Jovi merasa pening, perutnya menahan ingin mual. Dan Jovi mempercepat langkah untuk mencari kursi kosong. Bangku kosong berkursi dua, salah satunya di tempati Jovi.


Perempuan cantik tersebut menempati duduk di samping jendela. Wajah sopir Ernest yang sampai sekarang tidak di ketahui Jovi. Masih nampak berdiri gagah, menunggu kepergian Jovi.


Jovi mempersiapkan uang pembayaran bus, kue tidak enak yang di beli dari pedagang asongan nampak di bangku pahanya. Jovi juga mengambil recehan uang sengaja di persiapkan untuk para pengamen.


"Mbak, sendirian ya?."


"Ouh iya, saya sendiri." Jovi tersenyum.


"Saya duduk sini ya mbak?" ibu-ibu sedang bernegosiasi.


"Iya buk, silahkan."


"Sini Go, ayooo..," ibu itu memanggil anak kecil laki-lakinya berusia 4 tahun.


Jovi juga ikut menoleh.


"Mamah, jajan, jajan." rengeknya.


"Nanti, nanti, ini lo tayo'nya mau jalan, katanya mau naik tayo." ibu itu memaksa anak laki-lakinya duduk.


Bangku dua tak ubahnya menyulap tempat duduk Jovi menjadi sangat sempit. Belum juga barang bawaan yang di bawa ibu tersebut sangat banyak.


Mulai dari persediaan camilan snack, termos susu, kotak susu, belum juga barang bawaan lain. Mengajak tangan Jovi membantu ibu tersebut. Anak kecilnya juga tampak tidak mau menurut semakin membuat Jovi pening.


"Jajaaaaan....," tangis anak kecil itu pecah.


"Jajan iya jajan sebentar, ini lo, di kasih tau dari tadi kok ndak mau tau, ndak mau diem, minta yang mana?," ibu berkerudung coklat itu juga nampak tidak sabar.


"Buk, jangan di marahin buk, kasihan." Jovi tidak tega.


"Yang coklat, coklat," rengek anak ibu itu.


"Lha gimana mbak? capek saya ini, rewelnya kebangetan ini anak, maaf ya mbak, malah bikin mbaknya ndak nyaman."


"Tidak apa-apa buk."


"Coklat, coklat," anak itu masih menangis.


"Coklat mana? yang ini ya?," Jovi mengambil jajan di tas sampingnya.


"Hiiiigghhh...."


Orang tua anak kecil itu, menjewer telinga anaknya.


"Huaaaa... hiks.. hiks," anaknya menangis histeris, paha Jovi ikut di tendang kencang. Celana putih miliknya kotor akibat sepatu anak kecil itu.


"Aduuuh...," Jovi terkejut, anak kecil tersebut benar-benar nakal.


"Adekk, adekk, ini ya, yang ini ya..? apa yang ini? lihat, ini lo ada gambarnya harimau, waawww.. enak ini." bujuk Jovi.


"Harimau...???,"


"Iya harimau, nanti kalau nangis, di gigit harimau ini loe, loncat nanti harimau'nya," tangan Jovi menunjuk bungkus snack yang di bawa.


"Ndaak, Adi ndak nangis, nanti harimau'nya keluar."


"Nah anak pinter, dek Adi makan ya kalau gitu, jangan nangis lagi,"


"Iya mau." sikap manja anak kecil itu langsung memeluk mamahnya.


Penumpang laki-laki tampak tersenyum melihat ke arah Jovi. Tempat bus yang penuh, mengajak beberapa para pria berdiri di antara lorong kursi bus.


Jovi sendiri, tampak menghapus air mata anak penumpang di samping nya itu. Suasana bus sudah kembali kondusif, hampir setengah jam lebih tangis anak kecil di sebelah Jovi, menggegerkan suasana tidak nyaman.


Bus memang terlihat berdesakan, namun perjalanan panjang kembali ke Surabaya sudah di mulai, bus sudah perlahan jalan pergi meninggalkan kota Jakarta.


Kondektur jalan, menarik karcis.


"Ke mana mbak?."


"Surabaya pak."


Penumpang laki-laki itu, masih melihat ke arah Jovi. Hanya samar-samar karena desakan dari penumpang lain.


"Berapa pak?."


"280.000 mbak."


"Ini pak," tangan Jovi memberi uang 3 lembar 100.000.


"Kembalinya ya..?" kondektur mengembalikan sisa uang.


"Iya pak, terima kasih banyak."


Kondektur pergi.


Beberapa jam, mata Jovi mulai menikmati perjalanan, aroma tidak sedap dari bus mulai terbiasa masuk ke dalam indra penciuman dia. Hari ini kebebesan sudah ada di tangan perempuan cantik tersebut.


Jovi sendiri merasa lebih lega, setelah tidak hidup berada di bawah bayang-bayang Ernest lagi. Meski ucapan sopir travel kadang tidak bisa di tepis menghantui pikirannya. Sekarang semua sudah berubah.

__ADS_1


Waktu akan kembali mengantar pada porsi yang semesti. Tentang Jovi dan Ernest, mereka bertemu lewat garis tangan Tuhan, perpisahan juga Tuhan lah yang menggariskan.


"Di pilih Tuhan menjadi suster untuk Tuan Ernest benar-benar hanya menjadi kenangan buruk, jika bisa mengembalikan waktu. mungkin ajak aku dulu Tuhan, mendiskusikannya, ini sungguh menyakitkan.." Jovi melamun.


"Di benci Tuan Ernest, tidak masalah, dia bukan siapa-siapa kamu Jovi, biarkan saja, hidup akan tetap baik-baik saja tanpa bayangan marga Wijaya,"


Laju bus besar mengantar kepergian Jovi dari kota satu, berpindah melewati kota lain. Jovi berusaha tidak meratapi nasib, saat suasana bus benar-benar tenang.


Mengingat Ernest, semakin membuat perasaan Jovi susah di kendalikan. Bayangan restoran Enmaru, lamaran Ernest di dalam mobil, memukul ingatan Jovi tanpa merasa kasihan.


Cobaan berat sudah di lalui, Jovi berusaha menemukan pelangi di dalam kehidupannya sendiri. Setelah Ernest dan Fictor sama-sama tidak di pilih Jovi untuk menjemput nasib baiknya.


"Jadi apa ya Jov kamu? setelah tidak bekerja di Semesta Grup," matanya memerah, takut tidak bisa membantu keuangan keluarga.


"Melamar kerja..? kira-kira ke mana ya? menjadi sekertaris lagi? ahh tidak mungkin, menjadi perawat? tapi perawat di mana? RS Wijaya, janganlah," Jovi menoleh ke dalam bus.


Anak kecil rewel bersama mamanya tadi, tampak sudah terlelap tidur. Beberapa penumpang di toleh mata cantik Jovi, juga nampak melakukan hal yang sama, sama-sama istirahat.


Kelopak mata Jovi terasa sangat berat, perlahan, kesedihannya mulai menutup. Rasa kosong perut karena lapar sudah tidak lagi terasa, saat mata benar-benar lebih memilih untuk memejam, terlelap tidur.


PERJALANAN BUS, PUKUL 18.00


14 jam waktu yang di perkirakan sopir untuk sampai ke terminal purabaya, Bungur Asih, Surabaya. Perjalanan masih tersisa 7 jam lagi, di mana setengah perjalanan sudah di tempuh.


Jovi mulai membuka mata, saat kaca bus di sampingnya, sudah mengubah menjadi pandangan malam yang gelap. Ada sedikit nyeri di bagian perut, Jovi ketiduran, lupa jika belum makan.


Matanya mencari ke mana ibu dan anak kecil bernama Adi tadi. Tampaknya tempat ibu tadi sudah di gantikan penumpang lain, laki-laki yang tidak di ketahui namanya tersebut, diperkirakan Jovi baru saja memindahkan diri.


Di malam hari, bus sudah menyalakan lampu, warna putih, memperjelas satu persatu para penumpangnya. Laki-laki di samping Jovi, juga nampak sibuk dengan ponsel.


Penumpang terlihat lebih berjejal, Jovi bernafas lega, sudah mendapatkan tempat duduk dari tadi.


"Aduuhhh..., sakitnya," maag Jovi kambuh.


Rambut panjang Jovi menutupi wajah, mengambil sesuatu yang bermanfaat di dalam kopernya untuk meredakan nyeri.


Jovi sendiri, bukanlah orang yang prepare saat pergi, jadi tidak ada obat penolong di temukan tangannya. Hanya sisa botol kecil fresh care di dalam koper, setidaknya meringankan sakit Jovi.


"Kluuutttikk....," botol fresh care menggelinding di bawah penumpang sampingnya.


"Eeeehhh...," suara Jovi saat botol fresh care berlari.


"Mas, maaf bisa tolong ambilkan, itu punya saya," Jovi menunduk di kolong kursi.


"Sebentar, sebentar," penumpang laki-laki itu mengambil fresh care milik Jovi.


"Ini."


"Terima kasih ya mas..!!," Jovi mengambil botol, rambutnya berantakan akibat mengejar botol, tangan Jovi mencoba membenahi.


Laki-laki itu menoleh.


"Jovi.....!!!"


"Yaa...," spontan Jovi mengangkat kepala.


"Dokteeer...."


Tangan Jovi mendadak kaku, tidak bisa di turunkan, saat membenahi rambutnya.


"Jovi, kamu masih ingat saya kan?." laki-laki tampan tersebut seperti masih tidak percaya.


Jovi mengangguk, mengarahkan pandangannya ke bawah. Tubuh laki-laki tampan tersebut, tampak memeluk erat Jovi. Rasa tidak percaya, bisa bertemu lagi dengan Jovi dalam perjalanan menuju ke Surabaya.


"Hey, gimana kabar kamu? kamu habis dari mana? masih di Surabaya kan?." tangan laki-laki itu tidak sungkan menepuk pundak Jovi.


Ekspresi bahagia, melepas tangan dari tubuh Jovi benar-benar terlihat.


"Baik Dok,"


"Dari Jakarta i-ini ba-baru mau pulang ke Surabaya," mata Jovi mengerjap, tubuhnya gemetar tidak siap bertemu.


"Sama, ngapain di sana? kerja?," suara lembut dokter itu menanyai.


"Ndak, cuma mengantar berkas sedikit" perut Jovi semakin mules.


Perempuan cantik tersebut bingung, harus menanyakan apa pada masa lalunya dulu.


"Dokter habis dari mana?."


"Ini saya baru selesai menghadiri acara seminar dengan IDI di Senayan, itu botol fresh care kamu kosong ya? kenapa di ambil? sudah kosong, buang saja ya?."


"Hah? aaa.. kosong," Jovi baru memperhatikannya, dari tadi laki-laki itu melihat tangan kanan dan botol fresh care kosong.


"Ini..," orang yang di panggil Jovi, Dokter itu, mengambil botol fresh care miliknya yang masih utuh di tas.


"Kenapa pakai fresh care, kamu kembung? pusing? apa tidak terbiasa melakukan perjalanan jauh?." suara Nalen benar-benar lembut.


"Terima kasih dokter, hehe tidak papa, cuma agak pening aja." Jovi mengarahkan matanya ke lain tempat.


Bertemunya Jovi dengan masa lalunya, tak ubah membuat perempuan cantik tersebut mati kutu, gemetaran. Perasaan ini sama saat Ernest menawarkan tawaran lamaran pada Jovi.


Perjalanan menuju Surabaya masih di perkirakan Jovi memakan waktu lama. Selain baru setengah perjalanan, kamecetan di daerah sebelum Surabaya nampak mengular.


Meski sopir bus sudah berusaha semaksimal mungkin. Jovi bisa melihat bis masih berhenti, di tempat mengular perempatan.


"Sebetulnya aku dari tadi udah lihat kamu sama anak kecil tadi, cuma nggak tau kalau itu kamu, harimau'nya mana? nanti aku nangis loh, minta di beliin jajan lo." goda dokter tersebut menirukan gaya Jovi tadi.


Jovi tersenyum.


"Hari maunya sudah pulang, sama anak kecil tadi." ucapnya menahan tawa.


"Hahaha.. pinter jawabannya," laki-laki tampan tersebut mengusap lembut kepala Jovi.


Kedekatan kedua'nya seolah memperlihatkan bahwa Jovi dan dokter tersebut sudah terjalin lama. Nampaknya laki-laki yang tersenyum terus kepada Jovi, tidak lain adalah Dokter tampan, yang sering di bahas oleh Dokter Edo, saat bertemu Jovi.

__ADS_1


Siapakah dia???


*IDI \= Ikatan Dokter Indonesia.


__ADS_2