Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
84. JW Marriott?


__ADS_3

"Hallo Meghan.. gimana? gimana? loe suka nggak sama artikel yang udah gue buat." tanya Fictor.


"Fictor, gila parah banget.. pemberitaan Jovi kelihatannya lagi panas-panasnya nih. Loe tau nggak akun gue langsung dikomen sama para orang-orang yang iba lihatin kisah asmara gue hancur gara-gara pihak ke tiga hahaha."


"Ya lah, gue juga awalnya nggak sampe ke sana. Cuma si Dion nih ide'nya selalu brilliant banget loe tau.. hubungan kisah asmara loe sama Ernest perlu banget di up biar menjual sedikit, mati nggak tuh si Jovi."


"Hahahaa.. well, gue tinggal nunggu Ernest dateng ke gue, terus minta-minta gue dengan sangat untuk klarifikasi biar tuh nama susternya baik lagi. Di situ Ernest akan pisah, Jovi menjauh, rencana kita terealisasi semua, ya kan Fic?,"


Suara Meghan terdengar sangat bahagia. Fictor tersenyum licik, ia tahu Meghan hanya di jadikan alat agar semua rencana busuk Fictor tetap berjalan.


"Fictor.. halloo, loe denger gue kan? Fic?," Meghan mencari-cari.


"Ouh iya, ya, gue denger..!! Thanks banget Megh, kalau bukan karena loe berita tersebut tetap akan mengambang, tapi dengan di bumbui masalah Jovi menjadi orang ketiga ini akan sangat menguntungkan. Thanks banget ya..," suara Fictor lembut.


"Lahhhh.. loe kayak siapa aja sih. Selagi kerjasama kita saling menguntungkan, gue sih oke, oke aja. Ya udah gue ada meeting di lantai 2 sebentar, gue tutup ya.. bye."


"Oke Megh, bye juga." Fictor menutup telepon.


"Hahahahaha."


Gema suara Fictor meraung mengisi semua ruangan. Putra Bapak Purwo tersebut sampai menyeka bulir air mata di samping pelipis. Fictor nampak terlihat sangat bahagia.


"Dasaarrr.. perempuan..!! yang di mainin cuma perasaan, nggak pakai logika. Meghan, Meghan, ****** banget sih loe. Hahaha.. loe kira dengan Ernest jauh dari Jovi, loe akan dapetin dia lagi dan akhirnya loe bahagia bareng, najiiizzzz."


Fictor beranjak dari kursi.


"Hahaha.. baik banget gue, Meghan, Meghan lucu banget loe. Bantuin loe bahagia sama Ernest Megh hahaha ogah..!! Ernest nggak akan bahagia bareng loe, bahagia dia nyusulin Helen ke Surga. Baik kan gue?? ngirim Ernest lebih dulu."


Kematian Ernest tetap menjadi tujuan utama Fictor. Dendamnya tidak bisa di lunasi begitu saja. Meski bertahun-tahun telah usai kejadian tersebut, tak menghapus sakit hati Fictor.


Fictor berjalan keluar ruangan. Di meja kerja bekas Jovi ada Ola menyelesaikan berkas. Mundurnya PT. Jyco dari perusahaan tidak jadi masalah, pundi-pundi uang tetap mengucur.


Anak perusahaan Semesta Grup ada yang sudah diakui, sehingga anak PT Semesta Grup masih bisa mendistribusikan saham-saham yang tengah merosot.


"Ol, Ola..," sapa Fictor tersenyum.


Ola menoleh. Alisnya menyatu, dahi Ola mengernyit, ada apa lagi Fictor menyapa dia sebahagia itu.


"Tumben, ada apa panggil-panggil?," ketus Ola.


"Hahaha, nggak papa lah, loe ini emang nggak ada sopan-sopannya ya sama gue. Makan lo sana..!! nyerocos loe itu juga butuh tenaga,"


"Iiih.. sok sok perhatian lagi. Kena bipolar loe lama-lama, dasar aneh.!!," Ola mengangkati pundak bergantian.


"Lo yang aneh, sekertaris demit loe. hiii..," Fictor yang kabur lari ke luar ruangan.


Ola menepuk jidad. Boss Semesta Grup sedang gila. Meski begitu, ada sedikit senyum Ola yang menyungging. Fictor kadang memiliki sisi lain yang tidak bisa di tembus oleh manusia.


"Kira-kira apa ya yang ngebuat si Fictor sebahagia itu? heran gue.!! bisnisnya kan lagi menurun, kenapa dia masih bisa ketawa?," tanya Ola sendiri.


Perempuan berambut sebahu tersebut melanjutkan pekerjaan. Ola tidak memiliki insting jahat seperti biasanya pada Fictor.


******************


RUMAH JOVI, PERUMAHAN ARCHADYA.


Pukul 09.00 setelah sarapan pagi, Tuan Toni bersama Ernest menuju lagi ke perumahan. Satpam penjaga perumahan sampai hafal dengan mobil dan wajah Ernest.


Tuan Toni terlihat tampan mengenakan kacamata, kemeja warna biru tua, serta jam tangan rolex berwarna abu-abu.


Pandangan matanya tidak berubah melihat kawasan sekitar rumah Jovi. Letak rumah Jovi tidak sebesar rumah Tuan Toni, akan tetapi Tuan Toni tidak mempermasalahkan.


Beberapa kucing anggora di luar pagar kompleks perumahan justru yang menarik perhatian Tuan Toni. 3 sampai 4 kucing anggora berkeliaran namun tidak ada yang mengambil.


"Kucingnya ini nggak khawatir hilang ya Nest?," Tuan Toni mengamati di depan mobil.


"Nggak tau pa, sudah hafal jalan rumah lah pa kelihatannya. Asri ya pah suasana perumahan di sini."


"Iya.. RT'nya berperan besar ini, karena hampir semua rumah pasti ada tanaman hijaunya," Tuan Toni mengangguk.


Ernest dan Tuan Toni kemudian masuk. Suasana rumah terlihat penuh aktivitas, tawa Aqila menyeruak ke luar ruangan. Papa Jovi juga terdengar ada di rumah.


Ernest mengetuk pintu.


"Selamat pagi.. Om tante.., permisi."


"Iya, sebentar," dari dalam papa Jovi berbicara.

__ADS_1


Tidak lama papa Jovi keluar. Tidak terkejut Ernest datang, kedatangan Tuan Toni yang sedikit menyita perhatian. Senyum lepas papa Jovi langsung mempersilahkan masuk.


Ernest dan Tuan Toni duduk. Papa Jovi memanggil istrinya di dapur. Jovi baru saja selesai makan dan minum obat.


"Kemana Suster Jovi?? nggak kelihatan ya? masih sakit Nest," tanya Tuan Toni.


"Iya pah, masih istirahat mungkin."


Dari tirai pembatas ruang tamu dan ruang tengah, Aqila mengintip. Tubuh kecilnya di bungkus dengan tirai, sisa kepala saja yang terlihat.


"Om Ernest," panggilnya lucu.


"Eh sini, sini..," Ernest melambaikan tangannya.


"Siapa itu?," Tuan Toni ikut tertawa.


"Adiknya Suster Jovi pa, namanya Aqila, dia'nya masih TK."


"Ouhhh...," Tuan Toni mengangguk.


Di dalam, Jovi segera di bangunkan paksa mamanya. Daster batik mama Jovi terganti dengan baju sopan berwarna putih motif bunga.


Papa Jovi lebih awal menemui Tuan Toni dan putranya. Panas dingin tubuh mama Jovi ikutikut bahagia, meski tidak ikut di lamar.


"Jov, Jovi ayo bangun nak.. di sana ada aki'nya Tuan Ernest," mama Jovi menepuki pipi.


"Siapa mah? Tuan Ernest? Jovi kurang enak badan, nanti siang Jovi ada test ke rumah sakit, Tuan suruh ke sini saja," Jovi menarik lagi selimut.


"Jov, Jovi.. ini ada tuan satunya setelah Tuan Ernest Jov. Yang lebih tua dan keriput, tapi kulitnya juga putih, udah umur Jov."


"Siapa sih mah?," Jovi mencoba mengerjapkan mata, siapa sedang di maksud mama Jovi.


"Tuan, setelah Tuan Ernest?? Tuan Toni mah."


"Aaaaahh.. iya, mungkin itu. Tuan Ernest manggilnya papa," ucap mama Jovi mengambil pakaian buat Jovi.


"Ayoo ganti baju kamu."


Perintah mama Jovi langsung di indahkan oleh putrinya. Jovi gemetaran, Tuan Toni datang ke rumahnya.


Di ruang tamu.


Papa Jovi serta Tuan Toni mulai berbasa-basi sembari menunggu Jovi dan mamanya. Ernest sebenarnya masih mengantuk setelah datang dari Malang.


"Tuan Toni, secara pribadi saya merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan anda langsung. Nama anda sangat dikenal oleh para pembisnis tanah air bahkan perusahaan Tuan Toni banyak di jadikan kiblat bisnis oleh teman-teman saya yang sudah sukses."


"Hehehe, jangan begitu pak. Kita ini besan lo, masak iya Pak Yusuf memanggil saya Tuan, kiranya itu sangat tidak sopan. Pak Yusuf sudah lama mendirikan perusahaan?."


"Sudah pak, tapi mungkin nasibnya kurang beruntung, ya sampai akhirnya harus mengorbankan putri saya sendiri ikut membantu melunasi hutang papanya," papa Jovi tidak menutupi apapun.


"Namanya perjalanan hidup Pak Yusuf, ada saatnya di atas dan di bawah, bukan cuma roda becak yang berputar Pak Yusuf, roda kehidupan juga iya. Siapa tau setelah ini, ada tander besar menanti perusahaan kan ya?."


"Benar pak, kami juga selalu berusaha seperti itu. optimis untuk hari esok," papa Jovi tersenyum.


Jovi dan mamanya keluar dari tirai. Aqila membagikan botol minum untuk Tuan Toni, Ernest serta papanya. Setelah sekian lama, Jovi baru bisa bertemu Tuan Toni.


"Tuan besar," Jovi memberi salam serta sedikit membungkukkan badan.


"Sudah mau tunangan, apa nggak mau panggilannya di ganti papa Toni?," Tuan Toni menggoda.


"Di panggil papa besar aja kak Opi," celetuk Aqila.


"Hah..?? papa besar? apanya yang besar ini?," Tuan Toni mengelus pipi Aqila.


"Hahahahaha.."


Semua keluarga terhanyut dalam tawa.


Jovi duduk di samping mamanya. Ernest memperhatikan wajah Jovi sedikit pucat.


"Kamu bagaimana kabarnya Suster Jovi? pulang dari Jakarta masih suka di musuhin Ernest nggak?,".


Jovi menggeleng kepala malu.


"Masih nahan rindu sama Ernest?," Tuan Toni sukses memerahkan pipi.


"Hehehehe...," Jovi semakin kikuk.

__ADS_1


Pertanyaan Tuan Toni selalu mencairkan suasana. Rupanya Tuan Toni menjadi pribadi kurang lebih sama dengan putranya, terbuka hanya dengan orang-orang tertentu.


"Mohon maaf Pak Yusuf, ini putri bapak kelihatan banget kalau masih takut dengan saya ya?? dulu kalau saya marahin, larinya pasti ke Ernest ya? makanya bisa sampai sekarang kan?."


"Hehehe tidak papa Pak Toni, mungkin kalau Pak Toni tidak berubah seperti makan odading dan menjadi ironman tidak akan ada cinta di antara mereka."


"Hahahaha..," mama Jovi, papa Ernest lantas tertawa.


"Jangan sungkan Suster, enjoyyyy saja." mama Jovi turut menggoda.


"Mama.. ngapain sih ikut-ikutan panggil suster.. kaki Jovi udah panas dingin mah," keluh Jovi dari hatinya.


Jarum jam berjalan pukul 09.30 Wib. Suasana sudah sangat cair, obrolan ringan kedua keluarga tersebut tampak semakin dekat.


Tuan Toni memulai pembicaraan inti.


Terkadang Ernest mencuri perhatian ke arah Jovi, tapi yang ada mama Jovi melihat ke Ernest. Mereka saling tersenyum. Jovi sangat bahagia hari ini.


"Pak Yusuf, maksud kedatangan saya hari ini dengan Ernest adalah untuk memastikan lebih lanjut kapan, di mana, hari apa pertunangan tersebut akan di gelar," kata Tuan Toni.


"Iya Pak Toni, kalau jujur untuk saya pribadi dan keluarga di manapun tempatnya kami oke saja, yang terpenting acara inti berjalan baik dan lancar. Di rumah juga sudah bagus kelihatannya,"


Papa Jovi sebenarnya tidak ada dana. Ernest dan Tuan Toni saling berpandangan. Tidak mungkin, pertunangan anak semata wayang putra Toni Wijaya hanya bergelar sederhana di rumah.


"Mmmbbb.. begini Pak Yusuf, tanpa mengurangi rasa hormat, apabila di rumah jujur rumah kami tidak bisa menampung tamu terlalu banyak. Keluarga besar saya dan mama Ernest banyak, alangkah lebih baiknya kita di gedung saja."


"Bagaimana mah?," papa Jovi bingung.


Mama Jovi diam saja bingung.


"Aaaa.. begini-begini, untuk estimasi biaya tidak perlu di fikirkan dulu, kita fokuskan dulu acar ini. Saya punya rencana, jadi agar kebahagiaan ini bisa lebih terasa, bagaimana apabila pertunangan ini kita jadikan satu kedatangan keluarga mempelai perempuan maupun laki-laki. Kita jadikan satu di JW. Marriot saja gimana?."


"Nahhh.. betul pah. Belum kalau untuk keluarga kita, tante Erni, tante Intan, dan Budhe Halwa kan banyak itu pah," Ernest tampak bersemangat.


"Bentar-bentar, papa telponkan tante Erni dulu ya.. ada berapa total keluarga kita yang ada Semarang??," Tuan Toni sibuk mengulik ponsel.


"Aku juga mau cari nomernya Om Aris pah, keluarga mama juga kan yang di Pemalang banyak pa," tutur Ernest terlihat sangat bahagia.


Papa Jovi yang duduknya agak jauh dari Jovi dan mamanya, memberi kode. Bibir papa Jovi terlihat komat-kamit "JW Marriot" "JW Marriot".


Tangan papa Jovi satunya menunjuk ponsel. Mama Jovi tidak tau apa yang di inginkan suaminya, Jovi justru menghitung jumlah keluarganya.


"Mah.. Jovi, Jovi, suruh cek harga," mulut papa Jovi komat kamit lagi.


"Apa sih pah? cek apa?."


"JW Marriot mamah," raut wajah papa Jovi tidak tenang.


"Pede ? pede marriot apa sih?," pundak mama Jovi di senggol Aqila.


Beruntung Aqila sangat jenius. Ia membisikkan kata JW Marriot.


Perintah papa Jovi di bisik ke Jovi. Perempuan cantik yang di cintai Ernest tersebut, di hadapkan kenyataan, Jovi lupa mengecek harga sewa, vendor dan lainnya.


"Jov, cek harga JW Marriot? di suruh papa kamu, jangan di hitung dulu total tamu kita, cek dulu harganya," bisik mamanya pelan.


Jovi mengecek ponsel. Harga sewa JW. Marriott beserta vendor dan lainnya di taksir senilai 480.000.000. Ada potongan 5.000.000 untuk bulan ini membuat kantong hemat, tulis promo yang di baca Jovi.


"Mah..," Jovi menyenggol pundak mamanya, layar ponsel di baca mama Jovi tertera harga fantastis.


"Haduuuh Jov, libur, libur," mama Jovi pening.


Isyarat dari mama Jovi di terima suaminya. Jari tangan mama Jovi menunjuk angka 5, mengartikan total biaya masih senilai 500 juta.


"Tuan Toni, mohon maaf ya. Apa benar ini harus JW Marriot? jujur daripada nanti kita sudah menghubungi semua keluarga lalu lokasi berpindah, mending kita berduskusi lagi di mana tempatnya?,"


Tuan Toni dan Ernest sama-sama menanggalkan ponsel dari tangan mereka.


"Lha iya kan, ya JW Marriott tadi Pak Yusuf? ouh apa mungkin kita pindah tempat lagi? ada refrenshi tempat lain kah? saya kok lebih suka di JW Marriot saja ya pak?."


"Iya betul Om, di sana reservasi dan pelayanannya juga bagus, memuaskan juga," Ernest ikut meng"iya"kan.


"Aaaaa.. tapi biayanya? sa-saya tidak bisa kalau untuk ambil JW. Marriot Ernest. Angsuran bank, bunga pinjaman dari beberapa teman om masih banyak," papa Jovi jujur.


"Ouh itu, tenang saja lah Pak Yusuf. Kami tidak akan membebankan pada keluarga Pak Yusuf sama sekali," Tuan Toni menenangkan.


"Dana akan pure dari keluarga kami sebagai pihak laki-laki yang bertanggung jawab menyelenggarakan acara Om. Saya yang akan meng handle semua." tambah Ernest.

__ADS_1


__ADS_2