
"Jangan seperti ini lagi, janji ya..!!!"
Jovi mengangguk, air mata mereka sama-sama mengalir menjadi saksi.
Tubuh Jovi semakin lunglai diatas dekapan putra tampan Tuan Toni. Ernest merasakan, kulit dingin Jovi yang di sergap oleh angin jalan.
Gaun putih Jovi kadang berlari mengikuti angin, helai rambut yang tidak rapi, saling menampari pipi, kadang menyatu dengan air mata pipi.
"Saya khawatir dengan kamu sayang. Kamu jangan pernah seperti ini Jovi, jantung saya hampir tidak ada di tempatnya malam ini."
Ernest memeluk sangat erat.
"Tuan apa mencintai saya?."
Ernest terdiam.
"Tuan apa benar mencintai saya?," Jovi mengulang lagi.
Mata Ernest terlihat dikejutkan. Pelukan ke tubuh Jovi seketika itu merenggang perlahan. Ernest melepas tangan dari tubuh tinggi suster Jovi.
Ernest melihat pandangan mata Jovi kosong. Arah mata Jovi tidak melihat Ernest, bola matanya memandang jauh jalanan dibelakang Ernest.
"Apa yang kamu katakan ??."
Suasana hening.
"Apa saya benar-benar terlihat berbohong? sampai kamu berkata demikian," ucap Ernest.
"Coba jawabb..!!," Ernest menuntun wajah Jovi melihat matanya.
Tidak ada jawaban, kedua mata Jovi hanya terlihat menahan genangan air mata yang sebentar lagi akan terjatuh.
"Selama ini yang saya buktikan ke kamu apa masih kurang suster? lantas apa karena saya orang baru? apa salah saya? kenapa se susah itu kamu mempercayai saya suster Jovi."
Ucapan Ernest benar-benar menandakan ia sedang sangat kecewa.
"Saya hanya ingin mendengar jawaban tuan."
Jovi enggan menatap Ernest.
"Ya Tuhan," Ernest menghela nafas perlahan.
"Itu pertanyaan yang sangat retoris, pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban lagi. Saya tidak tau kamu bertanya seperti ini karena apa?? tapi bisa kamu ingat, saat kamu di sakiti seseorang, disitu hati saya yang lebih sakit berlipat-lipat. Mengertilah sayang, saya tidak mau kamu di sakiti oleh siapapun, saya mencintai kamu Jov."
Dada Ernest sesak. Suaranya tertahan, tangisnya tak tertahan.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini? sampai kapan keraguan kamu pada saya akan hilang. Apa kamu termakan oleh ucapan Dokter Nalen?? iya?."
"Tidak, Dokter Nalen tidak pernah mengatakan apapun. Tapi banyak teman Tuan Ernest yang terlihat lebih sayang tuan dengan Meghan, bahkan mungkin banyak yang menyayangkan kalian putus? kalian terlihat sama-sama cocok? teman-teman tuan benar-benar welcome. Mungkin akan berbeda, apabila saya yang ada disitu," Jovi sesenggukkan.
"Yang menikah itu saya atau teman saya? Jovi, Jovi, Jovi," Ernest pening, amarahnya tertahan, meski sangat kesal.
Ernest melepaskan Jovi. Mata Ernest memejam sementara waktu menetralisir kemarahannya. Beberapa detik kemudian, Ernest memegang kedua pundak Jovi, menatap mata Jovi dalam-dalam.
"Kalau kamu cemburu, bukan Meghan orangnya? dia hanya kebetulan orang yang berada satu server tempat kerja dan kebetulan sepupu Frans, tidak lebih dari itu. Percayalah..!!"
Jovi menarik bibirnya tersenyum palsu.
"Kalau kamu melihat kedekatan Meghan dan saya, bersama teman-teman, tidak..!! tidak seperti itu..!! Meghan yang sudah saya peringati agar tidak menyakiti kamu lagi, pahamkan sampai di sini..!! bahwa saya sangat mencintai kamu Jovi."
"Maafkan saya tuan," Jovi menundukkan kepala.
"Tidak papa," Ernest mengambil tangan Jovi, ia memeluknya lagi. Kening putih perempuan berusia 25 tahun tersebut di kecup lembut.
"Cup"
Ernest menyucup lembut bibir Jovi.
Bibir Ernest dan Jovi saling berpagutan, telapak tangan Ernest berpindah ke belakang leher Jovi, sedangkan tangan Jovi memeluk pinggang Ernest.
Ruko yang gelap hanya dengan percahayaan dari lampu penerang jalan semakin membuat suasana tampak romantis.
Semilir angin malam, kadang mengangkat bulu-bulu halus pada leher dan tubuh Ernest yang tertiup angin.
Hilmi hanya bisa terhenti langkahnya ketika melihat Ernest memagut lembut bibir mantan kekasihnya tersebut.
Pak Rahmat juga tampak mengalihkan pandangan setelah melihat apa yang tengah di lakukan Ernest dan Jovi.
5 menit kemudian.
Ernest melepas ciuman. Ia lantas mengajak Jovi menuju mobil. Pada pukul 21.00 mereka pulang dari pesta pernikahan Sandi. Semua benar-benar di uji coba.
***************
Perjalanan pulang berjalan seperti biasa. Suasana lampu jalanan masuk menembus kaca mobil, ketika Jovi duduk di samping Ernest.
Jovi masih sedikit merenungi pertemuannya dengan Hilmi yang secara tiba-tiba. Kejadian di pesta pernikahan Sandi juga tidak serta merta langsung hilang begitu saja.
Ernest mulai mengajak ngobrol Jovi.
"Besok kalau kita menikah, bagaimana kalau kita ambil dekorasi out door sayang? pasti akan sangat menarik."
"Terserah," jawab Jovi tersenyum.
"Mmmbb.. kok begitu? aaa.. bagaimana kalau tema pernikahan kita disney, pasti Aqila suka?."
"Jangan," Jovi tertawa menggeleng kepala.
"Di jamin nanti para tamu undangan yang bawa anak kecil bakalan betah sayang, hahaha." Ernest membayangkan sendiri merasa lucu.
Jovi hanya tersenyum simpul.
"Sekalian saja, mandi bola dan rumah balonnya tuan, biar lengkap," timpal Pak Rahmat di bagian kursi sopir.
__ADS_1
"Bisa itu pak, bagus..!! apa sekalian penjual pop ice juga ya pak.. ?? wah.. pasti akan berbeda dari yang lain," antusias Ernest menjawab.
"Ya sayang ya?," tanya Ernest.
Jovi senyum.
"Kalau itu bukan jadi pesta pernikahan lagi tuan, tapi pasar malam," Pak Rahmat melihat spion.
"Hahahaha.." Ernest benar-benar terlihat sangat bahagia.
Di dalam mobil suasana penuh tawa, kadang Ernest mencuri perhatian ke arah Jovi. Senyum Jovi tidak lepas, kakak Aqila tersebut nampak menyimpan sesuatu.
Ernest mencoba meyakinkan hati, bahwa mungkin hanya dia saja yang merasa seperti itu. Jovi juga masih bisa tertawa. Akan tetapi semakin lama, semakin terlihat Jovi tidak begitu antusias ikut menjawab.
Suasana mobil juga sempat terhening.
Ernest melihat Jovi.
Perempuan cantik tersebut justru memandang keluar jendela.
Ernest ikut diam. Jovi terlihat tetap asik dengan kesendiriannya meskipun ada Ernest.
Tanpa alunan lagu, mobil masih melaju berkecepatan sedang. Tubuh Ernest condong ke arah Jovi, lagi-lagi mata indah laki-laki tampan itu yang berbicara.
Jovi membalikkan tubuh. Ernest sudah melihat dengan tatapan tajam.
"Bagaimana kalau kita menikah minggu ini?."
Jovi nampak terkejut. Ia melihat Ernest, raut wajah CEO Wijaya Grup tersebut benar-benar serius tanpa tawa.
"Minggu ini baru pertunangan kita."
"Saya maunya menikah minggu ini."
"Tidak bisa."
"Bisa," Ernest keukeh.
"Tidak."
"Kenapa tidak? kita bisa urus surat-suratnya besok, papa punya orang yang akan meng handle semua administrasi pernikahan kita."
Jovi diam.
"Kenapa kamu sangat mudah sekali di goyahkan oleh sesuatu??," Ernest membuang muka ke jendela.
Sedikit ucapan Ernest terasa langsung menampar sanubari Jovi. Ia sampai ternga-nga dengan ucapan Ernest.
"Baik," Jovi meng"iya"kan.
Kali ini Ernest yang diam.
Pak Rahmat pun ikut tegang. Suara Ernest sangat tegas. Rasa kesal sudah di ubun-ubun, mendapati semua perubahan sikap Jovi.
20 menit kemudian.
Mobil hitam Ernest berbelok ke perumahan rumah Jovi. Tidak ada yang janggal saat mereka pulang. Jovi dan Ernest tidak tau, bahwa Tuan Toni baru saja pulang dari rumah Jovi.
Mobil sampai di depan gerbang.
Jovi lalu turun.
"Hati-hati ya, jangan lupa cuci kaki, habis itu tidur, jangan banyak fikiran, cup." Ernest mencium pipi.
Jovi mengangguk.
"Cup," Jovi mencium pipi Ernest.
"Tuan hati-hati, jangan lupa minum obat dan ganti baju," pesan Jovi sebelum turun.
Kemudian Jovi masuk ke dalam rumah, lambaian tangan Ernest terlihat pada kaca mobil. Suara Aqila tak terdengar karena sudah malam, Ernest melanjutkan perjalanan pulang.
Malam ini benar-benar ujian hati untuk Ernest. Ia tidak tahu, bahwa Jovi baru bertemu dengan mantan kekasihnya. Semua mulai memberi cobaan masing-masing.
***************
"Tiin... tiiinnn.. tiin..."
Suara klakson mobil Pak Rahmat.
Setelah 30 menit perjalanan, Ernest pulang.
Pak Tono langsung membukakan gerbang.
Senyum Pak Tono di lihat Ernest menuju ke dirinya. Mobil masuk ke garasi, setelah kemudian Ernest turun, dan masuk menuju rumah.
Rasa lelah, nyeri kaki yang lumayan hebat, membuat Ernest mengistirahatkan diri di ruang tamu.
Wajah Ernest sudah lusuh, rambutnya diacak ke kanan kiri, fikirannya pening. Berkali-kali Ernest terlihat mengambil nafas, membuangnya lagi, seperti itu terus.
"Jovi.. kenapa kamu benar-benar mudah sekali di goyahkan?? bagaimana hubungan kita nanti, jika kamu sangat mudah terbawa perasaan?? apa pernikahan ini harus segera di percepat?,"
Ernest berbicara dengan hatinya sendiri. Kening putra Tuan Toni tersebut di tepuk-tepuk menentramkan fikiran.
Tuan Toni datang.
Mendengar Ernest datang, langkah kaki orang tua tunggal Ernest tersebut mengecek, bahwa Ernest datang.
Berbeda dengan Ernest, Tuan Toni sangat ceria dan bersemangat. Melihat putranya sedang pening, Tuan Toni justru tersenyum.
"Sudah pulang Nest? bagaimana? sudah ada refrenshi mau membuat dekorasi seperti apa? bagus nggak dekorasinya?."
"Kacau pah."
__ADS_1
"Hah ?? kacau? kok bisa, memang bagaimana ceritanya? mungkin itu kesalahan dari WO'nya."
"Bukan masalah itu pa. Jovi pa masalahnya. Ernest benar-benar pusing menghadapi suster Jovi."
"Sabar, kalian kan mau menikah jadi pasti ada aja ujiannya Ernest.!!"
Ernest membuang nafas dari mulut.
"Ouh iya ngomong-ngomong masalah mempercepat pernikahan kamu, tadi papa sudah ke rumah orang tua Jovi, jadi papa sudah bilang ke orang tua Jovi kalau pertunangan kalian langsung di lanjutkan pernikahan hari itu juga."
Ernest mengangkat mata, Tuan Toni mengangguk, bila yang dibicarakan papahnya tersebut memang benar.
"Ya, tadi Ernest juga sudah bilang ke Suster Jovi, dia mau."
"Syukurlah, semua berjalan tanpa kendala."
"Sebetulnya sekarang kendalanya bukan berita di luar, bukan karena Fictor, atau siapapun pah.. tapi dari Jovi sendiri, entahlah Ernest bingung dengan jalan fikiran dia."
"Namanya juga perempuan, mereka akan banyak lebih menggunakan perasaan daripada logika Nest, sekarang kamu cukup berdoa dan persiapkan kesehatan kamu."
Tuan Toni tersenyum.
"Baik pah."
"Ya itu lo Nest, biar cepat cetak gol nanti biar papa cepet bisa gendong cucu."
Ernest baru paham.
"Hahahaha, papa bisa aja."
"Harus bisa dong, segala macam telur bebek berkualitas tinggi sudah papa pesankan dari peternaknya Ernest, untuk menyeimbangkan stamina kamu," Tuan Toni sangat serius.
"Ada saja papa ini."
Ernest sedikit tertawa dengan berita terkonyol yang dibuat oleh Tuan Toni.
"Apa kamu juga perlu minyak bulus ndak? coba nanti papa orderkan ya? ben'e mantep ngunu lo nak (biar mantap gitu lo nak)."
"Gak usah pah, opo'an ae sih ( apa aja sih)," Ernest beranjak ke kamar.
*****************
RUMAH JOVI.
Setelah di antar Ernest. Jovi mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Sisa make up sudah dibersihkan rata. Jovi menidurkan tubuhnya di atas ranjang.
Bukan langsung tertidur, fikiran Jovi justru membawanya lari ke mana-mana.
"Di luar?? apa sekarang ada yang mengenal kamu?? bahwa kamu adalah pasangan Ernest Wijaya, bahwa kamu pacarnya Ernest?? nggak ada."
Kata-kata Dokter Nalen masih terngiang pada ingatan Jovi.
"Gue nggak pernah benci sama loe Ernest, gue cuma pengen aja, gue pengen ada kesempatan lagi buat gue, hiks.. hiks.. Gue capek sama diri gue sendiri,"
Tangisan Meghan seolah masih ikut sampai ke kamar Jovi. Berkali Jovi memejamkan mata, sama sekali tidak berhasil lelap oleh tidur.
Ingatan Jovi tentang Hilmi juga tak kalah menarik. Beberapa gambaran masa lalu dirinya dengan Hilmi terbayang satu persatu.
Sayangnya, malam itu pertemuan Jovi dan Hilmi terlalu singkat, bahkan mereka tidak sempat mengucapkan salam perpisahan. Bagaimana kabar Hilmi, Jovi juga sudah tidak tau.
Yang terakhir, ajakan Ernest untuk menikah. Jovi menimang-nimang lagi ajakan tersebut.
"Saat ini kekuatan kamu hanya Tuan Ernest Jov, lalu bagaimana kalau tiba-tiba nanti setelah menikah, Tuan Ernest berubah perasaan Jov? bagaimana jika saat ini kamu hanya dijadikan pelarian?. "
Jovi membalik tubuhnya ke samping kanan.
"Meghan akan lebih lama di kantor bersama dengan Ernest nantinya Jov? sedangkan kamu? karir kamu setelah menikah saja, kamu tidak tau. Jov, Aqila masih membutuhkan biaya banyak, apa tidak sebaiknya kamu fokus dengan Aqila, dan membantu melunasi hutang papa, jangan menikah dulu."
Hati kecil Jovi saling bergelut.
"Apa sebaiknya pernikahan ini di tunda, kalau memang Tuan Ernest hanya menjadikan pelarian, pasti perasaan itu lambat laun akan hilang, dan kamu bisa menjalani hidup kamu seperti biasa lagi Jov," kata Jovi sendirian.
"Tok.. tok.. tokk.."
Ceklek.
Mama Jovi membuka pintu.
"Belum tidur Jov?."
"Belum mah." Jovi bangun.
"Kamu mau mama kasih tau sesuatu nggak?," mama Jovi tersenyum.
Jovi menggeleng kepala.
"Loh kenapa?," mama Jovi mendudukkan diri di sebelah putri nya.
"Jovi mau curhat mah."
"Curhat apa? curhat saja."
Mama Jovi melihat wajah putrinya memang sangat sendu. Bahkan, raut muka Jovi lebih sedih sekarang dari pada saat menjalankan misi Fictor.
"Kenapa sayang?," mama Jovi mengelus rambut anaknya.
"Jovi pengen menikah umur 27 aja mah. Jovi masih pengen kerja dan mencari uang untuk membantu papa melunasi hutang dan Aqila juga."
Seketika itu, belaian tangan mama Jovi terhenti. Jovi melihat mamanya sangat terkejut.
Bagaimana tidak, sebelum kepulangan Jovi dari pesta, Tuan Toni sudah ke sini dan membicarakan rencana pernikahan yang akan segera maju.
"Kenapa kamu berfikir seperti ini lagi Jov?," mama Jovi benar-benar bingung.
__ADS_1
"Nggak papa mah, Jovi memang dari dulu berfikir seperti ini. Jovi juga nggak papa kalau semisal tidak berjodoh dengan Tuan Ernest, seumpama Tuan Ernest tidak mau menunggu."
"Joviiiii...," mama Jovi membentak putrinya.