
Ernest turun dari mobil. Jalan kedua laki-laki tersebut saling berdampingan. Papa Jovi sudah ada di depan membopong Jovi. Lirikan Dokter Nalen mewakili perasaannya, tampaknya ia kesal.
Ernest tidak memperdulikan. Jalan kakinya membimbing santai. Aroma wangi pakaiannya telah memudar. Sisa rasa lelah sebelum pulang, Ernest ingin berpamit dulu.
Mereka masuk ke rumah. Papa Jovi jalan menidurkan Jovi ke kamar. Entah apa yang di mau, Dokter Nalen mempercepat jalannya di samping papa Jovi.
"Om, om, suhu tubuh Jovi tidak sedang panas kan? cuaca kota Malang berbeda dengan Surabaya, takutnya hal itu mempengaruhi kesehatan Jovi."
"Tidak Dokter Nalen, ini Jovi tidur. Suhu tubuhnya juga tidak panas tapi mungkin kelelahan saja." kata papa Jovi.
"Kelelahan juga bisa menjadi salah satu faktor imun tubuh terganggu om. Apalagi pada musim pancarobs seperti ini, harusnya Jovi cepat kembali ke Surabaya setelah meeting tadi. Bukan apa-apa, karena Malang itu suhunya lebih dingin om."
Dokter Nalen tidak berhenti. Ia terus memberi tahu papa Jovi. Orang tua laki-laki Jovi itu lebih diam tidak merespon, papa Jovi tidak membela siapapun.
Mungkin hal tersebut di lakukan agar menjaga perasaan Ernest dan Dokter Nalen sendiri. Suara Dokter Nalen sangat dominan di ruangan.
Dari cara bicara Dokter tersebut, Ernest tau laki-laki di sampingnya itu berusaha menyindir serta menghasut papa Jovi.
Bicara Dokter Nalen baru terdiam saat papa Jovi menidurkan putrinya ke kamar. Dokter Nalen langsung mengambil duduk di sofa. Mereka berdua tidak bertegur sapa.
Ernest memilih berdiri di samping pembatas yang menghubungkan ruang tamu dan keluarga. Pergelangan tangan Ernest menunjuk pukul 01.02. Mata merah Ernest sangat terlihat menahan kantuk.
"Dokter sudah dari jam berapa di sini?," Ernest mencoba berbasa basi.
"Sepulang dari praktik sekitar jam 8 mungkin. Ya tadi karena menunggu Jovi nggak pulang-pulang, akhirnya sempet ngobrol sama Om Yusuf lama."
"Ouh..," Dokter Nalen di senyumi Ernest.
"Banyak sih tadi yang kita bicarakan, maklum juga saya sudah kenal keluarga Jovi lama. Om Yusuf ini seperti Jovi karakternya, nggak gampang terbuka sama orang lain."
Ernest mengangguk. Dokter Nalen seakan bahagia, bibirnya menyungging senyum licik ke samping kanan. Dokter Nalen sendiri sebetulnya kesal terhadap Ernest, membawa Jovi pulang se malam itu.
Papa Jovi kembali menemui Ernest dan Dokter Nalen.
"Ternyata Jovi kurang enak badan, badannya agak panas tapi biar nanti Om nyuruh mamanya Jovi kompres biar bisa reda. Kelihatannya dia cuma kelelahan."
"Pantas saja om, itu yang membuat Jovi nggak bangun-bangun waktu kita semua bangunin." Dokter Nalen buru-buru menulis resep obat.
"Kalau begitu biar besok Suster Jovi tidak usah ke rumah dulu om. Dia juga kan harus ada test ke RS. Besok saya jenguk lagi saja ke sini," Ernest menahan mata.
"Gara-gara anda kan. Pak Ernest anda itu harusnya tau kondisi musim, ini itu sudah musim pancaroba. Tau kan?? Musim pancaroba bagi kita saja yang laki-laki kadang kerasa pusing, demam, nah apalagi perempuan. Pulang sampai semalam ini."
Tanpa sungkan Dokter Nalen menunjuk muka Ernest. Sebenarnya Ernest geram, hanya saja ia masih menghormati papa Jovi.
"Saya minta maaf Dokter Nalen, mungkin saya tidak se pandai anda dalam mengetahui kondisi cuaca dan keadaan Jovi. Saya tidak berkecimpung di dunia kedokteran, saya tidak tau. Tapi saya masih bisa membandingkan cuaca yang baik dan tidak."
"Ya harusnya minimal anda tetap menyediakan untuk minyak hangat, atau beberapa minyak oles, di mana Malang memang terkenal dingin," Dokter Nalen sangat menyudutkan.
"Huuuufffttttt..." Ernest menghela nafas dalam-dalam.
"Dokter Nalen, saya ulang jika saya sudah meminta maaf, atas kelalaian saya, atas apapun yang menurut anda benar. Tapi maaf, saya tidak suka keributan."
Dokter Nalen memicingkan secara sigap.
"Apa kata kamu? siapa yang membuat keributan? saya hanya memberi tahu di mana letak kesalahan kamu Ernest, seharusnya kamu yang intropeksi diri." nada tinggi Dokter Nalen menggema.
"Sudah, sudah, kok malam jadi ribut. Namanya orang sakit tidak bisa di salahkan, dan itu lo hanya panas biasa tidak yang begitu tinggi," papa Jovi melerai.
"Tapi kan Om, harusnya Ernest tetap tau,"
"Sudah Dokter Nalen, ini sudah malam. Tidak pantas berdebat tengah malam seperti ini. Dokter Nalen, Ernest ini sudah malam, ada baiknya kalian bisa pulang dan beristirahat."
Permintaan papa Jovi menjeda selisih pendapat, terjadi antara Dokter Nalen dan Ernest. Pukul 00.50 langkah kaki Ernest lebih awal berpamit pada orang tua Jovi.
Bukan tidak peduli akan kondisi kesehatan Jovi, hanya saja Ernest masih punya segudang masalah yang harus ia selesaikan.
Ernest pamit.
"Saya permisi dulu om, saya izin pulang. Maaf juga Ernest pulangnya kemalaman Om," Ernest menjabat tangan papa Jovi sembari membungkuk'kan sedikit badan.
__ADS_1
"Ya tidak papa, hati-hati di jalan. Istirahat dulu saja, kapanpun juga rumah tetap selalu terbuka," papa Jovi senyum, Ernest menuruti.
"Saya juga permisi dulu kalau gitu Om, saya sudah tenang melihat Jovi masuk ke rumah. Sementara tadi jam setengah 11 saja belum sampai di Surabaya, semoga Jovi cepat sembuh ya om."
"Terima kasih Dokter Nalen sudah mengkhawatirkan Jovi sedemikian rupa. Dokter juga hati-hati di jalan, nyetirnya juga," senyum papa Jovi turut memberi.
Meski Ernest sudah melamar putrinya, papa Jovi tetap memperlakukan Ernest dan Dokter Nalen sama. Mereka berdua berpamit pulang.
Papa Jovi mengantar sampai pintu. Lambaian tangan papa Jovi lambat laun menghilang dari daun pintu.
Dokter Nalen dan Ernest secara bersama keluar pagar. Memandang papa Jovi sudah menghilang, Dokter Nalen sengaja menyenggol pundak Ernest kasar.
"Bruuukkkk..," Ernest hampir tersungkur.
Ernest menoleh. Dokter Nalen tersenyum cengengesan. Seketika mata lelah Ernest hilang sirna. Rasa kesal di hatinya sudah di ubun-ubun.
"Maksud anda apa ya Dokter Nalen?,"
"Anda?? hah?? sorry, gue nggak lagi di ruang meeting ataupun ruang operasi, jadi ganti kata-kata loe. Loe nggak perlu sok baik sama gue, karena gue tau, loe sebenernya ada maksud kan sama Jovi..?"
Jemari Dokter Nalen menunjuk Ernest. Nada Dokter Nalen sedikit tinggi di akhir kalimat.
"Ouuuhhh..," Ernest mengangguk.
"Gue ingetin ya Ernest, loe itu cuma orang baru di kehidupan Jovi, jadi jangan harap loe bisa masuk lebih dalam lagi pada kehidupan Jovi. Selama ini gue yang udah nunggu dia bertahun-tahun, Jovi hanya milik gue."
"Sudah pernah konfirmasi ke Jovi? sejak kapan dia milik loe? Jovi bukan milik loe, gue harap loe bisa tau batasan di mana sekarang Jovi bukan adek-adek'an lo lagi seperti waktu kuliah dulu. Paham kan di sini?."
"Hahaha.. harusnya loe ngaca, semesta udah lebih dulu mempertemukan gue dengan Jovi. Loe hadir di kehidupan Jovi cuma buat nyusahin, Ernest Wijaya hanya benalu di kehidupan Jovi."
Dokter Nalen menarik bibir bagian kanan, senyumnya tersungging tak sedap.
"Ternyata loe lebih berani dari yang gue kira ya? jangan kira karena loe anak petinggi Wijaya gue nggak berani sama loe. Loe tampan, loe keren, loe orang kaya harusnya loe bisa cari yang lebih dari Jovi," Dokter Nalen menarik kerah baju Ernest.
"Srrrrrrttttttt....," Ernest membuang tangan Dokter Nalen.
"Awalnya saya respect ya dengan anda Dokter Nalen, tapi kali ini tidak. Siapa anda? saya tidak peduli."
Tangan kiri Ernest masih punya sedikit tenaga membuat tubuh Dokter Nalen terpental.
"Loe bukan orang tua gue, loe nggak berhak ngatur-ngatur gue, apa lagi ngatur atas siapa orang yang harus gue cintai. Jovi bukan benda, Jovi tetap milik orang tuanya, sampai akhirnya mata loe ke buka kalau dia milik gue."
Tangan Ernest perlahan menurun, setelah sempat beberapa detik di atas wajah Dokter Nalen terus.
"Ciiihhh.., bulshit," Dokter Nalen masih mampu menjawab.
"Akan ada saatnya loe bener-bener patah hati, camkan kata-kata gue."
Ernest berlalu pergi masuk mobil.
Dokter Nalen membangunkan diri. Punggungnya sedikit sakit di benturkan Ernest ke mobil. Putra tampan Tuan Toni tersebut tampak tersulut emosi.
Wajah Ernest merah padam. Suara Dokter Nalen mengatakan bahwa ia benalu, benar-benar sangat terngiang di kepala.
Mobil mewah Ernest berlalu meninggalkan kawasan perumahan.
Dokter Nalen merapikan pakaian, laki-laki berprofesi sebagai dokter tersebut tak kalah meradang. Dokter Nalen mengatakan kesungguhannya.
"Kamu tetap milikku Jovi, aku yakin kamu tetap Jovi yang dulu, yang mencintai aku dalam kebimbanganmu. Aku tau, kamu menolakku karena saat itu kamu masih membandingkan siapa kamu dan saya. Love you Jov." ucapan Dokter Nalen dari hati.
*********************
RUMAH TUAN TONI WIJAYA.
Mobil masuk. Pak Tono terlihat menutup lagi gerbang. Turunnya Ernest dari mobil, ia tidak bertegur sapa sama sekali.
Pak Rahmat serta Pak Tono tidak mendapati senyum Ernest. Langkah kaki tersebut secara cepat masuk ke kamar.
"Braaakkkk..!!!," pintu kamar Ernest menutup.
__ADS_1
Rasa lelah, kesal, berkumpul jadi satu. Tidak mau berlarut sakit hati, Ernest mengatur nafas naik turun menjadi stabil.
Tuan Toni juga nampak sudah istirahat. Suara lirihnya sudah tidak ada di sekitar ruang utama. Di rumah pukul 02.15, kedatangan Ernest sudah larut pagi.
Malam ini, laki-laki tampan tersebut berhasil mengistirahatkan diri.
Keesokan paginya.
Jarum jam tengah menunjukkan pukul 05.30. Langkah kaki Tuan Toni tampak mencari Ernest. Mobil di garasi terlirik mata laki-laki paruh baya berkulit putih. Tuan Toni membuka kamar.
Ernest sedang tidur.
Bajunya belum ganti bahkan jam tangan masih mengait pada pergelangan tangan. Hanya sepatu sudah terlepas dari kaki, kedua kaki Ernest bersih telah di cuci.
Kesehatan serta kebiasaan hidup Ernest tanpa suster sangat tidak teratur. Tangan Tuan Toni lalu membangunkan Ernest, menggoyang lembut lengan putranya.
"Ernest, bangun nak."
"Euuuuuhhhh," telinga Ernest mendengar.
"Ganti baju dulu sana..!! baru nanti lanjut tidur. Lihat tubuh kamu itu, pakaian dari kemarin masih menempel." Tuan Toni menunggu Ernest benar-benar sadar.
Mau tidak mau, Ernest akhirnya bangun. Beberapa aktivitas mengganti baju serta merapikan rambut, dan mencuci kaki membuat Ernest tidak sebegitu ngantuk.
"Nest, sudah bilang ke orang tua Suster Jovi? sudah melakukan tanggung jawab kamu? bagaimana respon mereka? ," tanya Tuan Toni.
"Sudah pa..!! Senang dan syukur, semua keluarga Jovi menerima. Meski awalnya keadaan ekonomi keluarga kita dan keluarga Suster Jovi yang berbanding terbalik. Om Yusuf khawatir dan ada rasa tidak enak dari beliau untuk menjadi besan papa, tetapi Om Yusuf menceritakan semua tanpa ditutupi."
"Baguslah, berarti memang insting kita tidak salah pilih dalam mencari menantu dan besan. Keluarga Suster Jovi benar-benar orang baik. Kita ke sana nanti sore lagi," ajak Tuan Toni.
"Baik," Ernest mengangguk.
Kabar hoax di luar, sedang memusingkan kepala Jovi, perlahan di diskusikan kedua laki-laki di kamar. Ernest dan Tuan Toni mencium bau konspirasi di luar sana.
"Dengan pesta pertunangan kamu bersama Suster Jovi, itu semua sudah sangat membantu membersihkan nama Suster Jovi dengan berita hoax di luar sana Ernest, jadi kamu tidak perlu khawatir?."
"Iya pah.. Ernest mau, hari ini juga buat satu artikel Ernest dan Jovi akan segera melangsungkan pertunangan. Tanggal 15 Juli ya pah..?? itu adalah tanggal pertunangan Ernest."
"Baik, karena berita itu berasal dari media jadi kita juga harus mengembalikan lagi ke media. Sekarang kita bisa mulai speak up dari berita-berita itu."
"Siappp..!!," Ernest tersenyum.
"Lebih baik kamu mandi dulu Ernest, kita bawakan parcel buah juga untuk Suster Jovi. Dia sedang sakit kan? lain kali kamu harus tahu cuaca ya.. kasihan Suster Jovi kecapek'an juga kan."
"Hmmmm.. iya papa."
KANTOR SEMESTA GRUP
Ruangan Fictor.
Berbeda dengan Ernest sedang di liputi rasa bahagia, Fictor tampak fokus di atas meja kerja. Ia dari tadi menghadap komputer. Senyumnya sedikit mengikuti.
Fictor memperbesar foto pasangan laki-laki dan perempuan terlihat sedang di keramaian. Laki-laki tersebut mengenakan kemeja hitam, sedang perempuan tampak cantik dengan balutan baju kuning.
"Hahaha.. mampusss loe Jov..!! sebentar lagi bukan hanya publik saja, tetapi keluarga Wijaya akan menjauh dari loe.. Ernest akan tau siapa loe? kacung satu itu bakalan sakit hati sama loe."
"Gue kira loe udah nggak dipercaya sama tua bangka itu, tapi ternyata magnet kepolosan loe masih bisa menipu mereka, anjiiirr memang."
Fictor berbicara sendiri. Foto tersebut tidak lain adalah liburan Jovi dan Ernest saat ada di Malang. Laki-laki suruhan Fictor berhasil menjepret kebersamaan mereka saat di BNS.
Foto tersebut berhasil di kirim ke salah satu editor situs online yang selama ini gencar memberitakan semua informasi hoax.
Tidak menunggu lama. Artikel berjudul "Tidak tau malu, Jovi Andrianita kepergok jalan berdua dengan Ernest Wijaya"
Sedikit berbeda lagi, artikel yang sama keluar berjudul "Jovi Andrianita, penyebab hubungan kandasnya Ernest dan Meghan"
Semua artikel dilengkapi bumbu pembahasan masa lalu Jovi, di mana ia adalah lulusan Stikes Wijaya yang jahat. Jovi tercatat sebagai pegawai yang memiliki citra buruk dalam bekerja.
"Triiing.. ting.. tingg.. ting..."
__ADS_1
MEGHAN MEMANGGIL.