Suster Untuk Tuan Muda

Suster Untuk Tuan Muda
24. Ola Dan Suasana Kantor


__ADS_3

Sudah pukul 14.30, Jovi terlihat bersiap merapikan penampilan. Biasanya, seragam nuansa putih selalu dikenakan, hari ini Jovi menanggalkan pakaian serba putih tersebut.


Baju coklat tua, dipadukan kulot putih di kedua paha'nya. Jovi terlihat sangat cantik. Blush On berani disapukan pada kedua pipi, lip tin yang sering digunakan, diganti lipstik berwarna nute.


Jam tangan hitam merek alexandre christie, melengkapi penampilannya sore ini. Kakinya menggunakan sepatu, tambahan heels 2cm. Menjadi dia lebih cantik.


Aroma parfum ditubuh Jovi, akan sangat membuat para laki-laki kelabakan. Ujung samping kedua rambutnya di kepang, lalu dikaitkan secara bersama mengunci semua rambut lurus Jovi yang lain.


"Jovi....," panggil Ernest dari arah kamar.


"Ya tuan," jawabnya.


Jovi berjalan menemui Ernest, membuka pintu kamar. Ernest sudah tampan dengan penampilannya sore ini. Gips yang sudah terlepas dari tangan Ernest, sudah sedikit meringankan pekerjaan Jovi.


Aroma parfum mahal, diketahui Jovi bernama house of hermes 24 fauborg, harganya di taksir $17.000 atau 22.000.000 juta rupiah. Merebak harum di kamar putra tunggal Toni Wijaya tersebut.


"Ada apa Tuan Ernest?," jawab Jovi menaruh badan diantara pintu kamar.


"Kamu nanti berangkat naik apa?," pertanyaan Ernest sudah seperti anak kampus saja.


"Saya naik taksi saja tuan, lagian saya juga nggak buru-buru," jawab Jovi.


"Ouh begitu, memang kamu mau ke daerah mana?," Ernest memasang jam tangan rolex.


"Saya mau ke kota satelit tuan, ehh maksudnya ke tunjungan tuan," jawab Jovi tau jika Ernest akan ke daerah kupang.


"Kalau begitu, nanti kita berangkat bareng saja, saya mau ke daerah tunjungan sebentar," pinta Ernest.


"Ha? berangkat sama tuan? bukannya tuan bilang mau ke daerah kupang ya tuan?," kata Jovi mulai sedih.


"Iya, tapi saya mau mampir ke tunjungan plaza sebentar, sekalian bersama kamu juga kan nantinya," ucap Ernest memandang Jovi lebih cantik dari biasanya.


"Tapi tuan? saya mau ke itu," jawab Jovi.


"Itu kemana lagi, sudahlah kamu siap-siap saja.. rumah teman kamu pasti dibelakang TP itu ya?," tanya Ernest.


"Iya tuan, iya dibelakang TP," jawabnya.


"Tuan, tuan apa nggak takut macet, biasanya reuni SMA itu, hal yang paling ditunggu?," tanya Jovi seolah ingin merubah keputusan Ernest.


"Nggak sih, biasa saja.. bahagia tapi cukup sebatasnya saja," tutur Ernest mengenakan kemeja coklat muda.


"Nanti tuan kalau ditunggu teman-teman tuan, bagaimana? malah saya yang nggak enak, beneran," sangkal Jovi membuat Ernest semakin gerah.


"Sudah, sudah, kamu kembali ke kamar saja Jovi," ucap Ernest kesal.


"Baik Ernest," jawab Jovi tak merasa bersalah.


Mendengar tak sopan jawaban Jovi, pandangan mata Ernest menolak tidak suka. Tidak biasanya, Jovi berulah seperti itu. Ernest terdiam memandangi Jovi.


Ernest baru sadar, siang tadi bibirnya memberikan nasehat, pada perempuan cantik dirumahnya. Nampaknya, Jovi sudah bisa mulai membuka diri. Belajar berani, karena nasehat Ernest.


"Hahahaha..," kemudian tawa Ernest menyeruak keluar.


"Ya, ya.. maaf ya suster..!! kamu keren ada peningkatan, tapi jangan lakukan itu ke papa ya," Ernest masih tertawa.


"Heheehe baik tuan, saya tidak berani kalau dengan tuan besar," jawab Jovi.


"Saya permisi dulu tuan," Jovi permisi pergi.


********************


( Jovi dan Ernest berada di dalam Mobil, menuju Reuni)


Perjalanan sore hari, menikmati panorama senja kota metropolitas terbesar nomor 2 di Indonesia tersebut. Semua seperti saat Jovi dan Ernest, pulang dari kantor lusa itu.


Kantor megah wali kota, gedung besar perusahaan ternama di jalan tunjungan sudah mulai terlihat. Jovi menaruh was-was didalam hati, perasaannya bingung harus turun dimana.


Pengunjung mall di tunjungan plaza, mulai merayap masuk di pintu utama. Ernest melihat, ramainya mall pada sore hari ini. Semua cahaya senja, menerobos masuk kedalam kaca jendela yang sengaja dibuka Ernest.


"Jovi, kamu turun dimana? kita sudah didaerah tunjungan?," tanya Ernest.

__ADS_1


"Ha? saya ke kota satelit tuan, eh iya maksudnya saya ke tunjungan saja tuan," jawab Jovi tersadar dari lamunan.


"Kamu ini gimana sih?, kamu bilang tadi katanya ke tunjungan, sekarang bilang ke kota satelit..!!," Ernest membuang muka, tidak menghiraukan Jovi.


"Iya tuan, ma-maaf tuan," Jovi meminta maaf.


Maafnya tidak dihiraukan, Ernest tetap membuang muka, menatap keluar jendela. Pikiran Jovi menjadi semerawut. Dia lupa bahwa tadi beralasan turun di tunjungan.


"Pak, Pak Rahmat saya turun disini saja ya pak," perintah Jovi menunjuk pemukiman di belakang mall.


"Baik suster, sebentar ya, saya harus menyebrang dulu," kata Pak Rahmat menunggu kemacetan.


"Iya Pak Rahmat," Jovi melihat Ernest masih membuang muka.


Sesudah Pak Rahmat berhasil membelokkan mobil, turun didepan pemukiman yang di maksud Jovi. Perempuan cantik tersebut, turun dari mobil jaguar yang hari ini dipakai Ernest.


Lambaian tangan Jovi, dari luar kaca jendela mobil, berpamit meninggalkan. Ernest melihat Jovi, benar-benar masuk ke dalam pemukiman rumah berhimpit satu sama lain.


"Bisa-bisa'nya gelagapan waktu ditanya.. padahal rumah temannya memang disitu," Ernest membatin kesal dalam hati.


Mobil hitam yang ditumpangi Ernest, mengantarkan tuan'nya pergi ke reuni kampus yang sudah direncanakan. Mobil melaju kencang, meninggalkan kawasan tunjungan. Pergi ke restoran mewah, anak-anak kaya Surabaya.


**********************


( Kantor Semesta Grup )


Langkah kaki Jovi sampai juga di kantor Fictor, semua berhasil tanpa kecurigaan dari Ernest. Meski dirinya harus, naik taksi kembali menuju kawasan kota satelit.


Kantor megah, developer tersukses kedua di Surabaya tersebut, ternyata juga sedikit membuat Jovi rindu. Suasana kerja diruangan bersama Ola, bisa dilepasnya hari ini.


Jam didepan bagian resepsionis sudah menunjuk pukul 16.20, itu berarti Jovi terlambat 20 menit. Dia bisa dicincang habis oleh Fictor. Tangannya gemetaran memencet tombol lift ke lantai 4.


Jovi begitu bahagia, rasa rindunya mengerjakan arsip, memo surat serta menerima telepon bisa diulang kembali. Tidak ada yang berubah, di lantai 4, kantor Jovi bekerja.


"Hai Jov, kemana aja loe? lama gue nggak ketemu," tanya Elmara teman kantornya.


"Ouh, gue habis meeting dari Jakarta, kenapa? loe rindu gue ya," goda Jovi tertawa.


"Hahaha, bisa aja loe.. emang acara apa? sampe loe harus meeting hampir mau sebulan? setau gue, agenda kantor kita nggak ngada'in meeting dengan perusahaan manapun tuh," ucapan Elmara mengubah suasana.


"Ke Jakarta? sejak kapan perusahaan kita kerjasama bareng perusahaan di Jakarta?? kira-kira aja lo Jov, kalau mau meeting..!! meeting itu nggak ada yang sebulan," kata Elmara semakin memojokkan Jovi.


"Emang kenapa Elmara? apa anak-anak keteteran ya? waktu gue tinggal meeting?," tanya Jovi benar-benar tidak tau.


"Iya iya lah Jov, gara-gara loe, Alice harus ngerangkap tugas loe semua. tiap hari anak-anak diruangan, selalu pulang telat, daripada bagian lain," jawab Elmara kesal.


"Aduuh, maaf ya Elmara, tapi gue juga nggak tau, kapan gue bisa balik ke kantor..?? nunggu tuan sembuh dulu?," gumamnya lirih.


"Hah, tuan? tuan apa sih?," Elmara melirik Jovi.


"Nggak nggak, lupain aja," jawab Jovi meninggalkan meja Elmara yang tidak sengaja dilewati.


Kaki Jovi berjalan ke meja kerja, dimana memang banyak sekali tumpukan kertas pada meja Jovi. Padahal saat Jovi berada di kantor, meja sekertaris tidak pernah se full itu.


Matanya mencari dimana Ola? dari tadi Jovi sama sekali belum bertemu Ola. Sahabatnya di kantor, meninggalkan komputer, beberapa berkas yang sudah dibuka, serta ponsel putih Ola diatas meja.


Gara-gara ucapan Elmara, Jovi begitu merasa bersalah kepada teman-teman kantor. Apalagi, dia juga, menduga Fictor tidak akan memberi tahu alasan pastinya.


Kantor benar-benar seperti apa yang dikatakan oleh Elmara, semua kertas berserakan dimana saja. Kantor biasanya selesai, dengan deadline yang sudah ditentukan. Malam ini harus lembur.


Jovi juga baru menyadari, jika daritadi Fictor tidak ada di kantor. Biasanya, atasan Jovi akan mencerca dirinya, dengan banyak pertanyaan.


"Hai Jov, loe udah daritadi ya?," sapa Ola kegirangan.


"Hai Ola, iya gue udah nyelesain berkas yang diminta Fictor," kata Jovi mengerjakan tugas diatas meja.


"Gue kangen banget sama loe," Ola berdiri memeluk Jovi dari belakang.


"Aduuuh, duh.. tangan loe mencekik leher gue Ola," kata Jovi merasa pelukan Ola terlalu erat.


"Hahahaa, maaf Jov," Ola melepaskan tangan.

__ADS_1


"Cuuuppp..," Ola mencium Jovi.


"Ola...., ***** gue dicium," Jovi tertawa sembari mengusap bekas ciuman Ola.


"Hahaha.., gaya banget loe Jov, jomblo mana ada yang cium? untung-untung gue masih mau cium loe," Ola tertawa menarik bangku disebelah Jovi.


"Hahaha, adaa lah, kalau gue kasih tau, takutnya loe iri hahaha," ucap Jovi tertawa tidak jelas.


"Aneh deh, emang siapa? itu si tuan muda ya? ahh nggak mungkin, nggak mungkin," Ola menolak sendiri.


"Kepooo....," Jovi menjulurkan lidah.


Perempuan berambut pendek disebelah Jovi tersebut, tertawa girang bisa lembur bersama sahabatnya. Disatu meja kerja Jovi, Ola juga menyelesaikan tugas lembur sore itu.


Kantor terasa masih beroperasi, karena banyaknya pegawai yang diharuskan lembur. Apalagi kekeliruan berkas yang dilakukan Alice, karena menggantikan Jovi. Semakin menambah PR dikantor.


Ola serius memegangi HP setelah datang, dari layar yang dilihat Jovi. Ola sedang chatting bersama Fictor. Kelihatannya hal yang penting, diberikan tugas pada Ola.


"Jov, Jov, loe udah nyelesai'in tugas yang diminta Fictor kan?," ucap Ola matanya mengarah ke ponsel.


"Udah, kenapa emang?," tanya Jovi tak mendapat respon.


"Olaaaaa, ini udah selesai, kenapa emang?," Jovi bertanya lagi.


"Bentar, bentar," Ola mengetik cepat.


Jovi lalu ikut-ikutan membuka ponsel, terbiar diatas meja bersama Ola. Ada whatsapp baru, di nomer Jovi. Gambar laki-laki bertopi hitam tersenyum ke kamera, menjadi profil whatsapp nomer tersebut.


"Jov, saya Ernest.. nanti Pak Yoyok jemput kamu di TP, saya ada urusan.. jadi Pak Rahmat masih dengan saya. kemungkinan saya telat pulang," chatting whatsapp.


Jovi baru sadar, ternyata Ernest memiliki nomernya. Syukurlah jika Jovi tidak pulang bersama Ernest. Pandangan matanya, melihat Ola mendengarkan VN serius dari Fictor. Semakin membuat penasaran.


"Ola, kamu kenapa sih?," Jovi semakin curiga.


"Eh Jov, asli gue lagi bingung banget.. gara-gara Fictor," ucap Ola sedih.


"Emang kenapa?, ouh iya, Pak Fictor kemana Ol?," tanya Jovi.


"Tadi gue disuruh Fictor beli sesuatu lo tau, dan loe tahu, gue disuruh beli obat perangsang Jovi...," Ola menceritakan dengan geli.


"Terus? emang buat apa obat perangsangnya?," tanya Jovi penasaran.


"Gue nggak tau, nah.. terus obat itu disuruh ngasihkan ke temen perempuan dia, kalau nggak salah namanya Meghan..!," ungkap Ola.


"Hah?," Jovi terkejut mendengar apa yang dikatakan Ola.


"Iya Jov, dan sekarang gue takut Jov, gue ngasihnya ke orang yang salah, gobloknya gue, nggak gue tanyain namanya Jov," kata Ola merengek sedih meminjam pundak Jovi.


"Ola, Meghan yang loe temui orangnya gimana? dia berkulit putih, hidungnya nggak seberapa mancung, bibirnya tipis ya?," tanya Jovi menyebutkan spesifik ciri-ciri mantan sekertaris Ernest tersebut.


"Heem Jovi, kok loe tau?," tanya Ola membangkitkan kepala dari pundak Jovi.


"Itu nama dan ciri-cirinya seperti mantan sekertarinya Tuan Ernest Ol, gue sedih," ucap Jovi berwajah murung.


"Nama Meghan itu banyak Jov, lagian nggak mungkin kalau mantan sekertaris Ernest, bisa kenal Fictor itu mustahil," jawab Ola.


Jawaban Ola dianggap Jovi masuk akal, perusahaan Wijaya dan semesta grup sudah terkenal menjadi rival dalam bisnis. Hampir semua karyawan mereka, tidak memiliki keharmonisan antar dua perusahaan tersebut.


Di pekerjaan lemburnya selalu saja, ada desas desus yang terjadi, karena ulah Fictor. Namun semua sedikit lega, ketika Fictor sedang tidak berada di kantor.


"Ola, terus Pak Fictor kemana?," tanya Jovi menduga tidak-tidak.


"Dia udah pulang duluan, katanya mau jenguk neneknya," jawab Ola menenangkan Jovi.


"Terus menurut loe, obat perangsang yang dikasihkan ke teman Fictor itu, buat apaan ol?," tanya Jovi.


"Tau ah, kali aja Fictor punya lemah syahwat, jadinya kalau mau " wik wik" sama si Meghan harus pake perangsang dulu hahaha, masuk angkal nggak Jov?," kata Ola tertawa tak berhenti.


"Dasar Ola, aiisssh.. pikiran loe jorok banget wkwkwk," baru kali itu Jovi tertawa lepas.


"Iya lo Jov, biar nambah birahi'nya si Fictor kali ya, hahaaha" Jovi justru semakin meledek.

__ADS_1


"Udah ah, Ola kamu ini mah," Jovi menyeka air mata yang sedikit keluar dari mata.


Lembur sore ini sedikit melepas Jovi, dari rasan penat bekerja dirumah Tuan Toni. Walaupun Ola membercandai'nya, tapi sebetulnya Jovi masih takut. Jika Meghan yang dimaksud dirinya, adalah orang yang sama.


__ADS_2