
Semua masih menatap rafan dengan tatapan terkejut termasuk adelia.
"ra, lo jangan becanda" kata adelia
"gue gak becanda del, kalo lo tetap disini gue gak yakin lo bisa melewati ini sendiri" kata rafan
"iya rafan kamu jangan main main" kata amelia
"rafan serius ma. rafan gak bisa ninggalin adel dengan kondisi kayak gini. rafan gak akan tenang saat disana nanti" kata rafan
"tapi bagaimana dengan adel?" tanya arka
semua menatap adelia.
"katakan sayang, apa kamu mau ikut rafan ke london?" tanya arka
"adel bingung pa, adel harus memikirkan ini dulu" kata adelia
"iya kita sebaiknya memberi waktu adel berpikir karena ini keputusan yang sangat berat. andai saja kalian sepasang kekasih pasti langsung mama nikahkan" kata amelia sontak membuat rafan dan adelia salah tingkah
"mama apaan sih" kata rafan gugup
"kenapa? mama kan hanya bilang seandainya, tapi kenyataannya kalian cuma sebatas sahabat" kata amelia menghela nafas pelan
"sudah ah ma, lihat mereka kan jadi malu" kata arka
"iya iya, ya sudah kami pulang dulu. rafan jaga adelia ya" kata amelia
"siap bos" kata rafan memberi hormat membuat amelia dan arka geleng geleng kepala. karena hanya adel satu satunya orang yang bisa membuat rafan banyak bicara dan bertingkah konyol.
__ADS_1
amelia, arka dan syifa pun berlalu pulang. mbak ayu segera ke dapur membantu pembantu adelia menyiapkan makan siang.
"del, kita ke taman yuk" ajak refan
"motor gue lagi dibengkel ra" kata adelia
"pake sepeda" kata rafan
"sepeda siapa? gue gak punya sepeda" kata adelia heran
"ada kok" rafan menarik tangan adelia ke depan rumahnya. disana berdiri dua buah sepeda.
"ra ini sepeda siapa?" tanya adelia heran
"tadi gue minta tolong mama beliin sepeda" kata rafan
"ini juga duit gue kok. tadi gue udah tansfer uang ke mama buat beli ini" kata rafan
"iya iya, yauda yuk tapi sebentar aja ya 1 jam lagi makan siang" kata adelia
"oke nyonya" kata rafan bersemangat
mereka pun bergegas ke taman yang berjarak 500 meter dari rumah adelia. mereka mengayuh sepeda dengan santai. terlihat adelia sesekali tersenyum saat angin menerpanya.
mereka pun sampai. lalu duduk disebuah bangku taman. disana tampak anak anak berlarian kesana kemari dan orang tua mereka mengawasi sembari duduk di bangku yang ada ditaman itu.
seorang anak laki laki berusia kira kira 12 tahun menghampiri mereka. bajunya lusuh, badannya kotor dan dia membawa karung. sepertinya dia adalah pemulung.
"kak, bang botol minumnya udah kosong, boleh aku ambil?" kata anak itu melihat botol kosong dibawah bangku taman itu.
__ADS_1
adelia melihat kebawah dan mengambilnya.
"ini bukan punya kakak dek, tapi ambil aja nih" kata adelia tersenyum
anak itu kegirangan menerima botol itu.
"kamu tinggal dimana?" tanya rafan
"dibelakang komplek sana bang diperumahan kampung" kata anak itu
"kamu tinggal sama siapa?" tanya adelia
"aku tinggal sama nenek kak, orang tua aku udah meninggal saat aku masih bayi jadi aku di asuh nenek dari kecil" kata anak itu
"kamu kok gak sekolah?" tanya rafan
"gak ada biaya bang, buat makan aja susah. makanya aku mulung biar hasilnya buat makan. nenek stroke setahun" kata anak itu. wajahnya terlihat tegar namun bisa dirasakan adelia bahwa anak itu cukup menderita.
"temen kamu mana?" tanya rafan
"mana ada yang mau temenan sama pemulung bang, dulu sih ada sahabat aku tapi 2 tahun yang lalu dia pindah keluar negeri" kata anak itu
"apa dia menghubungi kamu?" tanya adelia
"nggak kak, aku kan gak punya hp. dia selalu nanya kabar melalui tetanggaku. tapi aku selalu meyuruh ke tetanggaku bilang kalau aku baik baik aja dan aku masih bersekolah" kata anak itu
"kenapa kamu bohong?" tanya rafan
"aku nggak mau dia khawatir bang, apa gunanya aku ceritakan tentang hidupku. kami kan udah terpisah jarak. kalau pun ketemu mungkin hanya sesekali aja. biar lah bang biar perlahan aku menghilang dari hidupnya. rasa persahabatan kami tidak akan bisa seperti dulu karena jarak yang udah buat kami berpisah duluan" kata anak itu
__ADS_1