Tak Pernah Berhenti Mencintaimu

Tak Pernah Berhenti Mencintaimu
Kesedihan (Season 2)


__ADS_3

Rafan sedang sibuk membantu persiapan pernikahan Refan besok.


walaupun sudah ada pekerjanya dia tetap ingin membantu. bukan tanpa alasan, dia hanya ingin merasakan bagaimana rasanya bekerja dengan otot.


Dering teleponnya berbunyi berkali kali namun dia tidak mendengarnya karena ponselnya ada dikamarnya.


Siang harinya saat istirahat Rafan yang dalam kondisi berantakan bergegas ke kamarnya untuk menyegarkan diri. saat akan masuk ke kamar mandi Rafan melihat ponselnya berkelip. dia pun melihat ponselnya. betapa terkejutnya dia saat melihat 32 panggilan dari Adelia.


Rafan melihat kalender dan betapa terkejutnya dia saat ingat bahwa ini adalah tanggal meninggalnya orang tua Adelia.


mereka selalu berziarah bersama ditanggal itu sejak orang tuanya meninggal.


Rafan yang panik segera berlari keluar menuju mobilnya. rambutnya masih acak acakan, bajunya berkeringat dan sangat lusuh.


dia melaju menuju rumah adelia.


sesampainya disana, pembantu adelia mengatakan kalau adelia sudah pergi sejak pagi tadi dan belum kembali.


Rafan langsung bergegas ke makam orang tua Adelia. Jasad orang tuanya sudah ditemukan sebulan setelah kecelakaan meski hanya tinggal tulang belulang yang di ketahui melalaui tes DNA sehingga mereka mempunyai makam.


Sesampainya disana, dia mencari makam orang tua Adelia, namun Adelia tidak disana.


bunga diatas makam itu tampak masih baru. itu artinya, Adelia baru dari situ.


Rafan terus mencari hingga akhirnya dia melihat sosok yang dia cari sedang duduk melamun di depan sebuah bangunan disekitar situ. Rafan berjalan pelan hingga kini dia sudah berada dihadapan Adelia.

__ADS_1


Adelia tampak lebih cantik karena rambut hitamnya. Dia memang selalu suka mengubah warna rambut sejak dulu.


Adelia yang menyadari keberadaan Rafan diam saja. Rafan duduk disampingnya.



Lalu menyentuh bahunya perlahan.



"Maafin aku Del" kata Rafan pelan.


"Kamu nggak salah kok" kata Adelia lalu menoleh dan mencoba tersenyum.



"Sekarang kita jadi ngomong pake aku kamu, sepertinya kita udah mulai berjarak" kata Adelia.


"Jarak apa? kamu tetap sahabat terbaikku, aku hanya membuat panggilan kita terdengar lebih akrab" kata Rafan.


"Rafan, aku mau sendiri dulu" kata Adelia dengan raut wajah sedihnya.



"Aku nggak mau ninggalin kamu Del, aku mau disamping kamu apalagi saat seperti ini" kata Rafan.

__ADS_1


"Kamu cuma membuang waktu, sampai kapan kamu merepotkan dirimu kayak gini, kamu harusnya mencari seseorang yang kelak akan menjadi pendamping hidupmu" kata Adelia.


"Kenapa kamu jadi ngomong ngelantur gini" kata Rafan.


"Aku nggak ngelantur, aku cuma mau kamu jangan sia siakan hidupmu cuma untuk menjaga aku, kamu berhak mencari kebahagianmu sendiri" kata Adelia.


"Tapi kamu lah kebahagiaanku Del" kata Rafan yang langsung mendapat tatapan dari Adelia. Rafan tersenyum.



"Kamu kenapa jelek banget hari ini" kata Adelia mengalihkan pembicaraan.


"Ah aku tadi bantu bantu dekor rumah untuk pernikahan Refan besok dan belum sempet mandi" kata Rafan.


"Kenapa nggak dirumah Cantika aja" tanya Adelia.


"Terlalu berbahaya karena takutnya papa Cantika mengacaukan semuanya" kata Rafan.


Adelia mengangguk, sepertinya dia sudah tidak marah lagi.


"Del, kamu dateng kan besok" tanya Rafan


"aku pasti dateng tapi kayaknya malem deh, karena besok pagi ada meeting penting, sampaikan maafku sama Refan, mama dan papa ya, mungkin malamnya aku baru bisa dateng" kata Adelia


"Iya nggak apa apa" kata Rafan tersenyum

__ADS_1


"Del, ayo kita makan siang, sekalian aku mau mandi dirumah kamu, aku bawa ganti tadi. nggak apa apa kan? tapi sebelum itu aku mau ziarah dulu ke makan ayah sama bunda" kata Rafan


"Iya, yaudah ayo" Adelia bergegas menarik tangan Rafan agar segera berdiri dan pergi ke makam orang tua Adelia.


__ADS_2