Tak Pernah Berhenti Mencintaimu

Tak Pernah Berhenti Mencintaimu
Hati Yang Hancur (Season 2)


__ADS_3

Rafan sedang bekerja di ruangannya.


Dia terlihat sangat sibuk.


Tokk Tokk Tokk


Suara pintu di ketuk.


"Pak, ada mbak Adelia di luar" Kata Debi yang merupakan sekretaris Rafan.


"Suruh masuk" Jawab Rafan datar.


Tak lama kemudian masuk lah Adelia.


"Rafan" Panggil Adelia pelan.


"Kalau kamu ada urusan cepat katakan karena saya sibuk" Kata Rafan tanpa menoleh.


"Aku...aku mau minta maaf" Adelia menunduk.


"Apa kalau saya bilang ya kamu akan pergi?" Rafan masih tidak menoleh.


"Rafan, aku....aku nyesel udah ngelakuin semua itu. Aku terpaksa karena permintaan Mama" Kata Adelia.


"Kalau kamu sudah selesai, silahkan pergi saya sibuk" Rafan masih fokus pada laptopnya.


Adelia diam tak bergeming.


Karena merasa risih, mau tidak mau Rafan terpaksa melihat Adelia.


Namun dia terkejut. Adelia tampak sangat kurus dan tidak terawat. Wajahnya kusam dan matanya hitam.


"Rafan, tolong aku" Adelia menangis.

__ADS_1


Rafan bingung harus apa. Di satu sisi dia masih sangat mencintai Adelia tapi di sisi lain dia juga membenci Adelia.


"Pergi lah kamu bukan siapa siapa aku lagi. Bahkan aku juga nggak mau berteman apalagi melihat wajahmu" Kata Rafan ketus.


Hati Adelia hancur mendengarnya.


Susah payah dia datang kemari bahkan sampai memanjat pagar karena rumah sudah di kepung pengawal Mamanya.


Sampai disini Rafan malah mengusirnya.


Adelia menghentikan tangisnya.


"Aku memang nggak pantas kamu maafkan.


Mama akan membawaku ke London dan menjodohkanku dengan anak temannya. Kalaupun aku nggak bisa dapetin maaf dari kamu, seenggaknya aku bisa lihat wajah kamu untuk terakhir kali" Kata Adelia.


Dia berbalik dan meninggalkan ruangan Rafan dengan perasaan yang begitu hancur.


Dia meminjat keningnya.


"Kenapa kamu harus datang lagi"


Adelia sudah sampai di bawah.


Dia terkejut karena pengawal Mamanya sudah menunggunya.


Dia hendak lari namun pengawal sudah mengepungnya.


Tanpa perlawanan, dia pun pasrah dan ikut masuk ke mobil.


Sesampainya di rumah.


Stefani sudah menunggunya.

__ADS_1


"Dari mana kamu? menemui Rafan? Apa kamu ingin lihat Mama menghancurkan keluarga itu lagi?" Stefani berkacak pinggang.


"Adelia abis minta maaf sama Rafan Ma" Kata Adelia.


Plakkkk


Sebuah tamparan mendarat di pipi Adelia.


"Berani beraninya kamu merendahkan diri di hadapannya. Kamu sudah membuat Mama malu" Stefani membentak dan melototinya.


"Maafin Adel Ma, Adel merasa bersalah karena udah bohongin Rafan selama ini" Adelia masih memegangi pipinya yang sakit.


"Dasar anak bodoh, susah payah Mama melahirkan kamu tapi kamu malah begini" Teriak Stefani.


"Adel mencintai Rafan Ma" Kata Adelia jujur.


"Cinta? Jangan pernah bermimpi kamu akan bersamanya. Sampai mati pun Mama tidak akan merestuinya. Kamu akan menikah dengan anak teman Mama bulan depan. Minggu depan kita akan pergi ke London tempat nenek kamu" Stefani pergi meninggalkan Adelia yang masih terisak.


Terdengar tangisan pilu di dalam ruangan itu.


Adelia bangkit dan menuju kamarnya.


Dia merbahkan diri ke atas ranjang dan tertidur dalam tangisannya.


Lama kemudian, Stefani datang dan membelai rambut Adelia yang masih tertidur.


"Anak bodoh, kamu menderita hanya karena cinta. Kamu tidak boleh bersamanya karena semua akan terbongkar" Stefani menyunggihkan senyuman seperti sedang mengingat sesuatu.


Dia pergi keluar dan menelpon seseorang.


Dia tersenyum mendengar laporan orang tersebut.


"Segera persiapkan pernikahan itu" Kata Stefani yang kemudian menutup teleponnya

__ADS_1


__ADS_2