Tak Pernah Berhenti Mencintaimu

Tak Pernah Berhenti Mencintaimu
Lebih Baik ( Season 2)


__ADS_3

2 Hari kemudian


"Pulang sana lo Re" Kata Rafan yang tengah duduk bersama Refan di taman belakang rumah


"Lo ngusir gue?" tanya Refan


"Lo pinya bini, jangan ditinggal lama lama kasian" Kata Rafan


"Tapi gue nggak tenang ninggalin lo yang dalam keadaan jomblo galau" Ejek Refan


"Wah songong lo ya. Lo kira cuma Adel aja cewe didunia ini. Masih banyak kali, gue kan ganteng kayak papa" Kata Rafan membanggakan diri


"Ganteng tapi jones buat apa" Refan kembali mengejek


"Tuh kan gak asik lo ngeledek gue mulu" Kata Rafan meninju bahun Refan pelan


"Yauda ntar sore gue balik sekalian jemput Cantika, konsol gamenya buat lo aja. Gue nggak akan sempet mainin karena gue sibuk mainin istri gue" Kata Refan


"Sialan lo, tapi thanks ya" Kata Rafan tersenyum


"Gue seneng lo udah baikan. Gue bisa tau karena sekarang hati gue udah nggak gelisah lagi. Artinya hati lo juga udah tenang kan" Kata Refan serius


"Gue bersyukur pinya jiplakan kayak lo, b*go tapi selalu bisa menghibur gue" Rafan langsung mendapat tinju di lengan kanannya.


"Kurang ajar lo ya, udah gue baikin malah ngatain gue" Refan berpura pura kesal

__ADS_1


"Hahaha, sini" Rafan memeluk Refan


"Makasih karena lo selalu peduli sama gue walaupun dari dulu gue sering banget ngatain lo tapi lo nggak pernah marah sama gue dan selalu ngertiin gue"


"Gue cuma pengen yang terbaik buat lo" Kata Refan


Sore pun tiba,


"Ma, Pa Refan pulang dulu ya. Mama dan Papa jagan kesehatan ya" Refan memeluk mereka secara bergantian


"Iya sayang, terima kasih ya kamu sudah kemari" Kata Amelia membelai kepala putranya


"Ra, gue pulang ya, jangan main game aja lo ya pikirin perusahaan papa" Kata Refan


"Kan lo yang bawa kok jadi lo yang sewot" Kata Rafan


Rafan mengangguk dan membalas senyumannya.


"Pergi lo sana, lama amat dah" kata Rafan mendorong tubuh Refan agar segera pegi


"Oke deh bye" Refan melambaikan tangan yang disambut senyuman orang tuanya dan juga Rafan.


Dia melangkah meninggalkan rumah itu dengan hati lega.


Dia bisa pergi tanpa merasa khawatir lagi akan keadaan Rafan.

__ADS_1


Karena bagaimanapun, masalah yang baru saja di alaminya pasti mengguncang jiwanya.


Apalagi Rafan orang yang pendiam, Refan takut jika Rafan akan melakukan hal yang nekat.


Refan sudah sampai dirumah mertuanya,.


Dia menemui ibu mertuanya dulu lalu membawa Cantika pulang.


Sepanjang jalan mereka bercerita tentang Rafan dan bagaimana Adelia mengkhianatinya.


Cantika menangis mendengar cerita Refan, dia merasa kasihan terhadap iparnya itu.


Sementara itu,,,,


"Hentikan tangisanmu!!!" Suara Stefani menggema di kamar Adelia


Adelia menghapus air matanya.


"Ma, kita pergi aja dari sini, Adel ngga mau ketemu sama Rafan lagi" Adelia masih terisak


"tidak, kita tetap disini, sampai aku bisa memikirkan cara supaya dapat menghancurkan mereka" Kata Stefani seperti sedang berpikir


"Hentikan Ma, sudahi dendam Mama. Mari kita pergi dan memulai hidup baru" Bujuk Adelia


"Tidak, semua ini karena kebodohanmu yang telah jatuh cinta padanya" Stefani melotot ke arah Adelia

__ADS_1


"Ma, Adelia nggak bisa menyakiti orang sebaik Rafan. Dulu Adelia berpikir mereka lah yang jahat. Tapi sekarang Adelia tau bahwa Mama lah yang salah, Mama terobsesi pada om Arka sampai Mama terus mengejarnya. Berhenti lah menyakiti diri Mama sendiri, hentikan semua ini Adel mohon Ma" Adelia bersimpuh di kaki Stefani


"Berdiri kamu, jangan pernah berpikir aku kan kalah, dan jika kau tidak mau membantuku itu terserah padamu, aku tidak peduli. Tapi jika kau menghalangi rencanaku, aku tidak akan mengampunimu" Stefani meninggalkan Adelia yang masih menangis


__ADS_2