
Suara Stefani memenuhi seluruh ruangan dirumah itu.
"itu adalah salahmu Stefani, karena kamu berkali kali ingin merebut suamiku sampai kamu memalsukan identitasmu" kata Amelia
"tidak, kamu lah yang bersalah, kamu sudah membuat hidupku hancur" Stefani kembali berteriak
"Cukup tante, jangan pernah tante bentak mama saya lagi. ayo ma kita pulang" kata Rafan yang sudah muak dengan sikap Stefani
"Adelia, jika kamu masih berhubungan dengan mereka, kamu akan melihatku mati!!!" Stefani berteriak lagi
Adelia masih menunduk dan menangis.
"Sudah lah tante, saya berjanji tidak akan berhubungan lagi dengan Adelia. Saya tidak suka berteman dengan seorang pembohong. dan terima kasih tante karena sudah membuka kedoknya, sehingga saya tidak terjebak lebih dalam dengannya" Rafan melangkah meninggalkan rumah itu dengan perasaan hancur sehancur hancurnya.
Arka menarik lengan Amelia dan perlahan membimbingnya keluar. Amelia menangis dalam pelukan Arka. Mereka kembali ke mobil dan melaju menuju rumah mereka.
Selama perjalanan, mereka bertiga diam saja.
Amelia tidak berani menatap Rafan dibangku belakang. yang dia harapkan hanya satu.
semoga Rafan tidak melakukan hal nekat yang bisa membahayakan dirinya
Mereka sampai diruamh.
Rafan segera keluar mobil dan bergegas menuju kamarnya.
Amelia mengejarnya.
"Rafan, tunggu" Amelia berhasil memegang tangan Rafan
__ADS_1
"Ada apa ma" Rafan menoleh
"apa kamu baik baik saja" tanya Amelia
"Rafan baik baik aja ma, mama jangan khawatir ya" Rafan tersenyum pada mamanya, lalu melanjutkan langkahnya.
Rafan membuka pintu kamar dan duduk di sofa kamarnya.
Perlahan dia menyandarkan tubuhnya dan melihat ke langit langit kamarnya.
Cukup lama dia menatap langit langit, tanpa terasa bulir air mengalir dari matanya.
Wajahnya tetap datar, namun air matanya terus menetes.
Di menegakkan tubuhnya dan menghapus air matanya.
6 Tahun dia memendam cinta kepada Adelia namun pada akhirnya dia harus terluka karena Adelia telah mengkhianatinya.
Amelia masih menangis dikamarnya, Arka mencoba menenangkannya.
"Apa salahku sehingga dia kembali dan menghancurkan hidup putraku"
"Sabar sayang, ini adalah ujian untuk keluarga kita." Arka memeluk istrinya
"Tapi kenapa harus Rafan, kenapa bukan aku aja mas"
"sudahlah sayang, aku yakin kita bisa melewati ini" kata Arka menghibur
"Mas, kita harus memanggil Refan kesini, hanya Refan yang bisa menghibur Rafan. Dia kembarannya, dialah yang paling mengerti Rafan" Kata Amelia menghapus air matanya
__ADS_1
"iya sayang, besok mas akan menghubungi Refan" Kata Arka
"Tidak mas, hubungi sekarang, agar besok pagi dia bisa mengosongkan jadwalnya" Kata Amelia
"Iya sayang" Arka mengambil hpnya dan memencet tombol panggilan ke nomor Refan.
Dari seberang terdengar jawaban,,,
"halo pa",,,,,,,,
*****
"Sayang, kamu kenapa?" Cantika menghampiri Refan yang sedang duduk di Sofa kamarnya dengan wajah sedih
"Rafan sayang" kata Refan pelan
"kak Rafan kenapa sayang?" tanya Cantika khawatir
"Aku baru dapet kabar kalo Rafan baru aja dikhianati sama Adelia." kata Refan lesu
"Ha? dikhianati gimana?" tanya Cantika penasaran
"nanti aja kalo semua udah membaik, aku akan cerita ya. besok aku mau ke rumah mama dan papa. kamu nggak papa kan di rumah mama dulu" kata Refan
"Nggak apa apa sayang, kamu bantu Refan supaya dia bangkit lagi ya" kata Cantika berusaha menghibur Refan.
Pantes aja sejak tadi Mas Refan gelisah dan murung terus. Ternyata kak Rafan sedang ada masalah. Bagaimana pun mereka adalah anak kembar. Jika salah satu dari mereka bersedih, tentu yang lain juga akan ikut merasakan
Cantika mendekati Refan kemudian memeluknya untuk menguatkannya.
__ADS_1