Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.45


__ADS_3

Dika sudah berjalan lebih dulu masuk ke dalam restaurant mewah di area kebun starwberry tersebut. Kinan berjalan tepat di belakang Dika.


"Mau makan dulu, setelah itu kita berjalan - jalan mengambil strwberry di sana ya?" ucap Dika pelan mengajak Kinan.


"Ekhemm ... Iya, Dika," jaawab Kinan singkat.


Pandangan Kinan menyapu seluruh ruangan mewah itu. Benar - benar sempurna, dari penataan tempat yang begitu elegan dan semuanya bernuansa strawberry. Coraknya coklat keemasan dengan ornamen berwarna merah ciri khas starwberry hingga terlihat hidup dan lebih artistik dan menyeni.


"Itu Mama," ucap Dika sambil menunjuk ke arah meja restaurant yang sudah di dduduki oleh wanita paruh baya yang di yakini adalah Mama Dika.


"Itu Mama kamu, Dik?" tanya Kinan memastikan bahwa wanita cantik itu benar Mama Dika.


Dika mengangguk dengan senyuman. Ia begitu bangga dengan Atika, Sang Mama yang merawat sejak kecil tanpa ada Papa di sampingnya.


"Ma?" panggil Dika pelan sambil mengecup punggung tangan Mama Atika dengan sopan lalu kecupan itu berpindah di pipi dan kening Sang Mama. Segitu sayangnya Dika terhadap Atika.


"Dika? Kamu sudah datang?" ucap Atika lembut sambil memeluk putra semata wayangnya itu.


Pelukan mesra antara anak dan ibu itu terkadang membuat Kinan rindu dengan kedua orang tuanya di Yogyakarta.


"Ma ... Itu Kinan. Gadis yang Dika ceritakan tempo hari," ucap Dika setengah berbisik.


Atika langsung mengangkat wajahnya dan menatap gadis yang sudah berdiri di depannya sambil tersenyum ramah.


"Kinan?" tanya Atika denagn suara lembut khas ibu.


Kinan pun membalas senyuman Atika dan menghampiri Atika untuk mencium punggung tangan itu seraya berkata, "Ya, Tante. Kinan."


"Cantik, sopan, lembut. Pintar ya, cari calon istri," ucap Atika tiba - tiba sambil mencubit perut Dika.


"Argh ... Mama," Dika setengah berteriak menahan rasa sakit.

__ADS_1


Kedua mata Kinan pun langsung membola menatap tajam ke arah Dika hingga Dika pun menjadi salah tingkah.


Dika menyenggol lengan Atika.


"Temen Ma," jawab Dika dengan sopan sambil menundukkan kepala.


Atika langsung menatap lekat kedua mata Kinan. Memandang wajah cantik Kinan yang terlihat polos dan natural itu.


"Teman? Cuma teman? Tapi, kamu jemput Kinan dari Jakarta dan di bawa ke Bnadung, hanya berdua saja? Kalian cuma berteman? Kata kamu kemarin calon istri? Makanya Mama minta di kenalin? Kamu gimana sih Dik?" ucap Atika yang tidak bisa di ajak kompromi. Maklum ibu - ibu klau sudah di beri kesempatan untuk bicara tidak bisa berhenti dan tidak ada titik komanya.


"Memang cuma teman, Tante. Kita berdua juga baru kenal di kantor. Itu juga hanya beberapa hari saja, dan sekarang Dika sudah resign di sana?" ucap Kinan kembali dengan polos tanpa berdosa.


"Kerja? Kamu kerja di mana? Kamu gak bilang kerja, Dik? Kamu cuma bilang sedang ada urusan di kampus lama kamu? Kamu bohongi Mama ya?" ucap Atika mulai marah.


Dika menatap Kinan. Ia lupa memberitahukan Kinan bahwa ia bekerja kemarin hanya menggantikan posisi orang lain yang sedang tidak masuk kerja. Kebetulan orang itu di pindah perusahaan. Dika mengedipkan satu matanya kepada Kinan.


"Ma," rengek Dika sedikit manja. Dika hanya ingin Mamanya mengerti dan memahami Dika.


Kinan merasa tersentak. Dirinya merasa bodoh berada di sana. 'Kenapa Kinan ceroboh sekali? Mau saja di bawa Dika untuk di kenalkan Mamanya. Tentu perkenalan itu memiliki arti lain,' batin Kinan yang merutuki kebodohannya sendiri.


Kedua tangan Kinan saling bertaut dan di gosok - gosokan di antara telapak tnagannya. Jujur, Kinan amat gugup dan takut melihat Atika yang sedikit keras kepada Dika.


Dika pun membisikki sesuatu di telinga Mamanya. Sang Mama pun mengangguk - anggukan kepalanya tanda paham. Terakhir, Dika mengecup pipi Sang Mama.


"Kinan duduk sini," pinta Dika sambil membuka kursi untuk Kinan.


Kinan hanya menunduk dan berjalan sesuai perintah Dika.Awal yang salah, batin Kinan terus menyalahkan dirinya sendiri.


Kinan sudah duduk di kursi yang di pilihkan Dika. Dika sendiri berdiri di belakang Kinan masih memegang sandaran kursi yang di duduki Kinan dan membungkukkan tubuhnya sambil berbisik.


"Maafkan aku, Kinan. Mama sudah mengerti. Nanti aku jelaskan, jika kita berjalan - jalan di kebun strawberry," pelan suara Dika berbisik tepat di telinga Kinan.

__ADS_1


Dik pun langsung pergi ke bagian pemesanan makanan. Dika sengaja memberikan waktu untuk Mamanya dan Kinan untuk saling bicara.


Tangan Atika pun menggenggam tangan Kinan hingga membuat Kinan menolehkan wajahnya ke arah Atika.


"Maafkan Tante ya, Kinan? Tante hanya ingin melihat Dika segera menikah," ucap Atiuka pelan.


Kinan tersenyum dan mengangguk kecol.


"Iya Tante. Tidak apa - apa," ucap Kinan pelan.


"Kinan tidak terarik dengan Dika? Atau Kinan sudah punya pacr?" tanya Atika pelan mulai mencari celah jawaban Kinan.


"Dika baik banget, Tante. Ia tipikal lelaki yang perhatian. Kinan juga belum punya pacar. Tapi, Kinan belum mau pacaran dulu, Tante. Kinan mau kerja dan berkarir dulu," jawab Kinan tanpa bertele - tele.


Atika hanya bisa manggut - manggut paham. Gadis seusia Kinan itu memang sangat keras. Tidak mudah untuk di rayu. Sikap egoisnya masih kental, karena kebanyakan mereka belum bisa menyikapi sesuatu hal dengan bijak dan dewasa.


"Tidak mau di coba?" tanya Atika pelan masih terus mencoba mengendalikan Kinan yang mulai bimbang.


Kinan menatap Atika yang juga menatapnya lembut.


Satu tarikan napas panjang terlihat jelas oleh Atika. Kina tntu dalam tahap dilema.


Kinan menggelengkan kepalanya pelan. Jawabannya masih sama. Kinan belum mau pacaran atau memiliki hubungan khusus dengan seorang lelaki.


"Maaf Tante. Kinan belum bisa," jawab Kinan sangat pelan. Kinan berusaha menjawab dengan sebaik mungkin agar tidak ada salah paham.


"Ada alasan lain yang mungkin lebih masuk akal di bandingkan alasan kamu ingin berkarir, Kinan? Kamu tahu? Beberapa hari ini, setiap malam Dika selalu menceritakan kamu, dan setelah di bawa ke sini, memang kamu beda dengan perempuan - perempuan yang di bawa Dika selama ini yang hanya menginginkan uang Dika saja. Kebetulan, Dika baru saja bertemu kembali dengan Ayahnya setelah berpuluh - puluh tahun tak bertemu. Rencananya ...." ucapan Atika pun terhenti saat lelaki paruh baya menutup kuda mata Atika dan mengecup kening Atika dari atas.


Kinan langsung menatap ke arah lelaki paruh baya itu dan ....


Kinan hanya terdiam dan menatap lekat Pak Surya, tak lain Papah Bagas. Pak Surya sendiri nampak menelan air liurnya karena kaget melihat Kinan yang ada di depannya saat ini. Kinan, gadis muda itu adalah sekertaris Bagas.

__ADS_1


Perlahan Atika melepaskan tangan Pak Surya yang menutupi kedua matanya dan menatap Pak Surya serta Kinan secara bergantian.


__ADS_2