Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.35


__ADS_3

"Saya pulang dulu ya? Maaf sudah mengganggu," ucap Bagas pelan.


Kinan pun bangkit berdiri dan menhampiri Sang Direktur yang terlihat kecewa.


"Maaf Pak, bukan maksud mengusir. tapi ini sudah malam," ucap Kinan pelan.


"Ya, tidak apa - apa Kinan. Saya paham. Saya tunggu jawaban kamu, Kinan," ucap Bagas pelan lalu pergi meninggalkan Kinan begitu saja yang masih terpaku dengan ucapan terakhir Bagas sebelum pergi.


Bagas telah pergi dan Kinan langsung menutup pintu lalu mengunci pintu kamar apartemen itu. Ia bersandar pada pintu dan berpikir dengan keras.


"Kinan harus jawab apa?" ucapnya lirih dengan dirinya sendiri.


Langkah Kinan gontai menuju kamarnya dan mengambil tas nya yang ada di sofa lalu menutup kamar tidurnya. Tubuhnya di hempaskan begitu saja di kasur empuk yang membuatnya nyaman.


Kedua matanya terpejam dan terlelap begitu saja hingga pagi hari. Dering telepon yang terus berbunyi pun tak terdengar di telinga Kinan.


"Kamu kemana sih, Kinan? Kenapa aku selalu memikirkanmu?" ucap Dika pelan pada dirinya sendiri.


"Dika ...." panggil Sang Mama kepada Dik yang masih berdiri di depan jendela kamarnya sambil memegang ponsel.


"Iya Ma," jawab Dika pelan sambil menengok ke arah Sang Mama.


"Turun yuk. Ada hl yang mau Mama ceritakan," ucap Sang Mama pelan.


"Ada apa? Soal Papa? Dika gak mau ketemu," ucap Dika dengan sengit.


"Biar bagaimana pun, dia tetap Papa kamu, Dika. Kamu harus hormat," ucap Atika pelan.


"Kenapa baru sekarang berani memunculkan wajahnya? Kemana saja selama ini? Apa karena Mama dan Papa hanya menikah siri? Dia lupa semuanya?" ucap Dika ketus.

__ADS_1


"Papamu selalu ada. Papamu adalah Papa yang hebat dan bertanggung jawab, Dika," sentak Atika tak terima dengan ucapan Dika.


"Mama selalu membela Papa? se -cinta apa Mama kepada Papa?" teriak Dika dengan rasa tidak suka.


"Kamu kira, kamu bisa sekolah? Bisa makan? Bisa beli baju? Uang siapa? Papamu selalu mengirimkan uang setiap bulan. Dia tidak pernah lupa. Hanya karena dia punya keluarga kecil sendiri, dan itu semua keinginan Mama untuk tidak bertemu," ucap Atika melemah.


Atika menangis jika harus mengingat masa itu. Kesalahn satu malam yang mengakibatkan fatal. Atika adalah sekertaris kesayangan Surya, yang akhirnya mereka menikah secara siri dan Atika mengandung benih dari Surya. SAat itu, Surya belum memiliki anak setelah menikah lebih dari lima tahun. Niatnya, ingin meneruskna keturunannya dengan memperistri Atika. Di saat yang sama, Anita mengungkap rasa bahagianya bahwa ia sedang mengandung.


Semua kebahagiaan Atika terasa sirna. Janji Surya untuk menikahi secara SAH pun tak pernah terjadi karena Anita telah mengandung juga.


"Terus? Selama ini? Pernah Papa bersama MAam? Dika sedih, lihat Mama yang selalu sendiri dan berjuang sendiri merawat Dika, walaupun secara finansial Papa memberikan semuanya," ucap Dika dnegan ketus.


"Dia tetap Papamu, Dika. Bersikaplah hormat padanya. Dia datang baik - baik, tolong terima dengan baik juga," pinta Atika dengan nada memohon.


Dika menarik napasnya dengan dalam lalu menghembuskan dengan perlahan, mencoba menenangkan hatinya.


"Ya sudah. Nanti Dika turun. Mama turun duluan saja," ucap Dika pelan.


Atika terlihat bahagia. Moment kebahagiaan ini memang sangat langka di rasakan oleh Atika, Sang Mama. Dika paling lemah jika itu permintaan Atika dan demi kebahagiaan Atika.


Atika sudah pergi dari kamar Dika. Dika hanya berdecak pelan, pesan singkat yang di kirimkan Dika belum juga di balas oleh Kinan.


Langkah kaki Dika pelan berjalan menuruni anak tangga. Terdengar suara Atika, Sang Mama sedang tertawa terkekeh dengan Suami sirinya, tak lain Papa Dika.


"Ma? Jadi makan malamnya?" tanya Dika dari ambang perbatasan ruang tamu dan ruang tengah itu.


Atika dan Surya menoleh ke arah Dika secara bersamaan.


"Dika? Sini, salim dulu sama Papa kamu?" ucap Atika dengan lembut.

__ADS_1


Atika pun berdiri berusaha meraih Dika dan merayu sedikit putra kesayangannya agar tidak kesal pada keadaan ini dan mau menerima dengan legowo.


"Mas Surya, Ini Dika anak kita? Mungkin selama ini, Mas Dika hanya lihat lewat ponsel daro semua foto yang aku kirim," ucap ATika sambil tersenyum lebar.


Surya pun ikut berdiri menatap lekat ke arah Dika yang tak mau membalas tatapan Surya, sang Papa. Dika masih belum bisa menerima keadaannya saat ini.


Dika mengulurkna tangannya dan menggapai tangan Surya dan mengecup punggung tangan lelaki tua itu yang dipanggilnya dengan sebutan Papah.


Surya pun langsung memeluk Dika dan meminta maaf kepada anak lelakinya itu.


"Maafkan Papah, Dika. Kalau selama ini Papah tidak pernah hadir dan tidak pernah datang untuk menemui kamu. Mama kamu yang menginginkan ini smeua. Papa hanya menuruti smeua keinginan Mama kamu. Tapi, Papa dan Mama sellau berkabar tentang kamu, pertumbuhan kamu, keadaan kamu dan semuanya tentang kamu, Dika. Papa ingin kamu sellau mendapatkan yang terbaik dan kamu bisa menjadi anak yang sukses dan selalu di banggakan," ucap Surya pelan sambil menitikkan air mata. Punggung Dika di usap lembut oleh Surya.


Dika hanya diam seribu bahasa. Perasaan Dika seperti mati dan beku. Tak aa perasaan rindu atau bagaimana? Ada juga hanya kecewa, kesal, benci terhadap Surya.


"Kita makan sekarang?" ucap Atika memecah keheningan. Atika tahu, Dika masih benci kepada Papahnya sendiri.


"Iya kita makan sekarang," jawab Surya pelan sambil melepas pelukannya dari Dika. Putra kandungnya yang sudah puluhan tahun tak di sentuhnya.


Dika hanya mengangguk pasrah. Llau berjalan tepat di belakang ATika dan Surya yang sedang bergandengan tangan. Kemesraan yang tak di buat - buat. Keduanya seperti sedang rindu dan kembali lagi di masa lalu, sdeang di mabuk asmara.


Surya membukakan kursi untuk Atika. Wanita kesayangannya itu sudah bertahun - tahun sabar menanti hari ini. Hari ini adalah hari anniversary mereka yang kesekian kalinya. Mereka sengaja bertemu untuk mempertemukan Dika dan Surya. Sekaligus rindu Surya epada Atika bisa terobati. Tidak hanya itu saja, Surya ingin mempercayai perusahaannya kepada Dika, sebagai keturunannya juga selain Bagas.


"Terima kasih Mas?" ucap Atika dengan suara pelan. Atika pun duduk di kursi itu.


Senang melihat keduanya bersama dan bahagia. Tidak ada rasa benci atau kecewa di mata Atika, yang ada hanya perasaan rindu dan kasih sayang yang begitu besar kepada Surya.


"Dika sini duduk," ucap Atika lembut kepada anak semata wayangnya.


Atika pelan melayani suaminya dan anaknya. Menagmbilkan piring dan beberapa makanan yang menjadi kesukaan masing - masing lelaki yang ia cintai itu.

__ADS_1


"Mari makan?" ucap Atika pelan. Senyum Surya begitu lebar karena bahagia. Sudah lama mereka tak bertemu dan kini mreka saling berpandangan dan saling menggenggam penuh cinta.


Dika hanya bisa melihat ketulusan keduanya. Betapa ikhlasnya Atika, Sang Mama menunggu Surya.


__ADS_2