
Pekerjaan Kinan hari ini sudah selesai. Pertemuan yang seharusnya sudah ada dalam jadwal pun di batalkan sepihak oleh klien dengan satu alasan yang tak masuk akal.
Hari sudah semakin sore, namun Bagas belum juga menampakkan wajahnya untuk segera pulang. Entah apa yang di lakukannya di dalam ruangan selama itu. Padahal beberapa pekerjaan sudah di selesaikan dengan sempurna oleh Kinan.
"Mbak Kinan. Maaf mau ambil keranjang sampah yang ada di samping meja," ucap Dika dengan suara pelan.
Rasanya malu bertatap muka dengan Kinan yang ternyata seorang seekrtaris sang direktur.
"Oh ... Iya. Sebentar Kinan ambilkan keranjang sampahnya," jawab Kinan gugup karena baru saja ia melamun.
Kinan bangkit berdiri dan mengambil keranjang sampah yang ada di dekatnya lalu di berikan kepada Dika. Lelaki tampan itu menerima dengan senyum ramah.
Kinan tak membalas senyuman itu. Ia teringat dengan kata - kata Festi tadi. Semua perempuan di kantor ini iri dengan dirinya. Maka dari itu jangan coba - coba mencari muka baik kepada Bagas, direkturnya atau pun kepada Dika.
Dika cukup paham dengan perubahan sikap Kinan. Ia berpikir pasti ini ada kaitannya dengan masalah tadi siang, saat di pantry.
Dengan sopan, Dika meletakkan kembali keranjang sampah yang sudah kosong itu ke dekat meja Kinan.
Sudah dua hari di Jakarta. Kedua orang tua Kinan, tak ada keinginan untuk menghubungi Kinan dan mencari Kinan. Semuanya tampak biasa saja, seolah tidak terjadi apa - apa.
Ponsel Kinan terus di mainkan di atas meja hingga terdengar suara nyaring. dan membuat Kinan sedikit terkejut.
"Hallo," sapa Kinan dengan cepat tanpa melihat siapa yang menghubunginya lewat ponselnya.
Suara Shella dari seberang sambungan telepon dan mengabari bahwa sore ini, Shella tidak bisa menjemputnya karena masih ada pekerjaan lin dan harus menggantikan tugas malam temnnya yang tiba - tiba izin karena ada acara keluarga.
"Iya Mbak Shella. Kinan paham dan ngerti," jawab Kinan dengan suara lembut.
__ADS_1
Sore ini terpaksa Kinan harus pulang sendiri dengan menggunakan kendaraan umum sesuai petunjuk Shella tadi.
"Saya pulang duluan Kinan. Jangan lupa, pertemuan besok pagi. Kamu harus hadir pagi - pagi sekali dan tidak boleh terlambat," titah Bagas dengan suara tegas.
Kinan hanya mengangguk pelan memahami semua yang di amanatkan Bagas kepada dirinya.
Tugas seorang sekertaris kan tidak mudah. Pantas saja, kebanyakan di televisi, seorang sekertaris pasti akan memiliki hubungan lebih dengan Bosnya karena memang merek adi tuntut dekat dan punya chemistry tersendiri agar keduanya terlihat kompak dan bekerja sama.
Setelah berbicara kepada Kinan, Bagas pun pergi begitu saja meninggalkan Kinan.
"Pak bagas?" panggil Festi dari arah lorong sebelah. Kinan langsung menatap Festi yang terlihat berbeda sekali dari biasanya.
Pakaiannya terlihat sedikit terbuka pada kemeja yang di pakainya. Dua kancing teratas di buka dan sedikit memperlihatkan arena tubuhnya yang menggunduk di balik kemejanya. Roknya pun terlihat lebih pendek dari yang di pakai tadi pagi. Mungkin saja, rok sebeumnya yang di pakai basah. Kinan hanya berusaha berpikir positif saja.
"Ya Fes? Ada apa?" jawab Bagas pelan sambil menenteng tas laptop di tangannya.
"Pak ... Mobil saya lagi di bengkel. Boleh ikut di mobil Bapak? Kan kita searah juga?" tanya Festi dengan suara lembut yang terlihat di manis - maniskan gaya bicaranya.
Kinan hanya merasa aneh saja. lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Kinan berusaha untuk tidak ikut campur dengan urusan Direkturnya dan sekertaris senior itu.
Meja kerja Kinan sudah beres. Kinan menatap ke sekeliling ruangan itu dan tak nampak satu karyawan pun tersisa di sana. Semua sudah pulang sesuai dengan jam pulang yang telah di tetapkan. Tapi, ada satu orang yang masih terus bekerja. Dia bukan karyawan perusahaan tapi ia seorang OB yang masih terlihat sibuk berada di salah satu ruangan rapat.
Kinan membawa tas selempangnya. Ia berjalan perlahan mendekat ke arah ruangan rapat yang tengah menyala itu.
Satu tangannya menutup mulut Kinan sendiri. Seolah tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.
"Bukankah ada CCTV?" ucap Kinna lirih. Kinan langsung pergi meninggalkan tempat itu. Knan sendiri tidak mau terlibat masalah apapun. Secara ia anak baru juga di sini.
__ADS_1
Langkah kaki Kinan begitu cepat. Di dalam lift, perasaannya semakin tak karuan. Kantor ini sudah benar - benar sepi. Padahal baru jam enam sore. Tapi kantor terlihat gelap dan sepi.
Pandangan Kinan mengedar ke seluruh gedung. Langkahnya terus terburu - buru. Hanya ada dua satpam yang duduk santai di lobby dan beberapa glintir karyawan yang baru keluar dari ruangan bagian divisi lain.
"Mbak Kinan?" panggil seseorang dari balik tiang tembok penyangga bangunan.
Kinan menoleh ke arah belakang dan menatap sosok lelaki yang berdiri di belakang tiang. Gaya berpakaiannya terlihat berbeda saat tadi Kinan melihat lelaki itu dengan menggunakan seragam yayasan.
"Dika?" jawab Kinan yang nampak terlihat kagum dengan ketampanan Dika. Walaupun masih lebih tampan Bagas yang super beku kayak es batu di dalam kulkas.
Dika berjalan santai menghampiri Kinan yang terlihat sedikit pucat.
"Mbak Kinan kenapa?" tanya Dika pelan.
Kinan hanya menarik napas dalam dan menggelengkan kepalanya pelan sambil memejamkan kedua matanya sekejap. Bayangan lelaki tadi di atas tepatnya di ruang rapat itu membuat Kinan semakin bergidik ngeri. Tadi itu manusia atau hantu sih? Rasanya kayak mimpi saja. Batin Kinan terus saja mengumpat di dalam hatinya.
"Mbak Kinan? Kamu gak apa - apa? Kenapa wajahmu pucat?" tanya Dika kemudian sambil melambaikan satu tangannya tepat di depan kedua mata Kinan.
"Ehh ... Maaf. Kinan lagi gak fokus. Boleh tanya?" tanya Kinan secara langsung. Ia benar - benar penasaran.
"Ya? Tanya saja? Apa yang bisa saya bantu?" tanya Dika pelan.
"Apakah masih ada yang kerja anak yayasan kalau jam segini?" tanya Kinan pelan menyelidik tanpa terlihat terlalu ingin tahu.
"Sore ini? Biasanya ada dua orang yang kerja. Tidak sebanyak kalau siang? Ada apa ya?" tanya Dika yang kini malah di buat bingung dnegan pertanyaan Kinan.
"Tidak apa - apa. Cuma mau tanya itu saja. Mungkin, lain kali kalau Kinan mau lembur, Kinan bisa minta tolong untuk di buatkan susu aau indomie pake telur. Bisa kan?" tanya Kinan lembut berusaha tetap tenang dan seolah tidak apa - apa.
__ADS_1
Dika hanya tersenyum lebar dan sama sekali tak paham dengan ucapan Kinan baru saja.
"Tentu bisa Mbak," jawab Dika pelan sambil tersenyum.