
"Arka takut Ma, Pa, di dalam banyak sekali orang yang tidak Arka kenal," ucap Arka mengutarakan isi hatinya.
Dinda dan Pandu saling menatap mendengarkan keluhan Arka yang baru saja akan masuk sekolah itu, lalu mereka tersenyum memberikan penjelasan dengan kalimat yang mudah dimengerti olehnya, dan saat itu Arka pun memahami maksud dari ucapan kedua orang tuanya itu, hingga membuat kepercayaan dirinya kembali muncul dan mereka pun akhirnya melanjutkan perjalanan masuk sampai tiba di depan pintu kelas.
Saat itu ada seorang guru yang menyadari ketakutan dari Arka, dan ia pun dengan cepat bergerak untuk mengajak Arka masuk, dengan penuh senyum ibu guru tersebut mengajak Arka masuk dan membiarkannya berinteraksi dengan teman-teman barunya.
Dinda dan Pandu ikut tersenyum melihat Arka yang berusaha menghilangkan rasa takutnya itu, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengajak Pandu pergi dari tempat itu.
"Mas, mungkin kita udah bisa pergi dari sini, Arka udah mulai akrab tuh sama temennya," ucap Dinda mengajak Pandu.
"Ya, kamu benar Din. Ya udah kalau gitu, yuk... Kita pergi." jawab Pandu setuju dan mereka pun pergi.
Saat mobil Pandu menghilang dari hadapan Rehan, Rehan pun mengambil kesempatan itu untuk bertemu dengan Arka, ia ingin sekali mengenal Arka lebih dalam dan ia juga berencana untuk membuat Arka mengenali dirinya sebagai ayah kandungnya.
Saat tiba di depan kelas, Rehan memasukkan kepalanya dan mulai mencari-cari, keberadaan Rehan disadari oleh guru yang sebelumnya membawa Arka masuk, ia pun menghampiri Rehan untuk mempertanyakan tujuannya masuk ke kelas tersebut.
"Maaf Pak, Bapak sedang mencari siapa ya di sini?" tanya bu Isna, ia menatap curiga pada Rehan.
"Saya ayahnya Arka Bu, saya ingin sekali bertemu dengannya," ucap Rehan melempar senyum, berharap bahwa perkenalannya itu tidak ditolak.
"Ayahnya Arka? Bukannya ayahnya Arka sudah pergi bersama bu Dinda ya?" bu Isna menatap bingung.
__ADS_1
"Pria yang tadi bersama Dinda itu bukan ayah kandung Arka bu, tapi ayah sambung, saya lah ayah kandung Arka. Saya ingin sekali mengobrol dengannya, karena selama ini saya tidak pernah mendapatkan izin dari Dinda untuk bertemu dengan Arka." jelas Rehan yang dengan tega menjelekkan nama baik Dinda.
Bu Isna tentu saja merasa kasihan setelah mendengar berita itu, hingga ia pun memutuskan untuk mempertemukan Arka dengan Rehan, kedatangan bu Isna di saat Arka sedang asik bermain membuat Arka akhirnya ikut bersama dengan ibu gurunya itu.
Bu Isna mengizinkan Rehan untuk bertemu dengan Arka dan mengobrol empat mata dengannya, namun tetap saja bu Isna akan mengawasi mereka berdua dari kejauhan, karena ia juga tidak mau jika sampai terjadi sesuatu pada Arka.
"Arka, ini adalah pria yang ingin bertemu denganmu, namanya Rehan, beliau bilang kalau ia adalah ayah kandung mu, jadi Ibu akan membiarkan mu duduk dan bicara dengannya terlebih dahulu," ucap bu Isna melempar senyum.
"Ayah kandung? Rehan? Maaf Bu, tapi aku tidak mengenal nya," lirih Arka yang menatap wajah bu Isna dengan yakin bahwa ia tidak mengenal nya.
"Tentu saja kau tidak mengenal ku Arka sayang, karena sejak kecil ayah tidak diizinkan menemui mu, sampai saat ini," Rehan tiba-tiba berbicara seperti itu pada Arka di hadapan bu Isna.
Arka akhirnya mengangguk pelan, kini Arka sudah bersama Rehan, pria asing yang mengaku sebagai ayahnya itu, sementara Rehan sendiri tidak mau membuang-buang waktu. Ia menunjukkan foto pernikahannya dengan Dinda di dalam ponselnya, sebagai bukti bahwa ia adalah ayah kandung dari Arka. Sebelumnya Rehan sudah mempersiapkan semuanya dan ia yakin bahwa Arka akan percaya dengan bukti yang ia bawa.
Saat melihat semua bukti yang terlihat begitu nyata, akhirnya Arka pun percaya. Percaya bahwa Rehan ada hubungan dengan mamanya, dan Rehan pun menjelaskan bahwa ia sudah berpisah dengan Dinda sebelum Arka tumbuh menjadi seperti ini, hingga akhirnya Arka tidak mengenali siapa Rehan seperti saat ini.
"Sekarang kamu percaya kan, kalau aku adalah ayahmu?" tanya Rehan penuh harap.
Arka mengangguk pelan, hanya itulah yang bisa ia jawab. Meskipun hati kecilnya saat itu masih tidak menerima, ada sebuah pertanyaan yang ingin sekali ia lontarkan pada mamanya, namun ia sadar bahwa saat ini ia sedang tidak bersama dengan mamanya.
Rehan memeluk erat tubuh Arka dan tersenyum senang lantaran akhirnya Arka menerima dirinya sebagai ayahnya. Hingga akhirnya bu Isna kembali menemui Arka dan Rehan, sudah hampir dua puluh lima menit mereka mengobrol, dan waktu pun sudah habis, Arka harus masuk ke kelas karena ia harus mengikuti jam pelajaran yang akan segera dimulai.
__ADS_1
"Emmm, Arka... Sekarang Arka ikut Ibu masuk kembali ke kelas ya, karena pelajaran akan segera dimulai," ajak bu Isna melempar senyum pada Arka.
"Baik Bu." jawab Arka singkat, lalu ia berlari lebih dulu meninggalkan bu Isna dan juga Rehan.
Saat itu bu Isna menatap Rehan, dan begitu juga sebaliknya, ketika melihat reaksi Arka yang tiba-tiba lari meninggalkan mereka.
"Pak, kalau boleh saya beri saran, tolong jelaskan pada Arka secara pelan, saya mendengar pembicaraan Bapak dan Arka tadi, jangan paksa Arka untuk mengerti sekarang, karena itu akan berdampak tidak baik untuk dirinya," ucap bu Isna meminta pada Rehan.
"Baik Bu, saya tidak akan memaksa Arka untuk mengerti. Saya hanya ingin putra saya itu bisa mengenal saya dan mengakui saya sebagai ayahnya, itu saja. Kalau begitu saya harus pamit Bu." izin Rehan yang langsung pergi meninggalkan bu Isna.
Bu Isna tidak mencegah, namun ia akan membicarakan hal ini pada Dinda, selaku mama kandung dari Arka yang telah membawa Arka masuk ke dalam tanggung jawabnya, saat itu bu Isna memilih untuk segera masuk ke kalas untuk memulai pelajaran pertama nya.
***
Waktu pulang tiba, Arka menunggu jemputan dari sang mama di dalam gerbang sekolah, beberapa anak sudah pergi bersama dengan orang tua mereka, dan gini giliran Arka yang mendapatkan sapaan tulus dari mamanya. Dinda, masuk ke gerbang tersebut bersama dengan Pandu, lalu mendatangi Arka yang sudah menunggu beberapa menit yang lalu.
"Sayang, maaf ya, Mama sama Papa lama jemput nya, tadi di jalan macet," ucap Dinda menghampiri Arka dan menciumnya.
"Ya Ma, nggak papa kok." jawab Arka membalas senyuman Dinda dan juga Pandu.
Saat itu bu Isna menyadari bahwa Dinda dan Pandu sudah datang, ia pun tidak mau melewati momen ini, ia pergi menghampiri mereka lalu menyapa Dinda dan juga Pandu. Saat itu Dinda berpikir bahwa bu Isna akan melaporkan apa yang dilakukan oleh Arka di kelas di hari pertama nya, namun ternyata bukan, bu Isna sama sekali tidak komplain mengenai Arka. Namun bu Isna justru ingin bicara serius dan ia ingin di tempat yang enak untuk mengobrol.
__ADS_1