Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
55


__ADS_3

Di sebuah tempat tinggal yang jauh dari keramaian, Pandu dan Dinda pun memilih tempat itu untuk mereka berteduh, Arka sangat menyukai tempat barunya. Banyak permainan tersedia di sana dan suasana yang sejuk pun membuat Arka betah.


Dinda dan Pandu menyapa Arka saat pagi tiba, ia sedang berjemur di bawah terik matahari pagi, sambil bermain bola bersama dengan bi Iyas. Mereka terlihat sangat bahagia karena susana barunya yang sangat sejuk dan bersahabat.


"Selamat pagi semua nya," sapa Pandu yang saat itu menghampiri Arka dan bi Iyas.


"Selamat pagi Papa," ucap Arka membalas senyuman Pandu, ia langsung memeluk Pandu dan bermanja dengan Pandu.


"Uuhh, anak Papa. Apa kamu bahagia tinggal di sini sayang?" tanya Pandu menatap wajah Arka dengan serius.


"Ya Pa, aku seneng benget tinggal di sini, sejuk dan nyaman." jawab Arka tersenyum senang.


Pandu kembali mengeratkan pelukannya dan menciumi pipi Arka. Dinda pun datang membawa minuman dan cemilan, ia tersenyum menatap wajah Pandu dan Arka yang terlihat begitu akrab dan ceria.


"Hai, hai, ayo minum dan makan cemilan dulu ya, bi Iyas juga," ucap Dinda menyapa semua orang yang ada di sana.


"Ya ampun, mama Dinda sangat baik sekali ya, ya udah sekarang ayo kita makan dulu." Pandu merespon kedatangan Dinda dengan baik dan ia langsung duduk di kursi besi yang ada di sana.


Mereka menikmati makanan yang Dinda bawa. Dengan penuh tawa dan canda mereka terlihat akrab dsn bahagia, bi Iyas yang hanya sebatas asisten rumah tangga pun sudah dianggap keluarga oleh Dinda dan Pandu.


"Non, Aden, kenapa kalian tidak pergi bulan madu?" tanya bi Iyas yang tiba-tiba mengatakan itu di hadapan Arka.


"Ha, maksudnya?" Dinda menatap bi Iyas tajam.


"Hehehe, maaf maaf, tapi ini harusnya Aden yang mengajak, tapi kenapa jadi Bibi si yang bicara," sahut bi Iyas mencubit pipinya sendiri.


"Bulan madu, bulan madu itu apa si?" Arka tiba-tiba ikut berbicara saat itu, ia penasaran dengan ucapan bi Iyas pada mamanya.

__ADS_1


Pandu dan Dinda saling menatap satu sama lain saat itu, lalu setelahnya ia menatap ke arah bi Iyas dengan tatapan yang tidak biasa, saat itu Dinda melotot tajam ke arah bi Iyas karena telah mengatakan sesuatu yang membuat Arka justru bertanya, saat itu bi Iyas hanya tersenyum merasa bersalah, lalu berusaha untuk menjelaskan pada Arka sesuai dengan yang bisa dimengerti oleh Arka saat itu.


Setelah menjelaskan pada Arka, Arka pun akhirnya mengerti, dan ia pun akhirnya mengatakan apa yang dikatakan oleh bi Iyas, meminta Dinda dan Pandu untuk pergi bulan madu.


"Kalau seperti itu, Mama dan Papa pergi saja bulan madu, biar Arka tinggal bersama bi Iyas di sini," ucap Arka yang telah mengerti hal sederhana yang dijelaskan oleh bi Iyas.


"Memangnya Arka nggak papa tinggal di rumah sama Bibi, dan Mama pergi sebentar sama Papa?" tanya Dinda yang saat itu menatap Arka dengan serius.


"Nggak papa kok Ma, kan Papa sama Mama mau pergi ngurus kerjaan, jadi Arka di rumah aja sama bi Iyas." jawab Arka menerima dengan senyuman.


Dinda dan Pandu saling melempar senyum satu sama lain, dan saat itu mereka pun akhirnya merencanakan bulan madu yang sebelumnya menjadi rencana dari bi Iyas.


Dinda sedang duduk di atas ranjang sambil membaca majalah, Pandu pun datang dengan membawa dua tiket liburan untuk dirinya dan juga Dinda, saat itu Dinda menyadari kedatangan Pandu yang tersenyum menatapnya.


"Sayang, aku ada dua tiket untuk kita berangkat besok ke Bali," ucap Pandu menyerahkan dua tiket itu pada Dinda.


"Ya serius lah, ini tiketnya. Kita akan pergi bulan madu seperti yang dikatakan oleh bi Iyas tadi pagi," sahut Pandu tersenyum.


"Ya ampun, jadi ini beneran." Dinda menatap bingung, karena ternyata Pandu menanggapi semua itu dengan serius.


Tentu saja Pandu akan menanggapi semua itu dengan serius, lantaran Pandu memang menginginkan acara yang tidak ia dapatkan setelah menikah dengan Dinda, dan saat mendapatkan kesempatan, Pandu dengan cepat mencari tiket agar dirinya bisa segera pergi bersama dengan Dinda.


Keesokan harinya, Dinda dan Pandu sudah siap untuk pergi, Arka dan bi Iyas mengantarkan kepergian kedua orang tuanya sampai di depan pintu, saat itu Arka dengan rela membiarkan kedua orang tuanya pergi, sementara dirinya akan tinggal bersama dengan bi Iyas, wanita yang sudah ia anggap ibu setelah mama Dinda.


"Sayang, Mama dan Papa pergi dulu ya," pamit Dinda pada Arka.


"Ya Ma, hati-hati ya Ma, Pa," ucap Arka melempar senyum.

__ADS_1


"Ya sayang, itu pasti. Kamu juga ya." jawab Dinda dan Pandu secara bersamaan.


Saat itu Arka melambaikan tangannya saat mobil Pandu dan Dinda mulai berjalan, kepergian Dinda dan Pandu pun membuat Arka semakin dekat dengan bi Iyas.


***


Tibanya di kota Bali, Pandu dan Dinda pun segera menuju ke hotel, penginapan yang akan menjadi tempat istirahat pasangan suami istri itu. Malam harinya Pandu mempersiapkan semua nya dengan sangat baik, acara makan malam di dalam kamar hotel pun menjadi ide terbaik dalam benak Pandu, dan saat itu Dinda merasa tersentuh ketika Pandu menyiapkan semua itu untuknya.


"Mas, kamu baik sekali, kamu mempersiapkan semua ini untukku," ucap Dinda melempar senyum.


"Ya sayang, aku menyiapkan semua ini untukmu, untuk kita berdua. Selama beberapa minggu ini, kita sangat sibuk dengan urusan kita, dan malam ini aku ingin sibuk dengan urusan pribadi kita. Aku ingin membahagiakan kamu, sayang." jawab Pandu melempar senyum.


Dinda membalas senyuman Pandu, saat itu ia tidak bisa berkata apa-apa selain hanya tersenyum bahagia karena diperlakukan sebaik itu oleh Pandu, Dinda sendiri tidak menyangka jika Pandu bisa memberikan kejutan terbaik itu untuknya.


"Selama ini, aku hanya mencintai, aku tidak tahu bagaimana rasanya dicintai, dan ternyata dicintai jauh lebih indah daripada mencintai," ucap Dinda terharu kala itu, lantaran Pandu selalu memberikan yang terbaik untuknya.


"Aku bersyukur karena bisa diberikan kesempatan untuk mencintai kamu dan memiliki kamu Dinda, untuk itu aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan terbaik ini, aku akan selalu berusaha membahagiakan kamu," seru Pandu melempar senyum menghapus air mata Dinda.


"Terima kasih banyak ya Mas. Tapi rasanya liburan ini tidak komplit jika tidak ada Arka dan bi Iyas, Mas." jawab Dinda yang teringat dengan putranya.


Pandu pun tersenyum saat itu, ia meminta waktu satu malam untuk bisa menikmati kebersamaan bersama dengan Dinda, dan setelah itu ia pun berjanji bahwa ia akan segera menyusul Arka dan juga bi Iyas, ia berjanji akan mengajak mereka berlibur bersama.


Malam yang indah itu Dinda dan Pandu lewati dengan mengisi satu sama lain, Pandu membisikkan sesuatu pada Dinda bahwa ia menginginkan seorang anak darinya, dan saat itu Dinda pun tidak menolaknya. Ia menerima permintaan Pandu dengan senang hati, karena ia berpikir bahwa usia Arka sudah pas untuk mendapatkan seorang adik.


***


Setelah melewati satu malam bersama dengan Dinda. Pandu pun menjemput Arka dan bi Iyas. Meraka akhirnya bisa berlibur bersama dan merasakan kebahagiaan tanpa harus merasa takut dengan kehadiran Rehan, keluarga Dinda dan Pandu pun terlihat bahagia, karena akhirnya mereka bisa saling mengisi satu sama lain.

__ADS_1


TAMAT.


__ADS_2