
Kedua bola mata Kinan mengerjap pelan. rasanya ingin berdiri dari pangkuan Bagas dan pergi menjauh dari Bagas. Bisa di lihat sekarang, warna wajah Kinan seperti apa? Bisa jadi warna rona wajahnay seperti pelangi, mejikuhibiniu.
"Pak ... Minum kopi dan makan dulu sandwichnya," ucap Kinan berusaha mencari tema pembicaraan lain.
"Jawab dulu pertanyaan saya. Kamu mau aku lamar dalam waktu dekat?" tanya Bagas dengan suara lantang. Kepala Bagas kini bersandar di punggung Kinan.
"Pak ... Bapak lagi mabuk ya? Jangan begini Pak. Kinan kan cuma sekertaris Bapak. Lagi pula kalau ada orang yang masuk ruangan ini, bisa -bisa salah paham Pak. Apalagi, di kantor ini banyak kaum hawa yang mengidolakan Bapak," ucap Kinan ragu.
"Bodo amat. Saya gak peduli dengan orang lain. Saya hanya peduli dengan perasaan saya kepada kamu, Kinan. Mulai hari ini kita jadian. Kita punya hubungan sebagai sepasang kekasih," ucap Bagas tegas.
"Hah? Apa?" tanay Kinan emnoleh ke arah Bagas dengan wajah bingung dan bibir membentuk huruf 'O'.
"Bapak gak lagi sakit kan? Makanya sarapan dulu. Apa Bapak butuh Aqua? Biar bisa fokus sama kerjaan," tanya Kinan cepat. Kinan berusaha tidak terbawa suasana hatinya.
Kinan langsung berdiri dari pangkuan Bagas, namun Bagas berhasil menarik tubuh Kinan dan terduduk lagi di pangkuannya.
__ADS_1
"Pak, Kinan wanita baik -baik, bukan wanita macam -macam," ucap Kinan yang sudah bingung mau bicara bagaiamana pada Bagas, bosnya di kantor.
"Memang saya ada bilang kamu bukan wanita baik -baik? Kan tidak pernah. Karena kamu memang wanita baik -baik, makanya saya mau serius melamar dan emikahi kamu, Kinanti Rahajeng," ucap Bagas makin lantang menyebut nama panjang Kinanti.
"Pak ... Saya memang perempuan. Tapi saya tidak suka di permainkan. Kalau Bapak serius, ya, silahkan Bapak datang ke ruamh orang tua saya," ucap Kinan menantang Bagas.
"Baik. Kalau itu mau kamu. Saya akan datang, saya akan perbaiki kesalahan saya sebelum ini," ucap Bagas pada Kinanti. Secara tidak langsung Bagas meminta maaf pada Kinanti soal lamaran tempo hari di mana Bagas di sibukkan dengan kedatangan klien dari luar negeri yang datang secara mendadak.
Kinan hanya mengangguk kecil. Rasanya masih belum percaya kalau saat ini ia menjadi kekasih Bagas, bosnya sendiri. Ini serius atau hanya mimpi sih? Kalau memang nyata, boelh gak sih, Kinan berteriak dengan keras sekali.
"Kinan harus kembali, ada pekerjaan yang beum Kinan selesaikan. Berkasnya tolong tanda tangani ya, Pak," ucap Kinan mulai canggung.
"Kenapa ada syaratnya Pak? Menanda tanagni berkas itu kan memang tugas Bapak, itu kewajiban Bapak," ucap Kinan menjelaskan.
"Terus? Kalau saya sekarang gak mau karena gak mood gimana?" tanya Bagas mengancam.
__ADS_1
"Kalau gak mood, dari awal gak usah kerja Pak. Jadi gak berantakan begini," ucap Kinan mulai kesal.
"Oke. Hari ini, anggap sajasaya tidak masuk. Jadi ruangan akan saya kunci dan tidak ada yang bisa menemui saya," ucap Bagas pada Kinan.
"Mana bisa gitu. Jelas -jelas, Bapak ada di raungan jadi gak bisa mengelak kalau ada tamu atau klien," ucap Kinan pada Bagas.
"Ada sekertaris. Fungsi dan tupoksi sekertaris apa?" tanya Bagas pada Kinan.
"Kok Bapak malah jadi membalikkan omongan sih," ucap Kinan kesal.
Dengan cepat Kinan berdiri dan berusaha menghindar dari Bagas. Namun sayang, kekuatan Kinan tidak sekuat Bagas yang langsung sigap menarik tangannya dan tubuh Kinan berbalik dengan cepat mengikuti tarikan tangannya dalam genggaman Bagas. Tanpa sengaja tubuh Kinan memeluk Bagas dan wajah mereka saling berhadapan dan sangat dekat. Jaraknya hanya seperempat inchi.
Kinan menatap lekat kedua mata Bagas, dan begitu juga sebaliknya. Bagas langsung mengecup bibir Kinan dengan cepat.
"Argh ... Bapak ngapain," ucap Kinan terkejut dan langsung berdiri.
__ADS_1
"Kan kita sepasang kekasih. Apa ada aturannya seorang kekasih tidak boleh mencium kekasihnya?" tanya Bagas pada Kinan.
Kinan berpura -pura tak mendengarnay dan keluar dari ruangan Bagas. Degup jantungnya terus bedetak kencang.