Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.36


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Kinan sudah bersiap untuk pulang. Selama dua hari ini ia sibuk mempersiapkan rapat besar yang akan di adakan di Bandung. Dua perusahaan raksasa itu akan melebur menjadi satu dan bekerja sama untuk mendapatka profit yang besar.


"Kinan? Mama mau ketemu kamu?" ucap Bagas pelan. Setelah dua hari mereka saling diam tak mneyapa. Sikap dingin Bagas bermaksud untuk tidak mengganggu Kinan dalam berpikir, agar Kinan punya waktu untuk tenang berpikir menjawab pertanyaan Bagas yang berakhir kata YA.


Kedua mata Kinan membola. Tatapannya lekat tepat pada kedua mata Bagas yang sudah berdiri di depan meja kerja Kinan sambil membawa tas laptopnya untuk segera pulang.


"Bertemu Mamanya Pak Direktur? Gak salah? Dalam rangka apa?" tanya Kinan dengan jelas. Kinan pura - pura lupa dengan ucapan Bagas dua hari yang lalu. Jika hari ini, ia menunggu jawaban Kinan.


"Undangan makan malam. Yuk, keburu sore, jalanan makin macet," ucap Bagas pelan.


"Ekhemmm ... Kerjaan Kinan belum selesai Pak? Kayaknya Kinan gak bisa deh? Lain waktu aja ya?" ucap Kinan pelan sambil melanjutkan peerjaannya.


"Pilihanmu hanya ada dua? Menuruti saya? Atau kamu tida perlu kerja lagi di sini?" ucap Bagas tegas dan menatap Kinan dengan tajam. Bagas tidak mau Kinan beralasan apapun. Perjanjiannya kemarin dua hari untuk Kinan berpikir dan kini harus menjawab pertanyaan Bagas.


"Bapak mengancam Kinan?" tanya Kinan dengan ketus.


"Bukan mengancam. Ini perintah? Pilihan? Dari pada kamu tetap bekerja di sini dan membuat hati saya semakin sakit melihat kamu yang tak bisa menjadi kekasih saya? Untuk apa? lebih baik kamu pergi dan cari pekerjaan lain?" ucap Bagas semakin tegas.


Kilat dari kedua mata Kinan pun terlihat sangat bercahaya. Ia benar - benar kesal dengan Direkturnya ini yang semakin lama mulai banyak mengatur Kinan, bahkan kini mengancam Kinan di pecat bila tak menuruti keinginannya.


"Tapi perintah Bapak itu tidak sesuai dengan SOP pekerjaan Kinan?" jawab Kina tak mau kalah.


"Perintah saya masih saya lakukan di kantor. Untuk urusan apapun? Kemana pun? Kamu itu sekertaris saya? Dan kamu tidak boleh menolak perintah saya? Paham?" ucap Bagas dengan suara tegas.


Kinan membalas tatapan lekat Bagas itu. Ia tidak takut sama sekali.

__ADS_1


"Ayo cepat bereskan meja kerjamu!! saya tunggu!!" tegas Bagas yang berpura - pura kesal dengan Kinan.


Kinan tak punya pilihan lain. Ini masih jam kerja, jam pulang kerja pun masih seengah jam lagi. Dengan pelan, Kinan membereskan meja kerjanya dan segera memasukkan barang milik pribadinya ke dalam tasnya.


"Baiklah. Hari ini, Kinan menuruti kata - kata Bapak. Lain kali Kinan gak mau ada urusan pribadi di dalampekerjaan Kinan?" ucap Kinan ketus.


Bagas hanya menganggukkan kepalanya pelan. Kinan sudah bangkit berdiri dan bersiap untuk mengikuti Bagas.


"Sudah beres?" tanya Bagas dengan sikap dingin.


"Sudah," jawab Kinan singkat.


Bagas pun berjalan lebih dulu menuju lift di ikuti dengan Kinan yang berjalan di belakangnya. Kantor masih sepi karena memang belum jam pulang kerja. Kebanyakan karyawan masih berada di ruang kerjanya masing -masing. Bagas memang sengaja mengambil waktu sebelum waktu pulang kerja untuk menghindari pertanyaan - pertanyaan tidak penting yang malah mengganggu hubunganny adengan Kinan.


"Pak?" panggil Kinan pelan.


"Kinan kok kayak gak pantessih main ke rumah Bapak? Takut pacar Bapak marah?" ucap Kinan pelan. Kinan masih tidak percaya kalau Direkturnya itu lelaki jomblo yang tak punya wanita sebagai kekasih.


Tarikan napas dalam Bagas begitu terdengar kesal. Malas rasanya menjawab pertanyaan yang itu - itu saja dan selau di ulang. Lelaki dan perempuan itu kan berbeda. Lelaki paling tidak suka menjawab pertanyaan yang sellau di ulang, sedangkan wanita paling sennag mengulang pertanyaan, bahkan terkadang satu pertanyaan itu memiliki lima jawaban yang tk tentu. Jika si lelaki menjawab option A maka si wanita tidak akan percaya dan membenarkan option B, dan begitu sebaliknya yang membuat si Lelaki ini jengah dan malas menjawab.


Pintu lift sudah terbuka. Bagas sengaj atidak menjawab pertanyaan Kinan yang malah memnacing perdebatan tak berujung nantinya. Bisa - bisa acara makan malam ini bisa gagal total. Setidaknya, minggu depan mereka ke Bandung untuk urusan pekerjaan, status keduanya sudah berubah bukan lagi hanya antara Sekertaris dan Direktur tapi mereka juga memiliki chemistry lain sebagai seorang kekasih.


Bagas berjalan dengan langkah tegas dan tubuh tegap. Beberapa karyawan yang tidak sengaja berpapasan dnegan Direkturnya pun menunduk dengan sikap hormat dan menatap kagum sosok Bagas yang memang pantas menjadi seorang pemimpin. Kinan sekilas menatap punggung Bagas dari arah belakang. Tubuhnya terlihat kekar dan sangat tegap. Badanya begitu terawat dan rajin berolah raga. Kagum? Tentu iya. Wanita man yang tidak termehek - mehek melihat Bagas? Tampan? Kaya? Pintar? Seorang Direktur? Lengkap sudah semua kelebihan kaum adam ia borong semua hingg terlihat seperti lelaki sempurna tanpa cacat.


Bagas sudah berdiri di samping pintu mobil bagian kiri. Membukakan pintu tersebut untuk Kinan.


"Masuk," ucap Bagas lembut sekali. Suaranya sangat berbeda saat berada di kantor.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak," jawab Kinan dengan suara pelan.


Kinan pun masuk ke dalam mobil dan duduk di bagian kuris penumpang bagian depan tepat di sebelah Bagas sebagai penyetir.


Sedikit gugup dan agak salah tingkah duduk berdua dengan Bagas. Padahal ini bukan kali pertamanya Kinan berada dalam satu mobil dengan Bagas.


Bagas masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya dengan pelan. Suasana hening menyelimuti keduanya. Tidak ada satu pun yang bicara.


Kecanggungan Kinan mulai terasa. Bukan hanya itu saja, jantung Kinan muali terasa berdebar. Merasa akan ada sesuatu yang membuatnya terkejut, dan cemas.


"Pak?" panggil Kinan lagi dengan suara pelan.


"Hem ...." jawab Bagas santai.


"Bapak yakin? Mamanya Bapak mengundang Kinan untuk makan malam?" tanya Kinan yang merasa aneh dengan undangan ini.


Bagas hanya mengangguk pelan tanpa menjawab dengan suara.


"Memangnya, Mamanya Bapak kenal sama Kinan?" tanya Kinan lagi dengan penasaran.


Kinan merasa jawaban Bagas tidak meyakinkan dan undangan itu cukup membuat Kinan menjadi sesuatu yang misteri.


"Kenal," jawab Bagas singkat. Jawabannya itu malah membuat Kinan semakin penasaran dan bingung.


"Kenal? Kenal dimana?" tanya Kinan mulai tak enak hati.


"Ya ... Kurang tahu," jawab Bagas singkatt mmebuat Kinan semakin bertanya - tanya.

__ADS_1


Bagas menoleh sekilas ke arah Kinan dan tertawa dalam hatinya. Bagas senang membuat Kinan panik dan cemas.


__ADS_2