Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
8


__ADS_3

Bab 8


Wajah kemarahan Rehan menghampiri Dinda yang saat itu sedang minum di dapur, ia tidak terima ketika cintamu pergi begitu saja karena ulah istrinya. Kedatangan Rehan disadari oleh Dinda yang saat itu meletakkan gelas di meja. Tatapan itu membuat Dinda tahu bahwa saat ini suaminya benar-benar lebih memilih kekasihnya itu daripada dirinya sebagai seorang istri.


"Kau sudah kelewatan Dinda, kau sudah menyakiti Intan dan membuatnya pergi dariku!" marah Rehan yang tidak dapat ia tahan.


"Kenapa Mas, kenapa aku yang kamu sebut kelewatan, apa menurut mu dengan membawa wanita lain ke rumah pribadi kita itu tidak jauh lebih kelewatan dari perbuatan ku yang mengusir wanita itu dengan kekerasan?" Dinda mencoba untuk membela diri kala itu, ia tidak terima ketika suaminya menyalahkan dirinya.


"Ini adalah rumahku Dinda, siapapun bisa saja ku undang untuk masuk ke dalam rumahku, kau hanya tinggal di sini atas izin ku, kalau kau tidak suka dengan sikap ku, kau boleh pergi dari rumah ini dan cari tempat tinggal yang lain," ucap Rehan dengan lantang.


"Kau mengusir ku?" tegas Dinda bertanya.


"Kalau itu memang perlu, maka aku akan melakukannya! Ingat Dinda, di dalam pernikahan kita tidak ada lagi yang bisa dipertahankan, aku sama sekali tidak tertarik padamu. Apa kau tidak pernah bercermin selama ini? Lihat lah bentuk tubuh mu Dinda, kau semakin hari semakin gemuk karena kau selalu menghabiskan waktu untuk makan dan mengurus Arka, aku sama sekali tidak tertarik melihat semua yang ada pada dirimu," serah Rehan terus menghina Dinda.


"Sebelum aku melahirkan putra mu, tubuhku juga sama seperti Intan Mas, kecantikan ku juga tidak kalah dengan dia, aku melahirkan Arka dengan penuh perjuangan, setelah melahirkan perjuanganku tidak berhenti di situ, aku harus menyusui putra mu dan aku mengabaikan semua perawatan ku, apa perjuangan ku ini pantas di balas dengan perselingkuhan mu?!"


Dengan kedua mata berbinar Dinda memberikan sebuah pertanyaan kecil pada Rehan, namun karena hatinya sudah tertutupi dengan cinta terlarang membuat Rehan sama sekali tidak mau menilai betapa besar perjuangan Dinda kala itu, Rehan justru terus mengumpat dan menyalahkan Dinda.


Pertengkaran mereka disaksikan oleh bi Iyas yang merasa sangat kasihan pada Dinda, nasibnya harus menjadi orang tersisih padahal ia adalah istri sah dari seorang pria sukses dalam karirnya.


Tangisan Arka dari dalam kamar yang pintu terbuka lah yang memisahkan pertengkaran itu, Rehan berhenti menyalahkan Dinda ketika ia mendengar suara tangisan putranya.

__ADS_1


"Kau menjadikan Arka sebagai alasan mu seperti ini kan? Sekarang urus dia dan berikan asi terbaik mu itu untuk nya, takdir mu saat ini memang ada di sana Dinda, jadi jangan ikut campur lagi dengan urusan ku bersama Intan," ucap Rehan yang kala itu sama sekali tidak memikirkan perasaan Dinda.


Dinda tidak mengindahkan ucapan itu, ia pergi menemui Arka dan mengakhiri pertengkaran dengan suaminya, dengan hati dan perasaan yang begitu hancur Dinda meraih tubuh mungil Arka dari ranjang tidurnya, lalu ia membawanya duduk untuk memberikan asi terbaik nya. Dengan linangan air mata Dinda memeluk Arka erat dalam pangkuannya.


Tok! Tok! Tok! Suara ketikan pintu disadari oleh Dinda, dengan cepat ia menyeka air matanya ketika bi Iyas datang menemuinya.


"Boleh aku masuk, Non?" tanya bi Iyas terlebih dahulu.


"Boleh Bi, silahkan." lirih Dinda menjawab pertanyaan bi Iyas.


Bi Iyas, gadis yang masih berusia 20 tahun itu akhirnya masuk menemui Dinda, sebelum itu ia menutup pintu terlebih dahulu lalu ia mendekati Dinda.


"Non, tuan Rehan pergi," ucap bi Iyas pada Dinda.


"Non, jangan mau mengalah pada pelakor, kalau aku menjadi Non Dinda, akan ku perjuangkan hak Non sebagai seorang istri," seru bi Iyas yang kala itu memberikan solusi.


"Bagaimana caraku memperjuangkan mas Rehan Bi, dia sudah terlalu sering menghinaku, bahkan sejak Arka lahir ke dunia ini, dia sudah tidak pernah lagi mau menatap ku." jawab Dinda yang kala itu mengingat kapan terakhir dia berbicara pada suaminya dengan lemah lembut.


Bi Iyas ikut berpikir kala itu, ia tidak ingin jika majikannya itu kalah karena ulah pelakor itu, hingga ia memiliki ide yang akan ia beritahukan pada Dinda.


Dinda mendengarkan ide tersebut, entah akan ia akan pakai atau tidak, setidaknya ia tetap menghargai dan mendengarkan solusi yang diberikan oleh bi Iyas yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu.

__ADS_1


Setelah beberapa saat kemudian bi Iyas memutuskan untuk pamit keluar, ia harus membersihkan rumah karena keadaan rumah tidak baik-baik saja, Dinda pun tidak melarang kepergian bi Iyas, ia justru berterima kasih lantaran bi Iyas sudah bersedia menemani kala itu merasa sedih.


Setelah berhasil membuat Arka kembali tertidur, Dinda memutuskan untuk segera mandi, dan setelah itu ia duduk di meja rias dengan terus menatap wajahnya di depan cermin. Kegelapan yang dirasakan oleh Dinda karena dunia nya bersama sang suami dimasuki oleh orang ketiga membuat Dinda lupa, kapan terakhir ia tersenyum. Dan kapan terakhir ia memuji dirinya sendiri bahwa ia adalah wanita yang cantik. Dinda selama ini lupa bahwa ia telah melupakan seluruh perawatan dan kecantikannya, karena berpikir bahwa setelah menikah maka ia harus fokus pada pelayanan suami dan anak yang baru saja ia lahir kan.


Namun ternyata itu salah besar, ketika ia menyadari bahwa suaminya justru mencari pandangan wanita lain ketika ia sudah berjuang mati-matian untuk sebuah pernikahan.


"Aku sangat bodoh sekali, kenapa aku bisa terlena dengan kesibukan di dalam rumah tangga, kenapa aku begitu percaya bahwa suami ku hanya mencintai aku, dan ternyata pada akhirnya aku mendapatkan kejutan yang sangat berat untuk aku lihat dengan kedua mataku." ungkap Dinda berbicara pada dirinya sendiri kala itu.


Dinda menyeka air mata yang tidak sengaja tumpah, ia tiba-tiba memikirkan ide yang diberikan oleh bi Iyas beberapa waktu yang lalu, apakah ia akan setuju dengan ide tersebut? Atau ia justru memiliki cara yang lain untuk mempertahankan rumah tangga nya.


***


Rehan datang sebagai seorang pria yang begitu jantan ke apartemen Intan, dengan membawa sebuah buket bunga sebagai permintaan maaf pada Intan yang telah tersakiti hatinya karena Dinda.


Ketukan pintu beberapa kali dilakukan oleh Rehan, namun tak kunjung mendapatkan jawaban. Lalu Rehan memutuskan untuk menghubungi Intan melalui telpon, Intan sadar bahwa ponselnya berdering.


"Ada apa Mas?" tanya Intan setelah mengangkat telpon dari Rehan.


"Tolong buka pintunya sayang, aku sudah ada di depan pintu apartemen mu," pinta Rehan yang sudah tidak sabar.


"Mas, aku lagi nggak pengen ketemu sama kamu, aku masih terluka, sekarang lebih baik kamu pulang saja," usir Intan yang tidak mau bertemu dengan Rehan.

__ADS_1


"Intan, tolong jangan begini, aku mohon buka pintunya." paksa Rehan pada Intan.


Intan terdiam sejenak, lalu setelah itu ia memutuskan untuk memastikan ponsel, dan membuka pintu untuk Rehan. Ketika pintu itu terbuka, Rehan melemparkan senyum dan langsung memeluk tubuh seksi dan ramping Intan, Intan tidak bisa mengelak pelukan itu, ia menutup pintu agar tidak ada satu orang pun yang tahu, lalu membalas pelukan kekasihnya itu.


__ADS_2