
Kinan dan Bagas sepakat untuk menjalani hubungan mereka dengan baik. Bagas yang begitu senang sudah mengungkap semuanya, dan Kinan yang mulai menjalani hubungan ini juga senang. Setidaknya Bags itu orang baik. Keluarganya juga sudah saling mengenal karena kedua ayah mereka bersahabat sejak kecil.
Malam ini, Bagas dan Kinan akan datang ke rumah Kinan. Kinan yang ridnu pada kedua orang tuanya sekaligus ingin meminta maaf karena sudah melarikan diri.
"Kamu yakin kan?" tanya Bagas pada Kinan yang sedang memoleh wajahnya dengan bedak padat berwarna natural.
"Yakin soal apa?" tanya Kinan menatap Bags yang terlihat sangat tampan dan berwibawa sekali.
Seharian ini mereka hanay berjalan -jalan mengitari kota Yogyakarta dengan mobil sewaan dari hotel Ambarukmo. Bagas mengajak Kinan mencari kulineran dengan view yang indah. Seperti ke daerah kaliurang atau di daerah bantul.
"Soal kita? Memangnya kamu tidak mau mengenalkan saya pada kedua orang tua kamu sebagai calon suami kamu?" tanya Bagas yang berjalan mendekati KInan dan memegang pundak Kinan sambil memainkan rambut panjang Kinan yang lurusa dan lembut tergerai di punggung Kinan.
"Apakah ini akan akan berhasil, Pak?" tanya Kinan lirih.
"Saya bukan penipu kan? Ini hanya sebuah eksalah pahaman. Maunya sih, kepulangan kita malam ini tidak sia -sia. Saya akan tetap melamar kamu pada orang tua kamu, biar hubungan kita aman terkendali. Saya gak mau ada ellaki lain yang berusaha mendekati kamu, Kinan. Apalagi berniat merebut kamu dari sisi saya," tegas Bagas yang menunduk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Kinna lalu mengambil kesempatan untuk mencium pipi kanan Kinan secara spontan.
"Arghhh ... Bapak, kok cium -cium sih?" teriak Kinan kaget.
"Kenapa teriak? Kayak lagi di apain aja," ucap Bagas tertawa.
"Bapak juga main cium -cium aja. Belum halal tahu. Ya terserah Bapak aja, mau melamar atau gimana? Kalau orang tua Kinan merestui ya kita berlanjut. Kalau tidak?" ucapan Kinan terhenti sejenak dan menatap Bagas yang berdiri di depannya saat ini.
__ADS_1
"Kalau tidak? Kita tetap berusaha sekuat tenaga. Kamu mau kan berjuan bersama untuk hubungan kita?" tanya Bagas pada Kinan.
"Jujur, Kinan masih belum yakin sama perasaan Kinan Pak. Kinan itu memnag kagum sama Bapak. Tapi ... Tahu sendiri kan? Di kantor itu banyak lho yang suka Bapak? Mana senior semua, cantik semua," ucap Kinan mearas dirinya mulai insecure.
"Terus? KAlau banyak yang suak sama saya, kenapa? Saya kan sukanya sama kamu, Kinan. SAya memilih kamu, dan tidak pernah peduli dengan yang lainnya," ucap Bagas menegaskan hubungannya dengan wanita -wanita cantik yang selama ini mendekati Bagas.
"Ya, apa jadinya kalau mereka tahu hubungan kita Pak? Kalau bisa hubungan kita di sembunyikan sampai benar -benar ada tanggal yang menentukan untuk pernikahan kita," ucap Kinan meminta Bagas untuk menanggapi sarannya.
"Gak bisa. Resikonya besar Kinan. Klaau mereka tidak tahu hubungan kita. Mereka akan etrus mendekati saya, dan tida ada batasan," ucap Bagas pada Kinan.
"Ya ... Kalau Bapak keberatan mending gak usah Pak," ucap Kinan tegas.
bagas menarik napas dalam dan menghembuskan den\gan kasar napas itu melalui hidungnya.
"Ya, Bapak mesti tunjukkan dengan bukti dong. Kalau Bapak memang tidak mau sama mereka buakn malah senang did ekati mereka. Di sini bukan masalah cemburu atau appaun," ucap Kinan lantang.
"Ohhh ... Oke. Ingat ya, saya akan membatasi diri. Begitu juga dengan kamu. Tidak ada pergi denagn ellaki lain terutama Dika!!" ancam Bagas pada Kinan.
Kinan mengangguk setuju. Pilihan Kinan kini sudah bulat untuk menerima cinta Bagas. Walaupun Kinan belum mencintai, tapi Kinan akan mencoba.
***
__ADS_1
Mobil sewaan mereka sudah berhenti tepat di depan rumah Kinan. Jantung Kinan mulai berdegup dengan keras. Kinan takut, Sang Ayah masih belum bisa memaafkan kepergiannya saat itu secara tiba -tiba.
"Kok bengong? Ayok turun?" pinta Bagas yang melihat Kinan seperti sdeang melamun. Pandangannya lurus ke depan dengan tatapan tanpa berkedip dan kosong.
"Ahh iya. Ayok masuk Pak," tawar Kinan pada Bagas.
Kinan sudah masuk ke dalam teras ruamhnya dan membunyikan bel masuk. Sedangkan bagas berdiri di belakang Kinan dengan wajah berseri karena bahagia. Keinginannya tinggal selangkah lagi terwujud.
ceklek ...
"Kinan?" teriak Ibu sumringah dan kaget bercampuur menajdi satu lalu memeluk Kinan dengan erat.
"Ibu?" jawab Kinan langsung membalas pelukan Ibu Ayu.
"Siapa Bu?" tanya Bapak dari arah belakang yang kemudian menghampiri ke depan karena mendengar suara raiami dari arah raung tamu.
Bapak menatap Kinan yang kini sedang berada di pelukan Ibunya dan tatapannya beralih ke arah belakang Kinan. Ya, Laki -laki yang beridri di belakang Kinnan. Sosok lelaki itu sepertinya tidak asing tapi Bapak Kinan juga lupa, siapa dia sebenarnya?
Kinan mengendurkan peluaknnya pada tubuh Ibu dan kini pandangannya menatap Bapak dan Kinan berlari memeluk Bapak dan mencium punggung tangan Bapaknya.
"Maafin Kinan ya, Pak?" ucap Kinan penuh penyesalan.
__ADS_1
Ada perasaan marah di daalm hati Bapak bercampur rasa kecewa. Tapi rasa sayang dan rasa rindunya lebih besar pada Kinan dan Bapak memeluk putri bungsu semata wayangnya itu. Bapak Kinan pun merentangkan kedua tangannya dan emmeluk Kinan dengan erat. Seperti Ayah yang baru menemukan anaknya hingga Bapak menitikkan air matanya.
"Kamu gak salah Ndok. Kamu gak salah," ucap Bapak pada Kinan pnuh haru.