Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
32


__ADS_3

"Ya, tentu saja aku mengenalnya, aku mengenalnya sangat dekat," ucap Dinda.


"Oh ya, memangnya siapa Intan Dinda, dan apa hubungan mu dengannya?" tanya Pandu melempar senyum, ia penasaran saat itu.


"Dia adalah wanita yang telah menghancurkan rumah tangga ku dengan mas Rehan, dia hadir sebagai orang ketiga dalam rumah tanggaku Pandu, dan aku memutuskan untuk berpisah dari mas Rehan karena dia yang telah melakukan pernikahan pada mas Rehan di belakang ku." jelas Dinda, kedua matanya berbinar ketika menjelaskan semuanya pada Pandu.


Saat itu Pandu terkejut, ia tidak menyangka jika wanita yang telah merusak rumah tangga sahabat nya itu adalah wanita yang kini menjadi temannya. Pandu merasa sangat bersalah, karana telah menerima pertemanan Intan selama ini, dan reflek Pandu pun menghapus air mata Dinda kala itu.


"Dinda, maafkan aku, aku mohon tolong maafkan aku," ucap Pandu yang begitu merasa bersalah saat itu.


"Tidak, tidak tidak tidak, kamu tidak bersalah kamu tidak tahu semua kebenaran ini, jadi kami tidak perlu meminta maaf Pandu," seru Dinda menyeka air matanya.


"Aku benar-benar tidak tahu kalau ternyata itu adalah wanita perusak rumah tanggamu, sejauh aku berteman aku memang tidak mengenal dia lebih dalam, bahkan dia tidak terbuka dengan ku," sambung Pandu masih merasa bersalah pada Dinda.


"Sudah Pandu, kau tidak perlu merasa bersalah, karena ini memang bukan salahmu, aku harus ke belakang dulu, mengurus pemekingan barang, kamu temui saja dulu Intan, good luck ya." jawab Dinda melempar senyum lalu pergi.


Kepergian Dinda membuat hati Pandu merasa tidak tenang, ia merasa bahwa dia sendiri lah yang telah menyakiti hati Dinda dengan mendatangkan Intan dalam hidupnya, saat itu Pandu merasa bersalah karena telah menerima pertemanan dari Intan, meski pun sejauh ini ia tidak memiliki perasaan apapun pada Intan.


Pandu kembali dengan berpura-pura tersenyum pada Intan, sementara Intan sendiri yang masih dalam keadaan penasaran dengan kebenaran tentang Dinda memutuskan untuk bertanya langsung pada Pandu.


"Pandu, wanita yang memberikan voucher gratis untukku tadi, itu siapa ya?" tanya Intan yang tidak menyebut nama Dinda secara langsung.


"Itu adalah Dinda, pemilik dari salon ini, sesuai dengan nama salon ini DINDA SALON, dan dia lah pemilik nya," ucap Pandu dengan bangga memperkenalkan Dinda pada Intan.


"Oh, jadi dia adalah pemilik dari salon ini." lirih Intan memperhatikan seluruh ruangan yang ia duduki saat ini.

__ADS_1


Entah apa yang ada dalam pikiran Intan saat itu, tapi mendengar bahwa pemilik salon terkenal tersebut adalah Dinda spontan saja ia merasa sangat cemburu. Kehidupan Dinda saat ini jauh lebih mapan, sementara dirinya? Kelak saat ia terus berusaha untuk mempertahankan pernikahannya dengan Rehan, tentu saja nasibnya akan sangat malang, ia pastinya akan hidup bersama dengan pria yang jatuh miskin.


Ya ampun, Intan sama sekali tidak bisa fokus saat itu, ia tidak bisa berpikir jernih hingga membuat dirinya tidak menikmati kebersamaan dengan Pandu, sementara Pandu sendiri saat itu juga sedang sibuk memikirkan perasaan Dinda, ia tidak bisa diam saja dan raganya tetap duduk bersama Intan sementara hati dan pikirannya tertuju pada Dinda.


"Emmm, Mas Pandu, sebaiknya aku pulang dulu deh, lain kali aja aku melakukan perawatan di sini," pamit Intan pada Pandu.


"Oh, baik lah Intan, sampai ketemu lagi, aku juga sebenarnya ada meeting lagi sebentar lagi," ucap Pandu beralasan.


"Ya sudah kalau begitu, daaa..." Intan melambaikan tangan melempar senyum pada Pandu.


Setelah Intan keluar dari salon tersebut, Pandu pun hendak mendatangi Dinda kembali. Namun belum sempat melangkahkan kaki Wulan datang menghampiri Pandu dan menyadari ada sesuatu yang telah terjadi.


Karena tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Wulan, akhirnya Pandu pun bercerita tentang hal yang baru saja terjadi ini, Wulan melotot tajam berusaha untuk mencari kebenaran dari cerita yang dibawa oleh Pandu.


"Untuk apa aku bercanda Wulan, ini sungguhan," ucap Pandu dengan yakin, "Dinda sendiri yang bilang tadi." sambung Pandu meyakinkan.


Wulan benar-benar tidak habis pikir, mengapa semua ini bisa terjadi, sahabatnya itu telah melukai hati Dinda dengan menerima pertemanan dari Intan.


"Pandu, sebaik nya sekarang lah kamu bicara dengan jujur tentang perasaan mu itu pada Dinda, Dinda berhak tahu kalau sebenarnya selama ini kamu mencintai dia," ucap Wulan memberikan saran.


"Tapi apa mungkin Dinda akan menerima perasaan ku Wulan, aku takut jika nanti perasaan ku hanya akan membatasi jarak antara aku dengan Dinda," seru Pandu dengan ragu.


"Tidak Pandu, kau jangan khawatir, aku yakin kalau perasaan mu itu tidak akan bertepuk sebelah tangan." jawab Wulan dengan yakin.


Pandu pun akhirnya setuju, ia akan mencari momen yang tepat untuk mengutarakan perasaannya pada Dinda, daripada ia harus berteman baik dengan wanita yang sudah memiliki suami, lebih baik Pandu memutuskan untuk mengutarakan perasaannya pada Dinda.

__ADS_1


Suatu hari Pandu mengajak Dinda makan malam di luar, meskipun sebenarnya ia malas karena harus keluar rumah, namun karena bi Iyas nampak setuju dan Arka pun tenang bersamanya, membuat Dinda akhirnya menerima tawaran dari Pandu.


"Bi, aku pergi dulu ya," pamit Dinda pada bi Iyas, setelah ia bersiap-siap beberapa menit yang lalu.


"Iya Non, selamat menikmati makan malam bersama pemuda tampan," ledek bi Iyas melempar senyum.


"Bi Iyas... Jangan menggodaku ya!" omel Dinda marah.


"Hehehe, baik lah, maafkan aku." jawab bi Iyas melempar senyum dan mempersilahkan Dinda pergi.


Dinda pun tersenyum kala itu, di sepanjang perjalanan Dinda teringat ucapan Wulan beberapa hari yang lalu, yang mengatakan bahwa selama ini Pandu menyimpan perasaan padanya, saat itu Dinda terlihat salah tingkah, apakah undangan Pandu mengajak makan malam bersama adalah untuk mengutarakan perasaannya itu?


Namun dengan cepat Dinda mengalihkan pikirannya saat ia tahu bahwa sebenarnya dirinya tidak pantas bersanding dengan Pandu, pria tampan yang masih berstatus sendiri.


Tibanya di tempat yang sudah dijanjikan, Pandu sudah lebih dulu tiba di sana, dengan melempar senyum semanis mungkin Pandu menyapa Dinda.


"Maaf ya, aku agak telat Pandu," ucap Dinda yang merasa tidak enak hati.


"Tidak masalah Dinda, silahkan duduk." jawab Pandu melempar senyum. Kedatangan Dinda begitu sangat di harapkan oleh Pandu sejak tadi, jadi tidak mungkin ia berkomentar tidak enak tentang keterlambatannya datang.


Dinda pun duduk di hadapan Pandu, Pandu terlihat senang ketika Dinda datang memenuhi undangan nya, ia sudah memesan makanan untuk dirinya dan juga Dinda, setelah makan malam itu selesai Pandu mengajak Dinda berbincang ringan, sampai akhirnya Pandu pun tiba di titik di mana ia akan berbicara serius pada wanita yang saat ini ada di hadapannya.


"Dinda, sebenarnya aku mengundang mu datang ke sini karena ada yang ingin aku bicarakan, penting," ucap Pandu yang saat itu mencoba untuk memberanikan diri.


"Apa itu? Bicarakan saja Pandu, aku siap mendengarnya," seru Dinda melempar senyum, ia tidak ingin ketegangan nya itu disadari oleh Pandu.

__ADS_1


__ADS_2