Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.18


__ADS_3

Suasana kantor mulai sepi karena waktu istirahat makan siang. Hampir seluruh karyawan sudah keluar dari kantor untuk mencari makan siang. Kinan masih berada di balik meja kerjanya setelah melakukan presentasi tadi. Tubuhnya masih terasa kaku dan lemas. Tapi, Kinan puas, semua orang mengagumi kemampuannya.


"Kinan?" panggil Bagas dengan suara tegas.


"Iya pak?' jawab Kinan pelan. Kinan sedikit terkejut. Tubuhnya baru saja di sandarkan pada sandaran kursi kerjanya. Matanya sedikit membola menatap Bagas yang sudah berada tepat di depan meja kerjanya.


"Kok malah santai?" ucap Bagas pelan sambil berkacak pinggang.


"Ekhemm ... Bukankah sekarang waktunya istirahat, Pak? Kinan lelah Pak. Tadi gugup sekali sejak pagi," ucap Kinan polos. Sampai sekarang jantungnya masih saja berdegup keras.


"Presentasimu tadi bagus. Kamu cocok memimpin rapat. Kamu bisa saya andalkan setelah ini. Tapi saya bingung," ucap Bagas pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bingung kenapa, Pak?" tanya Kinan pelan sambil menegakkan duduknya menatap lekat kepada Bagas.


"Jadi gini. Tadi tuh, saya suruh Festi untuk menggantikan saya. Tapi, kenapa malah kamu yang presentasi. Dan satu hal lagi? Kamu dapat dari mana bahan presentasi hari ini?" tanya Bagas pelan dengan wajah yang masih bingung.


"Mbak Festi? Tadi pagi pas Kinan datang. Mbak Festi langsung bilang kalau Pak bagas sedang tidak enak badan dan Kinan harus menggantikan. Untung saja, kemarin Pak Bagas kasih modul buat Kinan kan? Kinan gak sengaja buat power pointnya. Jadi terlihat lebih siap. Kinan hanya belajar setengah jam dari berkas yang ada di meja Bapak. Kinan merasa belum sempurna, tapi kalau memang tadi terhitung berhasil. Kinan bahagia untuk ini," ucap Kinan pelan menjelaskan.


"Kamu di suruh oleh Festi? Coba minta nomor ponsel kamu, Kinan? Aku sepertinya belum punya?" tanya Bagas pelan sambil menscroll semua kontak di ponselnya.


"Kan di CV Kinan ada Pak?" ucap Kinan dengan polosnya.


Bagas menghentikan aktivitasnya dan mematikan ponselnya, lalu menatap Kinan dengan lekat.


"Sekarang saya tanya kamu, Kinan. Kenapa saya harus repot mencari CV kamu. Lagi pula itu kan urusan bagian HRD, bukan saya. Sekarang kamu itu sekertaris saya. Saya berhak tahu aapun tentang kamu, begitu juga sebaliknya," ucap Bagas menegaskan. Kedua mata Bgas melotot dan sepertinya sedang kesal dengan jawaban Kinan yang tidak sesuai dengan hatinya.


"Iya Pak. Kinan sebutkan," ucap Kinan dengan cepat sebelum Bosnya marah tidak jelas.

__ADS_1


"Sudah tidak perlu. Ayo kita makan siang. Kebetulan jam dua ada pertemuan di restauran untuk bicarakan tentang produk baru yang akan di luncurkan," ucap Bagas dengan suara tegas.


"Iya Pak. Sama Kinan, Pak?" tanya Kinan pelan. Jujur siang ini Kinan tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Dirinya benar - benar lelah karena gugup sejak pagi. energinya benar - benar terkuras sejak pagi.


"Iya dong. Kamu harus ikut! Kamu kan sekertaris saya! Nanti yang mengurusi saya, siapa?" tegas Bagas mulai kesal. Sekertarisnya ini terkadang membuatnya kesal dan emosi.


Kinan hanya menunduk.


KLURUK KLURUK


Bagas menatap Kinan, suara perut itu begitu terdengar di situasi yang hening seperti saat ini.


"Itu suara perut kamu, Kinan? Memalukan," ucap Bagas dengan suara dingin.


Kinan tak bersuara dan tetap menundukkan kepalanya. Malu sekali, rasanya aib buruknya terbuka lebar.


"Maaf Pak. Itu memang suara perut Knan. Kinan lapar, sejak pagi belum makan, karena harus mempersiapkan presentasi mendadak tadi," ucap Kinan pelan dan sedikit tergagap.


Air mata Kinan sudah mengumpul di pelupuk matanya. Ia paling tidak bisa di bentak. Ada perasaan sakit dan sesak di dadanya.


"Ya sudah. Kita pergi sekarang, biar kamu bisa makan sang di sana," ucap Bagas tegas.


Kinan menggelengkan kepalanya pelan dan masih dengan posisi tertunduk.


"Kinan mau makan di pantry aja Pak. Kinan bawa bekal tadi. Kinan ijin makan sebentar," ucap Kinan pelan. Lalu bangkit berdiri dan membawa tas bekalnya ke arah pantry tanpa melihat Bos besarnya itu yang sejak tadi melihat Kinan dengan tatapn aneh. Kinan sama sekali tak menatap atau pun melirik Bagas. Kepalanya masih saja tertunduk dalam dan menahan air matanya yang akan keluar begitu saja dari pelupuk matanya jika ia berkedip sekejap saja.


Kinan pergi begitu saja tanpa memperdulikan Bagas.

__ADS_1


Ceklek ...


Kinan langsung duduk di salah satu meja dan meletakkan tas bekalnya di atas meja. Tangannya langsung melipat di atas meja dan menidurkan kepalanya di atas kedua tangannya yang terlipat.


Air matanya sudahh tumpah. Kinan merasa sesak. Ia benar - benar lelah seklai. Baru dua hari bekerja saja sudah tidak betah berada di perusahaan ini.


"Mbak? Mbak?" panggil seorang OB yang sejak tadi berada dalam satu pantry bersama Kinan. Sudah sepuluh menit dari awal masuk ke pantry, Kinan tidak mengangkat wajahnya. OB itu panik, jika sesuatu terjadi dengan salah satu karyawan. OB itu tidak berani menyentuh Kinan, hanya memanggil beberapa kali saja.


"Kenapa?" tanya Kinan dengan wajah ynag masih menempel pada kedua tangannya. Kinan berusaha menahan isak tangisnya dan menutupi tubuhnya yang bergetar agar tidak terlihat sedang menangis. Tapi, suara tarikan ingus yang akan meleleh turun dari indera penciumannya tidak bisa di bohongi bahwa Kinan sedang menangis.


"Mbak? Mbak sedang nangis, ya?" tanya OB itu dengan bingung. OB itu sedikit penasaran dengan Kinan, pasalnya ia belum pernah melihat perempuan yang telah menjadi karyawan ini.


"Sudah pergi jangan ganggu saya,' ucap Kinan tegas dan lantang.


Mendengar jawaban Kinan, OB itu segera menyingkir dari pantry. Ia mlanjutkan membersihkan kamar mandi yang terletak di ujung pantry.


Tidak lama Kinan mengangkat wajahnya dan menghapus sisa air mata di wajahnya dan membuang leleran cairan bening yang mendesak ingin segera keluar dari indera penciumannya itu dengan tisuue kering yang ada di meja pantry.


Menangi adalah cara ampuh yang membuat Kinan sedikit lega dengan perasaannya. Kinan mencoba menarik napas dalam dan menghembuskan pelan napas itu agar hidungnya pun tak lagi tersumbat oleh cairan yang membuatnya sedikit kesulitan untuk bernapas.


Perutnya mulai perih sekali, rasanya begitu lapar. Kinan berdiri ke arah rak piring untuk mengambil piring, dan sendok serta gelas untuk makan dan minum.


Tas bekalnya di buka. Ada satu bungkus lontong sayur dan ada satu bungkus nasi uduk.


"Banyak banget," ucap Kinan lirih. Makanan itu nampak enak jika sejak pagi ia makan. Namun, karena sibuk dan tak ada waktu, makanan itu sudah dingin dan terlihat tak berselera lagi.


OB yang tadi mencoba mengajak bicara Kinan pun melewati ke arah Kinan dan menatap Kinan dengan kagum. Namun, Kinan tak peduli. Ia hanya peduli pada perutnya yang sudah terasa lapar.

__ADS_1


__ADS_2