Talak Aku, Mas

Talak Aku, Mas
SS 2.47


__ADS_3

Dika hanya menatap Kinan, menyimak gadis cantik itu berbicara dengan bibir mungilnya yang berkomat - kamit. Gemas? Tentu iya. Dika begitu gemas melihat Kinan.


"Dika? Dika?" panggil Kinan sambil kepada Dika sambil mengibaskan tagan kanannya di depan wajah Dika.


"Ekhemm ya ... Maaf Kinan," ucap Dika yang melamun begitu saja.


"Kamu melamun ya? Kenapa?" tanya Kinan lembut.


Kinan bisa merasakan kegalauan Dika. Setiap orang tentu memiliki masalahnya sendiri. Tidak ada yang bisa membantu menyelesaikan kecuali orang itu sendiri.


"Tidak apa - apa, Kinan. Aku akan coba saran kamu," ucap Dika pelan. Dika menarik napas dalam lalu berjalan di antara pepohonan strawberry. Mencoba menikmati keindahan alam yang menyatu dalam tubuhnya.


Dika mulai meresapi hawa sejuk yang menusuk kulitnya. Lalu, mulai tertarik dengan satu buah strawberry yang menggantung indah pada pohon strawberry. Warnanya sangat merah pekat, dan daging buahnya nampak gemuk.


Kinan hanya melihat Dika yang mulai menyentuh buah strawberry itu. Hanya memegang namun tak berani memutuskan tangkainya.


"Coba ambil, dan buang satu kesalahan seseorang yang membuatmu kecewa," titah Kinan menasehati.


Dika mengambil buah strawberry dan memetik buah itu. Sesuai saran Kinan, ia harus melepaskan bebannya dengan memaafkan satu kesalahan Papahnya yang paling fatal.


Dalam hatinya berucap, 'Aku benci Papah karena baru sekarang hadir.' Sontak amarah itu langsung teredam dengan bunyu petikan buah strawberry dari pohonnya. Buah yang di genggam terasa sempurna besarnya hingga Dika bisa meremas buah itu untuk mengeluarkan kekesalannya pada Sang Papah.


Kinan menatap Dika dari arah samping. Terlihat raut wajahnya yang meringis karena kesal itu di luapkan begitu saja tanpa rasa malu.


"Lebih enakan? Kayak sedikit lega? Gitu maksud Kinan," tanya Kinan pelan.


Dika mengangguk kecil. Perasaannya lebih tenang sekarang. Sedikit lebih lega.


"Makasih ya, Kinan. Kamu mau coba?" tanya Dika kemudian. Dika tahu, sejak tadi Kinan sangat bersemangat sekali ingin emmetik buah strawberry.

__ADS_1


"Kinan menemani kamu saja, Dika. Kalu kamu bahagia, Kinan juga ikut bahagia," ucap Kinan lirih.


Tubuh Kinan sudah lemas rasanya. LApar sekali perutnya karena sejak pagi belum juga terisi makanan. Apalagi harus berjalan mengelilingi kebun strawberry yang begitu luas ini dengan terik amtahari tepat di atas kepala mereka. Walaupun hawa sejuk itu terus membuat tubuh Kinan menggigil tapi terik matahari siang tetap saja membuat kepalanya terasa panas dan mulai terasa berkunang pening.


Beberapa menit kemudian setelah berkeliling kebun strawberry. Langkah Kinan mulai melemah. Wajahnya terlihat pucat dan tangannya begitu dingin. Dika tak mengetahui hal itu, karena ia fokus untuk melupakan perbuatan sang Ayah dan ingin memaafkan sang Ayah dalam waktu cepat. Dika benar - benar ingin bisa menerima Sang Ayah.


Bruk ...


Dika sadar ada bunyi keras yang jatuh ke lantai. Namun ia tidak sadar jika Kinan telah jatuh di tanah. Langkah kakinya pun masih pelan berjalan sambil memetik buah strawberry hingga Dika sadar, bahwa Kinan sudah tidak ada di belakangnya. Tubuhnya berbalik untuk mencari keberadaan Kinan. Betapa terkejutnya Dika, melihat Kinan sudah tersungkur lemas tak berdaya di atas tanah.


"Kinan ...." teriak Dika dengan suara yang amat keras. Dika benar - benar syok melihat Kinan yang sudah tergeletak.


Dika berlari menghampiri tubuh Kinan yang terkulai lemas. Dengan gerak cepat Dika pun menggendong tubuh Kinan dan membawa ke adalam restarant untuk memberitahukan Sang Maa.


"Mama ...." teriak Dika dengan suara lantang membuat semua pengunjung menatap ke arahnya.


Dika begitu tergopoh gopoh terlihat cemas sambil membopong tubuh Kinan. Atika langsung bangkit berdiri saat melihat Dika yang terburu buru setengah berlari ke arahnya.


Kinan langsung di bawa ke villa yang sudah di pesanoleh Kleuaraga Dika. Dika pun memanggil dokter keluarga untuk memeriksa Kinan di villa.


Satu jam kemudian, dokter itu sudah memeriksa Kinan. Kinan terpaksa harus di infus karena mengalami dehidrasi.


"Apa yang terjadi, Dokter? Tadi, Kinan baik - baik saja, bahkan bersemangat untuk pergi mengelilingi kebun strawberry," ucap Dika yang masih cemas. Dika belum melihat Kinan siuman dan Dika belum di perbolehkan untuk masuk ke dalam kamar di mana Kinan di rawat.


"Kinan itu pacarmu?" tanya dokter Hendra pelan saat keluar kamar dan menutup kembali pintu kamar itu sambil melepaskna kaca mata minusnya.


Dika yang masih bersandar pada dinding dan melipat kedua tangannya di depan dada pun terkejut dengan kedatangan dokter Hendra yang tiba - tiba.


"Lebih tepatnya calon pacar. Gimana keadaannya sekarang? Kenapa tiba - tiba bisa tidak sadarkan diri? Lalu? Apakah separah itu harus di infus segala?" tanya Dika ynag begitu ceas dengan kondisi Kinna.

__ADS_1


"Kinan baik - baik saja," ucapan dokter Hendra belum selesai sudah di potong oleh Dika.


"Baik - baik saja bagaimana? Kalau baik - baik saja tidak akan sampai di infus?" tanya Dika ketus.


"Sabar dulu, Dika. Biar saya jelaskan dulu. Jangan terbawa emosi," ucap dokter Hendra tenang.


Mama Atika dan Papa Surya yang juga duduk di sekitar kamar itu pun ikut menenangkan Dika.


"Kamu yang tenang Dika. Kinan tidak apa -apa. Jangan menyalahkan dirimu atas kejadian ini," ucap Atika pelan kepda Dika.


Dika mengangguk pasrah. Ia terlalu kelewat cemas dengan kondisi Kinan. Mungkin rasa sayangnya kepada Kinan sudah berlebih hingga ia terlihat sangat posesif.


"Jadi gini. Kinan itu sepertinya punya penyakit maagh dan lambung. Ia tidak bisa telat makan sedikit pun. Mungkin dari pagi, ia tidak sarapan hingga siang perutnya kosong dan beraktivitas di tambah stres juga, jadinya begitu ia tiba - tiba tidak sadarkan diri karena tak kuat menahan sakit," ucap dokter Hendra menjelaskan.


"Tapi sudah sadar belum, dok?" tanya Dika kemudian.


"Sudah. Tapi saya suruh istirahat kembali. Kasihan Kinan, sepertinya masih lemas. tunggu satu jam lagi, baru kamu masuk, dan beri dia makan terus minum obat," titah dokter Hendra dengan tegas.


"Baik dok," jawab Dika pelan.


Hari semakin sore. Dika masih setia duduk di tepi ranjang Kinan tertidur. Menemani Kinan yang masih pulas beristirahat tanpa terganggu. Infusan itu membuat tubuh Kinan menjadi stabil dan lebih baik lagi.


Satu tangan Dika memegang tanga Kinan yang ada di sebelah tuh Kinan.


"Maafkan aku, yang membuatmu menjadi seperti ini," ucap Dika lirih sambil mengecup punggung tangan Kinan dengan penuh kasih sayang.


"Dika ...." panggil Kinan pelan.


"Kinan? Kamu sudah bangun?" jawab Dika yang terkejut melihat Kinan sudah terbangun dan sedang menatap Dika saat mencium punggung tangan Kinna.

__ADS_1


Kinan hanya tersenyum dan mengangguk kecil. Dika malu, karena apa yang di lakukannya di ketahui oleh Kinan.


__ADS_2